3 research outputs found

    Development of Intrafood Book Media to Stimulate Number Recognition 1-10 in 4-5 Years Old Children

    No full text
    Intrafood book merupakan media pembelajaran yang berisi mengenai pengenalan bilangan 1-10 pada anak usia 4-5 tahun dengan tema makanan tradisional. Pengenalan bilangan adalah komponen penting dalam perkembangan kognitif. Stimulasi pengenalan bilangan dapat dilakukan dengan mengembangkan media pembelajaran. Media pembelajaran dapat digunakan sebagai alternative yang inovatif dalam mengatasi permasalahan pada anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas kelayakan, kepraktisan, dan keefektifan media Intrafood book untuk menstimulasi pengenalan bilangan 1-10 pada anak usia 4-5 tahun. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan jenis penelitian 4D. Dalam penelitian ini menggunakan anak usia 4-5 tahun yang berjumlah 20 anak. Subjek uji teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kelayakan, analisis kepraktisan, dan analisis keefektifan. Hasil keefektifan melalui uji pretest dan posttest yang menggunakan uji Wilcoxon dengan uji coba lapangan operasional dengan nilai < 0,001 artinya terdapat pengaruh media Intrafood book untuk menstimulasi pengenalan bilangan 1-10 pada anak usia 4-5 tahun. Dari hasil validasi menunjukkan media intrafood book layak digunakan dengan persentase sebesar 87,50% dan ahli media sebesar 80,50%. Untuk kepraktisan media yang diberikan nilai oleh guru dengan hasil persentase 88% . Maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan media Intrafood book dapat dinyatakan praktis dan efektif untuk digunakan dalam menstimulasi pengenalan bilangan 1-10 pada anak usia 4-5 tahun.Intrafood book is a learning media that contains the introduction of numbers 1-10 to children aged 4-5 years with the theme of traditional food. Number recognition is an important component in cognitive development. Stimulation of number recognition can be done by developing learning media. Learning media can be used as an innovative alternative in overcoming problems in early childhood. This study aims to determine the validity of the feasibility, practicality, and effectiveness of the Intrafood book media to stimulate the introduction of numbers 1-10 to children aged 4-5 years. This study uses the Research and Development (R&D) method with the type of 4D research. In this study, 20 children aged 4-5 years were used. The test subjects of the data analysis techniques used were feasibility analysis, practicality analysis, and effectiveness analysis. The results of the effectiveness through pretest and posttest tests using the Wilcoxon test with operational field trials with a value of <0.001, meaning that there is an influence of the Intrafood book media to stimulate the introduction of numbers 1-10 to children aged 4-5 years. From the validation results, it shows that the intrafood book media is suitable for use with a percentage of 87.50% and media experts are 80.50%. For the practicality of the media, the teacher gave a score with a percentage of 88%. So it can be concluded that the development of the Intrafood book media can be stated as practical and effective for use in stimulating the recognition of numbers 1-10 in children aged 4-5 years

    TRADISI MERANTAU PEDAGANG BUBUR KACANG IJO ASAL KUNINGAN DI YOGYAKARTA TAHUN 1950 – 2015

    No full text
    Skripsi ini berjudul “Tradisi Merantau Pedagang Bubur Kacang Ijo Asal Kuningan Di Yogyakarta Tahun 1950 – 2015”. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena tradisi merantau masyarakat Sunda, yang notabene tidak mempunyai tradisi merantau, khusunya masyarakat Kuningan yang berdagang Burjo (Bubur Kacang Ijo) di Yogyakarta. Daya tarik Yogyakarta sebagai kota pelajar, tentunya tidak lepas dari mahasiswa yang sedang menuntut ilmu disana. Sehingga penulis tertarik untuk meneliti kajian tentang pedagang Burjo (bubur kacang ijo), dengan permasalahan sebagai berikut: 1) Bagaimana awal mula tradisi merantau pedagang Burjo (Bubur Kacang Ijo) asal Kuningan ke Yogyakarta ?, 2) Bagaimana gelombang kedatangan perantau asal Kuningan yang berdagang Burjo (Bubur Kacang Ijo) di Yogyakarta?, 3) Bagaimana perkembangan kehidupan pedagang Burjo (Bubur Kacang Ijo) di Yogyakarta ?, 4) Bagaimana pedagang Burjo (Bubur Kacang Ijo), memberikan kontribusi bagi Yogyakarta selaku daerah perantauan ?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode historis meliputi langkah-langkah sebagai berikut: 1) Heuristik 2) Kritik Sumber 3) Interpretasi 4) Historiografi. Selain itu adapula teknik yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini yakni studi literatur, wawancara, dan studi dokumentasi. Adapun hasil penelitian yang didapat yaitu: tradisi merantau masyarakat Kuningan, dilakukan terus menerus dan berulang – ulang oleh kerabat atau keturunan mereka sebagai sebuah pola kebiasaan, tetapi bukan merupakan keharusan adat. Perantau Kuningan mempunyai orientasi pekerjaan dalam sektor informal salah satunya adalah berdagang burjo. Keunggulan warung burjo milik warga Kuningan yang banyak menjamur di Yogyakarta, tidak terlepas dari kemampuan perkumpulan pengusaha perantau asal Kuningan menjalin hubungan dengan berbagai pihak selama tinggal di perantauan. Respon masyarakat Yogya sendiri sangat positif terhadap warga Kuningan. Selama pedagang burjo berada dan berkembang di Yogya, tidak pernah terjadi konflik baik dengan masyarakat maupun sesama pedagang lainnya. Selain itu perhatian mereka terhadap daerah asal dan sebaliknya, membuat pedagang burjo mampu berkontribusi lebih terhadap Kabupaten Kuningan. Baik untuk menambah pendapatan daerah maupun mengurangi angka pengangguran.;---This study entitled “Merantau Tradition of Mung Bean Porridge Vendor from Kuningan in Yogyakarta Year 1950 - 2015” aimed at investigating merantau (hometown leaving) tradition phenomenon of Sundanese people, who generally don’t have the tradition, especially Kuningan people that sell mung bean porridge in Yogyakarta. Yogyakarta as The City of Students is famous due to the plenty amount of tertiary students studying there. Taking that into consideration, the author was interested in conducting a study on the mung bean porridge vendors with the following research questions: 1) How was merantau tradition of mung bean porridge vendors from Kuningan to Yogyakarta started? 2) How is the arrival wave of perantau from Kuningan that sell mung bean porridge to Yogyakarta? 3) How is the development of the life of mung bean porridge vendors in Yogyakarta? 4) How are mung bean porridge vendors contribute to Yogyakarta? The method used in this study was historical method that includes the following steps: 1) Heuristic, 2) Source Criticism, 3) Interpretation, 4) Historiographic. Moreover, the technics used by the author in this study were literature study, interview and documentation study. Finally, the results of the study are: Merantau tradition has been done by Kuningan people continuously and repeatedly by their relatives or descendants as a pattern of custom, but not as an ethnical obligation. Perantau of Kuningan have a tendency of working in informal sectors such as selling mung bean porridge. The excellence of the plentiful mung bean porridge shops owned by the people of Kuningan is inseparable from the community of perantau vendors from Kuningan that networks well with various parties during their stay in Yogyakarta. This complemented by the very positive response from Yogyakarta people. The existence and development of mung bean porridge vendors in Yogyakarta has never created conflict between vendors or with the people. In addition, their concern to their hometown allow them to contribute more to Kuningan District, both by increasing the regional income and decreasing the unemployment rate of Kuningan District

    Pengaruh Internet terhadap Interaksi Sosial pada Mahasiswa Universitas Sriwijaya

    No full text
    This study aims to determine the effect of the internet on social interactions in students at Sriwijaya University. The thing that underlies the author doing the research is due to lack of direct communication between one student and another student. The influence of the internet has a major impact on the environment, especially in the campus environment, so many students who ignore a lot of things just because of the internet. In this case, many experts assess that communication is a very fundamental need for someone in a community life. Humans are social beings who still need other people in continuing their lives, the importance of direct communication should not be ignored by students today. Communication is a driver in interacting socially, in the absence of communication there can be no social life. Then it can be stated that social interaction is the foundation of all forms of social processes.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara internet terhadap interaksi social pada mahasiswa di Universitas Sriwijaya. Hal yang mendasari penulis melakukan penelitian tersebut dikarenakan kurangnya komunikasi secara langsung antara satu mahasiswa dan mahasiswa lainnya. Pengaruh internet berdampak besar terhadap lingkungan terutama dalam lingkungan kampus, sehingga banyak mahasiswa yang mengabaikan banyak hal hanya karena internet. Dalam hal ini, banyak pakar menilai bahwa komunikasi adalah suatu kebutuhan yang sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat. Manusia merupakan makhluk sosial yang masih memerlukan orang lain dalam meneruskan hidupnya, pentingnya komunikasi secara langsung seharusnya tidak diabaikan oleh mahasiswa saat ini. Komunikasi merupakan pendorong dalam berinteraksi social, dengan tidak adanya komunikasi maka tidak mungkin ada kehidupan social bermasyarakat. Maka dapat disebutkan bahwa interaksi social merupakan pondasi dari segala bentuk proses sosia
    corecore