1,720,968 research outputs found
“CAHAYO GARIH TANGAN SAKO BAJAWEK” AUBADE HOERIJAH ADAM
Abstrak
Karya tari ”Cahayo Garih Tangan Sako Bajawek” terinspirasi dari hasil pengamatan atas jejak langkah
ibu pencipta dan jejak langkah Hoerijah Adam, sang seniman Sumatera Barat yang sangat berjasa
mengembangkan tari berlandaskan adat dan budaya Minangkabau.
Keterpautan pikiran dan simpatisme pencipta terhadap dua ibu ini, merupakan cahaya/penerang dalam
melanjutkan spirit mereka dan berharap menjadi estafet bagi generasi selanjutnya. Impresi yang
demikian dituangkan dalam karya tari yang dilandasi oleh norma dan nilai-nilai estetis yang berciri \ud
khas Minangkabau dengan tetap berpegang pada Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Nilai-nilai kemuliaan dalam bungkusan adat itu menjadi tanggung jawab dan kerja utama bagi setiap
insan seni untuk menampakkannya dalam berbagai wajah seni. Konsekwensinya ialah meniscayakan ada
kecermatan dan keteguhan hati dalam setiap langkah dan perbuatan berlandaskan kejujuran dan
ketulusan,…kok… “ma hawai sahabih raso,…mangaruak sahabih gauang”.
Muara dari lika-liku segudang duka dan suka itu, dikembangkan serta diungkapkan dalam karya
ini,berwujud kemasan dan rajutan ekpresi perjuangan dan konflik bathin dalam meraih „cita-cita „.
Mengarifi segudang pengalaman batin itu, maka tema yang dipilih ialah “Memperkukuh Spirit Tari
Minangkabau” yang padanya ada tiga objek utama, yaitu: menggambarkan perjuangan kehidupan,
menggambarkan semangat yang berkelanjutan, dan memperkenalkan kearifan problematik kehidupan dalam
bentuk karya tari.Bermuatan pula di sini ialah pengungkapan nilai patriotisme dan nilai pendidikan
terdiri dari: kegigihan, ketekunan dan semangat, nilai keuletan, inovasi serta tanpa menyerah,yang
diekspresikan melalui alur garap suasana.Diantaranya ialah suasana agung, gembira, sedih dan
menembah dengan wujud gerakan pengembangan gerak tari tradisional Minangkabau, dan diperkuat dengan
musik tradisional Minangkabau yang diaransemen dalam bentuk orchestra musik Barat.
“Cahayo Garih Tangan Sako Bajawek”, Aubade Hoerijah Adam, sebagai susunan kata dalam judul tersebut
mengandung makna ialah: sebagai penerang dan salah satu sikap atau garis tangan yang selalu terpacu
untuk melanjutkan spirit. Dalam pengertian yang lebih jauh, Cahayo/cahaya berarti penerang, Garih
tangan adalahjalan kehidupan, sementara Sako bajawek, yaitu suatu kekayaan immaterial berupa
spirit, semangat, nilai yang diwariskan, untuk diterima dan dilanjutkan. Adapun kata Aubade
mengandung arti pujian dan penghargaan yang diekspresikan melalui karya ini untuk Hoerijah Adam.
Kata kunci: Kehidupan, impresi, kreativita
(SATU DETIK DALAM KETAKUTAN) DAMPAK BENCANA GALODO PADA MASYARAKAT SIMPANG MANUNGGAL KECAMATAN LIMA KAUM KABUPATEN TANAH DATAR
The dance work Satu Detik Dalam Fear departs from a natural phenomenon, namely the flash flood that occurred at Simpang Manunggal, which is usually called galodo. The interest in this work is the impact of the Galodo incident, namely trauma or PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). The dance work Satu Detik Dalam Bawah is a contemporary dance work that is danced in groups with a dramatic type, social theme combined with movement techniques and dynamics. This work was produced using the Alma M. Hawkins method, namely field observation, exploration, improvisation, composition and evaluation. The dance music used is techno, made from computer technology and several supporting musical instruments. This dance work conveys a message about the trauma experienced by galodo victims. However, the solution is to be patient and aware and surrender that everything that is experienced is God's will
MELODI KESEDIHAN INTERPRETASI CERITA RAKYAT MALIN DEMAN DAN PUTI BUNGSU DALAM PENGGARAPAN TARI BARU
The Melodi Kesedihan dance work is insured by a flok tale in Mukomuko, Bengkulu, which is about the disappointment experienced by Malin Deman. In work, the artist tries to interpret Malin Deman disappointment towards Puti Bungsu, which focuses on the disappointment experienced by Malin Deman and the regret he has felt because of his own behavior. Om the Melodi Kesedihan work, each dancer perfoms a movement that depicts disappointment based on movements that have been developed by the artist. The methods used in creating this work consist of data collection and field observation, exploration, improvisation, forming, and vealuation. This work is danced by seven female dancers and one male dancer wuth the theme of life, dramatic type and reinforced by live techni music according to the flow of the artist’s expectations
Tari Gending Sriwijaya : Representasi Buddhisme di Bumi Sriwijaya Palembang
Abstract This writing aims to expose the effect of Buddhism concept in motion and song lyrics Gending Sriwijaya dance in Sriwijaya Palembang earth as a representation. The song of Gending Sriwijaya was made in Japanese colonial period when they came to Palembang. This dance was started in agust 2nd 1945, to welcome the guests who visited to Palembang and until now this dance still used as a welcoming dance for the guest country or even a hight officer when they come to Palembang. The existence of this dance is also inseparable from the history of Sriwijaya kingdom, which was very famous in its golden era VISM. It’s also related from the interpretation as the creation of the motion that can’t be separated from the history of Sriwijaya with the development of Buddhism at the time. The result of this research is showing that influence of Buddhism is very dominant in every symbols and lyrics whisch are song to describe the Sriwijaya kingdom’s golden era.Keyword: Buddhism, Gending Sriwijaya dance, Palembang Abstrak Tulisan ini, bertujuan untuk mengungkap pengaruh Buddhisme dalam gerak dan syair lagu tari Gending Sriwijaya di Bumi Sriwijaya Palembang sebagai representasi. Tari Gending Sriwijaya dengan lagunya juga berjudul Gending Sriwijaya diciptakan pada masa penjajahan Jepang saat datang ke Palembang. Tari ini mulai ditampilkan pada tanggal 2 Agustus 1945, untuk penyambutan tamu yang berkunjung ke Palembang hingga saat ini masih digunakan sebagai tarian penyambutan saat tamu-tamu negara ataupun pejabat pemerintah yang agung datang ke Palembang. Eksistensi tari ini tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Sriwijaya yang terkenal akan keemasan pada abad VISM. Hal ini juga terkait dari interpretasi sebagai penciptaan gerak yang tidak terlepas dari sejarah Sriwijaya dengan perkembangan agama Buddha pada saat itu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, pengaruh Buddhisme sangat dominan dalam pemaknaan setiap simbol-simbol gerak dan tiap-tiap syair yang dilantunkan untuk menggambarakan keemasan kerajaan Sriwijaya dahulunya. Kata kunci: Buddhisme, tari Gending Sriwijaya, Palembang
Koreografi “PETI = MATIâ€: Otokritik Fenomena Sosial Dompeng di Sarolangun, Jambi
 Koroegrafi berjudul â€PETI=Mati†adalah hasil interpretasi dan daya imajinasi pengkarya dalam menuangkan ide ke dalam bentuk karya tetang aktivitas PETI atau Dompeng. PETI atau Dompeng adalah usaha pertambangan yang dilakukan perorangan, sekelompok orang atau perusahaan berbadan hukum yang dalam operasinya tidak memiliki izin dari instansi pemerintah yang sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Penambang didukung oleh pemodal besar yang menggunakan alat-alat berat untuk mengeruk pasir dan tanah sungai sehinggga cepat menimbulkan kerusakan di sepanjang daerah aliran sungai. Untuk memurnikan emas penambang menggunakan air raksa, lalu membuang limbahnya langsung ke Sungai. Pembuangan racun merkuri sudah sangat parah dikawasan hulu Batang Tembesi ini. Koreografi disusun berdasarkan tipe abstrak didukung oleh setting dan musik untuk menyampaikan pesan dan kesan dari karya tari tersebut. Pijakan gerak dalam koreografi berangkat dari bentuk-bentuk dari gerak murni yaitu aktifitas para penambang emas. Untuk menyampaikan isi koreografi akan diperkuat oleh tujuh orang penari yang terdiri dari enam orang penari laki-laki dan satu orang penari perempuan.  Dengan tema kehidupan, yang ingin menyampaikan pesan dan kesan kepada penonton tentang penting nya menjaga Sumber Daya Alam dan pelestarian Lingkungan. Konsep karya ini merupakan hasil pengamatan pengkarya terutama yang terjadi dalam kehidupan pribadinya dimana pengkarya pengkarya yang lahir dan di bersarkan di Sarolangun merasakan langsung dampak nya. Untuk memvisualisaikan ide garapan ke dalam karya tari
THE CREATION OF BREATH-IN DANCE FROM THE ACTIVITY OF PENSI SEEKER IN SINGKARAK LAKE
Contemporary dance works contain a source of creative ideas that respond to activities in the community. One of these activities is how to respond to the activities of pensi seekers, a type of freshwater shellfish, in Singkarak Lake, West Sumatra. This work focused on the problem decompression (oxygen pressure disturbances) faced by pensi seekers while carrying out their activities in water. This dance performance is dramaturically connected through the relationship between material and all elements. The dance dramaturgy as a basic aspect in the the creation of a contemporary dance work needs to be understood as a way of approaching an idea and passing through the process of its realization. The activity of pensi seeker in Singkarak Lake in West Sumatra are manifested in the form of a contemporary dance entitled Breath In. In the process and presentation of the use of this approach there is an attempt to find the originality of the form and vocabulary of bodily movements based on observations about the activities of the pensi seeker
TRANSFORMASI LEGENDA SIGALE-GALE KE DALAM PERTUNJUKAN SENI TARI
This research aims to find out how the transformation of the Sigale-gale legend into a dance performance. This research uses qualitative research methods with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The results showed that the legend of Sigale-gale has undergone a transformation in dance performances, both in elements of movement, sound, and appearance. The transformation according to Jorge Silvetti is done by deviating, regrouping, and assembling/reassembling the elements of the Sigale-gale legend while still adhering to its originality. This can be seen in the Sigale-gale dance which has undergone changes in movements, musical accompaniment, and costumes. This transformation is done as an effort to maintain local wisdom and introduce the Sigale-gale legend to the wider community
PERMAINAN KIM: KOMPOSISI MUSIK PROGRAMA DALAM FORMAT MUSIK ELEKTRONIK
The KIM game is a traditional Minangkabau game that uses rhymes and numbers. KIM stands for Kesenian Irama Minang (Minang Art Rhythm). The phenomenon that occurs in the current KIM game is the lack of audience awareness of the meaning and message of the rhymes sung by the dendang artis. Departing from this phenomenon, the creator presented a work titled KIM Game: Programa Music Composition in Electronic Music format. The method of creation is carried out with several work groupings: Concept development methods (observation, interviews, data collection and concept formulation) and methods of realizing concepts (exploration, experimentation, and application).Keywords: KIM game; programa music; electronic music. AbstrakPermainan KIM merupakan suatu permainan tradisi Minangkabau yang menggunakan pantun dan angka. KIM tersebut merupakan singkatan dari Kesenian Irama Minang. Fenomena yang terjadi pada permainan KIM saat ini yaitu, kurangnya kesadaran audiens terhadap makna dan pesan dari pantun yang dilantunkan tukang dendang. Berangkat dari fenomena tersebut pengkarya menghadirkan sebuah karya Permainan KIM: Komposisi Musik Programa dalam format Musik Elektronik. Metode penciptaan dilakukan dengan beberapa pengelompokan kerja: Metode pengembangan konsep (observasi, wawancara, pengumpulan data dan perumusan konsep) dan metode mewujudkan konsep (eksplorasi, eksperimentasi, dan aplikasi).Kata kunci: Permainan KIM; Musik Programa; Musik Elektronik
PENCIPTAAN KARYA BATIK LUKIS BERDASARKAN REPRESENTASI TARI ALANG SUNTIANG PANGULU
Penciptaan lukisan batik dengan objek Tari Alang Suntiang Pangulu bersumber dari tarian adat yang ditampilkan dalam rumah gadang, di kenagarian Padang Laweh Kabupaten Agam Sumatera Barat. Tarian Alang Suntiang Pangulu tidak boleh disebar luaskan seperti foto gerakan, karena adanya ketakutan tarian ini akan diolah dan dijadikan hak milik oleh yang mengambil dokumen tersebut tanpa se izin niniak mamak dalam Nagari oleh karena itu anak muda di Padang Laweh yang tidak tertarik untuk mempelajari tarian ini. Tujuan penelitian ini adalah menciptakan karya dengan merepresentasikan gerak-gerak Tari Alang Suntiang Pangulu dalam bentuk seni rupa dengan teknik batik lukis dekoratif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan representasi dengan tiga tahap metode penciptaan yaitu eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Hasil penciptaan karya batik Lukis dengan representasi objek Tari Alang Suntiang Pangulu yaitu gambar yang dilukis menggunakan malam dengan alat canting yang digoreskan pada kain primisima yang terdiri dari tujuh karya manari di ateh awan, penari malam, manari di ateh adok, manari di awang-awang, saayun salangkah, bapijak di awan lalu, dan manari di ateh saluang
“Nan Lah Lapuak†(Pengaruh Modernitas Terhadap Adat)
ABSTRACTThe dance work entitled "Nan Lah Lapuak" was created by Erwin Mardiansyah based on empirical experiences that occurred around workers. Based on that experience, the authors gained understanding and interpretation of Minangkabau traditional life that began to fade, especially in Nagari Regency, Paninggahan Regency, Solok District. Adaik is an understanding held by a person or community for a long time and has undergone inherited inheritance. However, in the community residing in Nagari Paninggahan, Junjung Sirih Sub-district, Solok District was formerly adhered to and became a guide in living life, but now the habit has begun to fade. One of the causes of customary fading is due to the development of the era and the era of globalization that flourished in society. To bring ideas into works of art, artists use heroic themes and dramatic types. In addition to the movements of the dancers in this work wearing traditional costumes and traditional costumes that have been modified as one of the symbols that have been faded by the times and technology. Exploration of motion in this work rests on the Minangkabau silk movement and is combined with modern techniques, and adapted to the character possessed by the worker. The methods used in this work include data collection, motion exploration, improvisation, choreography process, evaluation.Keywords : Adat, Society, ModernizationABSTRAKAdaik is traditional Karya tari yang berjudul “Nan Lah Lapuak†ini diciptakan oleh pengkarya berdasarkan pengalaman empiris yang terjadi sekitar pengkarya. Berdasarkan pengalaman tersebut pengkarya mendapatkan sebuah pemahaman dan penafsiran terhadap kehidupan adat-istiadat Minangkabau yang mulai memudar, khususnya pada Nagari Paninggahan Kecamatan Junjung Sirih Kabupaten Solok. Adaik merupakan sebuah pemahaman yang dianut oleh sebuah kaum atau masyarakat sejak dahulu dan telah mengalami pewarisan yang bersifat turun temurun. Namun, pada masyarakat yang berada di Nagari Paninggahan Kecamatan Junjung Sirih Kabupaten Solok dahulunya Adat begitu menjunjung dan menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan, namun sekarang Adat tersebut mulai memudar. Salah satu penyebab pemudaran adat tersebut dikarenakan oleh perkembangan zaman dan era-globalisasi yang sedang berkembang ditengah masyarakat tersebut. Untuk melahirkan ide garapan ke dalam karya tari, pengkarya menggunakan tema heroik dan tipe dramatik. Selain gerak yang dilahirkan penari dalam karya ini mengenakan kostum tradisi dan kostum tradisi yang telah dimodifikasi sebagai salah satu simbol bahwasanya adat telah memudar oleh perkembangan zaman dan teknologi. Eksplorasi gerak dalam karya ini berpijak pada gerak silek Minangkabau dan digabungkan dengan teknik moderen, serta disesuaikan dengan karakter yang dimiliki oleh pengkarya. Metoda yang digunakan dalam melahirkan karya ini diantaranya, pengumpulan data, eksplorasi gerak, improvisasi, proses koreografi, evaluasi.Kata kunci : Adat, Masyarakat, Moderenisas
- …
