1,720,994 research outputs found
MODEL PERILAKU PENGGUNAAN TIK “NR2007” PENGEMBANGAN DARI TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM)
This paper discusses and criticizes a Technology Acceptance Model which was developed
by Fred D. Davis in 1986. TAM was built to predict the way people accept and adopt the
technology. TAM was inspired by theory of reasoned action (TRA) formulated by Martin
Fishbein & Icek Ajzen in 1975, although the model does not completely adopt the TRA model.
TAM does not include Subjective Norm as a factor in predicting the use of technology.
As a theory, TAM has been used by many researchers to investigate the adoption of
information technology. This model has a significant contribution in predicting the use of
information communication technology (ICT) in many areas. Since ICT users have various
motivational backgrounds, some of them have a positive attitude toward ICT, but they do not
use ICT. It seems the TAM model need to be improved by including Subjective Norms and
Perceived Behavior Control as suggested by Ajzen in the theory of planned behavior (TPB) as
antecedents of intention to use ICT. Since the personality background of ICT users may also
influence the use of ICT, the author proposes TAM‐NR‐2007 model that include personality
traits as a background factor of attitude toward the behavior and subjective norms
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Perubahan Perilaku dan Konsep Diri Remaja yang Sulit Bergaul Setelah Menjalani Pelatihan Ketrampilan Sosial
Permasalahan yang banyak dialami rremaja dari masa ke
masa masih seputar kesulitan dalam membina hubungan sosial
atau kesulitan bergaul. Hal ini terbukti dari data-data
yang masuk di Biro Konsultasi Psikologi, bahwa hampir 80 % remada datang dengan masalah pokok yaitu kesulitan membina
hubungan sosial ini. Kesulitan ini dapat meningkat ke kesulitan dalam penyesuaian. Masalah ini sangat mengganggu dan memprihatinkan. Para ahli dalam bidang psikologi klinis mengemukakan bahwa kesulitan penyesuaian dapat dijadikan prdiktor bagi terjadinya gangguan jiwa di masa kehidupan individu selanjutnya (Sanchez dan Lewinsohn. dalam Jupp dan Griffiths, 1990).
Ketrampilan sosial sesungguhnya adalah kunci dalam menentukan apakah seseorang itu mampu membina hubungan osial atau tidak. Dengan memiliki ketrampilan sosial individu dapat menyesuaiakan dengan masyarakat disekitarnya (Calhoun dan Acocella, 1991). Ketrampilan sosial dapat membantu individu dalam mengatasi permasalahan yang timbul pada hampir segala situasi.
Pelatihan ketrampilan psikologik akhir-akhir ini semakin meningkat penggunaannya dalam membantu individu dengan masalah-masalah penyesuaian. Pelatihan ketrampilan sosial merupakan salah satu dari bentuk pelatihan ketrampilan psikologik ini. Pelatihan ketrampilan sosial mengajarkan cara-cara menghadapi beberapa situasi yang dianggap
sulit. Dalam pelatihan ketrampilan sosial diminta untuk menonton film yang memuat beberapa adegan berhubungan dengan orang lain yang sering dipakai dalam kehidupan sehari—hari. Contoh—contoh adegan ditampilkan, kemudian subjek diminta untuk berlatih memerankannya dalam situasi yang lain. Sebelum dipakai sebagai contoh atau modul, film pelatihan ketrampilan sosial ini telah diuji reliabilitasnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada
perubahan perilaku dan konsep diri remaja yang sulit
bergaul setelah mereka mendalani pelatihan ketrampilan
sosial.
Dua puluh empat subdek penelitian ditentukan random dari sejumlah 48 subdek yang memenuhi persyaratan.
Mereka dibagi mendadi dua kelompok berdasarkan kesanggupan
hadir pada dadual pelatihan yang telah ditentukan, yaitu 12 orang kelompok eksperimen dan 12 orang kelompok kontrol. Usia subdek penelitian adalah 16-18 tahun. Kedua kelompok subjek tersebut homogen, yang ditunjukkan oleh tidak adanya perbedaan skor Skala Tingkah Laku Sosial (STLS) dan Skala KOnsep Diri (SKD) (P > 0.05).
Pengukuran dilakukan dengan menggunakAn STLS dan SKD yang disajikan pada awal pelatihan, akhir pelatihan, dan tindak lanjut 11 minggu berikutnya. Untuk kepentingan analis individual dan diskusi hasil penelitian, pada setiap pertemuan dilakukan rating terhadap penampilan masing-masing subjek oleh pelatih I, pelatih II, dan observer.
Analisis yang digunakan adalah analisis varians. Analisis dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan sekor STLS dan SKD pada awal dan akhir pelatihan, dan 11 minggu berikutnya. Analisis iiuga dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan sekor skala-skala tersebut antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Dari perhitungan yang dilakukan ternyata ada perubahan
perilaku yang ditunduk oleh STLS, dan konsep diri yang ditun^juk oleh SKD pada awal dan akhir pelatihan (P < 0,01). Ada perbedaan sekor STLS dan SKD antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada akhir pelatihan, dan periode tindak lanjut (P < 0.01).
Hasil penelitian ini menundukkan bahwa pelatihan ketrampilan sosial yang disa^jikan efektif dalam mengubah perilaku dan konsep diri remada yang sulit bergaul. Hasil tersebut adalah analisis terhadap sekor-sekor dari skala yang didisi oleh subjek penelitian. Bagaimanapun, penilaian observasi yang dilakukan oleh pelatih I, pelatihan II, dan observer tidak dapat diabaikan begitu saja. Peningkatan skor observasi terlihat menyolok pada sebagian besar subjek. Sementara itu pada sebagian kecil subdek pelatihan (2 orang) sekor tersebut terlihat cenderung menurun. Hal ini dapat ditindau dari pengambilan kesempatan yang dilakukan subdek pelatihan. Semakin banyak atau semakin besar kesempatan yang dimanfaatkan subjek akan semakin besar pula manfaat yang diperoleh . Perubahan perilaku yang searah dengan perubahan konsep diri mendukung pendapat yang dikemukakan oleh Jupp
dan Griffiths (1990), bahwa konsep diri merupakan salah satu faktor penentu bagi kemampuan individu dalam bergaul.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelatihan ini efektif untuk meningkatkan kemampuan bergaul remaja yang sulit bergaul, dan dengan meningkatnya konsep diri, kemampuan remaoa untuk bergaul ouga akan meningkat
Menjadi guru inspiratif : aplikasi ilmu psikologi positif dalam dunia pendidikan/ Ramdhani
xiii, 199 hal.: ilus.; 23 c
SKALA SOMATISASI
Somatisasi merupakan salah satu bentuk dari somatoform disorder. Penderita somatisasi mengeluh tentang bermacam-maca penyakit sehingga aktivitas penderita dapat terganggu. Penelitia ini merupakan kelanjutan dari peenlitian terdahulu, bertujuan menguji konsistensi internal skala somatisasi yang merupakan bagi dari skala kepribadian UGM
Pembinaan Jiwa Kewiraswastaan Pemuda melalui Kelompok Swadaya Masyarakat
Kelompok swadaya Masyarakat (KSM) adalah sekumpulan masyarakat yang berpenghasilan rendah, yang mengalami keterbatasan dalam modal, keterampilan, pengetahuan, dan motivasi berprestasi. Berbagai pembinaan sudah diberikan kepada KSM oleh instansi-instansi terkait di antaranya Bank Perkreditan Rakyat (BPR), tetapi pelatihan tersebut belum diteliti efektivitas pelatihan manajemen KSM untuk meningkatkan motivasi berprestasi pada anggota KSM.
Dua KSM berpartisipasi dalam penelitian ini. Masing-masing beranggotakan 15 orang. Kedua KSM mempunyai usaha dan lama berdiri relatif sama. KSM pertama diberi pelatihan manajemen KSM yang dilaksanakan oleh BPR, sedangkan KSM kedua sebagai waiting list. Pelatihan dilakukan oleh BPR bekerja sama dengan peneliti. Pelatihan manajemen SKM dilakukan selama 3 (tiga) hari @ 10 jam. Sebulan setelah penelitian berakhir, kedua kelompok mendapatkan pembinaan tata laksana kelompok selama 1 (satu) jam. Pengukuran dilakukan sebelum dan sebulan sesudah penelitian. Pengukuran dilakukan dengan Skala Motivasi Berprestasi (SMP) dan observasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji t.
Dari analisis yang dilakukan diperoleh hasil bahwa ada perbedaan motivasi berprestasi antara KSM yang mendapat pelatihan manajemen KSM dengan KSM yang tidak mendapat pelatihan. Motivasi berprestasi pada KSM yang mendapat pelatihan lebih tinggi daripada motivasi KSM yang belum atau tidak mendapat pelatihan. Hasil observasi mempelihatkan bahwa intensitas pertemuan yang dilakukan KSM yang mendapat pelatihan kewiraswastaan lebih kuat daripada kelompok yang belum mendapat pelatihan menejemen KSM
Menjadi guru inspiratif : aplikasi ilmu psikologi positif dalam dunia pendidikan/ Ramdhani
xiii, 199 hal.: ilus.; 23 c
Perbedaan Tingkat Stres antara Perawat Rumah Sakit Bagian Gawat Darurat dan Bagian Umum
Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui apakah ada pengaruh jenis pekerjaan yang berbeda dan tipe kepribadian yang berbeda, dalam hubungannya dengan tingkat stres seseorang.
Penelitian tentang pengaruh tipe kepribadian terhadap tingkat stres, sudah banyakdilakukan, di dalam bidang kedokteran. Pada umumnya penelitian tersebut ingin mengungkap sesungguhnya tipe kepribadian yang mana yang potensial menderita satu jenis penyakit tertentu, yang ada hubungannya dengan faktor-faktor psikologik. Bagaimanapun faktor psikologik ternyata semakin banyak menjadi penyebab gagalnya satu tugas, timbulnya gangguan fisik, maupun gangguan psikis. Timbulnya stres pada diri seseorang dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya adalah faktor tugas, peran, hubungan interpersonal, lingkungan fisik maupun sosial, dan kepribadian.
Subjek penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah perawat rumah sakit Bethesda, yang terdiri dari 107 orang. Perawat tersebut digolongkan menjadi dua, yaitu perawat UPK56 orang, perawat bagian umum 51 orang. Mereka terdiri dari kepribadian tipe A 67 orang, tipe B 40 orang.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dua angket. Angket pertama adalah angket stres, yang digunakan untuk mengungkap seberapa tingkat stres seseorang. Angket yang kedua dalam bentuk skala kepribadian, yang dapat menggolongkan kepribadian seseorang ke dalam tipe A atau tipe B.
Hasil analisis yang dilakukan memperoleh hasil bahwa tidak ada perbedaan tingkat stres, baik dalam hal jenis pekerjaan, maupun tipe kepribadiaan. Namun demikian dari analisis lebih lanjut, ternyata ada interaksi antara jenis pekerjaan dan tipe kepribadian itu, dalam hubungannya dengantingkat stres. Di antara perawat yang berkepribadian tipe A, termyata aperbedaan tingkat stres antara perawat yang dinas di bagian UPK dan perawat Umum. Demikian pula halnya di antara perawat yang bekerja di bagian umum, ternyata ada perbedaan tingkat stres antara perawat dengan kepribadian tipe A dan tipe
- …
