1,720,956 research outputs found
Model Spasial Perubahan Penggunaan Lahan Untuk Mempertahankan Kabupaten Karawang Sebagai Kontributor Beras Nasional
Kabupaten Karawang merupakan penghasil surplus produksi beras, sehingga menjadi salah satu lumbung padi di Jawa Barat yang mampu berkontribusi ke wilayah lainnya di Indonesia. Namun, besarnya perubahan penggunaan lahan sawah mempengaruhi kemampuan Kabupaten Karawang dalam berkontribusi tersebut. Menurut Widiatmaka et al. (2013), surplus produksi beras yang dapat disumbangkan Kabupaten Karawang menurun terus-menerus dalam periode 2000 hingga 2011. Pada tahun 2000 Kabupaten Karawang dapat memberikan kontribusi 59.7%, dan pada tahun 2011 hanya sekitar 49.8% atau mengalami penurunan 10%. Salah satu penyebab utama terjadinya penurunan suplus produksi beras tersebut adalah konversi lahan pertanian dengan tanah subur termasuk sawah irigasi menjadi lahan non-pertanian seperti wilayah industri dan perumahan.
Untuk kebutuhan surplus produksi beras yang akan datang, diperlukan upaya yang sangat penting untuk dapat menghentikan penurunan secara kontinyu areal sawah, karena apabila fenomena penurunan luas lahan sawah seperti yang dijelaskan di Kabupaten Karawang, terjadi pada semua sentra produksi padi di Pulau Jawa, maka dikhawatirkan kedaulatan pangan nasional akan terancam. Dengan demikian, diperlukan analisis pemodelan spasial perubahan penggunaan lahan yang dapat memberikan pilihan solusi berupa beberapa skenario dengan asumsi ekstensifikasi lahan sawah yang mengacu pada alokasi lahan sawah eksisting, kesesuaian lahan sawah, dan kawasan tanaman pangan pada RTRW Kabupaten Karawang, sehingga akhirnya dapat dibuat arahan kebijakan penggunaan lahan untuk mempertahankan lahan sawah di Kabupaten Karawang sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Barat dan penyuplai beras nasional untuk kedaulatan pangan.
Dalam pengendalian perubahan penggunaan lahan tersebut, diperlukan prediksi perubahan penggunaan lahan mendatang secara spasial. Menurut Verburg et al. (2002), model Conversion of Land Use and its Effect at Small Regional Extent (CLUE-S) dapat memodelkan perubahan penggunaan lahan berdasarkan faktor-faktor peubah yang mempengaruhinya dengan wilayah studi yang cukup luas. Untuk dapat membuat pemodelan spasial perubahan penggunaan lahan dalam mempertahankan Kabupaten Karawang sebagai kontributor beras nasional, maka tujuan penelitian ini adalah : (1) Menganalisis pola penggunaan lahan dan perubahannya, (2) Membuat model spasial perubahan penggunaan lahan untuk memprediksi penggunaan lahan, (3) Menganalisis neraca pangan untuk permintaan beras, (4) Menyusun arahan kebijakan penggunaan lahan yang dapat mempertahankan Kabupaten Karawang sebagai kontributor beras nasional dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan.
Penelitian berlokasi di wilayah Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan selama 20 bulan. Data yang digunakan dalam penelitian, dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu data primer dan sekunder. Penelitian
ini menggunakan metode interpretasi citra secara On Screen Digitation untuk klasifikasi penggunaan lahan dan menguji tingkat ketelitiannya dengan menghitung nilai Kappa Accuracy. Pada tahap selanjutnya melakukan validasi peta penggunaan lahan untuk di masukkan dalam model CLUE-S. Perhitungan neraca pangan digunakan untuk menghitung permintaan beras di Kabupaten Karawang. Penyusunan arahan kebijakan lahan pertanian pangan berkelanjutan meliputi tahap hasil simulasi model penggunaan lahan tahun 2033 dan prediksi neraca pangan berdasarkan semua skenario dari model CLUE-S, kemudian skenario terpilih dijadikan arahan kebijakan untuk penyempurnaan RTRW Kabupaten Karawang.
Penggunaan lahan yang dijumpai di Kabupaten Karawang terdiri dari tubuh air, hutan, perkebunan atau kebun campuran, pertanian lahan kering, permukiman atau lahan terbangun, sawah, tambak dan penggunaan lahan tidak produktif. Penggunaan lahan tahun 2000 sampai tahun 2013 mengalami perubahan secara dinamis, tetapi penggunaan lahan sawah masih tetap dominan, meskipun jumlah luasan terus berkurang setiap tahunnya. Pola perubahan penggunaan lahan yang terjadi didominasi pada lahan sawah dan pertanian lahan kering menjadi permukiman.
Model spasial CLUE-S pada studi Kabupaten Karawang, digunakan untuk memprediksi penggunaan lahan masa mendatang dengan tingkat ketelitian 89%. Dari tiga skenario pemodelan yang digunakan, yaitu : skenario pertama (tanpa adanya batasan kebijakan spasial), skenario kedua (menggunakan batasan kebijakan lahan sawah eksisting sesuai dengan kawasan budidaya tanaman pangan pada RTRW, dan skenario ketiga (menggunakan batasan kebijakan lahan sawah eksisting yang berada pada kawasan budidaya tidak berubah kecuali yang berada di kawasan permukiman dan industri pada RTRW Kabupaten Karawang) menunjukkan bahwa skenario ketiga dapat menahan laju konversi lahan sawah sampai 9.9% dari tahun 2013.
Berdasarkan perhitungan neraca pangan, Kabupaten Karawang selama periode tahun 2000 sampai 2013 mengalami surplus produksi beras. Namun, terjadi penurunan sebesar 4%, tetapi pada tahun 2013 masih dapat berkontribusi sebesar 53% ke wilayah lain di sekitarnya. Jika penurunan ini terjadi di seluruh sentra produksi beras di pulau Jawa, maka dapat mengancam kedaulatan pangan nasional dalam jangka panjang.
Arahan kebijakan penggunaan lahan sampai tahun 2033 didasarkan pada hasil skenario 3 dengan penerapan 4 instrumen pengendalian Rencana Tata Ruang Wilayah, yaitu perijinan dilakukan sesuai aturan, pemberian insentif dan disinsentif pada lahan pertanian pangan, sanksi yang tegas, dan penerapan Undang Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, dan didukung oleh peraturan zonasi seperti mengeluarkan Peraturan Bupati terkait lahan pertanian abadi
Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Kajian Bahaya dan Resiko Bencana Alam di Kota Bogor Berbasis Geomorfologi
Kota Bogor yang terletak di lingkar Jakarta, Ibu Kota Negara, banyak mengalami alih fungsi lahan, terutama dari lahan pertanian ke lahan terbangun. Kota Bogor juga terletak di sekitar gunungapi yang dapat aktif kembali di waktu mendatang dan dilalui oleh jaringan sungai yang hulunya juga berasal dari gunungapi tersebut. Berdasarkan gambaran di atas, maka Kota Bogor cukup berpotensi dari bahaya bencana alam, baik dari proses vulkanik, fluvial, maupun denudasional. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan memetakan daerah bahaya bencana alam di Kota Bogor dengan pendekatan geomorfologi serta melakukan analisis dan pemetaan daerah resiko bencana alam. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode pembobotan dan scoring terhadap faktor-faktor penentu bahaya dan resiko bencana alam yang didasarkan pada analisis bentuklahan, proses geomorfik, serta penggunaan lahan. Data penginderaan jauh dimanfaatkan untuk analisis geomorfologi sedangkan sistem informasi geografis (SIG) digunakan untuk analisis bahaya dan resiko. Kerja lapangan dilakukan untuk verifikasi hasil analisis serta untuk mendapatkan fakta di lapangan tentang sejarah bencana alam yang pernah terjadi di daerah penelitian. Berdasarkan hasil kajian geomorfologi dan kerja lapangan terdapat tiga jenis bahaya alam yang mengancam Kota Bogor, yaitu banjir, lahar, dan longsor. Ketiga bahaya tersebut hampir seluruhnya terkonsentrasi pada wilayah lembah sungai, kecuali longsor yang sebagian juga mengancam wilayah lereng kaki gunungapi. Luas total lembah sungai di Kota Bogor adalah 2928 ha atau 25,06 % dari luas total Kota Bogor, dan dari luasan tersebut 254 ha (8,67 %) terancam oleh bahaya banjir dari kelas tinggi hingga sangat tinggi, 650 ha (22,20 %) terancam oleh bahaya lahar kelas tinggi, dan 823 ha (28,13 %) terancam oleh bahaya longsor dari kelas tinggi hingga sangat tinggi. Saat sekarang sebagian besar wilayah lembah ini telah banyak digunakan sebagai areal permukiman, sehingga resiko bencana di wilayah ini terhitung cukup besar. Dari hasil analisis didapatkan bahwa kawasan yang memiliki resiko tinggi mencapai 217 ha (1,86 %), resiko sedang 655 ha (5,61 %), resiko rendah 2056 ha (17,60 %), dan selebihnya 8757 ha (74,94 %) relatif aman dari bahaya alam gabungan, yaitu banjir, lahar, dan longsor. Mengingat adanya ancaman bencana alam dan resiko tersebut, maka progam mitigasi bencana alam sangat perlu diperhatikan oleh Pemerintah Kota Bogor dan mencakup pula terhadap evaluasi perencanaan tata ruang
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
- …
