1,720,986 research outputs found
Upaya Peningkatan Efisiensi Pemasaran Kopi Robusta (Studi Kasus: Kecamatan Sekincau Kabupaten Lampung Barat).
Kopi robusta merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Lampung
Barat. Adanya kesenjangan harga kopi di tingkat produsen dan konsumen ratarata
sebesar 49.04 persen diduga bahwa banyaknya lembaga pemasaran yang
terlibat sehingga menimbulkan biaya pemasaran yang tinggi. Hal ini
menimbulkan dugaan tidak meratanya share antar lembaga pemasaran sehingga
berdampak pada tingkat efisiensi pemasaran kopi di Kecamatan Sekincau. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pemasaran kopi
robusta yang terbentuk berdasarkan lembaga-lembaga yang terlibat dan
menganalisis efisiensi pemasaran kopi robusta di Kecamatan Sekincau. Data
penelitian diperoleh dari hasil observasi, wawancara menggunakan kuesioner serta
data pendukung dari instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan terdapat empat
saluran pemasaran yang melakukan setiap fungsi pemasaran. Berdasarkan
perhitungan kuantitatif, saluran I merupakan saluran yang paling efisien dengan
marjin Rp 5 669 per kg dan farmer’s share 76.77 persen. Upaya mengatasi
ketidakefisienan pemasaran kopi di Kecamatan Sekincau Kabupaten Lampung
Barat melalui pelaksanaan secara optimal fungsi-fungsi pemasaran pada setiap
lembaga pemasaran
Strategi Pengembangan Lembaga Amil Zakat Nasional Bangun Sejahtera Mitra Umat (Laznas BSMU) dengan Business Model Canvas
Lembaga Amil menjadi salah satu solusi dari kemiskinan di negara Indonesia. Laznas BSMU merupakan Lembaga Amil yang mengedepankan nilai dari setiap program yang dijalankan. Namun saat ini Laznas BSMU belum memiliki pemetaan dalam model bisnis untuk dapat mengembangkan lembaga agar dapat bertahan dan bersaing dengan amil zakat lain di Indonesia. Penelitian ini memiliki tujuan untuk memetakan model bisnis yang diterapkan pada Laznas BSMU dan merumuskan strategi alternatif pengembangan model bisnis Laznas BSMU. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan menggunakan pendekatan model bisnis kanvas dan analisis SWOT. Metode analisis deskriptif diolah berdasarkan dari sembilan elemen model bisnis kanvas yang kemudian dianalisis menggunakan analisis SWOT pada setiap elemen model bisnis kanvas tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa alternatif prioritas strategi yang dapat dikembangkan oleh Laznas BSMU yaitu fokus kepada penambahan dan pengembangan sistem inti serta budaya kerja pada Laznas BSMU disamping alternatif-alternatif strategi lainnya. Laznas BSMU diharapkan dapat memanfaatkan kekuatan serta peluang dan menimalisir kelemahan untuk menghindari ancaman
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Kelayakan Pengembangan Usaha Akarwangi (Andropogon zizanoid) pada Kondisi Risiko di Kabupaten Garut
Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan mempunyai peranan yang penting dan strategis dalam pembangunan nasional. Hal ini ditunjukkan oeh besarnya kontribusi sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan menurut lapangan usaha terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada pada urutan ketiga pada tahun 2002 sampai 2006 setelah industri pengolahan dan perdagangan, hotel, dan restoran. Dalam jangka panjang, pengembangan lapangan usaha pertanian difokuskan pada produk-produk olahan hasil pertanian yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Salah satu lapangan usaha yang memberikan nilai tambah dan kontribusi terhadap PDB yaitu tanaman perkebunan. Salah satu olahan tanaman perkebunan penghasil minyak aromatik adalah minyak atsiri. Tahun 2003 sampai 2006, ekspor minyak atsiri menunjukan trend yang meningkat. Salah satu jenis minyak atsiri yang dapat dikembangkan adalah akarwangi. Hal ini dikarenakan Indonesia menjadi salah satu negara pengekspor utama minyak akarwangi di pasar dunia. Akar wangi sebagai salah satu tanaman perkebunan yang berekonomis tinggi selayaknya terus dikembangkan agar dapat meningkatkan pendapatan petani, peningkatan kesempatan kerja, dan peningkatan penerimaan devisa. Akarwangi merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan Kabupaten Garut yang memiliki arti penting bagi perekonomian daerah. Hal ini dikarenakan 89 persen produksi minyak akarwangi Indonesia dihasilkan dari Kabupaten Garut (Bappeda Kab.Garut, 2005). Hal ini didukung oleh potensi areal seluas 2.400 Ha sedangkan realisasi luas tanam baru mencapai 1.733 Ha pada tahun 2006 yang tersebar di empat kecamatan yaitu Kecamatan Leles, Kecamatan Samarang, Kecamatan Bayongbong, dan Kecamatan Cilawu. Hal ini mengindikasikan areal penanaman seluas 667 Ha belum termanfaatkan dan masih berpotensi untuk dikembangkan. Dalam melakukan pengembangan usaha akarwangi diperlukan modal yang besar untuk mendukung kegiatan usaha tersebut. Kendala lain yaitu dalam melakukan budidaya dan penyulingan yaitu adanya fluktuasi harga output dan volume produksi. Fluktuasi produksi akarwangi dan minyak akarwangi diindikasikan oleh adanya risiko dalam kegiatan budidaya dan penyulingan akarwangi. Selain adanya risiko produksi, kegiatan budidaya dan penyulingan dihadapkan pada risiko harga output. Harga akarwangi dan minyak akarwangi pada setiap kondisi berbeda. Hal ini mengindikasikan adanya fluktuasi harga output yang menimbulkan adanya risiko harga output. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha akarwangi di Kabupaten Garut dan menganalisis dampak adanya risiko volume produksi dan harga output terhadap kelayakan usaha akarwangi di Kabupaten Garut
Dayasaing dan Ekspor Kopi Indonesia melalui Pendekatan Sistem Dinamis
Pertumbuhan produksi kopi dunia (1.18 persen per tahun) lebih lambat
dibandingkan dengan pertumbuhan konsumsi kopi dunia (2.01 persen per tahun)
dalam kurun waktu 2012/2013-2016/2017. Hal ini disebabkan oleh menurunnya
produksi di negara-negara penghasil kopi dunia seperti Indonesia. Penurunan
produksi biji kopi Indonesia disebabkan oleh beberapa hal diantaranya sebagian
besar usia tanaman telah berumur lebih dari 25 tahun sehingga menyebabkan
penurunan produktivitas. Menurut FAO (2017), produktivitas Indonesia berada
diurutan terakhir dari sepuluh produsen utama dunia. Adanya penurunan luas areal
kopi sebesar 0.29 persen per tahun dalam kurun waktu 2010 hingga 2014 diduga
menjadi penyebab menurunnya produksi biji kopi Indonesia. Adapun
permasalahan lainnya yaitu rendahnya mutu biji kopi Indonesia namun disisi lain
mutu menjadi penentu dayasaing. Permasalahan disisi produksi tersebut akan
berdampak pada keberlangsungan industri pengolah dalam negeri dan pasar luar
negeri. Adanya peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi kopi per
kapita masyarakat Indonesia akan meningkatkan konsumsi domestik sehingga
diperlukan kontinuitas pasokan bahan baku. Hal ini mengakibatkan persaingan
bahan baku baik dengan konsumen domestik maupun konsumen luar negeri.
Permasalahan lainnya yaitu pemerintah menerapkan Pajak Pertambahan
Nilai (PPN) sebesar 10 persen atas komoditas biji kopi yang diekspor. Namun,
penerapan PPN akan meningkatkan biaya ekspor yang berdampak pada penurunan
volume ekspor. Selain itu, adanya biaya PPN yang dibebankan pada petani
melalui penurunan harga beli berdampak pada rendahnya harga didalam negeri
sehingga insentif yang diterima petani semakin menurun. Berdasarkan
permasalahan tersebut akan berdampak pada jumlah biji kopi yang diekspor.
Berdasarkan UN Comtrade (2017), bahwa pertumbuhan volume ekspor biji kopi
Indonesia berada diurutan ke sembilan dari sepuluh negara pengekspor utama
kopi dunia. Pertumbuhannya hanya mencapai 0.08 persen per tahun selama kurun
waktu 2008-2016.
Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN),
pemerintah memiliki target peningkatan volume ekspor biji kopi Indonesia
sebesar 24.3 persen atau sebesar 462 497 421 kg pada tahun 2025 (Kementan
2015). Di sisi lain pemerintah menargetkan peningkatan konsumsi per kapita
sebesar 1.5 kg per tahun tahun 2019 yang tercantum dalam Rencana Induk
Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) (Kemenperin 2015). Selain itu,
pemerintah juga menargetkan peningkatan pendapatan petani sebesar
Rp 27 675 000 pada tahun 2020 yang tercantum dalam Strategi Induk
Pembangunan Pertanian (SIPP) 2013-2045 (Kementan 2014). Maka, penelitian ini
bertujuan untuk a) menganalisis dayasaing serta dinamika ekspor kopi Indonesia
di pasar internasional, b) membangun model ekspor kopi Indonesia dengan
pendekatan sistem dinamis, c) merumuskan alternatif kebijakan yang dapat
dilakukan dalam upaya peningkatan ekspor kopi Indonesia dan pendapatan petani
disamping mengoptimalkan konsumsi biji kopi dalam negeri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dayasaing kopi Indonesia
berfluktuasi dan mengalami pergeseran posisi pasar ekspor yang dinamis di pasar
kopi dunia. Meskipun kopi Indonesia saat ini masih berdayasaing, namun pangsa
ekspor kopi Indonesia di pasar internasional kurun waktu 1990 hingga 2016
menurun sebesar 36 persen. Hal ini berdampak pada posisi dan dayasaing
Indonesia di pasar internasional. Oleh karena itu, dibangun model ekspor kopi
Indonesia yang dapat mengidentifikasi dinamika permasalahan serta kebutuhan
dari stakeholder dalam pengembangan kopi Indonesia. Pada kondisi aktual terjadi
penurunan volume ekspor, pangsa nilai ekspor biji kopi Indonesia, dan
pendapatan petani. Maka upaya yang diperlukan untuk mencapai peningkatan
ekspor biji kopi Indonesia dan peningkatan pendapatan petani dilakukan melalui
beberapa skenario kebijakan diantaranya peningkatan produktivitas (skenario 1),
peningkatan luas areal (skenario 2), penghapusan PPN (skenario 3), penurunan
laju pertumbuhan penduduk (skenario 4), dan peningkatan laju konsumsi per
kapita (skenario 5). Namun hasil menunjukkan bahwa dengan dilakukan setiap
skenario kebijakan dari skenario 1, 2, 3 dan 4 bahwa target peningkatan ekspor
biji Indonesia dan pendapatan petani belum tercapai. Oleh karena itu, diperlukan
kebijakan alternatif lainnya untuk mendukung upaya tersebut.
Kebijakan alternatif lainnya dilakukan melalui penggabungan beberapa
skenario diantaranya skenario 6 (gabungan skenario 1 dan 2), skenario 7
(gabungan skenario 1, 2, 3), skenario 8 (gabungan skenario 1, 2, 3, 5), skenario 9
(gabungan skenario 1, 2, 3, 4). Hasil menunjukkan bahwa skenario 6, 7, 9 telah
memenuhi target peningkatan ekspor yang ditetapkan pemerintah sedangkan
skenario 8 sebaliknya. Namun, dari ke empat skenario alternatif kebijakan (6, 7, 8,
9) belum memenuhi target peningkatan pendapatan petani sesuai dengan SIPP.
Artinya, pendapatan petani kopi rakyat Indonesia masih rendah bila dibandingkan
dengan pendapatan petani perkebunan rakyat lainnya seperti petani kakao.
Berdasarkan hasil analisis bahwa penerapan skenario 9 (intensifikasi,
ekstensifikasi, penghapusan PPN, dan penurunan laju pertumbuhan penduduk)
merupakan skenario terbaik dari seluruh skenario kebijakan. Hal ini dikarenakan
volume ekspor, pangsa nilai ekspor, dan pendapatan petani yang diperoleh
tertinggi dibandingkan skenario lainnya sedangkan tren daya serap biji kopi
industri dalam negeri meningkat dengan pertumbuhan yang lambat.
Maka, upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi
diantaranya : a) peningkatan produktivitas dan mutu melalui teknologi introduksi,
serta b) peningkatan serta pemanfaatan luas areal serta luas panen. Peningkatan
produktivitas dan mutu dapat dilakukan melalui teknologi introduksi seperti
penggunaan bibit unggul yang sesuai agroklimat setiap wilayah di Indonesia,
peremajaan, pemupukan, pemeliharaan (pemangkasan), penyiangan, panen yang
sesuai dengan anjuran yang didasarkan pada hasil riset. Selain itu diperlukan
pemberdayaan dan penyuluhan bagi petani dalam meningkatkan kualitas sumber
daya dalam merespon adanya introduksi teknologi terbaru guna peningkatan
produktivitas kopi. Sedangkan upaya peningkatan serta pemanfaatan luas areal
dan luas panen dapat dilakukan pada lahan suboptimal. Selain itu dapat dilakukan
pada lahan agroforestri berbasis kopi melalui pengelolaan program Hutan
Kemasyarakatan (HKm) di dalam hutang lindung. Perluasan lahan dapat
dilakukan di Kalimantan Tengah dan Wilayah Indonesia Timur.
Upaya meningkatkan pendapatan petani tidak hanya melalui peningkatan
produktivitas tetapi juga melalui peningkatan mutu pasca panen. Peningkatan
produktivitas masih berpotensi untuk ditingkatkan sejalan dengan penggunaan
varietas unggul arabika dan robusta dengan rata-rata produktivitas potensial
mencapai 1.76 ton/ha. Selain itu, peningkatan pendapatan petani dapat dilakukan
melalui peningkatan mutu pada kegiatan pasca panen yang sesuai. Kopi
gelondong basah dari lahan harus segera diolah maksimal 10 jam setelah
pemanenan lalu dilakukan sortasi dengan tujuan untuk memisahkan kotorankotoran
seperti abu, kulit tanduk, dan gelondongan (AKTG). Selain itu dilakukan
pemisahan biji kopi berdasarkan ukuran dan cacat biji (mutu). Semakin rendah
tingkat cacat yang dihasilkan maka semakin tinggi persentase mutu. Selain itu,
kegiatan pengeringan biji kopi dilakukan hingga kadar air mendekati 12 persen.
Maka, harga biji kopi yang diterima petani akan lebih tinggi sehingga mendorong
peningkatan pendapatan petani.
Upaya yang dapat dilakukan dalam merespon kebutuhan konsumen baik
pasar dalam negeri maupun luar negeri diantaranya a) peningkatan mutu yang
didukung oleh kelembagaan (kemitraan) pasar dan sistem pemasaran. Maka,
perlunya kemitraan yang dapat menguntungkan petani guna keberlanjutan
pasokan kopi Indonesia. Selain itu, upaya merespon tuntutan sertifikasi global
untuk menjamin mutu kopi maka diperlukan keterangan asal-usul kopi melalui
peningkatan Indikasi Geografis (IG), b) peningkatan kapasitas pengolahan dalam
negeri sebagai respon meningkatnya konsumsi domestik sehingga daya serap biji
kopi dalam negeri dapat optimal.
Selain itu, upaya peningkatan dayasaing dan ekspor kopi Indonesia di
pasar internasional disamping meningkatkan produksi melalui dapat dilakukan
melalui penghapusan PPN ekspor biji kopi, perbaikan harga biji kopi dalam negeri
melalui standarisasi mutu biji kopi serta perluasan pasar ekspor ke negara-negara
yang memiliki GDP riil per kapita tinggi, negara yang tidak ketat OTA, negara
pengimpor tradisional, dan negara dengan tingkat konsumsi kopi tinggi
Integrasi Pasar Vertikal Gula Tebu (sugar cane) di Provinsi Lampung
Provinsi Lampung is the one of centers sugar cane smallholders with productivity levels reached 5.845 tons/ha. In addition, the level of production reached 67 047 tons and a total area of 11 471 ha crop yield (Disbun Lampung, 2014). The price of sugar cane which tends to fluctuate due to changes in supply-demand in domestic and world price of sugar cane. Fluctuations in the world price of sugar cane impact on sugar cane price change the consumer level in Lampung Province. However, such price changes are transmition up to the level of manufacturers. This article examines how quickly such price changes can be responded by each institution marketing through the analysis of the integration of vertical market results showed that the change in consumer prices at the earlier time was not transmitted properly to the hands of the manufacturer ( farmers) at this time. This resulted in farmers who did not accept the change in the price of sugar at consumer level. Farmers tend as recipients price (price taker) and is not affected by the reference market or local markets. Elasticity results show that most agencies respond quickly to changes in consumer prices that distributors and wholesalers
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
