10 research outputs found

    The Ability to Distinguish between Anecdotal Texts and Exposition Texts of Grade X Students at MAN Enrekang (supervised by Akmal Hamsa and Mayong Maman)

    No full text
    ABSTRACT ROSDIAWATI, 2020. The Ability to Distinguish between Anecdotal Texts and Exposition Texts of Grade X Students at MAN Enrekang (supervised by Akmal Hamsa and Mayong Maman). The study aims to discover (1) the ability to distinguish between the form of anecdotal text structure and the exposition text of grade X students at MAN Enrekang, (2) the ability to distinguish between the characteristics of anecdotal text and exposition text of grade X students at MAN Enrekang, and (3) the ability to distinguish between the form of linguistic rules of anecdotal text and exposition text of grade Xstudents at MAN Enrekang. This study is a quantitative research. There are three variables in this study, namely students' ability to distinguish between anecdotal and exposition text structures, students' ability to distinguish between the characteristics of anecdotal text and exposition text, students' ability to distinguish between anecdotal and exposition text language rules. The population of the study were students of grade X at MAN Enrekang with 190 students. The sample employed random sampling technique and obtained 61 students. The determination of the sample was based on the steps that had been determined through the random sampling technique which was divided into two groups, namely class X MIPA3 and class X IPS3. Class X MIPA3 with the total of 33 students and class X IPS3 with the total of 28 students. The measurement instrument used was a test. The instrument was validated by expert lecturers. The data obtained were analyzed by employing descriptive analysis. The results of the study reveal that (1) there are still many students who do not understand the skills to distinguish between anecdotal texts and exposition texts based on the form of structure, the characteristics, and the form of language rules, and (2) the scores obtained by students are vary. Keywords: discerning ability, anecdotal text, exposition tex

    Evaluasi dan pelaporan performansi kandatel Sukabumi oleh urusan andalan PT.Telkom : laporan kerja praktek

    No full text
    Proses pelaporan berawal dari penyajian data operasional, pengumpulan data dari berbagai bagian internal dan eksternal yang dikumpulkan diolah oleh urusan ANDALAP

    HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG DIARE DAN PERILAKU IBU BALITA DALAM SWAMEDIKASI DI DESA BEBER, KECAMATAN BATUKLIANG, KABUPATEN LOMBOK TENGAH

    No full text
    Swamedikasi adalah proses pengobatan yang dilakukan sendiri oleh seseorang mulai dari pengenalan gejala sampai pemilihan dan penggunaan obat. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan dan penyakit ringan yangsering dialami masyarakat seperti demam, pusing, nyeri, batuk, influenza, maag, kecacingan, penyakit kulit dan diare. Diare merupakan suatu keadaan yang tidak normal atau tidak seperti biasanya ditandai dengan peningkatan volume cair serta frekuensi buang air besar tiga kali atau lebih dalam sehari. Penyebab diare dibagi menjadi beberapa faktor yaitu faktor infeksi, faktor malabsorbsi, faktor makanan dan faktor psikologis. Swamedikasi adalah upaya pengobatan sendiri, biasanya dilakukan untuk mengatasi penyakit ringan seperti demam, nyeri, batuk, pusing, influenza, diare dan penyakit kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan pengetahuan tentang diare dan perilaku ibu balita dalam swamedikasi. Metode penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross sectional, serta menggunakan teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 82 ibu balita dan dilaksanakan pada 27 juni – 30 juli 2024 dengan cara pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukan ibu balita memiliki tingkat pengetahuan yang cukup sebanyak 48 (58,5 %) dan perilaku cukup 37 (45,1%).Hasil uji statistik menunjukan terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku ibu dalam swamedikasi diare pada balita dengan nilai signifikan p = 0,000 (p-value < 0,05 )

    PENGELOLAAN TEACHER CAPACITY BUILDING (TCB)UNTUK MENINGKATKAN PROFESIONALITAS GURU DI TINGKAT SEKOLAH

    No full text
    Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan studi kasus yang dilakukan di SMPN 2 dan SMP Darul Hikam Bandung. Penelitian dilakukan untuk menjawab empat pertanyaan utama yaitu tahapan pengambilan kebijakan, pengelolaan, quality assurance, dan dampak dari TCB. Penelitian dilatarbelakangi kenyataan bahwa TCB yang dilaksanakan di sekolah masih bersifat parsial, belum terencana dengan baik dan belum menjadi kebutuhan guru sehingga pelasanaan TCB belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas hasil pembelajaran. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan TCB yang efektif harus diinisiasi oleh kebijakan TCB didukung oleh sistem management yang tertata baik dan dikawal dengan sistem penjaminan mutu yang standar sehingga pelaksanaan TCB berdampak pada peningkatan mutu sekolah. Penelitian menghasilkan sebuah model hipotetik pengelolaan TCB yang diharapkan dapat menjadi model rujukan pengelolaan TCB di sekolah khususnya Sekolah Menengah Pertama.; Teacher Capacity Building (TCB) is a key point for a quality education service provided by a school. In the reality, schools don't have standardize TCB system to ensure that their TCB is conducted effectively and efficiently. The research was conducted to reveal the answers to four main questions related to the steps taken in determining the TCB policy at school, the TCB management, the quality assurance system, and the impacts of TCB either for the teacher as an individual, learning quality, or for school quality. The location of the research were SMPN 2 Bandung and SMP Darul Hikam Bandung as the representation of school with their own school policy on TCB. The research was a qualitative research with descriptive method. The data was collected using three major techniques: observation, in-depth interview, and documentary study. The research revealed that an effective management supported by effective leadership resulted an effective TCB. The research ended up with a hypothetic model of teacher capacity building management which is expected to be one of the references used in schools especially in primary levers

    koleksi local content sebagai pelestari budaya di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga

    No full text
    Pemeliharaan Bahan Koleksi Local Content di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga mulai dari perbaikan koleksi yang meliputi penyampulan dan pengeleman bahan koleksi yang rusak dilakukan dengan baik. Koleksi local content dijadikan sebagai pelstari budaya agar budaya senantiasa lestari dan tidak hilang dimakan waktu. Dalam pengadaannya masih ada sedikit hambatan yaitu dalam hal penuangan ide dalam pembuatan koleksi local content

    ANALISIS TERHADAP KETENTUAN SAKSI TINDAK PIDANA ZINA DALAM HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

    No full text
    Latar belakang masalah dalam skripsi ini adalah adanya perbedaan ketentuan tentang saksi dalam hukum Islam dan hukum positif. Rumusan masalah penelitian ini adalah persamaan atau perbedaan dalam ketentuan tentang saksi tindak pidana zina dalam hukum Islam dan hukum positif serta mengapa terjadi perbedaan antara kedua sistem hukum tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode penelitian pustaka yaitu penelitian yang menggunakan media perpustakaan untuk mendapatkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam materi yang tersedia. Tujuan penelitian ini dalam lingkungan masyarakat untuk mencegah terjadinya hal-hal yang melanggar norma-norma agama yang diterapkan dan dilarang dalam Agama Islam seperti perbuatan zina, dengan adanya penelitian ini diharapkan segala kalangan dapat memahami hukum dan sanksi untuk perbuatan tersebut, sehingganya mereka merasa takut untuk melakukan perbuatan itu. Sedangkan dalam dunia akademis maupun aturan hukum agar lebih memperhatikan secara spesifik ketentuan, hukuman, kesaksian dan penerapannya supaya kelak terdapat pembaharuan hukum yang dibutuhkan masyarakat untuk kehidupan yang lebih baik dan berjalan sesuai dengan aturan adat, norma serta agama berlaku. Hasil analisa dari penelitian ini bahwa kedudukan saksi dalam al-qur‟an adalah sebagai rukun dan mesti berjumlah dua orang laki-laki, sedangkan kedudukan saksi dalam hukum acara perdata hanya sebagai salah satu bukti. Perbedaan lain yang terdapat di antara kedua sistem tersebut yaitu saksi dalam al-qur‟an untuk menyaksikan akad atau transaksi yang berlangsung sementara saksi dalam hukum acara perdata untuk menyampaikan kesaksian, begitu pula dalam hukum positif saksi digunakan untuk menyampaikan kesaksian. Implikasi yang dapat terjadi dari perbedaan kedua sistem tersebut adalah sulitnya proses peradilan untuk dilaksanakan karena ketentuan saksi yang mengharuskan berjumlah 4 orang apabila saksi tersebut perempuan karena, kesaksian perempuan bernilai setengah dari kesaksian laki-laki. Jika jumlah saksi kurang dari 4 orang untuk kesaksian seorang perempuan maka kesaksiannya tidak dapat diterima dan proses peradilan tidak dapat dilakukan. Kesimpulan dari penelitian ini adanya perbedaan ketentuan saksi dalam hukum Islam dan hukum positif apabila terdapat saksi perempuan maka harus 2 orang perempuan agar dapat dikatakan 1 saksi, karena nilai kesaksian perempuan menduduki dari nilai kesaksian laki-laki. Sedangkan dalam hukum positif seorang saksi perempuan sudah cukup untuk dikatakan sebagai saksi dan kesaksiannya dapat di persaksikan dalam pengadilan. Persamaan dalam kedua sistem hukum ini adalah saksi digunakan sebagai dasr pertimbangan hakim dalam memutus perkara, karena pembuktian merupakan proses pengungkapan suatu peristiwa yang telah lalu guna mendapatkan gambaran suatu peristiwa yang sebenarnya

    Hubungan Pengetahuan tentang Diare dan Perilaku Ibu Balita dalam Swamedikasi di Desa Beber, Batukliang, Lombok Tengah

    No full text
    Swamedikasi adalah proses pengobatan yang dilakukan sendiri oleh seseorang mulai dari pengenalan gejala sampai pemilihan dan penggunaan obat. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan dan penyakit ringan yang sering dialami masyarakat seperti demam, pusing, nyeri, batuk, influenza, maag, kecacingan, penyakit kulit dan diare. Diare merupakan suatu keadaan yang tidak normal atau tidak seperti biasanya ditandai dengan peningkatan volume cair serta frekuensi buang air besar tiga kali atau lebih dalam sehari yang disebabkan karena infeksi, malabsorbsi, makanan dan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan pengetahuan tentang diare dan perilaku ibu balita dalam swamedikasi. Metode penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross sectional, serta menggunakan teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 82 ibu balita dan dilaksanakan pada 27 juni – 30 juli 2024 dengan cara pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukan ibu balita memiliki tingkat pengetahuan yang cukup sebanyak 48 (58,5 %) dan perilaku cukup 37 (45,1%). Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku ibu dalam swamedikasi diare pada balita dengan nilai signifikan p = 0,000 (p-value < 0,05)

    Strengthening Digital Literacy Based on Civic Values ​​and Ethical Language Learning at MTs. Muhammadiyah Pasui

    No full text
    Penelitian ini menggunakan metode Inquiry-Based Learning (IBL) sebagai pendekatan penguatan literasi digital siswa. Urgensi penelitian ini berangkat dari rendahnya kemampuan siswa dalam memahami etika komunikasi digital dan nilai kewarganegaraan saat berinteraksi di ruang bold. Hasil pre-test terhadap 60 siswa menunjukkan sebagian besar berada pada kategori cukup hingga rendah, terutama pada aspek kemampuan memancarkan informasi dan berbahasa etis. Tahap pengamatan menampilkan siswa cenderung membagikan informasi tanpa verifikasi serta menggunakan bahasa yang kurang sopan dalam percakapan digital. Intervensi dilakukan melalui penguatan pembelajaran berbasis IBL yang mengintegrasikan pembiasaan berbahasa santun (Bahasa Indonesia) dan penanaman kesadaran hak dan kewajiban sebagai warga negara digital (Kewarganegaraan). Hasil post-test menunjukkan peningkatan yang signifikan pada kemampuan berpikir kritis, verifikasi informasi, dan penggunaan bahasa etis, dengan sebagian besar siswa mencapai kategori baik. Temuan ini menegaskan bahwa kolaborasi nilai bahasa dan kewarganegaraan dalam model IBL efektif membentuk literasi digital yang kritis, etis, dan bertanggung jawab.This research employs the Inquiry-Based Learning (IBL) method as an approach to strengthening students’ digital literacy. The urgency of this study arises from the low level of students’ ability to understand digital communication ethics and civic values when interacting in online spaces. The pre-test results involving 60 students indicated that most were in the moderate to low category, particularly in evaluating information and using ethical language. Observations further showed that students tended to share information without verification and often used improper language in digital interactions. The intervention was carried out through IBL-based learning reinforcement that integrates polite language practice (Indonesian Language) and awareness of rights and responsibilities as digital citizens (Civics Education). The post-test results revealed a significant increase in critical thinking, information verification, and ethical communication, with the majority achieving a good category. These findings confirm that the collaboration between language values and civic education in the IBL model is effective in shaping digital literacy that is critical, ethical, and responsible

    Edukasi pengelolaan limbah obat dalam rumah tangga di Desa Labuapi

    No full text
    AbstrakLimbah medis merupakan limbah yang mengandung bahan atau kandungan yang dapat menginfeksi seseorang atau makhluk hidup di sekitarnya. Pada umumnya, masyarakat belum mengetahui bahwa pengolahan limbah medis dan limbah rumah tangga memiliki perbedaan. Pembuangan obat dan sediaan farmasi lain secara tidak tepat akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti obat dijual kembali secara ilegal dan disalahgunakan, terutama jika obat dibuang dalam kemanasan aslinya. Masyarakat di Desa Labuapi masih banyak yang belum memahami tentang cara pembuangan limbah obat rumah tangga dengan baik dan benar. Masyarakat yang menangani obat yang rusak/kadaluwarsa dengan cara dibuang ke tempat sampah rumah tangga dan penyimpanan obat yang tidak terpakai dilakukan hingga mencapai tanggal kadaluwarsa. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk  memberikan  informasi pengelolaan limbah obat rumah tangga di Desa Labuapi. Peserta yang terlibat dalam pengabdian ini sejumlah 23 orang yang terdiri dari perwakilan ibu rumah tangga, kader dan karang taruna. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode ceramah, pemberian leaflet, booklet dan metode pre - post test dalam bentuk kuesioner. Subyek pengabdian kepada masyarakat ini adalah masyarakat Desa Labuapi. Berdasarkan hasil pretest dan posttest dari kegiatan tersebut dapat dilihat terjadi peningkatan  pengetahuan  masyarakat Desa Labuapi tentang pengelolaan limbah obat rumah tangga. Pada saat pretest nilai rata-rata peserta adalah 43,47% yang dalam kategori kurang sedangkan pada saat posttest nilai rata-rata peserta meningkat menjadi 78,69% yang dalam kategori Baik. Hal ini menunjukkan bahwa para peserta dapat menerima edukasi yang diberikan dengan baik. Kata kunci: pengelolaan; limbah obat; rumah tangga; desa labuapi AbstractMedical waste is waste that contains materials or ingredients that can infect a person or living creatures around them. In general, people do not know that the processing of medical waste and household waste is different. Improper disposal of medicines and other pharmaceutical preparations will result in undesirable things such as illegal resale of medicines and misuse, especially if the medicines are thrown away in their original packaging. Many people in Labuapi Village still do not understand how to dispose of household medicinal waste properly and correctly. People handle damaged/expired medicine by throwing it in the household trash and storing unused medicine until it reaches the expiry date. The aim of this community service activity is to provide information on household drug waste management in Labuapi Village. There were 23 participants involved in this service consisting of representatives of housewives, cadres and youth organizations. The methods used in this activity are the lecture method, giving leaflets, booklets and the pre-post test method in the form of a questionnaire. The subjects of this community service are the people of Labuapi Village. Based on the pretest and posttest results from this activity, it can be seen that there has been an increase in the knowledge of the Labuapi Village community regarding household drug waste management. During the pretest the participants' average score was 43.47% which was in the poor category, while during the posttest the participants' average score increased to 78.69% which was in the Good category. This shows that the participants can receive the education provided well. Keywords: management; medicinal waste; household; labuapi villag
    corecore