48 research outputs found

    KEPADATAN DAN DISTRIBUSI LARVAE DIPTERA PADA PHYTOTELMATA DI DAERAH ENDEMIS DEMAM BERDARAH DENGUE DI SUMATERA BARAT

    No full text
    Penelitian tentang komposisi dan distribusi larva Diptera pada Phytotelmata telah dilakukan di tiga lokasi pemukiman daerah endemis demem berdarah dengue yang bertujuan untuk mengetahui komposisi dan distribusi larva Diptera pada phytotelmata. Hasil penelitian didapatkan komposisi larva Diptera pada phytotelmata terdiri dari Ae. aegypti, Ae. albopictus, Cx.tritaeniorhynchus, Ar.subalbatus, Chironomus sp. Tipula sp., Psychoda sp. Ke tujuh larva Diptera terdistribusi pada ke empat jenis phytotelmata dengan nilai ragam Komponen Utama1. (98,03%) dan nilai ragam Komponen Utama 2. (1,55%) dan total keragaman sebesar (99,58%).dan sebagai larva penciri pada ke empat jenis phytotelmata adalah larva Ae.albopictus

    Bioekologl dan Potensi Larva Diptera Pada Fitotelmata di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sumatera Barat

    No full text
    Fitotelmata adalah tumbuhan yang dapat menampung genangan air di bagian tubuhnya, tumbuhan ini dapat ditemukan dimana saja dengan jenis yang berbeda - beda, terutama di daerah tropis. Fitotelmata mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun komunitas organisme yang mendiaminya. Genangan air yang tertampung pada bagian tumbuhan ini memberikan kehidupan pada berbagai fauna dan dimanfaatkan oleh berbagai jenis serangga termasuk ordo Diptera. Penelitian tentang keberadaan serangga pada fitotelmata sudah dilakukan oleh beberapa peneliti tetapi masih terbatas pada satu jenis fitotelmata, sehingga informasi keberadaan serangga pada beberapa jenis fitotelmata masih sangat terbatas. Sumatera Barat yang merupakan salah satu wilayah tropis, diperkirakan banyak ditemukan fitotelmata karena didukung oleh faktor lingkungan yang sesuai (suhu, kelembaban dan curah hujan tinggi). Banyaknya fitotelmata di suatu daerah tentu akan menambah tempat perindukan serangga, yang secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan populasi serangga termasuk Diptera. Sebagai salah satu ordo serangga yang banyak jumlahnya dan berperan penting dalam kehidupan manusia, sangat diperlukan berbagai informasi tentang ordo Diptera khususnya yang mendiami fitotelmata pada daerah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sumatera Barat, dan upaya memperoleh informasi tersebut akan lebih terarah apabila diperoleh dari hasil suatu penelitian, meliputi jenis fitotelmata, jenis dan kepadatan larva, fluktuasi larva Diptera, hubungan kualitas air fitotelmata dengan kepadatan larva dan potensi larva sebagai vektor penyakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) jenis dan tipe fitotelmata, jenis kepadatan serta pengelompokan larva Diptera pada fitotelmata (2) fluktuasi larva Diptera pada fitotelmata (3) hubungan kualitas fisika kimia air pada fitotelmata dengan jumlah individu larva Diptera (4) potensi larva Diptera sebagai vektor dan potensi fitotelmata sebagai tempat perindukan larva di daerah endemis DBD di Sumatera Barat. Penelitian dilakukan bulan Januari sampai Desember 2012, di tiga lokasi yaitu kelurahan Surau Gadang kota Padang, Tarok Dipo kota Bukittinggi dan Tarok kota Payakumbuh. Pengambilan sampel air pada fitotelmata menggunakan pipet yang sesuai dengan ukuran dan tipe fitotelmata. Larva yang diperoleh diidentifikasi mengacu pada beberapa buku kunci identifikasi. Analisis data kepadatan larva Diptera mengacu pada formula Michael (1984). Untuk menentukan pengelompokan didasarkan pada perbedaan jumlah kepadatan larva Diptera pada ke tiga lokasi dan pada ke empat fitotelmata digunakan rumus jarak Euclidean (Euclidean Distance). Analisis pengelompokan pada ke empat jenis fitotelmata dengan Cluster Analysis yang direkonstruksi dalam bentuk diagram pohon (dendrodgram) menggunakan program komputasi Paleontological Statistic (PAST) versi 2.10. Hubungan jumlah individu larva dengan kelembaban, curah hujan dan suhu dianalisis secara statistik dengan model regresi linear ordinary least square, menggunakan program komputasi Paleontological Statistic (PAST) versi 2.10 dan untuk melihat kecenderungan hubungan jumlah individu dengan faktor iklim dipresentasikan melalui diagram Scatter Plot menggunakan program Excell. Hubungan jumlah kepadatan larva dengan Diptera dengan kulitas fisika - kima air fitotelmata meliputi (volume air, suhu, pH, Cadmium, Calsium, Magnesium, Sodium, Zinc, Klorida, dan Sulfat) dianalisis dengan multivariate canonical Corespondence Analyisis (CCA) menggunakan program komputasi Paleontological Statistic (PAST) versi 2.10. Potensi larva Diptera sebagai vektor pada fitotelmata dilakukan dengan cara mendeteksi virus pada larva yang dominan mendiami fitotelmata menggunakan metode reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR). Sedangkan untuk mengetahui potensi fitotelmata sebagai tempat perindukan larva, di dasarkan pada banyaknya jumlah larva yang mendiami fitotelmata. Hasil penelitian di daerah endemik DBD secara keseluruhan ditemukan 15 famili, 20 jenis dan enam jenis fitotelmata yang terdiri dari: Famili Agavaceae (Agave sp.); Araceae (Colocasia gigantea, Colocasia esculenta); famili Bromeliaceae (Ananas commosus); famili Bambusaceae (Bambusa vulgaris); famili Cannaceae (Canna sp.); keluarga Commelinaceae (Rhoeo menghitamkan); famili Fabaceae (Delonyx regia, Erythrina lithosperma, Pterocarpus indicus); famili Lamiaceae (Coleus sp.); famili Malvaceaea (Theobroma cacao); famili Meliaceaea (Switenia mahagoni, Toona sureni); famili Moraceae (Ficus benyamina); Famili Musaceae (Musa paradisiaca, Ravenala madagascariensis); famili Pandanaceae (Pandanus amaryllifolius); famili Palmae (Cocos nusifera); keluarga Zingiberaceae (Curcuma domestica). Jenis dan tipe fitotelmata yang dapat menampung dan menahan genangan air, sebagai tempat pengambilan sampel ada empat jenis yaitu Pandanus amaryllifolius (pandan wangi); Colocasia esculenta (talas, kemumu); Ananas commosus (nanas) dan Bambusa vulgaris (bambu), dan dua tipe fitotelmata yaitu tipe kelopak daun dan tipe tunggul bambu. Larva Diptera yang ditemukan terdiri dari empat famili dan tujuh jenis yaitu: famili Chironomidae (Chironomus sp.); Culicidae (Aedes aegypti, Ae. albopictus, Culex tritaeniorhynchus, dan Armigeres subalbatus); Tipulidae (Tipula sp.); Psychodidae (Psychoda sp.). Rata rata jumlah kepadatan jenis larva Diptera pada ke tiga lokasi yang tertinggi adalah larva Ae. albopictus sebesar 0,60 individu/ml dari di kota Bukittinggi, yang terendah 0,49 individu/ml di Payakumbuh. Tingkat perbedaan jumlah kepadatan larva Diptera yang paling besar adalah antara Padang dengan Bukitinggi 0,408 dan yang paling kecil adalah antara Padang dan Payakumbuh 0,198. Rata-rata jumlah kepadatan jenis larva yang tertinggi pada ke empat jenis fitotelmata adalah larva Ae.albopictus sebesar 0,60 individu/ml pada pandan dan terendah 0,36 individu/ml pada bambu. Tingkat perbedaan jumlah kepadatan larva paling besar adalah antara larva yang mendiami bambu dengan nanas 0,337 dan perbedaan yang paling kecil adalah antara larva yang mendiami pandan dengan talas 0,102. Ada dua kelompok jumlah kepadatan larva dari ke empat jenis fitotelmata yaitu kelompok 1. nanas, talas dan pandan dan kelompok 2. bambu. Fluktuasi jumlah individu larva Diptera bervariasi setiap bulan cenderung meningkat pada bulan September. Jumlah individu larva berkorelasi positif dengan kelembaban dan curah hujan (r=0,534; p<0,01) dan (r = 0,418; p <0,01), tetapi berkorelasi negatif dengan suhu (r=-0,418; p<0,01). Hubungan kepadatan larva Diptera dengan kualitas air pada fitotelmata berdasarkan lokasi sebagai penentu adalah kota Padang dengan score CCA sebesar 1, 669. Jenis larva penentu adalah, larva Ae. aegypti dengan score CCA sebesar 1,651. Faktor kimia air sebagai penentu adalah pH dengan score CCA sebesar 0,690 dan faktor fisika air sebagai penentu adalah suhu dengan score CCA sebesar 0,972. Hubungan kepadatan larva Diptera berdasarkan tipe fitotelmata, sebagai penentu adalah talas dengan score CCA sebesar 1,143. Jenis larva sebagai penentu adalah larva Psychoda sp. dengan sore CCA sebesar 0,966. Faktor kimia air sebagai penentu adalah pH dengan score CCA sebesar 0,933 dan kualitas fisika air sebagai penentu adalah suhu dengan nilai score CCA sebesar 0,621. Hasil deteksi virus dengue pada larva Ae. albopictus yang positif mengandung virus dengue ditemukan pada larva Ae. albopictus yang mendiami talas yang berasal dari kota Bukititnggi dan yang mendiami talas dan tunggul bambu yang berasal dari kota Payakumbuh dengan serotype DEN 1 dan DEN 4. Fitotelmata pandan, talas, bambu dan nanas berpotensi sebagai tempat perindukan larva Diptera khususnya larva Ae.albopictus pada ke tiga lokasi

    DIVERSITAS PHYTOTELMATA DI BEBERAPA WILAYAH ENDEMIS DEMAM BERDARAH DENGUE DI PROVINSI LAMPUNG, INDONESIA

    No full text
    Provinsi Lampung termasuk wilayah yang subur dan kaya akan keanekaragaman tumbuhan termasuk tumbuhan golongan phytotelmata. Phytotelmata adalah tumbuhan yang dapat menampung genangan air pada organ atau bagian tubuhnya, yang dimanfaatkan oleh berbagai organisme sebagai tempat berkembang biak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diversitas&nbsp; phytotelmata di beberapa wilayah endemis Demam Berdarah Dengue di Provinsi Lampung.&nbsp; Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 18 jenis phytotelmata yang termasuk ke dalam 14 famili tumbuhan meliputi Araceae, Arecaceae, Asparagaceae, Bromeliaceae, Costaceae, Euphorbiaceae, Gnetaceae, Malvaceae, Oxylidaceae, Musaceae, Oxylidaceae, Pandanaceae, Poaceae,Ruscaceae, dan Sapindaceae;&nbsp; ditemukan enam tipe phytotelmata&nbsp;&nbsp; yaitu: tipe kelopak daun (KD), lobang akar (LA), lobang pohon (LP), kelopak bunga (KB), lobang buah (LB) dan tunggul bambu (TG).&nbsp; Volume genangan air yang paling banyak ditemukan pada tipe lobang buah yaitu jenis&nbsp;Cocos nucifera&nbsp; (50-60 ml);&nbsp; tipe tunggul bambu yaitu pada jenis&nbsp;&nbsp;Bambusa&nbsp;sp.(80-95 ml)

    PERBANDINGAN PERKEMBANGAN LARVA Graphium agamemnon (LEPIDOPTERA: PAPILIONIDAE) PADA BEBERAPA JENIS TANAMAN PAKAN LARVA

    No full text
    Penelitian perbandingan perkembangan larva&nbsp;Graphium agamemnon&nbsp;pada beberapa jenis tanaman pakan larva dilakukan pada bulan Februari-April 2016 di Taman Kupu-kupu Gita Persada Lampung untuk mengetahui perbandingan perkembangan larva pada enam jenis tanaman dan mengetahui tanaman yang paling baik digunakan dalam perkembangan larva. Penelitian menggunakan metode rancangan acak kelompok dengan 10 kali pengulangan.&nbsp;Lima pasang kupu-kupu&nbsp;G. agamemnon&nbsp;dilepaskan dalam kandang penangkaran untuk mendapatkan telur. Setelah menetas, larva&nbsp;G. agamemnon&nbsp;dikembangkan pada daun enam jenis tanaman pakan larva yaitu sirih hutan (Piper aduncum),&nbsp;cempaka (Michelia champaca),&nbsp;sirsak (Annona muricata),&nbsp;alpukat (Persea americana),&nbsp;glodokan (Polyalthia longifolia),&nbsp;dan srikaya (Annona squamosa).&nbsp;Parameter yang diukur adalah panjang tubuh, berat tubuh, lebar kepala, dan lama waktu untuk menjadi pupa.&nbsp; Data yang diperoleh kemudian di analisis dengan menggunakan ANARA yang dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 5 %, dengan bantuan program SPSS versi 16.&nbsp; Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan perkembangan larva&nbsp;G. agamemnon&nbsp;pada enam jenis tanaman pakan larva. Pada &nbsp;instar dua dan instar tiga, pertumbuhan panjang dan berat larva pada tanaman sirih hutan lebih baik dari pada larva pada tanaman pakan yang lainnya.&nbsp; Lama waktu perkembangan yang dibutuhkan larva menjadi pupa paling cepat adalah 17 hari yaitu pada tanaman sirih hutan

    Isolasi dan Uji Patogenitas Isolat Fungi Entomopatogen Terhadap Stadium Dewasa Nyamuk Aedes aegypti

    No full text
    This research aims to determine the effectiveness of four types of entomopathogenic fungi isolated from Ae. aegypti mosquitoes from Bandar Lampung to the mortality of adult stages of Ae. aegypti mosquitoes. This research was conducted in October 2018-January 2019 at the Microbiology Laboratory of FMIPA, University of Lampung. This research using factorial completely randomized design with two factor treatment. The first factor is type of isolate (Mucor sp., Penicillium sp., IL3 (unidentified), Aspergillus sp.) and second faktor is dilution (control, 10 (without dilution), 10-1, 10-2, 10-3). Data were analyzed using ANOVA. If there are significant differences, then it is continued by the Duncan Test at the level of 5%. The results showed that the four types of fungi (Mucor sp., Penicillium sp., Aspergillus sp. and IL3) were able to cause mortality of Ae. aegypti mosquitoes with the highest killing power was  in Mucor sp. 10 (without dilution) is 43.33%. But the most effective is Mucor sp. 10-3 because the highest dilution has been able to cause mosquito mortality by 30%.  Key words: Ae. aegypti, DHF, entomopathogenic fungi, isolate, dilution.Â

    Populasi Telur Nyamuk Aedes sp. Pada Ovitrap yang Diberi Fermentasi Gula sebagai Atraktan Alami di Lingkungan Kampus FMIPA Universitas Lampung

    No full text
    Diseases transmitted by mosquito especially Aedes sp. there’s still happens in many areas of both city and village in Indonesia, until reducing Aedes sp. requires controlled effort. Attractant is a compound that can effect the behavior of mosquito even to decrease the population of mosquito directly.  Sugar fermentation can be a natural attractant, this solution can produce carbon dioxide compound that can be a attract for mosquito, until mosquitoes are attracted to ovitrap.  The purposes of this research was to determined the sugar fermentation to total of Aedes sp. eggs at ovitrap.  The research design used is a Complete Random Design (CRD) with 5 repeated. Analysis of data using Analysis of Variance (ANOVA) and if there are the significant differences of treatment then test continued with BNT test signification levels α = 5%.  The result is indicate that fermentation formula P1 (50 gr brown sugar+ 1 g yeast) found up to 15 mosquitos eggs at ovitrap with a percentage of 50% more than any other formula, ANOVA test indicate that the value of p&lt;0,05 that’s mean there is none significant differences between the treatment.  Key words: Aedes sp.; attractant; sugar fermentatio

    Maya Index Analysis of Dengue Fever Vector in East Metro Sub-District Lampung Province Indonesia

    No full text
    Dengue fever was one of the dangerous diseases due to it might cause death in a short time. It transmitted through its vectors, namely,&nbsp;Aedes aegypti&nbsp;and&nbsp;Aedes albopictus. Maya index is an indicator that used to identify a high-risk area or not as a breeding ground for&nbsp;Aedes&nbsp;sp. The purpose of this study was to determine the type of landfill which has the potential as a breeding ground for mosquitoes, to find out the larvae found in various landfill sites, and to know the Maya index status in Metro Timur Subdistrict which was carried out in November-December 2017. This research conducted by a direct survey of 100 residents' houses in East Metro. The results indicated that the type of controlled water reservoir that had the most potential as a breeding place for mosquitoes was a bathtub, while the type of water reservoir that was not controlled which had the potential as a place for mosquito breeding was a fish pond usage. There were 2 types of larvae found, namely,&nbsp;Aedes aegypti&nbsp;larvae with a percentage of 47.7% and&nbsp;Aedes albopictus&nbsp;larvae with a percentage of 52.3%. The Maya index status detected there, was a medium category, which obtained from the BRI combination and HRI category. Besides, it did not mean that the area has been free from dengue cases. The role of the community is still very much needed in eradicating landfills which has the potential as a breeding place for dengue mosquitoes vector

    Isolasi dan Identifikasi Jamur Entomopatogen Sebagai Kandidat Bioinsektisida Lalat Rumah (Muscadomestica)

    No full text
    Lalat rumah (M. domestica) merupakan vektor mekanik berbagai penyakit oleh mikroba patogen antara lain Salmonella penyebab demam tifoid, Shigella penyebab disentri, dan E. coli penyebab diare. Pengendalian M. domestica umumnya menggunakan insektisida sintetis, namun menimbulkan resistensi dan berdampak buruk bagi lingkungan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian alternatif berupa pengendalian biologi menggunakan isolat jamur entomopatogen sebagai bioinsektisida. Penelitian ini diawali dengan isolasi jamur entomopatogen menggunakan metode moist chamber dengan larva M. domestica sebagai serangga pancingan. Jamur yang tumbuh pada larva dikultur dan dimurnikan pada media PDA lalu diidentifikasi. Identifikasi dilakukan melalui pengamatan makroskopis meliputi warna dan diameter koloni dan pengamatan mikroskopis meliputi struktur konidia, konidiofor, hifa, vesikula, fialid, dan sel kaki. Hasil isolasi dan identifikasi diperoleh lima jenis isolat yaitu Aspergillus sp. 1, Aspergillus sp. 2, Geotrichum sp., Penicillium sp., dan Aspergillus sp. 3

    JENIS DAN TIPE PHYTOTELMATA DI PEMUKIMAN DAN PERKEBUNAN LINGKUNGAN SUKAHARUM KELURAHAN BATU PUTUK TELUK BETUNG BARAT, BANDAR LAMPUNG

    No full text
    Phytotelmata merupakan golongan tumbuhan yang dapat menampung air pada bagian tubuhnya. Genangan air yang terdapat pada phytotelmata digunakan oleh berbagai jenis organisme sebagai habitat alami. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui jenis phytotelmata di Sukaharum Kelurahan Batu Putuk Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juni 2016 di pemukiman dan perkebunan. Identifikasi phytotelmata dilakukan secara langsung di lokasi pengamatan. Bagi phytotelmata yang tidak diketahui jenisnya dilakukan identifikasi di Laboratorium Botani Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung. Hasil penelitian di area pemukiman ditemukan 14 jenis phytotelmata yang tergolong dalam tujuh tipe phytotelmata. Jenis phytotelmata yang paling banyak ditemukan adalah Musa paradisiaca sebanyak 29 individu dengan tipe yang paling banyak ditemukan yaitu bagian tumbuhan yang gugur. Di area perkebunan ditemukan delapan jenis phytotelamata yang tergolong dalam enam tipe phytotelmata. Jenis phytotelmata yang paling banyak ditemukan adalah Theobroma cacao sebanyak 32 individu dengan tipe yang paling banyak ditemukan tipe lubang buah dari tumbuhan Theobroma cacao. Jenis phytotelmata yang ditemukan pada area pemukiman lebih banyak dibandingkan phytotelmata yang ditemukan di area perkebunan

    Isolasi dan Aplikasi Fungi Entomopatogen dari Larva Nyamuk Aedes aegypti L.

    No full text
    DHF (Dengue Hemorrhagic Fever) is a serious problem in Indonesia. DHF disease control has been applied so far, one of which is the use of larvacide temephos (abate). However larvacide is a chemical insecticide that has a negative impact on human health and causes resistance. Therefore in this research, biological control is carried out by utilizing entomopathogenic fungi as a larvacide. The purpose of this study was to determine the effectiveness of entomopathogenic fungi isolated from Ae aegypti larvae. Against the death of Ae. Aegypti mosquito larvae with the moist chamber method. This study used a completely randomized design (CRD) with a factorial pattern and performed two repetitions. Factor A is a type of fungi with 3 levels, namely A1: Aspergillus sp1, A2: Aspergillus sp2, and A3: Syncephalastrum sp. Factor B is a dilution with 7 levels, namely B0: Control, B1: 100 (without dilution), B2: 10-1, B3: 10-2, B4: 10-3, B5: 10-4, B6: 10-5 with every treatment was applied in 2 repetitions. Observations were made 24 hours after treatment for 3 days. Data were analyzed using analysis of variances (anova) and continued with the Least Significant Difference Test (LSD) at 5%. The results indicate that fungi isolates are the most effective in killing Ae. Aegypti mosquito larvae is Aspergillus sp1 and Aspergillus sp2 on the treatment of spores without dilution. Key words: DHF; larvacide; Aedes aegypti; Entomopathogenic Fungi
    corecore