105 research outputs found
TINJAUAN PENYELESAIAN PERMOHONAN PENGURANGAN SANKSI ADMINISTRASI PAJAK PERIODE 2019 DI KANTOR WILAYAH DJP JAKARTA SELATAN II
This Final Assignment Report was prepared by Sepia Maulida with Student ID Number 1741211012, with the title "Review of Completion of Requests for Reducing Tax Administration Sanctions for 2019 Period at the Regional Office of the South Jakarta DJP II" This report was prepared based on the results of research conducted by the author at the Regional Office of the DJP South Jakarta II.
The author's background takes the title above because to illustrate and know the flow of the process of completing the application for reducing the tax administration sanctions made by the taxpayer as a deduction from the tax payable.
The method used by the author in this research is descriptive method. Descriptive research is one type of research that aims to describe or describe the data that has been collected as there is no intention to make conclusions that apply to the public or generalization.
The results obtained from this study are explained that taxpayers who have objections to tax bills or tax assessments issued by the Directorate General of Taxes can burden taxpayers because there is an element of error that burdens taxpayers, taxpayers can also use the facility by filing a facility lawsuit and appeal with the aim of the Directorate General of Taxes can review the decision by submitting a letter requesting reduction or elimination of tax administration sanctions with the aim of deductible tax deductible
ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS GULUNGAN BENANG POLYESTER 20S PADA MESIN WINDING DENGAN METODE STATISTICAL QUALITY CONTROL (SQC) DAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA) (Studi Kasus : PT. KABANA TEXTILE INDUSTRIES)
PT. Kabana Textile Industries merupakan sebuah perusahaan tekstil yang beralamat di Jl. Raya Pait KM. 10 Pekalongan 51137, Jawa Tengah, Indonesia. PT. Kabana Textile Industries dalam memenuhi kepuasan konsumennya mengalami kendala dimana dari data hasil pengamatan dari Bulan Januari hingga September 2021 untuk kualitas gulungan benang polyester 20s pada mesin winding ini terdapat jumlah kecacatan melebihi batas standar 5% yang ditentukan oleh perusahaan yaitu sebesar 68.231,52 atau 5,28%. Dilihat dari penjelasan diatas, maka perlu dilakukan upaya pengendalian kualitas gulungan benang polyester 20s pada mesin winding. Metode Statistical Quality Control (SQC) digunakan untuk mengidentifikasi jenis kecacatan apa yang paling dominan dan diketahui akar penyebab masalahnya. Sedangkan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) digunakan untuk mengidentifikasi kegagalan yang bisa terjadi dan didapatkan usulan perbaikannya. Berdasarkan hasil pengolahan data Bulan Januari-September 2021 mendapatkan hasil bahwa jenis kecacatan terdiri dari cacat Stitch, Lapping, Pattern Winding, Swelled Package, dan Wrinkles. Jenis kecacatan yang paling dominan yaitu jenis cacat Stitch sebesar 44,67%, Swelled Package sebesar 36,07% dan proporsi kecacatan pada Bulan Januari, April, Mei, Juni, September 2021 berada di luar batas kendali. Diketahui nilai RPN tertinggi untuk cacat Stitch sebesar 245 disebabkan oleh faktor mesin yaitu tegangan tidak tepat/bervariasi yang diatasi dengan set tegangan dengan baik (8-12% pada kekuatan benang tunggal dan 15% pada benang double). Sedangkan cacat Swelled Package disebabkan oleh faktor mesin yaitu tegangan rendah dapat diatasi dengan mengganti bobbin yang tidak kendur. Usulan perbaikan ini diterapkan oleh pihak perusahaan pada Bulan November 2021 dan mendapatkan penurunan jumlah kecacatan menjadi 4,53%, jenis cacat stitch sebesar 43,97% dan swelled package sebesar 29,36% yang berarti sudah berada dibawah batas kecacatan. Sedangkan untuk nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi setelah usulan perbaikan juga mengalami penurunan menjadi 140.
Kata kunci : PT. Kabana Textile Industries, Mesin Winding, Pengendalian Kualitas, Statistical Quality Control, Failure Mode and Effect Analysi
Pengaruh perbedaan antara laba akuntasi dan laba fiskal, akrual dan arus kas terhadap persistensi laba pada perusahaan perbankan publik yang terdaftar di bursa efek Jakarta
IX+65hlm.;29c
PERLAKUAN AKUNTANSI AKTIVA TETAP MENURUT STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO 16 DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA PERUSAHAAN (STUDI KASUS PADA KSP “MITRA SENTOSA” KREMBUNG)
Abstract
Maulida,Elvania, 2018. Treatment of depreciation of fixed assets according to
financial accounting standards number 16 and its effect on companyprofits of
study casein savings and loan cooperatives KSP “Mitra Sentosa” Krembung.
Thesis or final assignment, accounting study program, faculty of
economics, Islamic University of Majapahit (UNIM).
Mentor I : Hari Setiono, SE., M.Si
Mentor II : Toto Heru Dwihandoko., SE., MM., Ak., CA
A business entity engaged in services or trade requires fixed assets to run its
operasional activities. Depreciation of property and equipment is due to the
reduced usefulness of fixed assets caused by the use of the fixed assets.
Therefore, the calculation of depreciation cost is very important to know the
causes of changes that occur both beneficial and adverse so that appropiate
action can be taken.
Saving and loan cooperatives (KSP) Mitra Sentosa Krembung uses the
straight-line method in calculating inventory depreciation and fixed assets,
observations made by the author of the effect of depreciation methods on
operating income in the financial statements, by comparing financial statements
before and after adjustments. This adjustments is carried out because of the
difference in costs contained in the depreciation expense, namely the financial
statements before and after adjustments.
Based on the results of the discussion on inventory depreciation and fixed
assets in 2017, there is a difference in office inventory depreciation costs of Rp.
2,035,426, - and office buildings amounting to Rp 7,527,711, - therefore
adjustments were made to retained earnings of Rp. 9,563,197. This difference
occurs due to inventory depreciation accounting treatment and buildings that are
not in accordance with financial accounting standards, thus affecting the
company's financial statements, therefore, the company must consider many
things in making policies on recording the acquisition price of fixed assets,
depreciation of fixed assets, and the presentation of fixed assets in the financial
statements. Because this will also have an impact on determining the taxes that
must be paid and net income that does not describe the actual state of a
company and the decision taken by a company in the future.
Keywords: fixed assets, depreciation of fixed assets, financial statement
Designing Enterprise Resources Planning Application for Integrating Main Activities in a Simulator Model of SCM Network Distribution
Collaborative supply chain is a specific topic in supply chain management and studied by
industrial engineering students in supply chain management course. Unfortunately, conventional
learning media cannot explain the phenomenon of collaborative supply chain to the students. This study
aimed to design a dynamic learning media so that inter-company collaboration and information sharing
on the activities of Supply Chain entities can be explained effectively to the students. The problem was
solved using 3 (three) steps. First, the distribution network was described using mock up. It consists of
miniature trucks, miniature network and miniature of the manufacturer-distributor-retailer embedded
with tag and reader of RFID. Second, the Enterprise Resources Planning application was developed for
supporting business activities. Third, we developed the integrator consists of monitor’s user interface
and practice modules. The result of the research - an SCM-Simulator – will be able to improve learning
skills of industrial engineering graduates, especially abilities to identify, formulate, and solve the
activities of tactical plan & operational routines of Supply Chain entities. However, distribution module
designed is for limited scale laboratory study of simple objects.
Keywords: Distribution Network, Enterprise Resource Planning, Industrial Engineering Education,
SCM Simulator,and Learning Media
Laporan Kerja Magang Peran Reporter Dalam Pemberitaan Tentang Pandemi Covid-19 di IDN Times
Seiring dengan perkembangan teknologi, media yang awalnya berbentuk seperti surat kabar, televisi, dan radio kini terus bertransformasi dalam bentuk media digital. Media onlinemenawarkan akses yang lebih cepat dan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Salah satu perusahaan yang mengembangkan media digital di Indonesia adalah IDN Media. Menyasar generasi milenial dan Z atau kelompok usia muda, perusahaan mengemas sejumlah topik, termasuk politik, bisnis dan ekonomi, serta hiburan. Penulis melakukan praktik kerja magang di IDN Times sebagai reporter pada masa pandemi Covid-19. Media menjadi penyedia informasi utama bagi publik yang ingin mengetahui tentang perkembangan penyebaran dan penanganan virus corona. Para reporter, termasuk penulis melakukan pencarian informasi dan penulisan berita dengan mengandalkan sejumlah cara, termasuk liputan, siaran pers, dan penyaduran artikel. Kerja praktik ini memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi penulis yang berguna dalam mengembangkan karir selepas masa kuliah
TINGKAT KEPUASAN PESERTA PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) DI PUSKESMAS KLATAKAN KECAMATAN TANGGUL KABUPATEN JEMBER
Harapan peserta Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas
Klatakan pada aspek Tangible sebesar 1123, realibility sebesar 1463,
Responsiveness sebesar 1145, Assurance sebesar 1134, Empathy sebesar 1368.
Secara keseluruhan harapan peserta Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di
Puskesmas Klatakan sebesar 6233
Kenyataan peserta Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas
Klatakan pada aspek Tangible sebesar 1095, realibility sebesar 1473,
Responsiveness sebesar 1100, Assurance sebesar 1151, Empathy sebesar 1372.
Secara keseluruhan harapan peserta Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di
Puskesmas Klatakan sebesar 6191
Kepuasan peserta program Prolanis di Puskesmas Klatakan adalah dengan
membandingkan harapan dengan kenyataan pada aspek Tangible, realibility ,
Responsiveness, Assurance, Empathy. Peserta peserta Pengelolaan Penyakit
Kronis (Prolanis) di Puskesmas Klatakan tidak puas pada aspek Tangible, dan
Responsiveness, sementara pada aspek realibility, Assurance dan, Empathy
adalah puas. Secara keseluruhan tingkat kepuasan peserta Pengelolaan
Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas Klatakan adalah tidak puas
Evaluasi Sistem Proteksi pada Sistem Kelistrikan Gardu Induk 150 kV, 70 kV dan 20 kV Sekarputih
Sistem kelistrikan pada suatu perusahaan menjadi salah satu bagian yang sangat penting. Gangguan pada sistem kelistrikan dapat mengakibatkan terganggunya kontinuitas pelayanan daya listrik. Pada Gardu Induk Sekarputih terdapat permasalahan yaitu apabila terjadi gangguan hubung singkat maka akan terjadi Circuit Breaker trip yang tidak berurutan atau tidak sesuai dengan koordinasi relenya. Hal ini diperlukan evaluasi setting rele Overcurrent pada Gardu Induk Sekarputih agar kinerja rele bisa terkoordinasi dengan baik. Kemudian dari beberapa setting eksisting yang ada memiliki grading time yang melebihi standar ( lebih dari 0,4 s) sehingga ketika terjadi gangguan yang dekat dengan trafo, dikhawatirkan rele akan bekerja dalam waktu yang cukup lama untuk memerintahkan Circuit Breaker trip. Maka untuk mengatasi hal tersebut diperlukan resetting pada setting yang ada. Pada Gardu Induk ini terdapat 5 trafo yang dimana memiliki rele diferensial (87T), untuk setting diferensial diperlukan nilai slope 1 dan slope 2 yang mana harus sesuai dengan tipe rele yang digunakan. Rele yang digunakan adalah MICOM P643, tipe inilah yang akan mempengaruhi besar nilai arus restrain. Kemudian evaluasi dilakukan untuk memastikan dimana zona rele diferensial akan bekerja (trip) dan tidak bekerja (non trip) apabila terjadi gangguan internal atau eksternal trafo.
===============================================================================================================================
The electrical system in a company is a very important part. Disturbances in the electrical system can result in disruption of the continuity of electric power services. In the Gardu Induk there is a problem, namely if there is a short circuit, there will be a Circuit Breaker trip that is not sequential or not in accordance with the coordination of the relay. It is necessary to evaluate Overcurrent relay settings at Sekarputih Substation so that relay performance can be well coordinated. Then from the existing existing settings there is a grading time that exceeds the standard (more than 0.4 s) so that when a disturbance is close to the transformer, it is feared that the relay will work in a long time to order a Circuit Breaker trip. Then an evaluation and resetting has been done to get the grading value between 0.2 s - 0.4 s. And for the time delay relay above the transformer uses 0.1 s when the primary side minimum relay current value is greater than the secondary side maximum relay current. In this substation there are 5 transformers which have differential relay (87T), for differential settings a slope 1 and slope 2 are needed which must be in accordance with the type of relay used. The relay used is MICOM P643, this type will affect the value of the restrain current. Then the evaluation is done to ensure the differential relay work zone will work (trip) and not work (non trip) in the event of an internal or external interference with the transformer
PROBLEMATIKA DALAM PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MIN 7 HULU SUNGAI SELATAN
Hasil pengamatan awal bertajuk "Permasalahan dalam Pembelajaran Keyakinan Moral di MIN 7 Hulu Sungai Selatan" menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran yang selama ini dilakukan oleh guru tidak optimal sehingga mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap permasalahan pembelajaran keyakinan moral di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 7 Hulu Sungai Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, pengumpulan data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan, kepada guru mata pelajaran keyakinan moral. Penelitian ini mengungkapkan beberapa masalah, seperti kesulitan siswa dalam memahami materi, kurang fokus, dan keterlibatan yang rendah. Selain itu, ada siswa yang kesulitan membaca, bersosialisasi, dan mengandalkan teman untuk mengerjakan tugas. Terakhir, penelitian ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Akidah Akhlak di MIN 7 Hulu Sungai Selatan, diperlukan kolaborasi yang lebih baik antara guru, siswa, dan orang tua. Dengan kerja sama yang erat antara semua pihak, diharapkan permasalahan yang ada dapat diselesaikan dengan lebih baik, dan pembelajaran Iman Moral dapat mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu membentuk mahasiswa yang memiliki itikad baik dan moral.
 
Keterkaitan Modal Sosial Dengan Pasrtisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Infrastruktur (Program Add) Desa Pajaran Kecamatan Poncokusumo
Infrastruktur merupakan fasilitas yang tersedia untuk meningkatkan kesejahteraan
hidup masyarakat setempat (BAPPENAS, 2008). Kota ataupun desa membutuhkan
infrastruktur yang menunjang untuk keberlangsungan hidup dan keberlanjutan ekonominya
(Haris, 2009), namun pada kenyataannya seringkali dijumpai pembangunan infrastruktur
yang lebih fokus di daerah diperkotaan dan mengakibatkan daerah pedesaan yang
mengalami ketertinggalan dalam hal infrastruktur. Data Statistik Potensi Desa Indonesia
(2014) menyebutkan bahwa Provinsi Jawa Timur masih harus mengejar ketertinggalan
untuk infrastruktur desa-desanya. Guna mengatasi ketertinggalan pembangunan
infrastruktur, pemerintah menanganinya dengan memberikan bantuan melalui program
ADD (Alokasi Dana Desa). ADD merupakan program bantuan pemerintah yang berbasis
pada partisipasi masyarakat. Potensi partisipasi yang tinggi dari sebuah desa dapat
ditumbuhkan karena pada dasarnya warga atau masyarakat desa memiliki modal sosial
yang tinggi untuk melaksanakan bahkan mengawasi jalannya program-program
pembangunan didesa (Maulana, 2009). Hal ini membuktikan bahwa untuk mencapai
kesuksesan pada suatu program pembangunan dibutuhkan partisipasi serta modal sosial
yang baik dari masyarakat (Putnam dalam Hasbullah, 2006).
Kesuksesan pembangunan infrastruktur (Program ADD) di Desa Pajaran sangat
membutuhkan partisipasi masyarakat. Pasal 5 Peraturan Bupati Malang Nomor 37 Tahun
2017 menyebutkan kapasitas partisipasi masyarakat harus ditingkatkan dalam hal
perencanaan, pelaksanaan program serta pengawasan atau evaluasi program pembangunan.
Tahap evaluasi merupakan salah satu tahap penting yang menjadi umpan balik yang dapat
memberi masukan demi perbaikan pelaksanaan proyek selanjutnya, namun penggunaan
ADD khususnya untuk pembangunan infrastruktur di Desa Pajaran belum
mengikutsertakan masyarakat dalam tahap evaluasi program. Hal ini selanjutnya
berdampak pada tujuan dari kegiatan pembangunan yang seringkali tidak tepat sasaran.
Pembangunan infrastruktur di Desa Pajaran sering mengalami keterlambatan penyelesaian,
hasil wawancara menunjukkan bahwa hal ini diakibatkan oleh masyarakat kurang aktif
dalam beberapa proses pengerjaan proyek pembangunan infrastruktur. Partisipasi
masyarakat dan modal sosial merupakan 2 elemen yang tidak bisa dipisahkan dari
kehidupan masyarakat terutama untuk kegiatan pembangunan infrastruktur. Penelitian di
Desa Pajaran dilakukan untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam
pembangunan infrastruktur, faktor-faktor yang mempengaruhi modal sosial serta modal
sosial masyarakat dan keterhubungannya dengan partisipasi masyarakat.
Penelitian ini memiliki 3 tujuan (1) Menentukan tingkat partisipasi masyarakat dalam
pembangunan infrastrukur Desa Pajaran. Tingkat partisipasi diukur dengan 4 tahap
partisipiasi yaitu tahap pengambilan keputusan, tahap pelaksanaan program, tahap
pemanfaatan program dan tahap evaluasi program. Untuk tujuan ini peneliti membuat
angket yang disusun dari setiap indikator pada setiap tahap partisipasi. Penilaian tingkat
partisipasi menggunakan 3 jenjang skala likert yaitu skor 3 untuk sering atau aktif, skor 2
untuk jarang atau kurang aktif dan skor 1 untuk tidak pernah atau tidak aktif. Langkah
selanjutnya setelah seluruh data responden terkumpul maka membuat 3 kelas tingkat
partisipasi dengan pembagian kelas tinggi (25,8-33,1), sedang (18,4-25,7), dan rendah (11-
18,3). (2)Menentukan faktor-faktor pembentuk modal sosial. Pada penelitian ini penentuan
faktor pembentuk modal sosial menggunakan analisis CFA (Confimatory Factor Analysis).
Data modal sosial yang akan dinilai terdiri atas 3 variabel yaitu kepercayaan, jaringan
sosial serta norma sosial. Tujuan penggunaan analisis ini ialah untuk menyederhanakan
beberapa variabel yang akan diteliti menjadi lebih sedikit dari sebelumnya. Analisis CFA
pada penelitian ini menggunakan aplikasi MPLUS 7.0. (3)Mengetahui hubungan antara
modal sosial dengan partisipasi masyarakat. Guna mengetahui model hubungan antara
modal sosial dengan partisipasi masyarakat input yang digunakan ialah hasil analisa
tingkat partisipasi (tujuan 1) dan faktor pembentuk modal sosial (tujuan 2). Model
hubungan ini dianalisis dengan analisis SEM (Structural Equation Modelling).
Berdasarkan hasil penelitian tingkat partisipasi keseluruhan masyarakat pada program
pembangunan infrastruktur masih rendah dengan prosentase sebesar 57,5%. Modal sosial
di Desa Pajaran dibentuk oleh 3 faktor yaitu kepercayaan, jaringan sosial, serta norma
sosial. Hubungan modal sosial dengan partisipasi terbentuk menjadi 2 yaitu hubungan
langsung dan hubungan tidak langsung. Jaringan sosial ialah variabel yang memiliki
hubungan langsung dengan partisipasi masyarakat, sedangkan kepercayaan dan norma
sosial memiliki hubungan tidak langsung dengan partisipasi. Hasil analisis SEM
menunjukkan bahwa, hubungan antara jaringan sosial dengan partisipasi akan semakin
baik jika tingkat kepercayaan masyarakat semakin baik juga. Maka jika tingkat
kepercayaan masyarakat semakin baik akan terbentuk jaringan sosial di masyarakat yang
juga baik. Jaringan sosial yang semakin meningkat akan mempengaruhi tingkat partisipasi
masyarakat dalam hal pembangunan infrastruktur di Desa Pajaran
- …
