6 research outputs found
Pengembangan Bahan Ajar Cetak dengan Menggunakan Model Discovery Learning untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Komputer dan Jaringan Dasar kelas X Program Keahlian TKJ di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen
ABSTRAK Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti yang berupa wawancara dengan guru pengajar mata pelajaran Komputer dan Jaringan dasar di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Beberapa permasalahan yang terjadi saat proses pembelajaran dikelas, antara lain : (1) proses pembelajaran yang terjadi berupa teacher center, (2) siswa sulit memahami pelajaran, (3) siswa kurang tertarik dengan media pembelajaran dan model pembelajaran yang diterapkan. Unuk mengatasi masalah tersebut diperlukan bahan ajar yang sesuai, sehingga siswa dapat dengan mudah memahami materi pembelajaran. Bahan ajar cetak dengan memanfaatkan model pembelajaran Discovery Learning menjadi solusi permasalaha tersebut, dengan menggunakan bahan ajar cetak dengan memanfaatkan model Discovery learning siswa dapat belajar dengan proses pembelajaran yang berbeda. Tujuan dari produk ini adalah : (1) merancang pembuatan Buku Ajar Komputer dan Jaringan Dasar dengan menggunakan Model discovery Learning, (2) mengembangkan bahan ajar Komputer dan Jaringan Dasar, (3) menguji tingkat kelayakan Buku Ajar Komputer dan Jaringan Dasar dengan menggunakan Model Discovery Learning sebagai bahan ajar dalam mata pelajaran Komputer dan Jaringan Dasar kelas X program keahlian TKJ. Metode pengembangan yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini diadaptasi dari langkah-langkah penelitian dan pengembangan (RnD) dengan melakukan sedikit modifikasi. Seluruh proses pengembangan terbagi dalam 10 langkah yakni : (1) masalah dan potensi, (2) pengumpulan data, (3) pengembangan produk, (4) validasi ahli materi dan ahli media, (5) revisi produk, (6) uji kelompok kecil, (7) revisi produk, (8) Uji coba kelompok besar, (9) revisi produk, (10) produksi Produk. Hasil penelitian dan pengembangan Buku Ajar Cetak Komputer dan Jaringan Dasar dengan model Discovery Learning yang telah dikembangkan dan divalidasi oleh beberapa ahli yaitu: (1) ahli materi diperoleh 94,1%, (2) ahli media diperoleh 93,54%, (3) uji coba kelompok kecil diperoleh 80,4%, (4) uji coba kelompok besar diperoleh 91,96%, dan rata-rata keseluruhan diperoleh 90,79%. Berdasarkan hasil validasi tersebut dapat dikatakan bahwa Bahan Ajar Cetak Komputer dan Jaringan Dasar Layak digunakan pada proses pembelajaran di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, khususnya pada mata pelajaran Komputer dan Jaringan Dasar kelas X program keahlian TKJ
PERANCANGAN SISTEM BASIS DATA PERSEDIAAN SPARE PARTS BERDASARKAN FREKUENSI PEMAKAIAN PADA AHASS 1380 HAUR KUNING MOTOR
Jika membutuhkan abstrak atau isi jurnal silahkan menghubungi author melalui email [email protected], [email protected], [email protected] Terima kasih  Â
Impact of float-valves on water meter performance under intermittent and continuous supply conditions
Intermittent supply is common worldwide. It triggers households with piped connection to adjust the supply scheme by the use of a water tank with a float valve (FV) at the entrance, which has a major influence on the water meter accuracy. This study investigated the impact of the water tank with a FV on the performance of water meters under intermittent and continuous supply conditions, using laboratory experiments, field measurements, and hydraulic modeling. Results revealed that the inflow rates into the water tank are consistently lower than the outflow rates of the tank. This will always be the case owing to the balancing mechanism of the tank. The flows that pass through the water meter represent the inflows into the tank. Therefore, higher metering errors and more apparent losses are expected for a combination of a water tank, FV, and continuous supply. Besides, different FV types have different hydraulic characteristics. Larger FVs with higher discharge rates tend to maintain the water level close to the full level in the tank and conferred longer periods of low flows, worse meter performance, and more apparent losses. For intermittent supply, results confirmed that higher intermittency levels lead to improved performance of water meters and reduce the apparent losses. This points to the complication in transformation from intermittent to continuous supply worldwide. In this case, water utilities should expect higher meter errors and more revenue losses unless the meter replacement policy recognises lower flows passing through the meter.Sanitary Engineerin
Optimizing Registration of Halal Certification for Local MSMEs in Ciburial Village, Indonesia
This article aims to measure the effectiveness of business legality community service activities (PKM) through the socialization and assistance of Halal Certification in Ciburial Village. This effectiveness is demonstrated by increasing the knowledge and awareness of MSMEs in legalizing the leading product micro, small and medium enterprises (MSMEs) – Ciburial Village. Based on the results of discussions with the Ciburial Village, one of the problems of Ciburial Village MSMEs is the lack of motivation in legalizing MSMEs to increase the competitiveness of Village MSMEs products. Implementation methods used include field surveys, socialization, mentoring, distributing questionnaires, different tests, documentation, and preparation of the final report. The measurement results showed that this PKM activity is very effective with an effectiveness value of 94.18. The effectiveness of this activity was also strengthened by the results of PKM activities which showed that there were differences in knowledge and awareness before and after the activity. This difference is indicated by the results of the different tests where Sig. (2-Mean Std. tailed) < 0.1. This means that PKM has succeeded in increasing the awareness of MSMEs to register their products for halal certification.
Keywords: competitiveness, halal certification, village leading MSME
Socialization and Assistance in the Registration of the Legality of the P-IRT Business for Local MSME Leading Products in Ciburial Village, Bandung Regency
This article aims to show that there is an increase in the knowledge and awareness of MSMEs in legalizing leading micro, small, and medium enterprises (MSMEs) Ciburial Village through community service activities (CSA) through socialization and assistance in Ciburial Village. Based on the initial survey conducted by the team in Ciburial Village, information was obtained that quite a lot of SMEs in Ciburial Village have the potential to have high competitiveness. However, one of the problems faced by MSMEs is the lack of interest and awareness of the actors in registering their businesses legally. The implementation methods used include field surveys, socialization, mentoring, questionnaire distribution, different tests, documentation, and preparation of the final report. The results of the PKM activity show that there are differences in knowledge and awareness before and after the activity. This difference is indicated by the different test results where Sig. (2-Mean Std. tailed) <0.05. Meanwhile, the increase in awareness is shown by the increase in the registration of home industry food license (P-IRT) MSMEs in Ciburial Village.
Keywords: MSMEs, business legality, business managemen
Perbaikan Kualitas Layanan Jasa Dengan Model Servqual Dimensi Kepariwisataan dan Metode Quality Function Deployment ( Studi kasus di PT X, Tempat Wisata Wahana Permainan)
PT Semarang Arsana Rekreasi Trusta (Wonderia) adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pariwisata wahana permainan dengan konsep taman ria. Dalam tiga tahun terakhir, Wonderia mengalami penurunan jumlah pengunjung secara drastis. Menurut studi pendahuluan dengan quesioner, salah satu faktor penyebab dari penurunan jumlah pengunjung adalah adanya ketidakpuasan pengunjung atas kualitas pelayanan yang diberikan. Untuk memberikan usulan perbaikan kualitas pelayanan publik kepariwisataan tersebut, dalam penelitian ini digunakan metode Quality Function Deployment (QFD) dengan bertolak pada model SERVQUAL yang menggunakan Dimensi khusus pariwisata. Pada penelitian ini ditetapkan 68 variabel pelayanan kepariwisataan yang kemudian dinilai oleh pengunjung. Dengan menggunakan importance performance matrix diperoleh 17 variabel kritis. Dari House of Quality diperoleh 19 technical response sebagai rekomendasi perbaikan, dengan prioritas perbaikan yang dilakukan adalah pembuatan Standard Operational Procedure, maintenance secara sistematis dan penambahan jenis permainan.
Kata kunci : Servqual, Quality Function Deployment, Benchmarking, SO, prosedur keamanan
Abstract
PT Semarang Arsana Trusta (Wonderia) is a company engaged in the field of tourism with the concept of a game vehicle park. In the last three years, The number of Wonderia’s visitor have been decreased drastically. According to a preliminary study with quesioner, one of the factors causing the decline is the dissatisfaction over the quality of visitor services provided. To improve the quality of public services, this study used the Quality Function Deployment (QFD) method by starting the SERVQUAL model which uses a special dimension of tourism. This study defined 68 variables tourism services who then rated by visitors. By using importance performance matrix obtained 17 critical variables. From the House of Quality 19 technical response obtained as a recommendation of improvements, with priority repairs are done making the Standard Operational Procedure, maintenance system and the addition of the game.
Keyword : Servqual, Quality Function Deployment, Benchmarking, SOP, Safety Procedure
PENDAHULUAN
Salah satu penyedia jasa hiburan, permainan dan wisata di Semarang yang bisa menjadi salah satu pilihan adalah Wonderia yang dikelola oleh PT Semarang Arsana Rekreasi Trusta yang berdiri pada tahun 2004 (Republika online, www.republika.co.id.htm, download 20 Agustus 2007. Meskipun wonderia belum mempunyai pesaing yang sejenis Semarang, namun dengan banyaknya pilihan tempat wisata bagi masyarakat jelas ini menjadi ancaman serius. Sebagai tempat rekreasi yang baru dikota Semarang, pihak manajemen Wonderia harus dapat memperhatikan harapan dan kepuasan konsumen secara lebih, karena dengan memperhatikan harapan dan kepuasan konsumen perusahaan mendapat suatu keuntungan secara tidak langsung, seperti pemasaran mouth to mouth (Kotler, 2000) yakni pengunjung yang pernah berkunjung merekomendasikannya ke orang lain untuk memilih taman rekreasi wonderia sebagai pilihan utama memilih objek wisata dikota Semarang.
Perjalanan taman rekreasi Wonderia belum menunjukkan kinerja manajemen yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Dari data 3 tahun terakhir data jumlah pengunjung tidak stabil dan cenderung mengalami penurunan. Selain itu setelah hampir berjalan selama tiga tahun, tidak semua kegiatan operasional berjalan secara mulus. Pengaduan tingkat kebisingan yang diakibatkan (www.suaramerdeka.com, download 20 Agustus 2007) dan adanya musibah Plane Tower mengakibatkan 2 pengunjung patah tulang belakang saat sedang menikmati permainan tersebut dan robohnya tenda untuk festival band sehingga mengakibatkan tiga pengunjung terluka (www.kompas.com, download 20 Agustus 2007).
Jenis permainan dan variasi hiburan yang ditawarkan juga menjadi permasalahan tersendiri bagi pihak manajemen wonderia. Pengembangan variasi permainan dan hiburan selama ini lebih banyak difokuskan untuk anak–anak dan keluarga. Sedangkan permainan yang lebih menantang dan menarik untuk usia remaja dan dewasa kurang mendapat perhatian dari pihak pengelola. Hal ini kurang sejalan dengan market hiburan Semarang yang lebih didominasi oleh kaum remaja dan dewasa mengingat begitu banyaknya sekolah–sekolah dan universitas–universitas di Semarang. Akan lebih baik jika pengembangan jenis permainan dan hiburan dilakukan lebih proporsional.
Dari survey pendahuluan yang dilakukan terhadap pengunjung dengan menggunakan kuesioner pendahuluan, diperoleh hasil seperti pada Tabel 1. Dari survei pendahuluan kepada pengunjung, ternyata secara umum menyatakan tidak puas terhadap kualitas pelayanan yang diberikan oleh pengelola Wonderia. Keluhan terhadap pelayanan yang diberikan oleh petugas paling banyak ditujukan kepada petugas operator permainan. Keluhan terhadap fasilitas permainan paling banyak adalah; proporsi permainan belum merata untuk segala jenis umur, fasilitas permainan kurang memperhatikan keselamatan, jumlah permainan belum mencukupi. Sedangkan keluhan untuk fasilitas pendukung paling banyak adalah tempat istirahat dan tempat parkir.
Tabel 1. Data Kepuasan Pengunjung
Atribut pelayanan % kepuasan % ketidakpuasan
Pelayanan petugas 42,86 % 57,14 %
Fasilitas permainan 5,71 % 94,29 %
Fasilitas pendukung 17,15 % 82,85 %
Ketidakpuasan yang dirasakan oleh pengunjung menunjukkan adanya kesenjangan antara pelayanan yang mereka terima dengan apa yang mereka harapkan. Apalagi image yang dibangun pada awal pembukaan Wonderia terlanjur melekat dikalangan pengunjung, yakni wonderia merupakan Dufan-nya Semarang kian memberikan harapan kualitas yang baik. Sehingga kekecewaan pengunjung semakin besar akibat kualitas taman bermain dan hiburan yang mereka harapkan tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Ketidakpuasan pengunjung ini merupakan permasalahan yang harus diperhatikan oleh pengelola Wonderia serta sesegera mungkin dirumuskan solusi sebagai jalan keluar. Untuk itu diperlukan program peningkatan kualitas yang dapat mengidentifikasi ketidakpuasan pengunjung terhadap pelayanan yang diberikan secara lebih rinci dan sistematis sehingga dapat dilakukan usaha perbaikan oleh pihak perusaahaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dimensi dan variabel yang berpengaruh terhadap kualitas layanan jasa taman bermain dan hiburan Wonderia Semarang, mengevaluasi kinerja berdasarkan persepsi dan ekspektasi konsumen terhadap kualitas pelayanan jasa yang diberikan Wonderia Semarang, mengidentifikasi atribut-atribut dan dimensi kualitas layanan kritis yang harus segera diperbaiki berdasarkan perhitungan nilai servqual, mengidentifikasi kebutuhan pengunjung atau customer needs dan memberikan usulan perbaikan untuk peningkatan kualitas produk dan kualitas layanan jasa taman bermain dan hiburan Wonderia Semarang.
METODOLOGI PENELITIAN
Model Penelitian yang Digunakan
Jasa adalah sebuah paket dari manfaat eksplisit dan implisit yang ditunjukkan melalui penggunaan barang pemfasilitas dan fasilitas pendukung (John, A. Fitzsimmon,1982 ). Sedang menurut Zeithmal, Valerie A & Britner (1996), jasa adalah setiap aktivitas ekonomi yang outputnya bukan merupakan suatu produk fisik atau konstruksi, umumnya dikonsumsi pada saat yang sama pada saat jasa tersebut dihasilkan dan memberi nilai tambah dalam bentuk kenyamanan, hiburan, kesenangan dan kesehatan.
Kualitas pelayanan dirumuskan sebagai fungsi dari persepsi dan ekspektasi jasa yang dimiliki oleh pengunjung taman bermain dan rekreasi Wonderia (Parasuraman, et.al,1990)) yaitu :
Kualitas jasa = f ( persepsi, ekspektasi )
Mengacu pada rumusan tersebut, maka model penelitian yang digunakan adalah model Servqual yang dikembangkan oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1990).
Dimensi yang digunakan untuk mengidentifikasi variabel adalah dimensi pariwisata yang di peroleh dari variabel supply (Spillane dan Meidy, 1994) ditambah dengan dimensi assurance (Parasuraman et.al), yaitu :
1. Atraksi Wisata (Attractions)
2. Fasilitas (Facilities)
3. Transportasi dan infrastruktur (Transportation and infrastructur)
4. Pelayanan (Hospitality)
5. Informasi dan Promosi (Information and promotion)
6. Harga (Price)
7. Jaminan Keamanan (Security Assurance)
Struktur kualitas jasa dari ke tujuh dimensi kualitas pariwisata dapat digunakan sebagai dasar model penelitian seperti terlihat pada Gambar 1.
Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel – variabel penelitian tersebut merupakan atribut atau item spesifik dari setiap dimensi kualitas jasa. Untuk mengetahui variabel – variabel yang terkait dengan penelitian kualitas jasa di taman bermain dan rekreasi Wonderia maka sebelumnya dilakukan studi pusataka dan studi pendahuluan dalam bentuk wawancara dan kuesioner pendahuluan kepada pihak PT SMART sebagai pengelola dan pengunjung Wonderia. Hasil studi pustaka dan studi pendahuluan digunakan untuk membantu didalam mengidentifikasikan variabel – variabel yang terkait dengan penelitian.
Gambar 1. Metode perancangan
kualitas jasa
Sumber : (Spillane dan Meidy, 1994)
Setiap item variabel selanjutnya akan dimasukkan kedalam kuesioner penelitian yang diberikan kepada responden untuk diukur dan dilihat hasilnya, yaitu apakah kualitas pelayanan yang dirasakan oleh pengunjung Wonderia Semarang sama, lebih buruk atau lebih baik dari ekspektasi mereka. Skala penilaian responden untuk bagian persepsi dan skala penilaian responden untuk bagian persepsi dan skala penilaian responden untuk bagian ekspektasi dikategorikan sebagai skala likert yang merupakan bagian dari skala sikap (attitudinal scale).Variabel – variabel penelitian tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Variabel penelitian
Dimensi No Variabel penelitian Ket.
Attractions
1. Wahana permainan 1 Jumlah permainan yang mencukupi Var 33
2 Keberagaman jenis dan variasi atraksi permainan Var 34
3 Atraksi permainan yang ada di wonderia tidak monoton Var 35
4 Ketersediaan atraksi permainan untuk segala jenis umur Var 36
5 Kebersihan, kelengkapan dan penampilan fasilitas permainan yang menarik Var 37
6 Ketersediaan atraksi permainan yang lebih menantang Var 38
7 Peralatan Atraksi permainan dan hiburan yang modern Var 39
8 Waktu permainan yang mencukupi Var 40
9 Fasilitas atraksi permainan yang terawat Var 41
10 Atraksi permainan memperhatikan kenyamanan dan keselamatan Var 42
2. Hiburan 11 Hiburan – hiburan yang diadakan menarik dan inovatif Var 43
12 Keberagaman jenis dan variasi hiburan Var 44
13 Tema hiburan sesuai dengan momen-momen khusus Var 45
14 Fasilitas tempat hiburan yang bersih dan nyaman Var 46
Facilities 15 Ketersediaan fasilitas audio selama menikmati permainan Var 47
16 Penampilan yang menarik panggung hiburan ( dekoratif ) Var 48
17 Kebersihan, kerapian dan kelengkapan dan kesiap pakaian fasilitas kantin, mushola, toilet dan tempat istirahat Var 49
18 Jumlah tempat istirahat, Jumlah restoran ( kantin ),dan Jumlah toilet yang mencukupi Var 50
19 Ketersediaan dan kelengkapan fasilitas P3K Var 51
20 Fasilitas tempat parkir yang bersih dan memadai ( tertata dengan baik dan beratap ) Var 52
21 Taman rekreasi bersih dan tertata dengan baik Var 53
22 Ketersediaan tempat pembuangan sampah yang memadai Var 54
Transportation and infrastructure
(akses) 23 Ketersediaan Sarana transportasi yang mudah dan murah Var 55
24 Kemudahan dalam menuju lokasi Var 56
25 Ketersediaan dan kemudahan sarana komunikasi Var 57
26 Kemudahan dalam menghubungi dan menemui petugas loket tiket Var 1
27 Kemudahan dalam menghubungi dan menemui operator permainan Var 7
28 Kemudahan dalam menghubungi dan menemui petugas restoran / kantin Var 14
29 Kemudahan dalam menghubungi dan menemui petugas parkir Var 20
30 Kemudahan dalam menghubungi dan menemui, petugas keamanan Var 26
Hospitality
1. Credibility 31 Tanggungjawab yang dimiliki petugas loket tiket Var 2
32 Tanggungjawab yang dimiliki petugas operator permainan Var 8
33 Tanggungjawab yang dimiliki petugas restoran dan kantin Var 15
34 Tanggungjawab yang dimiliki petugas parkir Var 21
35 Tanggungjawab yang dimiliki petugas keamanan Var 27
36 Tanggung jawab pihak manajemen (pengelola) dalam menangani keluhan (complain) dalam pelayanan dan menangani kondisi darurat (kecelakaan) Var 32
2. Courtsey 37 Kesopanan dan keramahan petugas loket tiket dalam melayani pengunjung Var 3
38 Kesopanan dan keramahan petugas operator permainan dalam melayani pengunjung Var 9
39 Kesopanan dan keramahan petugas restoran dan dalam melayani pengunjung Var 16
40 Kesopanan dan keramahan petugas parkir dalam melayani pengunjung Var 22
41 Kesopanan dan keramahan petugas keamanan dalam melayani pengunjung Var 28
42 Kerapian dan penampilan yang menarik petugas loket tiket Var 4
43 Kerapian dan penampilan yang menarik petugas operator permainan Var 10
44 Kerapian dan penampilan yang menarik petugas restoran dan kantin Var 17
45 Kerapian dan penampilan yang menarik petugas parkir Var 23
46 Kerapian dan penampilan yang menarik petugas keamanan Var 29
3. Competence 47 Kesigapan petugas petugas loket tiket dalam memberikan pelayanan Var 5
48 Kesigapan petugas operator permainan dalam memberikan pelayanan Var 11
49 Kesigapan petugas restoran dan kantin dalam memberikan pelayanan Var 18
50 Kesigapan petugas petugas parkir dalam memberikan pelayanan Var 24
51 Kesigapan petugas keamanan dalam memberikan pelayanan Var 30
52 Kompetensi yang dimiliki petugas loket tiket dalam menjalankan tugas pelayanannya Var 6
53 Kompetensi yang dimiliki petugas operator permainan dalam menjalankan tugas pelayanannya Var 12
54 Kompetensi yang dimiliki petugas restoran dan kantin dalam menjalankan tugas pelayanannya Var 19
55 Kompetensi yang dimiliki petugas parkir dalam menjalankan tugas pelayanannya Var 25
56 Kompetensi yang dimiliki petugas keamanan dalam menjalankan tugas pelayanannya Var 31
57 komunikatif dan keaktifan Operator dalam mengarahkan pengunjung (didukung sound audio) Var 13
Information and promotion 58 Papan petunjuk yang jelas dan dapat menginformasikan letak fasilitas permainan dan pelayanan. Var 58
59 Ketersediaan information center untuk pengunjung Var 59
60 Kemudahan dalam memperoleh informasi tentang atraksi permainan dan hiburan yang ada melalui media cetak dan elektronik Var 60
61 Kegiatan promosi yang di lakukan menarik Var 61
Price 62 Harga tiket masuk terjangkau dan murah Var 62
63 Harga makanan dan minuman terjangkau dan murah Var 63
64 Program paket harga permainan terjangkau dan murah Var 64
65 Harga souvenir terjangkau dan murah Var 65
Security Assurance 66 Terjaminnya keamanan dan keselamatan pengunjung serta barang bawaan di taman rekreasi dan hiburan Var 66
67 Terjaminnya keselamatan dan keamanan pengunjung dalam menikmati fasilitas permainan yang ada Var 67
68 Terjaminnya keamanan kendaraan pengunjung di tempat parkir Var 68
Perancangan Mekanisme Penilaian
Pada penelitian ini, penilaian kualitas jasa dilakukan oleh pengunjung taman bermain dan rekreasi Wonderia Semarang sebagai pengguna jasa dan dari pihak PT SMART sebagai pengelola dalam hal ini karyawan sebagai penyedia jasa utama yang bersinggungan dengan pengunjung. Penilaian mengacu pada besarnya gap (kesenjangan), yaitu gap 1 dan gap 5. Untuk mengurangi unsur subjektivitas itu, maka pengukuran kualitas pelayanan ini menggunakan penyekalaan (scaling). Skala yang digunakan adalah skala Likert (Aritonang, 2005)
Gap 1 : kesenjangan antara ekspektasi pelanggan dan persepsi dari pihak penyedia jasa.
Harapan atau ekspektasi pelanggan adalah tingkat kepentingan terhadap pelayanan berdasarkan keinginan pelanggan. Apabila persepsi pihak karyawan PT SMART ( Wonderia ) lebih tinggi dari harapan pengunjung terhadap suatu variabel kualitas pelayanan yang telah ditentukan sebelumnya, maka hal ini menyatakan bahwa pihak PT SMART (Wonderia) telah dapat memenuhi keinginan pengunjung. Namun sebaliknya bila persepsi karyawan lebih rendah daripada ekspektasi pengunjung maka pihak pengelola belum dapat memenuhi keinginan pengunjung sebagai pengguna jasa.
Gap 5 : Kesenjangan antara persepsi pelanggan dengan ekspektasi pelanggan
Apabila jasa yang diterima dan dirasakan (persepsi) sesuai dengan yang diharapkan (ekspektasi), kualitas jasa dipersepsikan baik dan memuaskan. Sebaliknya jika jasa yang diterima lebih rendah daripada yang diharapkan (ekspektasi), maka kualitas jasa dipersepsikan buruk. Hal ini akan menimbulkan ketidakpuasan pengunjung Wonderia dan tentunya akan mengurangi loyalitas pengunjung. Dengan demikian baik tidaknya kualitas jasa tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan pelanggannya secara konsisten.
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Analisis Penilaian Kualitas Jasa untuk Gap 1
Berdasarkan hasil perhitungan nilai Servqual dengan menggunakan Gap analisis dapat diketahui bahwa dari ke tujuh dimensi pariwisata nilai Servqual negatif dengan kesenjangan terbesar terdapat pada dimensi facilities,yaitu sebesar – 0,0121 untuk nilai servqual tanpa bobot dan - 0,0018 untuk nilai servqual terbobot. Kesenjangan yang bernilai negatif menunjukkan bahwa harapan konsumen tidak terpenuhi. Semakin besar kesenjangan terjadi, maka semakin lebar jurang pemisah antara keinginan konsumen dengan sesuatu yang mereka peroleh sebenarnya. (Mansur,2005)
Hal ini menunjukkan bahwa PT Semarang Arsana Rekreasi Trusta sebagai penyedia jasa belum memenuhi ekspektasi pengunjung terhadap dimensi Facilities. Namun demikian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa kualitas pelayanan jasa taman bermain dan hiburan Wonderia Semarang untuk Gap 1 sudah cukup baik, karena memiliki total nilai rata – rata servqual terbobot yang bernilai positif, yaitu sebesar 0,0674. Hal ini menandakan bahwa pengelola dan manajemen PT Semarang Arsana Rekreasi Trusta secara umum sudah bisa memenuhi keinginan pengunjung.
Analisis Penilaian Kualitas Jasa untuk Gap 5
Berdasarkan hasil perhitungan Gap 5 dapat diketahui bahwa nilai SERVQUAL dari 7 dimensi semua bernilai negatif dengan nilai Gap yang terbesar terdapat pada dimensi Security Assurance, sebesar -1.5005 ( tanpa bobot) dan -0,2313 (terbobot). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas pelayanan jasa di Wonderia belum memuaskan. Hal ini terlihat pula dari total nilai SERVQUAL terbobot yang bernilai negatif yaitu -0,8420.
Quality Function Deployment
Berdasarkan analisis dengan importance peformance matrix, variabel yang perlu diperbaiki adalah variabel – variabel yang berada pada kuadarn I. Contoh pada Gambar 1 adalah hasil IPM untuk dimensi attraction gap 1 yang menghasilkan 7 variabel di kuadran I (kritis). Dari 7 dimensi yang ada, semua nilai dipetakan dalam Important Performance Matrix dan dihasilkan 17 variabel berada di kuadran I. Variabel di kuadran I merupakan variabel kritis karena sangat mempengaruhi kepuasan pelanggan tetapi manajemen belum mampu memenuhinya. Selanjutnya, variabel kritis ini dianggap sebagai customer need yang harus segera diperbaiki. Variabel-variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Untuk perencanaan, perbaikan dan pengembangan kualitas dari variabel kritis ini digunakan Quality Function Deployment.
Gambar 1. Hasil Importance Performance Matrix untuk Dimensi Attraction Gap 1..
Penentuan Respon Teknis ( Technical Response )
Technical Response merupakan tanggapan dari pihak perusahaan terhadap customer need. Technical Response kadang disebut sebagai corporate expectation. Respon teknis yang diperoleh untuk memenuhi kebutuhan konsumen ada 19 hal yang dirinci pada Tabel 3.
Penentuan Matrix Hubungan antara Respon Teknis dengan Kebutuhan Konsumen
Matrix hubungan antara kebutuhan konsumen (customer need) dengan respon teknis dari pihak perusahaan dan peneliti. Untuk penyusunan matrix hubungan digunakan metode prioritas matrix. Semakin banyak respon teknis yang berhubungan dengan kebutuhan konsumen, berarti respon teknis tersebut sangat berpengaruh dalam pemenuhan kebutuhan konsumen. Sebelum menentukan hubungan antara kebutuhan konsumen dengan respon teknis dari perusahaan, dibuat terlebih dahulu daftar matrix kebutuhan. Daftar matrix kebutuhan memberikan gambaran keterkaitan respon teknis perusahaan yang disusun dengan kebutuhan konsumen. Daftar matrix dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 2. Daftar kebutuhan konsumen (berlanjut)
Dimensi No Variabel penelitian
Attractions
1 Keberagaman jenis dan variasi atraksi permainan
2 Atraksi permainan yang ada di wonderia tidak monoton
3 Ketersediaan atraksi permainan untuk segala jenis umur
4 Ketersediaan atraksi permainan yang lebih menantang
5 Fasilitas atraksi permainan yang terawat
6 Atraksi permainan memperhatikan kenyamanan dan keselamatan
7 Hiburan – hiburan yang diadakan menarik dan inovatif
Facilities 8 Kebersihan, kerapian dan kelengkapan dan kesiapan fasilitas kantin, mushola, toilet dan tempat istirahat
9 Ketersediaan dan kelengkapan fasilitas P3K
10 Fasilitas tempat parkir yang bersih dan tertata dengan baik serta beratap
Hospitality
11 Tanggung jawab pihak manajemen (pengelola) dalam menangani keluhan (complain) dalam pelayanan dan menangani kondisi darurat (kecelakaan)
12 Kesigapan petugas operator permainan dalam memberikan pelayanan
13 Kompetensi yang dimiliki petugas operator permainan dalam menjalankan tugas pelayanannya
14 komunikatif dan keaktifan Operator dalam mengarahkan pengunjung (didukung sound audio)
Information and promotion 15 Ketersediaan information center untuk pengunjung
Price 16 Program paket harga permainan terjangkau dan murah
Security Assurance 17 Terjaminnya keselamatan dan keamanan pengunjung dalam menikmati fasilitas permainan yang ada
Tabel 3. Daftar matrix kebutuhan hubungan Respon Teknis deng
