42 research outputs found
Gambar cadas prasejarah Indonesia
Gambar cadas dalam ranah pelestarian budaya yang termasuk warisan budaya bendawi (tangible cultural heritage) yang dilindungi oleh UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Pelestarian budaya di sini mencakup pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan benda, situs atau kawasan yang ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah. Tujuannya tidak lain untuk menjaga warisan tersebut dan meneruskannya kepada generasi kemudian. Pengembangan cagar budaya terkait dengan peningkatan nilai benda, situs atau kawasan melalui informasi dan promosi. Dokumentasi dan penerbitan buku mengenai gambar cadas ini adalah bagian dari upaya tersebut. Di samping meningkatkan perhatian publik penerbitan buku ini juga menjadi landasan bagi pemanfaatannya oleh berbagai pihak, baik pemerintah pusat maupun daerah, maupun komunitas dan publik luas
Masyarakat Baduy dan pengobatan tradisional berbasis tanaman
A Baduy community in general is still bound by the traditional rules (pikukuh).One of the pikukuh said lojor teu meunang dipotong, pendek teu meunang disambung,which means “what is long might not be cut off, what is short might not beconnected”. The implicated meaning pikukuh is that which does not changesomething or anything, or does not accept what is available without increasingor reducing what is available. This also includes not to accept modern goodsor goods made in factories. The inner struggle of Baduy Luar is between on theone hand trying to preserve the customs of theirs ancestors, but on the otherhand trying to follow the development in modernity and in their environment.This is reflected in issues related to health. If a Baduy falls ill, the dilemma is tochoose between modern medical treatment that increasingly is easily accessiblewith the consequence to violate the local tradition, or to use the traditional herbsof which the local knowledge is decreasing with the consequence that is moredifficult to get this kind of therapy
Ali Akbar. Zaman Prasejarah di Jakarta dan Sekitarnya. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2008, xiii + 160 hlm. Soft cover.
KAJIAN ARKEOLOGI MENGENAI KERATON SUROSOWAN BANTEN LAMA, BANTEN
This research intrinsically is about activity of field and non-field archaeology. Focus of this research is to know form, settlement, and room function and/or building specially undercarriage building structure which still can be seen in Surosowan keraton. Methods used for the research are excavation, bibliography study, artifact and feature analysis, special analysis, and reconstruction. The result may indicate that, according to ancient map analysis, Surosowan keraton at least have experienced of five development phase. Excavation can only show the existence of is biphase of development pursuant to building structure indication which is overlap. According to tiling remains in every room, this research can reconstruct measure and pattern of tiling installation at every room in complex of keraton. The Research also obtain data to reconstruct building wall brick couple pattern and foundation at building in complex of keraton. Meanwhile, according to field observation is also obtained an assumption for some building function which have been shown, like sultan’s residence, audience hall, garden pool of Roro Denok, and bath of Pancuran Mas
Asep Kurnia and Ahmad Sihabudin, Saatnya Baduy bicara. Jakarta: PT. Bumi Aksara and Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, 2010, 294 pp. ISBN: 978-979-010-998-8 (soft cover).
Bentuk gambar telapak tangan pada gua-gua Prasejarah di Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan
Cave pictures are one form of human culture found in old sites of dwelling caves of the pre-historical time. Cave pictures can be said to be universal in nature because they are found almost every where in the world, including Indonesia. One form or object of picture frequently found is hand stencils. In Indonesia, beside Kalimantan, the Moluccas, and Irian, it is also found in South Sulawesi, especially in the District of Pangkajene Islands (Pangkep). Twelve caves in Pangkep are studied where 326 hand stencils are found. The hand part, orientation, hand side, number of fingers, size, color, and context are analyzed. The analysis reveals a pattern of hand palms of adults with upward orientation. The analysis also reveals a pattern of hand palms that are brown in color, randomly arranged, within the context of pictures of other hands
Gambar tangan gua gua bersejarah : pangkep-maros-sulawesi selatan tahun 2014
Gambar tangan (hand stencil) merupakan salah satu bentuk gambar gua (rock art) yang banyak ditemukan pada situs-situs gua prasejarah dari masa paleolitik dan/atau mesolitik di seluruh dunia. Di Indonesia, gambar tangan tersebut ditemukan di Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua. Khusus temuan gambar tangan di Sulawesi Selatan banyak dijumpai pada Kawasan Situs Gua Prasejarah Maros-Pangkep. Buku ini mengkaji lebih dari 500 gambar tangan dari berbagai situs gua prasejarah di Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan. Terdapat beragam bentuk, ukuran, dan letak gambar tangan. Dari berbagai variasi gambar tangan tersebut diketahui bahwa terdapat suatu pola gambar yang khas. Pola yang terbentuk itu menunjukkan masyarakat pendukung kebudayaan tersebut memiliki pandangan normatif tertentu mengenai budaya gambar tangan.xvii 318 hlm 20,2 x 13,7 c
Gambar tangan gua gua bersejarah : pangkep-maros-sulawesi selatan tahun 2014
Gambar tangan (hand stencil) merupakan salah satu bentuk gambar gua (rock art) yang banyak ditemukan pada situs-situs gua prasejarah dari masa paleolitik dan/atau mesolitik di seluruh dunia. Di Indonesia, gambar tangan tersebut ditemukan di Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua. Khusus temuan gambar tangan di Sulawesi Selatan banyak dijumpai pada Kawasan Situs Gua Prasejarah Maros-Pangkep. Buku ini mengkaji lebih dari 500 gambar tangan dari berbagai situs gua prasejarah di Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan. Terdapat beragam bentuk, ukuran, dan letak gambar tangan. Dari berbagai variasi gambar tangan tersebut diketahui bahwa terdapat suatu pola gambar yang khas. Pola yang terbentuk itu menunjukkan masyarakat pendukung kebudayaan tersebut memiliki pandangan normatif tertentu mengenai budaya gambar tangan.xvii 318 hlm 20,2 x 13,7 c
