93 research outputs found
KONSERVASI SUMBERDAYA PERIKANAN BERBASIS MASYARAKAT, IMPLEMENTASI NILAI LUHUR BUDAYA INDONESIA DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM
Laut Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, sementara itu terumbu karang Indonesia merupakan pusat dari segitiga terumbu karang dunia. Namun, meningkatnya jumlah penduduk serta faktor-faktor ekonomi lain, menyebabkan tekanan terhadap sumberdaya alam laut dan ekosistemnya semakin meningkat pula yang berpengaruh pada menurunnya produktivitas dan keanekaragaman sumberdaya hayati tersebut. Sehubungan dengan hal itu, upaya pengelolaan lingkungan dan konservasi sumberdaya pesisir dan laut merupakan langkah yang penting dan strategis. Deparetemen Kelautan dan Perikanan mengklaim bahwa Luas Kawasan Konservasi Laut Indonesia pada awal Tahun 2005 memiliki luas ± 7.227.757,26 Ha atau 7,2 Km2 pada 75 kawasan konservasi. Lalu bagaimana posisi dan peran serta masyarakat di sekitar kawasan tersebut, apakah masyarakat menjadi penghalang bagi keberlanjutan kawasan konservasi? atau apakah mungkin, masyarakat justru dapat diharapkan memiliki peran aktif dalam pelestarian dan pengelolaan kawasan konservasi?. Berbagai contoh pengelolaan sumberdaya laut berbasis masyarakat berdasarkan hukum adat (kearifan lokal) di berbagai daerah di Indonesia yang secara tidak disadari justru menerapkan kaidah-kaidah konservasi mung kin merupakan gambaran bahwa konservasi laut berbasis masyarakat (comunity based management) atau kolaborasi dengan pemerintah (co-management) merupakan sesuatu yang sangat mungkin dikembangkan
Strategi dan Taktik Reproduksi Ikan, Hubungannya dengan Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan membentuk seleksi alam yang menyebabkan ikan harus memaksimalkan kemampuan reproduksinya. Strategi dan variasi taktik reproduksi merupakan upaya adaptasi ikan terhadap lingkungannya untuk keberlangsungan hidup keturunan sampai dewasa dan menjamin kelangsungan hidup spesiesnya. Artikel ini merupakan uraian singkat dan contoh tentang strategi dan dan taktik reproduksi ikan. Pemahaman tentang tentang strategi dan taktik reproduksi ikan diperlukan untuk pengembangan industri akuakultur spesies ikan komersil tertentu, juga sangat penting artinya dalam penentuan metode pengelolaan sumberdaya perairan. Pengelolaan ekosistem, sistem hidrologis dan dinamika ekologis suatu sistem perairan sangat penting untuk menjaga populasi jenis ikan dan dalam rangka memertahankan kelestarian suatu spesies ikan
Quantification Methods of Pigments and its Potential As Biomarkers for Estimation of Phytoplankton Biomass
Pigments and chlorophyll are essential for the process of photosynthesis and are characteristic of each species of phytoplankton. This study aims to provide an overview of the pigment quantification method and its potential to identify and estimate biomass of phytoplankton. A literature review has been carried out to identify methods for the extraction and quantification of phytoplankton. The results of the study found that there are at least two main methods most commonly used for the extraction and quantification of phytoplankton, namely spectrophotometric analysis and HPLC. Spectrophotometric is considered a good and practical method for estimating chlorophyll. However, the HPLC has also become the main method for investigating the taxonomic composition of phytoplankton populations. The researchers concluded that there was no significant difference in results between two methods. Spectrophotometric analysis is much cheaper and faster than HPLC, make it a good tool for routine evaluation of chlorophyll. However, the use of HPLC has been proven to be the most appropriate for determining concentration of various pigments in the community of phytoplankton. Regardless of the various advantages and disadvantages of both methods, a good understanding of each method should be a concern in terms of selecting the method to be used according to its designation
PERTUMBUHAN IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypopthalmus) YANG DIPELIHARA DENGAN SISTEM BIOFLOK PADA Feeding Rate YANG BERBEDA
Ikan patin membutuhkan pakan dengan kandungan protein 28-30%, dan Feeding rate berkisar antara 2–5% perhari. Namun keseluhuran pakan yang diberikan hanya 25% dikonversi sebagai biomasa dan sisanya terbuang sebagai limbah (amoniak dan feses). Hal ini mengakibatkan penurunan kualitas air sehingga pertumbuhan ikan terganggu. Bioflok salah satu alternatif mengatasi masalah kualitas air. Dengan memanfaatkan kemampuan bakteri heterotrof untuk memanfaatkan limbah dalam air budidaya diubah menjadi pakan alami tambahan yang bermanfaat sebagai sumber energi dan meningkatkan pertumbuhan ikan. Perbedaan jumlah pakan yang diberikan diduga mengakibatkan perbedaan jumlah kepadatan bioflok dalam suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Feeding Rate yang berbeda terhadap pertumbuhan ikan patin siam yang dipelihara dalam sistem bioflok. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan berupa pemberian pakan dengan FR yang berbeda (1%, 3%, 5%, 5% + non bioflok). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian FR yang berbeda berpengaruh terhadap pertumbuhan ikanpatin siam. Pertumbuhan ikan tertinggi ditunjukkan pada pemeliharaan dengan menggunakan sistem bioflok pada FR 5% dan pertumbuhan ikan terendah diperole
KAJIAN ISI LAMBUNG DAN PERTUMBUHAN IKAN LAIS (Cryptopterus lais) DI WAY KIRI, TULANG BAWANG BARAT, LAMPUNG
Sungai Way Kiri memiliki spesies ikan yang beragam salah satunya adalah ikanlais (Cryptopterus lais). Populasi ikan Lais di Sungai Way Kiri terus mengalamipenurunan, hal ini disebabkan adanya penangkapan secara berlebih yang dilakukan oleh para nelayan. Salah satu cara untuk mengatasi agar populasi ikan ini tetap terjaga adalah dengan melakukan upaya domestikasi, sebelum melakukan domestikasi ada beberapa kajian yang harus dilakukan diantaranya adalah kajian isi lambung (gut content analysis). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pertumbuhan dan kebiasaan makan ( gut content analysis ) ikan lais di Sungai Way Kiri.Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-September 2015. Data yang di analisis dengan menggunakan Index of Preponderance (IP). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ikan Lais adalah ikan Karnivora dengan kisaran nilai IP 26 % - 65 %, pola pertumbuhan ikan lais di Way Kiri pada bulan Juni dan Juli memiliki pola pertumbuhan alometri negatif sedangkan pola pertumbuhan ikan lais pada bulan Agustus dan September memiliki pola pertumbuhan alometri positif.
Kajian Pertumbuhan Ikan Tembakang (Helostoma temminckii) Di Rawa Bawang Latak Kabupaten Tulang Bawang, Lampung
Tembakang Fish (Helostoma temminckii) is one of the fish that have high economic value in Rawa Bawang Latak. Overfishing and the introduction of fish resulted tembakang number of fish populations decline, so it takes the efforts of domestication. This study aims to determine the growth pattern that includes tembakang fish length and weight relationships, growth parameters, and factor conditions. Research carried out for four months, ie in October 2013 - January 2014. Tembakang fishing done at two stations in Rawa Bawang Latak. The sampling frequency of fish is done only once a month using Sero. The results showed that the pattern of growth tembakang fish is allometric positive, condition factor values male and female fish were not significantly different, female tembakang fish growth faster than the male fish, fish tembakang males on the size of 180.6 mm was 21 months, while females in size 191.1 mm 8 months old. Keywords: Tembakang, Growth, Sero, Rawa Bawang Latak
Kajian Pertumbuhan Ikan Tembakang (Helostoma temminckii) Di Rawa Bawang Latak Kabupaten Tulang Bawang, Lampung
Tembakang Fish (Helostoma temminckii) is one of the fish that have high economic value in Rawa Bawang Latak. Overfishing and the introduction of fish resulted tembakang number of fish populations decline, so it takes the efforts of domestication. This study aims to determine the growth pattern that includes tembakang fish length and weight relationships, growth parameters, and factor conditions. Research carried out for four months, ie in October 2013 - January 2014. Tembakang fishing done at two stations in Rawa Bawang Latak. The sampling frequency of fish is done only once a month using Sero. The results showed that the pattern of growth tembakang fish is allometric positive, condition factor values male and female fish were not significantly different, female tembakang fish growth faster than the male fish, fish tembakang males on the size of 180.6 mm was 21 months, while females in size 191.1 mm 8 months old. Keywords: Tembakang, Growth, Sero, Rawa Bawang Latak.</jats:p
Toksisitas Metil Metsulfuron Hubungannya Dengan Maskulinitas Copepoda Daphnia SP.
Metil metsulfuron merupakan senyawa aktif yang umum digunakan oleh para petani untuk membasmi gulma di sawah. Penggunaan yang tidak sesuai pada senyawa aktif tersebut akan menyebabkan resiko pencemaran lingkungan yang berpengaruh terhadap kondisi organisme non target disekitarnya seperti gangguan reproduksi pada Daphnia sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat toksisitas metil metsulfuron dengan menentukan nilai LC50-48 jam terhadap Daphnia sp. serta mengetahui rasio jenis kelamin jantan anakan Daphnia sp. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemberian senyawa aktif metil metsulfuron dengan konsentrasi yang berbeda. Pada uji toksisitas akut menggunakan konsentrasi 0 ppm; 20,89 ppm; 43,64 ppm; 91,17 ppm; 190,48 ppm dan 397,96 ppm. Sedangkan pada uji pengaruh metil metsulfuron terhadap rasio anakan jantan Daphnia sp. yaitu 0 ppm; 20 ppm; 40 ppm dan 80 ppm. Hasil penelitian pada uji toksisitas menunjukkan nilai (LC50)-48 jam sebesar 140,2 ppm sedangkan persentase rasio anakan jantan Daphnia sp. tertinggi terdapat pada perlakuan 80 ppm yaitu mencapai 71%. Hubungan antara konsentrasi metil metsulfuron dengan rasio anakan jantan Daphnia sp. menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi metil metsulfuron yang dipaparkan pada Daphnia sp., maka semakin meningkat pula rasio anakan jantan Daphnia sp. yang dihasilkan
REDUKSI AMONIA PADA SISTEM RESIRKULASI DENGAN PENGUNAAN FILTER YANG BERBEDA
Amonia merupakan parameter kualitas air yang berperan penting pada budidaya ikan. Ikan mengeluarkan limbah dari sisa pakan dan metabolisme yang banyak mengandung amonia. Permasalahan yang biasa dihadapi adalah cepatnya akumulasi limbah dari residu pakan dan hasil metabolisme ikan. Amonia akan terakumulasi dalam sistem resirkulasi dan dapat mencapai konsentrasi yang merugikan ikan jika terlalu berlebihan. Untuk mengurangi amonia pada sistem resirkulasi dapat di lakukan dengan penambahan filter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pengurangan amonia dan menguji jenis filter yang efektif dalam penurunan amonia pada sistem resirkulasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan (kontrol, zeolit, arang, dan pecahan karang). Penelitian dilakukan menggunakan benih lele (Clarias sp.) 4-5 cm dalam kolam terpal berukuran 1 x 1 x 2 mdengan kepadatan 200 ekor/m2. Parameter utama dalam penelitian ini adalah amonia, dengan parameter pendukung yakni suhu, pH, dan oksigen terlarut. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penambahan filter berupa pecahan karang memberikan pengaruh nyata terhadap penurunan amonia pada sistem resirkulasi
Fenomena Harmful Algal Blooms (HABs) di Pantai Ringgung Teluk Lampung, Pengaruhnya dengan Tingkat Kematian Ikan yang Dibudidayakan pada Karamba Jaring Apung
Fish mortality in the Bay of Lampung not only wild fish, but also fish farmed in cages, especially Ringgung Beach. One which caused by harmful algal abundance that occur was increased input contaminants by both natural and anthropogenic sources. This study aims to analyze the influence of harmful algal blooms (HABs) the amount and frequency of fish mortality in cage Ringgung Lampung Bay. The study was conducted at three research stations based KJA density. The results of the study found 33 species of phytoplankton, 14 species have potential as HABs can cause the death of fish. The highest abundance was kind Cochlodinium that reach 63.738 cells/liter. Phytoplankton diversity index value with the lowest value occurred at station 3 on June 19, 2013 ie the date of 0705. The highest phytoplankton diversity values occurred at Station 2 on June 12, 2013 is 2,451. Uniformity values of phytoplankton in the waters of Beach Ringgung obtained in the high category with a value above 0.5 or close to 1, which indicates that the spread of the individual any kind of relatively evenly. Except at station 3 which has a relatively low value (0.228 on June 19, 2013, 0291 on June 26, 2013, and 0446 on July 3, 2013). Effect of HABs on the fishing mortality rate is indicated by regression analysis. Correlation coefficient at station 1 shows the value of 0.5208. While on station 2 shows 0.6937. Harmful algal blooms shown to affect mortality rates of fish in floating net Ringgung Beach. They have triggered reduced oxygen levels in the water that could potentially cause the death of wild fish and farmed in floating net Keywords: Dead fish, harmful phytoplankton, floating net</jats:p
- …
