26 research outputs found

    Pandemi Covid-19: Momentum Introspeksi Tatanan Kehidupan Beragama Dalam Stagnasi Pariwisata

    No full text
    Tulisan “Pandemi Covid-19: Momentum Introspeksi Tatanan Kehidupan Beragama Dalam Stagnasi Pariwisata” oleh Putu Sabda Jayendra dan Kadek Ayu Ekasani dikemukakan bahwa perkembangan sektor pariwisata tidak bisa dilepaskan dari potensi budaya yang dimiliki masyarakatnya. Bali sebagai salah satunya merupakan destinasi yang difavoritkan secara global selama bertahun-tahun. Dinamika pariwisata di Bali tidak dapat dipisahkan dari eksistensi budayanya yang terkenal dan mendunia hingga ke mancanegara. Budaya Bali yang ikonik dan sangat kental dijiwai oleh agama Hindu menjadikannya daya tarik tersendiri yang mengundang wisatawan untuk datang dan menikmatinya

    Pandemi Covid-19: Momentum Introspeksi Tatanan Kehidupan Beragama Dalam Stagnasi Pariwisata

    No full text
    Tulisan “Pandemi Covid-19: Momentum Introspeksi Tatanan Kehidupan Beragama DalamStagnasi Pariwisata” oleh Putu Sabda Jayendra dan Kadek Ayu Ekasani dikemukakan bahwa perkembangan sektor pariwisata tidak bisa dilepaskan dari potensi budaya yang dimiliki masyarakatnya. Bali sebagai salah satunya merupakan destinasi yang difavoritkan secara global selama bertahun-tahun. Dinamika pariwisata di Bali tidak dapat dipisahkan dari eksistensi budayanya yang terkenal dan mendunia hingga ke mancanegara. Budaya Bali yang ikonik dan sangat kental dijiwai oleh agama Hindu menjadikannya daya tarik tersendiri yang mengundang wisatawan untuk datang dan menikmatinya. Komodifikasi merupakan hal yang tidak bisa dihindari, namun di tengah pandemi Covid-19 menjadi omentum untuk instrospeksi tatanan tersebu

    MAKNA SIMBOLIK DEWA NINI SEBAGAI BENTUK SAKRALISASI BUDAYA AGRIKULTUR MASYARAKAT HINDU BALI

    No full text
    Putu Sabda Jayendra dan Komang Puteri yadnya DIari dalam tulisannya “Makna Simbolik Dewa Nini Sebagai Bentuk Sakralisasi Budaya Agrikultur Masyarakat Hindu Bali” Hal ini seolah menegaskan esensi budaya agrikultur telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosio kultural masyarakat Hindu Bali. Simbolisasi Dewi Sri dalam bentuk Dewa Nini menjadi representasi dari aspek feminis Tuhan yang memiliki fungsi sentral secara spiritual dalam menjaga keberlangsungan budaya agrikultur di Bali, dan artinya secara tidak langsung turut berpengaruh terhadap eksistensi ritual yadnya yang lainnya. Dengan demikian, kebertahanan budaya agrikultur tidak saja berimplikasi terhadap kehidupan sosial, namun juga secara religiu

    Putu Sabda Jayendra's Quick Files

    No full text
    The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity

    Analysis of The Development of Religious Educational Tourism Potentials Through Wayang Kaca Painting in Nagasepaha Village, Buleleng

    No full text
    Existence of Wayang Kaca painting in Nagasepaha Village was a long history. There are a lot of potential can be found especially before the Covid-19 pandemic era although it is has decreased product purchase significantly. It turns out that the potential for a typical Wayang Kaca painting does not directly make Nagasepaha Village immediately called a Tourism Village. coupled with the reality of understanding deep philosophical meaning that has not been maximized. When examined in more depth, the existence of wayang Kaca painting is an appropriate medium in providing education and preservation for tourists who will own it. This research was conducted using descriptive qualitative method. The researcher made in-depth observations of the paintings to obtain strategies that could be applied. One strategy that can be developed is using the concept of educative tourism and the involvement of local communities in maintaining the existence of their identity

    THE CONCEPT OF CATUR MARGA AS THE PATTERN OF CONSRUCTIVISM EDUCATION IN HINDU

    No full text
    Catur Marga teachings are a teaching concept that is already very commonly known byHindus. Originally, Catur Marga teaching was generally understood as four ways to get closerto God (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) which consists of; 1) Bhakti Marga, 2) Karma Marga, 3)Jnana Marga, and 4) Raja Marga. However, if viewed in the field of education, in Catur Margateaching, it is actually implemented a gradually staged educational patterns which in educationaltermsisnowreferredasconstructivismlearningpatterns.CaturMargaasapatternofHinduconstructivismisauniversalconcept,andcanbeappliedintheefforttoformlearnercharactersfromanearlyage.Keyword: Catur Marga, Constructivism, Hindu Educatio

    Mongah: Belajar Nilai Hidup Dari Manusia Pakis

    No full text
    Tarian sakral Mongah, yang hanya terdapat satu-satunya di Desa Bunutin, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Tarian sakral Mongah ini sangat menarik untuk dieksplorasi karena menampilkan corak yang kuno, dengan ciri khas tanaman pakis sebagai pakaian atau kostumnya. Selain itu, filosofinya yang sangat kental dan mendalam rupanya sangat berkaitan erat dengan eksistensi masyarakat Desa Bunutin, sehingga hal ini tentu saja menjadikannya tidak hanya sekadar tarian yang bersifat ritual, namun juga sebuah mutiara budaya yang sangat berharga

    Eksistensi Istilah “Anak Mula Keto” Dalam Kehidupan Beragama Masyarakat Hindu Bali

    No full text
    Istilah anak mula keto yang sudah membumi di kalangan masyarakat Hindu Bali merupakan suatu istilah yang telah diturunkan secara bergenerasi (gugon tuwon). Anak mula keto yang secara umum diartikan sebagai memang sudah begitu adanya atau sudah begitu dari dulu. Eksistensi istilah anak mula keto di kalangan masyarakat Hindu Bali dipergunakan sebagai jawaban saat ada seseorang atau sekelompok orang bertanya pada orang atau sekelompok orang lainnya yang kebanyakan tentang hakikat makna filosofis dari tindakan-tindakan religi ataupun budaya dan adat kebiasaan (dresta) yang dilakukan. Perkembangan zaman yang semakin maju membuat istilah anak mula keto menimbulkan pertentangan antara masyarakat Hindu Bali yang progresif dan masyarakat Hindu Bali yang konservatif. Istilah anak mula keto yang dianggap sebagai cerminan pemikiran apatis, skeptis, dan pembodohan oleh kaum progresif “dibalas” oleh kaum konservatif yang menganggap bahwa mengkritisi hakikat tindakan-tindakan religi merupakan cerminan keragu-raguan atau berkurangnya loyalitas dan rasa bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Berdasarkan fenomena tersebut, pemahaman yang menyeluruh akan hakikat istilah anak mula keto dalam tinjauan Tattwa, Susila, dan Acara, mutlak diperlukan dalam untuk menjaga harmonisasi kehidupan beragama Hindu di Bali

    THE EXISTENCE OF SHIVA IN LONTAR PURWAKA BHUMI

    No full text
    The Hinduism in Bali is dominantly influenced by Shiva Siddhanta that regards Lord Siwa as the ultimate reality. This is, of course, different from the concept of Hinduism in India which mostly influenced by the Upanishads that regard Brahman as the supreme reality. The existence of Shiva as the highest and the ultimate amongst the gods can be found in most of the lontars in Bali, one of them is Lontar Purwaka Bhum

    Tradisi Majejahitan: Sebuah Tinjauan Identitas Wanita Hindu Bali Dalam Analisis Teori Culture Lag

    No full text
    Tradition Majejahitan a hereditary habits that have been embedded as a distinctive identity for the women of Hindu Bali. In the dynamics of socio-cultural changes, globalization brought rapid advances in science and technology as well as the consequences increasing demands of complex life. The implication for this tradition is waning social interaction between Hindu Balinese women, meaning the loss of noble values contained therein, changes in the value of Majejahitan Tradition and of the sacred into the profane, and ultimately lead to an identity crisis among women Hindu Bali. Keywords: Majejahitan Tradition, Identity, Hindu Balinese Women, Hindu Globalization
    corecore