1,720,971 research outputs found
Rennin Like Protease dari Isolat Lokal Lactobacillus plantarum 1.13 untuk Pembuatan Keju
Rennin Like Protease (RLP) merupakan enzim protease dengan karakteristik seperti rennin yang dihasilkan anak sapi (veal). Karakteristik yang dimaksud adalah kemampuan dari enzim untuk menggumpalkan susu (daya koagulasi) atau Milk Clotting Activity (MCA). RLP sangat diperlukan untuk menggantikan rennin yang dalam proses pembuatan keju. Rhizomucor miehei, Rhizomucor pusillus, Endothia parasitica, Aspergillus oryzae, and Irpex lacteus telah secara komersial digunakan untuk memproduksi RLP. Mikroba lokal dalam hal ini Bakteri Asam Laktat (BAL) masih belum pernah dikembangkan menjadi agen hayati dalam mendukung industri pengolahan susu menjadi produk keju di Indonesia. Tujuan penelitian adalah mendapatkan isolat lokal BAL dengan kemampuan menghasilkan RLP serta mendapatkan informasi karakteristik biokimiawi RLP yang diproduksi sebagai dasar pemanfaatan enzim tersebut. Tahap pertama penelitian adalah isolasi dan screenning isolat BAL dalam produksi RLP serta identifikasinya. Tahap kedua adalah pengamatan kurva pertumbuhan dan potensi isolat BAL terpilih dalam memproduksi RLP ditinjau dari MCA, Proteolytic Activity (PA), dan persentase serta karakteristik curd yang dihasilkan. Tahap ketiga adalah purifikasi dan karakterisasi RLP dari isolat BAL terpilih. Tahap keempat adalah produksi RLP isolat BAL terpilih dan karakterisasi aktivitas MCA sebagai dasar aplikasi enzim tersebut dalam pembuatan keju. Pada penelitian ini selain memperhatikan aktivitas MCA, dilakukan pula kajian terhadap rasio MCA/PA dan persentase curd serta karakteristik curd yang diperoleh.
Hasil penelitian menunjukkan setelah melalui tahapan isolasi, screening Skim Milk Agar (SMA) dan identifikasi dengan analisis gen 16S rRNA diperoleh 3 (tiga) isolat lokal potensial BAL yaitu Lactobacillus plantarum 1.13 yang diisolasi dari Bakasam, Enterococcus faecium 1.15 yang diisolasi dari Bakasam, serta Lactobacillus casei 2.12 yang diisolasi dari susu kambing Ettawa. Karakteristik ketiga isolat BAL tersebut pada media MRSA + skim menunjukkan adanya zona penggumpalan kasein (clotting zone). L plantarum 1.13 memiliki clotting zone terbesar yaitu 2,3 cm. RLP crude extract yang dihasilkan L plantarum 1.13 memiliki kemampuan menggumpalkan susu atau Milk Clotting Activity (MCA) sebesar 100 SU/mL. Potensi tersebut lebih tinggi dari crude extract RLP E faecium 1.15 dengan nilai MCA 20 SU/mL dan crude extract RLP L casei 2.12 dengan nilai MCA 18 SU/mL. Oleh karena itu digunakan L plantarum 1.13 sebagai isolat BAL terpilih untuk produksi RLP. Pengamatan terhadap kurva pertumbuhan serta kemampuan L plantarum 1.13 dalam mengekresikan RLP ekstraseluler pada media MRS broth menunjukkan
kondisi optimum pada jam ke-25 fase pertumbuhan sel logaritmik pada inkubasi suhu 37ºC dengan aktivitas PA (17,37 U/mL), MCA (155,8 SU/mL) dan persentase curd 13,4%.
Purifikasi terhadap RLP L plantarum 1.13 dengan tahapan pengendapan ammonium sulfat 45%, dialisis dan kromatografi gel filtrasi Sephadex G-50 menunjukkan pita tunggal protein 24,3 kD. Karakterisasi RLP L plantarum hasil hasil purifikasi berdasarkan aktivitas PA menunjukkan pH optimum 4 dan suhu optimum 400C. RLP L plantarum 1.13 diaktifkan oleh CaCl2 (10 mM) dan MgCl2 (5 mM) yaitu 153,26% and 113,41%. Sedangkan aktivitas RLP dihambat oleh inhibitor PMSF (0,5mM) dan EDTA (5 mM). Tahapan pemurnian yang dilakukan terhadap RLP L plantarum 1.13 dapat meningkatkan kemurnian mencapai 17,84 kali dengan perolehan (yield) mencapai 1,38 persen. RLP hasil pemurnian memiliki nilai (MCA/PA) sebesar 5,46 dan menghasilkan curd 36,8%. Nilai MCA/PA RLP L plantarum 1.13 lebih rendah dibanding chymosin dan lebih tinggi dari Mucor pusillus QM 436 dan Calf Rennet. Disamping itu RLP L plantarum 1.13 memiliki kelebihan dalam persentase curd yang dihasilkan mencapai 36,8 % lebih tinggi dari produk rennin rekombinan chymosin.
RLP L plantarum 1.13 memiliki suhu optimum pada suhu 40 0C dengan nilai MCA 140, 86 SU/mL dan persentase curd yang diperoleh mencapai 14%. Enzim RLP L plantarum 1.13 tergolong enzim yang termolabil (tidak tahan panas). Berdasarkan data yang diperoleh, RLP L plantarum 1.13 memiliki aktivitas optimum pada suhu 40 oC. Sedangkan dengan semakin meningkatnya suhu aktivitas enzim tersebut akan semakin menurun dan kehilangan aktivitas pada suhu 70 oC. RLP L plantarum 1.13 menunjukkan aktivitas MCA optimum pada pH 4 dengan nilai 139 SU/mL dan persentase curd yang diperoleh 13,8 %. Hal ini sejalan dengan hasil karakterisasi berdasarkan aktivitas proteolitik (PA) yang menunjukkan optimum pada pH 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RLP L plantarum 1.13 memiliki aktivitas MCA stabil pada pH 4 sampai inkubasi 90 menit. RLP L plantarum 1.13 dengan kondisi optimum reaksi pada pH 4, CaCl2 0,2 M, dan inkubasi suhu 40 ºC, menunjukkan aktivitas penggumpalan yang tinggi pada perbandingan E : S (1:5) dengan nilai MCA 440 ± 1,01 SU/ml dan persentase curd sebesar 25,40 ± 0,28 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa L plantarum 1.13 memiliki potensi dikembangkan sebagai penghasil RLP dengan keunggulan karena merupakan bakteri yang aman dan bukan merupakan pathogen
Purifikasi dan Karekterisasi Hyaluronidase Streptokokus Grup B (SGB) Serotipe VI Isolat Manusia
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Karakteristik Stirred Yoghurt Mangga (Mangifera indica) dan Apel (Malus domestica) Selama Penyimpanan (Characteristics of Mango (Mangifera indica) and Apple (Malus domestica) Sittted Yoghurt During Storage)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan jus buah mangga dan apel terhadap keasaman, total bakteri dan sineresis stirred yoghurt mangga dan apel yang dihasilkan dan selama proses penyimpanan. Penelitian ini dilakukan dengan tiga perlakuan yaitu stirred yoghurt mangga, stirred yoghurt apel dan kontrol. Stirred yoghurt yang dihasilkan disimpan selama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan stirred yoghurt mangga (210 menit, pH=4,3) dan apel (210 menit, pH=4,2) terkoagulasi lebih cepat dan pada pH yang lebih rendah dibandingkan dengan control (250 menit, pH=4,4). Selama penyimpanan kadar asam laktat dan jumlah bakteri asam laktat lebih tinggi pada stirred yoghurt mangga dan apel dibandingkan dengan control. Syneresis pada stirred yoghurt mangga dan apel lebih rendah dibandingkan dengan control. Kata kunci : stirred yoghurt, syneresis,mangga,ape
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Pengaruh Tingkat Konsentrasi Natrium Tripolifosfat terhadap Kadar Protein, Kekuatan Gel dan Kadar Air Pada Pengolahan Nikumi Daging Domba (The Effect of Sodium tripolifosfat Concentration on Protein content, Gel Strength and Water Content of Meat Proces
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat konsentrasi natrium tripolifosfat terhadap kadar protein, kekuatan gel dan kadar air pada pengolahan nikumi daging domba. Perlakuan pada penelitian ini adalah konsentrasi natrium tripolifosfat 0%, 0.25%, dan 0.5% pada proses pengolahan nikumi domba. Peubah yang diamati meliputi kadar protein, kekutan gel dan kadar air. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), tiap perlakuan diulang enam kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi natrium tripolifosfat berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar protein dan kekuatan gel, sedangkan terhadap kadar air tidak berpengaruh nyata pada pengolahan nikumi domba. Kata Kunci : Natrium Tripolifosfat, Kadar Protein, Kekuatan Gel, Kadar Air, Nikum
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
