4 research outputs found

    Pendampingan Petani Bawang Merah melalui Lelong sebagai Upaya untuk Mengatasi Pengelolaan Lahan secara Individualis

    No full text
    Pengabdian masyarakat berbasis riset yang berjudul Pendampingan Petani Bawang Merah Melalui Lelong Sebagai Upaya Untuk Mengatasi Pengelolaan Lahan Secara Individualis di nagari Lolo kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Solok di dasari adanya permasalahan dalam pengelolaan lahan secara individual oleh petani bawang. Permasalahan ini berdampak kurang baik bagi kehidupan sosial masyarakat. Permasalahan ini diatasi dengan pengabdian masyarakat. Pengabdian masyarakat berbasis riset ini menggunakan metode Partisipasi Action Research (PAR) dengan langkah-langkah dalam pengabdian yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Hasil pengabdian masyarakat ini telah memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial masyarakat berupa partisipasi dalam kegiatan sosial meningkat, meningkatnya interaksi sosial antar sesama anggota kelompok lelong dan masyarakat, perubahan gaya hidup yang lebih sejahtera, tingginya kebersamaan antar anggota kelompok lelong, semakin memudarnya kecemburuan sosial dalam kehidupan petani, mencegah terciptanya stratifikasi sosial dalam kehidupan petani, meningkatnya kinerja petani, tidak berlakunya sistem upah dan modal yang dibutuhkan lebih kecil. Dapat disimpulkan pengabdian masyarakat berbasis riset yang dilakukan telah dapat membawa perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik dan sejahtera

    Perubahan Penggarapan Lahan dari Lelong menjadi sistem Upah dan Dampak Sosialnya pada Petani Bawang Merah. Studi Petani Bawang Merah di Nagari Lolo Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Solok.

    Get PDF
    Sebagian besar masyarakat di Nagari Lolo mempunyai pekerjaan sebagai petani, hal ini karena Nagari Lolo memiliki lahan untuk pertanian yang sangat luas. Dalam penggarapan lahan pertanian masyarakat menggunakan sistem lelong yaitu bekerja secara gotong-royong tanpa mengenal sistem upah (gaji). Dengan banyaknya masyarakat di nagari Lolo yang membudidayakan tanaman bawang merah membuat sistem lelong ini ditinggalkan dan hilang dari kehidupan masyarakat. Hal ini terjadi karena sistem lelong tidak sesuai dengan penggarapan dan perawatan dari tanaman bawang merah yang membutuhkan banyak perhatian dan tenaga dalam mengerjakannya. Untuk memudahkan menyelesaikan pekerjaan, maka para petani bawang merah menggunakan sistem upah yang dinilai lebih efektif, cepat dan efisien dalam menggarap lahan petani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk perubahan penggarapan lahan dari Lelong menjadi sistem upah serta mendeskripsikan dampak sosial perubahan penggarapan lahan dari lelong menjadi sistem upah pada petani bawang merah. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Informan penelitian dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling dan dalam pengumpulan data digunakan teknik observasi dan wawancara mendalam. Teori yang digunakan adalah tentang perubahan sosial dari Sztompka. Menurut Farley (1990:626) dalam Sztompka (2004:5), bahwa perubahan sosial merupakan perubahan kepada pola perilaku, hubungan sosial, lembaga dan struktur sosial pada waktu tertentu. Hasil penelitian menunjukkan adanya dampak sosial akibat perubahan penggarapan lahan dari sistem lelong menjadi sistem upah pada petani bawang merah yaitu: pertama, partisipasi dalam kegiatan sosial berkurang. Kedua, merenggangya interaksi sosial dengan masyarakat. Ketiga, perubahan gaya hidup. Keempat, hilangnya rasa kebersamaan. Kelima, timbulnya kecemburuan sosial dalam kehidupan petani. Keenam, terciptanya stratifikasi sosial dalam kehidupan petani. Ketujuh, meningkatnya kinerja petani. Kedelapan, perbedaan sistem pengupahan. Kesembilan, modal yang dibutuhkan lebih besar. Kata Kunci: Perubahan Penggarapan Lahan, Lelong, Sistem Upah, Petani Bawang Merah

    PENOLAKAN KOMUNITAS PADANG TAROK TERHADAP KEDATANGAN TRANSMIGRAN SUKU ANAK DALAM (SAD) DI NAGARI PADANG TAROK KECAMATAN KAMANG BARU KABUPATEN SIJUNJUNG

    Get PDF
    Penelitian ini membahas penolakan transmigran Suku Anak Dalam di Nagari Padang Tarok Kecamatan Kamang Baru Kabupaten Sijunjung. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) mengidentifikasi dan mendeskripsikan peran tokoh-tokoh masyarakat Nagari Padang Tarok yang menolak kedatangan transmigran Suku Anak Dalam, (2) mengidentifikasi dan mendeskripsikan faktor-faktor penyebab komunitas lokal Nagari Padang Tarok menolak kedatangan transmigran Suku Anak Dalam dan dianalisis menggunakan teori Eksklusi Sosial oleh Rene Lenoir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil: (1) Peran Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) (2) Peran Tungku Tigo Sajarangan yang terdiri atas: niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai. Selain itu menemukan faktor-faktor penyebab komunitas Padang Tarok menolak kedatangan transmigran Suku Anak Dalam, faktor internal yaitu: (1) Adanya Surat Pernyataan Bersama Niniak Mamak Pemangku Adat dengan Pemerintah yang mengharuskan peserta beragama Islam di Nagari Padang Tarok (2) Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sesuai ajaran agama Islam sebagai landasan hidup Komunitas Lokal Nagari Padang Tarok (3) Prasangka Suku Anak dalam tidak memiliki agama (4) Suku Anak Dalam tidak mau memeluk agama Islam (mualaf) (5) Suku Anak Dalam bersedia memeluk agama resmi tetapi bukan Islam (6) Lingkungan tempat tinggal serta kebiasaan hidup Suku Anak Dalam sangat kumuh sehingga bertentangan dengan agama Islam yang mengedepankan kebersihan diri dan lingkungan (7) Suku Anak Dalam memiiliki kekuatan gaib (8) Adanya ketakutan komunitas lokal di Nagari Padang Tarok karena Suku Anak Dalam masih menjalani kehidupan dengan budaya yang primitif (9) Prasangka rumah yang sudah diberikan tidak ditempati oleh Suku Anak Dalam karena adanya budaya melangun (10) Prasangka Suku Anak Dalam memiliki kekebalan terhadap hukum negara (11) Suku Anak Dalam sangat tertutup dan jarang bersosialisasi dengan masyarakat (12) Suku Anak dalam sering mengambil hasil tanaman masyarakat. Sedangkan faktor eksternal yaitu: (1) Tokoh masyarakat dan komunitas lokal di Nagari Padang Tarok belum menerima sosialisasi dan informasi terkait kedatangan transmigran Suku Anak Dalam (2) Departemen Transmigrasi pusat terlalu memaksakan memasukan program transmigrasi Suku Anak Dalam ke Nagari Padang Tarok tanpa memperhatikan isi surat pernyataan bersama antara niniak mamak dengan Pemerintah Daerah (3) Warga transmigran Jawa ikut menolak kedatangan transmigran Suku Anak Dalam (4) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sijunjung kurang berusaha meyakinkan komunitas lokal Padang Tarok terkait transmigran Suku Anak Dalam. Oleh sebab itu dibutuhkan sosialisasi serta kerjasama dengan semua pihak yang terlibat dalam program transmigrasi agar dapat berjalan dengan lancar kedepannya

    PENOLAKAN KOMUNITAS LOKAL NAGARI PADANG TAROK TERHADAP KEDATANGAN TRANSMIGRAN SUKU ANAK DALAM

    No full text
    This research discusses the rejection of Anak Dalam Ethnic transmigrants in Padang Tarok Village, Kamang Baru District, Sijunjung Regency. The purpose of this study is to explain and describe the reasons for the local community of Padang Tarok Village to reject the Anak Dalam Ethnic Transmigrant and to analyze it using the Social Exclusion by Rene Lenoir. This research uses a qualitative approach. The selection of informants was carried out by purposive sampling. Data collection was carried out using involved observation, in-depth interviews, and documentation. The result of the study shows that the rejection of Anak Dalam Ethnic transmigrants occurs because of differences in religious and cultural values between the Anak Dalam Ethnic and the local community of Padang Tarok Village. Due to differences in religious and cultural values between the Anak Dalam Ethnic and the local community, the transmigration program for the Anak Dalam Ethnic was not implemented according to the planThis research discusses the rejection of Suku Anak Dalam transmigrants in Nagari Padang Tarok, Kamang Baru District, Sijunjung Regency. The purpose of this study is to explain and describe the reasons for the local community of Nagari Padang Tarok to reject the Suku Anak Dalam Transmigrant and to analyze it using the Social Exclusion by Rene Lenoir. This research uses a qualitative approach. The selection of informants was carried out by purposive sampling. Data collection was carried out by means of involved observation, in-depth interviews, and documentation. The result (1) the role of the head of the Nagari Customary density (KAN) (2) the role of Tungku Tigo Sajarangan consisting of: niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai. Internal factors, are: (1) The existence of a Joint Statement Letter of Niniak Mamak Traditional Stakeholders with the Government regarding the Implementation of the Transmigration Program in Nagari Padang Tarok (2) Adat Basandi Syarak , Syarak Basandi Kitabullah as the Basic Life of the Nagari Padang Tarok Local Community (3) The Anak Dalam tribe does not want to embrace Islam (4) There is fear because the Anak Dalam tribe is still primitive (5) The Anak Tribe takes the community's crops given not occupied by the Suku Anak Dalam. External factors are: (1) Community leaders and local communities of Nagari Padang Tarok have not received any socialization and information regarding the arrival of Suku Anak Dalam transmigrants (2) Suku Anak Dalam has no religion (3) Suku Anak Dalam is willing to embrace an official religion but not Islam. (4) Suku Anak Dalam have immunity to state laws (5) The environment where the tribe lives and the living habits of the Suku Anak Dalam are very slum (6) The Suku Anak Dalam has supernatural powers (7) The Suku Anak Dalam is very closed and rarely socializes with the community (8) Javanese transmigrants also rejected the Suku Anak Dalam transmigrants. (9) The Sijunjung Regency Manpower and Transmigration Service did not try to convince the local Padang Tarok community regarding the Suku Anak Dalam transmigrants
    corecore