1,721,059 research outputs found

    ANALISIS FAKTOR YANG MEMBEDAKAN ADANYA OVEREDUCATION DALAM JABATAN AWAL YANG DIPEROLEH ALUMNI PERGURUAN TINGGI DI KOTA BENGKULU

    No full text
    Alumni dari berbagai Perguruan Tinggi atau Universitas adalah bagian dari tenaga kerja yang bersaing untuk mendapatkan pekerjaan di pasar kerja. Sebagian dari lulusan sarjana yang diterima di pasar kerja kadangkala tidak sesuai dengan tingkat pendidikan dan keahlian yang dimiliki. Tenaga kerja yang memiliki tingkat pendidikan tinggi ini menekuni pekerjaan yang seharusnya untuk tenaga kerja dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Keadaan ini mengisyaratkan telah terjadi mismatch yang bersifat overeducation Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang membedakan adanya overeducation yang diperoleh alumni Perguruan Tinggi di Kota Bengkulu. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari alumni Perguruan Tinggi di Kota Bengkulu sebagai responden dengan menggunakan kuisioner. Pengambilan sampel menggunakan convienence sampling, karena populasi alumni yang tidak diketahui. Banyaknya faktor yang dapat membedakan adaya overeducation, maka dalam penelitian ini hanya dibatasi oleh faktor IPK, Skill Bahasa Inggris, Skill Komputer, Skill Berkomunikasi, Jurusan dan Asal Perguruan Tinggi. Penelitian ini menggunakan analisis diskriminan. Hasil penelitian bahwa dari 50 responden terdapat 26 responden yang mengalami overeducation dan 24 responden yang tidak mengalami overeducation. Dari variabel yang dianalisis hanya ada dua variabel yaitu variabel Skill Bahasa Inggris ,Skill Komputer dan Skill Berkomunikasi dengan nilai koefisien 0,000 yang secara signifikan dapat membedakan ada tidaknya overeducation pada alumni Perguruan Tinggi di Kota Bengkulu. Angka ketepatan yang tinggi yaitu 86 %, maka model diskriminan ini dapat digunakan. Dengan demikian responden yang belum bekerja sebaiknya meningkatkan Skill Bahasa Inggris, Skill Komputer dan Skill Berkomunikasi agar tidak mengalami overeducati

    ANALISIS DESKRIPTIF POLA PENGELUARAN KONSUMSI RUMAH TANGGA KARYAWAN PEMANEN PT. AGRI ANDALAS (Studi Pada Karyawan Pemanen di Perumahan PT. Agri Andalas, di Desa Pasar Ngalam, Kec. Air Periukan, Kab. Seluma)

    No full text
    Desa Pasar Ngalam terletak di wilayah kecamatan Air periukan, Kabupaten Seluma. Wilayah geografis Pasar ngalam terdiri dari daerah sawah, ladang, hutan, pemukiman dan perkebunan. Mata pencaharian penduduk mayoritas adalah buruh atau karyawan pada perkebunan kelapa sawit. Karyawan pemanen adalah karyawan yang paling besar yang bekerja di perkebunan kelapa sawit. Untuk mengetahui apakah kehidupan para karyawan pemanen telah menunjukkan tingkat perbedaan yang baik dalam pengeluaran antara pangan dan non pangan sehingga dapat diketahui tingkat kesejahteraannya maka perlu untuk mengetahui pola pengeluaran konsumsi rumah tangganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengeluaran konsumsi karyawan pemanen PT Agri Andalas. Data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari karyawan pemanen dengan menggunakan kuesioner. Penelitian ini merupakan penelitian survey yang menggunakan analisa deskriptif yang memakai statistic sederhana untuk mencari nilai rata-rata, nilai tengah dan modus dari variable penelitian yang meliputi tingkat pendapatan, pengeluaran pangan dan pengeluaran non pangan. Tabel frekuensi dan tabulasi silang digunakan untuk menjelaskan hubungan karakteristik responden dengan pola pengeluarannya. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pola pengeluaran konsumsi rumah tangga karyawan pemanen pada kategori pangan karbohidrat adalah ratarata sebesar 30 % pada range pendapatan 1-1,5 (juta), 25 % pada range pendapatan 1,51-2 (juta) dan 16 % pada range pendapatan 2,1-2,5 (juta). Sedangkan pengeluaran untuk protein dan nutrisi lainnya adalah rata-rata sebesar 23 %, 21 %, dan 13 % pada range pendapatan 1-1,5 (juta), 1,51-2 (juta), 2,1-2,5 (juta). Rata-rata pengeluaran untuk non makanan adalah berturut-turut secara keseluruhan 55 %, 67 %, dan 58 %. Persentase pengeluaran makanan di atas 50 % hanya terjadi pada 7 (19,4%) pekerja dari total 36 pekerja sedangkan sisanya di bawah 50 % sebanyak 29 pekerja (68,1%). Hasil temuan lainnya dalam penelitian ini diketahui bahwa secara umum pekerja pemanen memiliki kecenderungan yang tinggi dalam mengkonsumsi rokok dan pengadaan alat komunikasi seperti handphone dibandingkan jenis pengeluaran lain yang memberi nilai tambah bagi peningkatan kualitas pemanen dan keluarganya seperti pendidikan dan sosial maupun religi, hal ini tidak memberikan nilai tambah yang lebih besar manfaatnya terutama bagi keuangan pekerja melainkan hanya menyebabkan pengeluaran yang lebih besar sehingga keuangan pekerja menjadi buruk dengan tingkat tabungan yang sangat rendah bahkan minus

    ANALISIS PERMINTAAN BERAS DI PROPINSI BENGKULU

    No full text
    ANALISIS PERMINTAAN BERAS DI PROPINSI BENGKULU Peranan beras sangat penting dalam kehidupan manusia Indonesia oleh karena itu penyediaan pangan tidak dapat diabaikan begitu saja. Kebutuhan pangan setiap tahun mengalami kenaikan karena bertambahnya jumlah penduduk dan semakin berkembangnya tingkat kemakmuran. Bila dilihat dari jumlah permintaan beras di Propinsi Bengkulu dapat diketahui bahwa permintaan beras dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Permintaan ini dipengaruhi oleh pendapatan perkapita, jumlah penduduk, harga beras dan harga terigu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan produksi dan permintaan beras di Propinsi Bengkulu serta untuk mengetahui elastisitas permintaan beras terhadap pendapatan perkapita, jumlah penduduk, harga beras dan harga terigu. Dengan menggunakan data time series dari tahun 1990-2005 yang bersumber dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dan Badan Pusat Statistik Propinsi Bengkulu, selanjutnya data dianalisis dengan program SPSS menggunakan model regresi linier berganda dalam bentuk logaritma natural. Adapun hasil perhitungannya adalah : Ln Y = 8,763 + 0,223 Ln X1 + 0,637 Ln X2 – 0,254 Ln X3 + 0,260 Ln X4 Peningkatan produksi beras tidak secepat permintaan sehingga menyebabkan terjadinya defisit atau kekurangan beras makin besar. Untuk menutupi kekurangan tersebut beras didatangkan dari luar Propinsi Bengkulu. Selanjutnya dari hasil pengujian secara keseluruhan (uji F) maupun secara individu (t test) dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa keempat variabel yakni pendapatan perkapita, jumlah penduduk, harga beras dan harga terigu mempunyai pengaruh yang signifikan (nyata) terhadap permintaan beras di Propinsi Bengkulu. Variabel pendapatan perkapita, jumlah penduduk dan harga terigu berpengaruh positif dan bersifat inelastis sedangkan variabel harga beras berpengaruh negatif dan bersifat inelastis

    Analisis Persepsi Masyarakat Terhadap Kualitas Jasa Publik

    No full text
    Pelayanan yang berkualitas merupakan suatu hal yang diutamakan karena dengan pelayanan yang berkualitas rumah sakit dapat menjadi unggul dan memberi rasa puas bagi konsumennya. Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M. Yunus (RSUDMY) dituntut untuk selalu menjaga kepercayaan konsumen dengan meningkatkan kualitas pelayanan agar kepuasan konsumennya meningkat. Pihak rumah sakit perlu secara cermat menentukan kebutuhan konsumen sebagai upaya untuk memenuhi keinginan dan meningkatkan kepuasan atas pelayanan yang diberikan. Baik buruknya suatu kualitas pelayanan berhubungan dengan kinerja pelayanan rumah sakit itu sendiri. Apabila kinerja pelayanannya terus diperbaiki maka secara otomatis akan terwujud kualitas pelayanan yang baik. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer diperoleh melalui jawaban responden terhadap pertanyaan dalam kuesioner. Penelitian ini menggunakan analisis diskriptif yang didapat dengan mengolah data kualitatif serta dengan penghitungan Indeks Kepuasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan nilai rata-rata dari persepsi kinerja (kualitas layanan yang diterima) oleh responden terhadap kualitas layanan jasa publik, maka dimensi assurance (3,93), reliability (3,66), dan tangible (3,42) merupakan tiga dari lima dimensi yang mendapat penilaian baik. Sedangkan dua dimensi lainnya yaitu dimensi responsiveness (3,37) dan emphaty (3,30) menunjukkan persepsi kurang baik. Tiga dimensi yang mendapat penilaian baik dapat dijadikan sebagai faktor andalan bagi RSUDMY, dengan demikian urutan dimensi dari persepsi masyarakat terhadap kualitas layanan jasa publik yaitu assurance, reliability, tangible, responsiveness, dan emphaty. Sedangkan hasil analisis kinerja (kualitas layanan yang diterima/dirasakan) dan harapan (pelayanan yang diinginkan) terhadap jasa pelayanan kesehatan secara umum menunjukkan kurang puas dengan Indeks rata-rata sebesar 82,26%. dimensi yang paling rendah Indeks Kepuasannya adalah dimensi tangible (80,91%), sedangkan yang tertinggi pada dimensi emphaty (84,17%). Kepuasan tercapai apabila katagori penilaian mencapai 85 - 94,9%. Kinerja dari RSUD Dr. M. Yunus perlu ditingkatkan lagi terutama pada dimensi responsiveness dan emphaty, mengingat bahwa masih kurang baiknya persepsi dari para responden sebagai pengguna jasa terhadap dimensi tersebut. Penilaian pengguna jasa adalah merupakan suatu hal yang dinamis dimana akan berubah dari waktu ke waktu. Oleh sebab itu, pemerintah daerah serta pihak rumah sakit senantiasa selalu memantau pelayanan yang diberikan melalui survei kualitas pelayanan atau saran dan keluhan pasien serta mampu mengambil tindakan yang cepat dan tepat dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pengguna jasa

    STRATEGY TOURISM DEVELOMEN IN BENGKULU CITY

    No full text
    The objective of this research is to know strategy to did for development tourism in Bengkulu city. This development tourism to include accessibilities, eywords : Strategy, tourism, accessibilities, tour product, infrastructure and ol, tourism business, promotion, and community. 1) Penulis 2) Pembimbing Skripsi R EVELOPMEN 1) tour product, infrastructure and tool, tourism business, promotion, and community. Used data in research is primary data and secondary data. Analysis method of research is SWOT analysis and consist of strength, weakness, opportunity, and threats. The result study shows Bengkulu city to have tourism potential and showed by unique and beautifull tourism. But not support with accessibilities, tour product, infrastructure and tool, tourism business, promotion, and community. That because government and society Bengkulu city must cooperation to development and to repair tourism as weel as to give welcome to domestic tourist and foreign tourist

    ANALISIS MAKRO EKONOMI KOTA BENGKULU SEBELUM DAN SETELAH KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH

    No full text
    Skripsi ini berjudul “Analisis Makro Ekonomi Kota Bengkulu Sebelum dan Setelah Kebijakan Otonomi Daerah. Penelitian ini di latar belakangi karena setiap daerah yang memiliki sumberdaya yang berbeda akan mempengaruhi pendapatan daerahnya dan kebijakan otonomi daerah diharapkan setiap daerah mampu memperbaiki keadaan ekonominya. Adapun permasalahan yang diteliti adalah perbandingan makro ekonomi Kota Bengkulu sebelum dan setelah kebijakan otonomi daerah. Adapun variabel-variabel yang diteliti yaitu Pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita, kontribusi PAD, kontribusi pengeluaran rutin, pengeluaran pembangunan dan PMTB. Data yang digunakan merupakan data sekunder. Data sekunder diperoleh langsung dari BPS dan instansi-instansi terkait dalam penelitian ini. Untuk menganalisis dan melihat perbandingan makro ekonomi Kota Bengkulu sebelum dan Setelah kebijakan otonomi daerah digunakan alat analisis uji beda rata-rata, dengan menggunakan uji t one sample. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa setelah kebijakan otonomi daerah, dimana nilai t-hitung lebih besar dari nilai t-tabel yang berarti variabel makro ekonomi tersebut berpengaruh significant

    “ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI PROPINSI BENGKULU PERIODE 1989-2004”

    No full text
    Penelitian ini berjudul “Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi Tingkat Pengangguran Terbuka di Propinsi Bengkulu periode 1989-2004.” Tantangan berat dalam bidang ketenagakerjaan yang dihadapi saat ini adalah tingkat pengangguran yang masih besar jumlahnya, lapangan pekerjaan belum mencukupi dan pertambahan jumlah angkatan kerja yang melebihi pertambahan jumlah lapangan kerja. Di Propinsi Bengkulu, tingkat pengangguran terbuka mengalami fluktuasi dari tahun-ketahun. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Hal ini melatar belakangi penulis untuk meneliti faktor-faktor tersebut. Untuk mengetahui bagaimana besarnya pengaruh dari masing-masing faktor tersebut terhadap tingkat pengangguran digunakan metode Regresi Linear Berganda dimana faktor-faktor yang diteliti adalah pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi dan tingkat upah. Dari hasil perhitungan regresi linier berganda yang telah ditransformasikan kedalam bentuk logaritma natural, maka diperoleh persamaan : LnY = -5.159 + 0.212 LnX 1 - 0.568 LnX 2 - 0.028 LnX 3 Dari persamaan diatas dapat diketahui bahwa, pertumbuhan penduduk mempunyai pengaruh yang positif terhadap tingkat pengangguran di Propinsi Bengkulu dengan koefisien regresinya sebesar 0,212, yang berarti naiknya pertumbuhan penduduk sebesar 1% akan menaikkan tingkat pengangguran sebesar 0,212% dengan asumsi faktor-faktor lainnya dianggap tetap. Sedangkan pertumbuhan ekonomi mempunyai pengaruh yang negatif terhadap tingkat pengangguran di Propinsi Bengkulu dengan koefisien regresinya sebesar -0,568, yang berarti naiknya pertumbuhan ekonomi sebesar 1% akan menurunkan tingkat pengangguran sebesar 0,568% dengan asumsi faktor-faktor lainnya dianggap tetap. Dari hasil regresi berganda diperoleh R 2 sebesar 0,698. Artinya, kemampuan keseluruhan variabel independen dalam menjelaskan variasi naik turunnya variabel dependen adalah sebesar 69,8%. Sedangkan sisanya sebesar 30,2% ditentukan oleh faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Untuk menguji signifikansi pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen secara keseluruhan, digunakan uji-F dengan á = 0,05. Dari hasil perhitungan regresi linier berganda, diperoleh nilai F sebesar 3,302 dengan nilai signifikan 0,046. Oleh karena nilai signifikan F hitung hitung < nilai á (0.046 < 0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima., yang berarti secara bersama-sama variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Dari hasil pengujian hipotesis secara parsial dengan menggunakan uji t, diketahui bahwa kedua variabel independen yaitu pertumbuhan penduduk, dan pertumbuhan ekonomi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengangguran terbuka di Propinsi Bengkulu, sedangkan variabel tingkat upah tidak berpengaruh terhadap tingkat pengangguran terbuka di Propinsi Bengkulu

    IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN DI KOTA BENGKULU (Studi Kasus di Wilayah Pasar Bengkulu, Pasar Pantai, Kandang, dan Teluk Sepang)

    No full text
    Kota Bengkulu merupakan salah satu wilayah sentral perikanan di provinsi Bengkulu, sehingga tidaklah heran bila banyak masyarakat Kota Bengkulu yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Namun, kehidupan sebagian besar nelayan di Kota Bengkulu masih memprihatinkan. Hal ini dapat dilihat dari kehidupan sosial ekonomi mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik sosial ekonomi masyarakat nelayan di Kota Bengkulu. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari nelayan sebagai responden. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan mengolah data kuantitatif dan kualitatif yang dijelaskan dalam bentuk tabel frekuensi, tabulasi silang, dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia produkif yaitu berusia 26-55 tahun, semua beragama islam, dan status perkawinannya menikah. Sebagian besar responden merupakan nelayan buruh dan melakukan aktivitas melaut setiap hari. Tingkat pendidikan nelayan pada umumnya rendah yaitu SD dan SMP. Sedangkan Rata-rata jumlah tanggungan keluarga yang dimiliki oleh nelayan adalah 4 orang. Teknologi dalam hal ini adalah jenis perahu dan alat tangkap yang paling banyak digunakan oleh nelayan untuk melaut adalah perahu motor/lancang dan jaring. Sebagian besar nelayan memiliki kesadaran untuk menabung, dimana perilaku menabung mereka berbeda-beda. Frekuensi menabung setiap hari merupakan perilaku menabung yang paling banyak dilakukan. Bila dilihat dari pendapatan, nelayan termasuk dalam kategori miskin yaitu sebesar 78,48 % yang memperoleh pendapatan dibawah Rp. 540.000 per kapita per bulan. Selain itu, dari hasil penelitian juga diketahui bahwa karakteristik sosial ekonomi seperti pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, jenis perahu, dan alat tangkap tidak menunjukkan pola hubungan tertentu terhadap pendapatan total per bulan. Tetapi status pekerjaan cenderung berhubungan positif terhadap pendapatan total per bulan. Bila dilihat hubungan variabel-variabel tadi dengan pendapatan per kapita per bulan, yang menunjukkan pola hubungan terhadap pendapatan adalah jumlah tanggungan keluarga, perilaku menabung dan status pekerjaan. Jumlah tanggungan keluarga dan perilaku menabung cenderung berhubungan negatif terhadap pendapatan per kapita sedangkan status nelayan cenderung berhubungan positif terhadap pendapatan per kapita

    Dampak Covid-19 Terhadap Aktivitas Dan Kinerja Mahssiswa Universitas Bengkulu

    Full text link
    The objectives of this study are: 1. To find out the description of student activities during the covid19 pandemic, 2. To analyze the impact of the COVID-19 pandemic on student academic performance. The number of respondents in this study were 400 students, using purposive random sampling method, taken as many as 2.5 percent of students from 8 faculties at Bengkulu University. The data were analyzed descriptively and statistically by using Wilcoxon Signed Rank Test. The results of the study found that there were differences in student activities before the pandemic to the pandemic period. During the pandemic the time spent for reading lecture material decreased, while the time spent for doing assignments increased. Working students also increased during the pandemic. Advantages of online lectures: a) saving on transportation costs; b) more technology literate; c) cost-effective appearance; d) more independent in learning; e) keep up with the times; f) saving on the cost of renting a boarding room. Constraints of online lectures: a) Inadequate/unstable internet network; b) Difficulty understanding the material; c) Limited quota owned; d) difficult to adjust lecture time; e) the home environment does not support online lectures; f) inadequate gadgets or hardware. The impact of the pandemic on student academic performance: i). from the aspect of the semester achievement index (IPS), in general it increased in all faculties, the average IPS increased from 3.35 to 3.45. ii). From the aspect of learning independence, on average it increased from good enough to good, iii). However, from the aspect of understanding the lecture material, on average there was a decrease from good (scale value 4.09 out of 5) to not good (scale value 2.57 out of 5). Statistical testing also supports a significant difference in student performance between before the Covid19 pandemic and during the Covid19 pandemic. In terms of semester achievement index (IPS) and learning independence, both increased, but in terms of material understanding decreased. There is a discrepancy between the GPA and students' understanding of the course material &nbsp; Keywords: Student activities1, student performance2, covid19 pandemic3, online lectures4, Wilcoxon Signed&nbsp; Rank Test 5The objectives of this study are: 1. To find out the description of student activities during the covid19 pandemic, 2. To analyze the impact of the COVID-19 pandemic on student academic performance. The number of respondents in this study were 400 students, using purposive random sampling method, taken as many as 2.5 percent of students from 8 faculties at Bengkulu University. The data were analyzed descriptively and statistically by using Wilcoxon Signed Rank Test. The results of the study found that there were differences in student activities before the pandemic to the pandemic period. During the pandemic the time spent for reading lecture material decreased, while the time spent for doing assignments increased. Working students also increased during the pandemic. Advantages of online lectures: a) saving on transportation costs; b) more technology literate; c) cost-effective appearance; d) more independent in learning; e) keep up with the times; f) saving on the cost of renting a boarding room. Constraints of online lectures: a) Inadequate/unstable internet network; b) Difficulty understanding the material; c) Limited quota owned; d) difficult to adjust lecture time; e) the home environment does not support online lectures; f) inadequate gadgets or hardware. The impact of the pandemic on student academic performance: i). from the aspect of the semester achievement index (IPS), in general it increased in all faculties, the average IPS increased from 3.35 to 3.45. ii). From the aspect of learning independence, on average it increased from good enough to good, iii). However, from the aspect of understanding the lecture material, on average there was a decrease from good (scale value 4.09 out of 5) to not good (scale value 2.57 out of 5). Statistical testing also supports a significant difference in student performance between before the Covid19 pandemic and during the Covid19 pandemic. In terms of semester achievement index (IPS) and learning independence, both increased, but in terms of material understanding decreased. There is a discrepancy between the GPA and students' understanding of the course material &nbsp; Keywords: Student activities1, student performance2, covid19 pandemic3, online lectures4, Wilcoxon Signed&nbsp; Rank Test

    ANALISIS PENGARUH KEBIJAKAN MONETER DAN FISKAL TERHADAP INFLASI DI INDONESIA( Periode Tahun 1981-2005 )

    No full text
    Seiring perkembangan waktu di tanah air, banyak peristiwa ekonomi yang terjadi dialami seperti inflasi. Peristiwa ini merupakan kenaikan harga secara meluas yang berdampak pada penurunan permintaan secara agregat akan barang dan jasa yang dikonsumsi oleh konsumen. Penurunan konsumsi atas barang dan jasa ini akan berpengaruh pada sektor-sektor ekonomi lainnya. Akibatnya perekonomian akan mengalami ketidakstabilan ekonomi. Inflasi di Indonesia mengalami fluktuatif sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut antara lain yaitu kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Dalam penelitian ini merumuskan masalah adakah pengaruh kebijakan moneter dan fiskal terhadap inflasi di Indonesia dengan tujuan untuk mengetahui berapa besar pengaruh kebijakan–kebijakan tersebut. Jenis penelitiannya adalah explanatory research dengan data skunder yang berbentuk time series sebanyak 25 tahun yang diperoleh dari tahun 1981-2005. Sumber data yang digunakan berasal dari Bank Indonesia dan Biro Pusat Statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel perubahan jumlah uang beredar sebagai instrumen kebijakan moneter dan variabel perubahan pengeluaran pemerintah pusat sebagai instrumen kebijakan fiskal berpengaruh secara signifikan terhadap inflasi yang dilakukan dengan uji F (serempak) dan uji t (parsial). Ini berarti kebijakan moneter dan fiskal mempunyai pengaruh terhadap inflasi di Indonesia
    corecore