1,720,977 research outputs found
Variabilitas Klorofil-a dan Interelasinya Terhadap ENSO (El Niño Southern Oscillation) Di Perairan Utara Papua.
This research aimed to study the variability of surface chlorophyll-a and its interrelation to ENSO (El Nino Southern Oscillation) in the North Papua waters. Monthly averaged data of Nino 3.4 Index from CPC NOAA, sea surface temperature (SST) from ERSL NOAA, and surface chlorophyll-a from Globcolor Project were analyzed using FFT (Fast Fourier Transform) and wavelet methods during September 1997 - April 2009. Referring to temperature anomaly at Nino region 3.4 during the period this study, three El Nino events were taken place in 1997/1998, 2002/2003, and 2004/2005. The 1997/1998 El Nino was the strongest with temperature anomaly reaching +2,69 oC, while from twice La Nina events (1998/1999/2000, 2007/2008), the 2007/2008 La Nina showed the weakest temperature anomaly at -1,89 oC. During 1997/1998 El Nino, SST in the North Papua waters was decreasing to range 29,48 - 29,72 oC, compared to its normal range of 30,05 - 30,33 oC. On the contrary, surface chlorophyll-a was increased to 0,088 – 0,391 mg/m3 during 1997/1998 El Nino, while low range of chlorophyll-a was observed during 2007/2008 La Nina (0,062 – 0,140 mg/m3 Keywords: chlorophyll-a, sea surface temperature, El Nino, inter-annual signal, North Papua ). During El Nino, hotspot of chlorophyll-a was shifted from west to east and following the movement of warm pool. Power spectrum density of chlorophyll-a revealed dominant inter-annual signal compare to annual and semi-annual. Cross-correlation analysis between Nino 3.4 with chlorophyl-a variability showed strong coherence at inter-annual signal which presumed as El Nino, in where the rise of chlorophyll-a was observed 1 - 3 month after El Nino event
Percampuran Vertikal Dan Gaya Pembangkit Turbulensi Di Selat Makassar
Selat Makassar merupakan salah satu jalur masuk utama
Arlindo yang membawa massa air dari Samudra Pasifik ke
Samudra Hindia. Penelitian mengenai sebaran spasial
turbulensi vertikal serta gaya-gaya pembangkitnya belum
banyak dilakukan pada keseluruhan area di Selat Makassar.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari distribusi
spasial turbulensi vertikal dengan parameter energi kinetik
disipasi turbulen ( ) dan diffusivitas vertikal ( ), serta
untuk menganalisis gaya pembangkit turbulensi vertikal di
keseluruhan area Selat Makassar. Data hidrografi massa air
didapat dari alat CTD, serta SADCP yang diperoleh dari
pelayaran Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN) pada 3-22 Juni
2013.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan menghitung Skala Thorpe. Selanjutnya untuk
memvalidasi hasil dari metode skala Thorpe, diakukan tes
water-mass dari GK test. Nilai dan yang didapat dari
hasil perhitungan skala Thorpe, selanjutnya akan dihubungkan
dengan gradien vertikal kecepatan arus dan gesekan angin di
lapisan tercampur. Kondisi stabilitas massa air dilihat
dengan menghitung nilai Richardson Number dan Bouyancy
frequency Kesamaan pola antara pasut permukaan dengan
pola kontur menegak garis isopycnal dilihat untuk mengetahui
hubungan antara turbulensi vertikal dan gelombang internal
di lapisan termoklin. Topografi dasar Selat Makassar juga
dianalisa untuk mengetahui pengaruhnya khususnya bagi
pengadukan di dekat dasar perairan.
Lapisan tercampur, termoklin dan lapisan dalam Selat
Makassar memiliki turbulensi vertikal yang relatif lebih
intensif pada sisi Utara dengan nilai berkisar pada orde
[0(10-4 - 10-1) m2s-1] dibandingkan sisi selatannya [0(10-6 -
10-4) m2s-1]. Turbulensi vertikal di lapisan tercampur
kemungkinan besar disebabkan oleh gradien vertikal kecepatan
arus, dimana nilai yang sebagian besar bernilai kurang
dari nilai kritisnya. Selain itu tekanan angin di bagian
Selatan dan tengah Selat Makassar juga berpengaruh besar
terhadap turbulensi vertikal di lapisan tercampur.
Turbulensi vertikal di lapisan termoklin untuk transek
Barat-Timur lebih intensif terjadi di sisi Timur. Hal ini
bisa dilihat dengan terdapatnya turbulensi vertikal hampir
pada semua stasiun di sisi Timur Selat Makassar dengan nilai
[0(10-3 - 10-2) m2s-1]. Turbulensi vertikal juga ditemukan
pada area dimana terdapat eddy, yaitu di sisi Barat dan
Timur selat dengan nilai yang relatif menengah sampai
besar. Selain itu Turbulensi vertikal yang relatif besar
dengan nilai lebih dari 10-4 m2s-1 terdapat di Kanal Labani
pada kedalaman sekitar 350-400 m. Beberapa kontur menegak
densitas pada lapisan ini memiliki kesamaan pola dengan
pasut permukaan.
Turbulensi vertikal di lapisan dalam pada transek
barat-timur lebih intensif pada area yang dekat dengan
dinding dan dasar selat, dimana baik sisi Barat maupun Timur
selat sama-nama memiliki beberapa turbulensi vertikal dengan
orde yang relatif besar dengan nilai [0(10-4 - 10-1) m2s-1].
Turbulensi vertikal yang lebih intensif di lapisan dalam
kemungkinan besar disebabkan oleh kekasaran topografi dasar
perairan dan kemiringan dinding (slope) Selat Makassar
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Pola dan Variabilitas Arus serta Korelasi Silangnya terhadap Angin di Teluk Cendrawasih.
Teluk Cendrawasih (TC) merupakan salah satu teluk terbesar di Indonesia.
Teluk ini berhadapan langsung dengan perairan utara Papua yang mempunyai
fenomena laut-atmosfer yang kompleks. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
pola dan variabilitas arus serta korelasi silangnya dengan angin. Data arus yang
digunakan merupakan hasil dari model INDESO dan angin dari rekaman ECMWF
selama tujuh tahun. Data arus model divalidasi dengan data pengukuran arus yang
ditambatkan di buoy dan memiliki hasil yang cukup bagus. Pola arus dan angin
yang telah dirata-ratakan secara rataan bulanan klimatologi memiliki pola yang
hampir sama disetiap bulannya. Selama Musim Barat pola angin dan arus dominan
menuju timur dan pada Musim Timur pola angin dan arus memiliki kecepatan yang
paling tinggi menuju ke arah barat. Musim Peralihan Pertama memiliki pola yang
berbeda dengan Musim Peralihan kedua. Musim Peralihan Kedua menunjukkan
pola arus dan angin sama dengan Musim Timur sedangkan pola di Musim Peralihan
Pertama menunjukkan perubahan dari Musim Barat menuju Musim Timur.
Variabilitas arus di perairan ini secara umum menunjukkan arus dan angin baik itu
komponen zonal dan meridional memiliki nilai energi spektrum yang dominan pada
periode 341 hari (fluktuasi tahunan) tetapi pada spektrum arus meridional memiliki
fluktuasi musiman dengan periode 186 hari. Korelasi silang antara arus dan angin
memiliki nilai koherensi yang tinggi saat periode 341 harian dan memiliki beda fase
sekitar 5 hari dengan angin yang mempengaruhi arus
Dispersion Model 3D of Salinity in the Eastern part of Jakarta Bay
Perairan sisi timur Teluk Jakarta merupakan perairan dangkal yang memperoleh masukan air tawar dari beberapa sungai, dua diantaranya merupakan sungai dengan debit rata-rata tertinggi di Teluk Jakarta. Proses pencampuran massa air tawar dengan massa air laut di wilayah pesisir dapat mengakibatkan perubahan nilai salinitas. Analisis sebaran salinitas dapat digunakan sebagai indikator proses dinamika massa air di suatu perairan. Dinamika air yang terjadi di perairan sisi timur Teluk Jakarta sangat dipengaruhi oleh Angin Muson dan pasang surut (pasut). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola sebaran salinitas di perairan sisi timur Teluk Jakarta pada 4 musim melalui model hidrodinamika 3 dimensi yang didasarkan pada hipotesa bahwa sebaran salinitas dipengaruhi oleh masukan air tawar, pasang surut dan angin.
Model numerik 3 dimensi DHI MIKE 3 Flow Model FM digunakan untuk mengkaji sebaran salinitas di perairan sisi timur Teluk Jakarta. Simulasi model salinitas dilakukan pada empat musim, yaitu Musim Barat, Musim Peralihan I, Musim Timur dan Musim Peralihan II. Model tersebut diverifikasi menggunakan data observasi berupa arus, pasut, suhu dan salinitas. Hasil verifikasi model menunjukkan kesesuaian dengan data hasil pengukuran di sisi timur Teluk Jakarta.
Pola arus di sisi timur Teluk Jakarta berdasarkan hasil model hidrodinamika bergerak ke arah utara (Musim Barat dan Musim Peralihan II) dan barat (Musim Peralihan I dan Musim Timur) mengikuti pola pergantian musim, dengan kecepatan berkisar antara <0,01 sampai 0,26 m/s. Kecepatan arus akan semakin kuat pada saat arah angin bersesuaian dengan kondisi muka laut, yaitu pada saat pasang di Musim Timur (kecepatan rata-rata 0.05 m/s) dan pada saat surut di Musim Peralihan II (kecepatan rata-rata 0.10 m/s).
Hasil simulasi model salinitas menunjukkan bahwa variasi kecepatan angin, pasut, debit sungai dan curah hujan setiap musimnya merupakan faktor penting dalam mengontrol sebaran salinitas di sisi timur Teluk Jakarta. Pada saat debit sungai dan curah hujan meningkat disertai tingginya kecepatan angin (Musim Barat), pola sebaran massa air bersalinitas rendah (isohaline 28 psu) menyebar luas ke arah laut hingga jarak 4.8 km dari garis pantai pada lapisan permukaan. Sementara itu, pada Musim Timur saat debit sungai dan curah hujan menurun, serta rendahnya kecepatan angin, jarak sebaran massa air bersalinitas rendah di lapisan permukaan berkurang (3.0 km dari garis pantai). Sebaran massa air bersalinitas rendah ini dapat menyebar lebih luas ke arah laut pada saat kondisi surut. Hal ini dikarenakan dorongan energi pasut dari laut melemah, sedangkan aliran air tawar dominan.
Masukan air tawar dan pencampuran yang disebabkan oleh angin dan pasut juga memainkan peranan penting terhadap struktur vertikal salinitas di sisi timur Teluk Jakarta. Stratifikasi massa air akan meningkat dengan meningkatnya masukan air tawar, kuatnya angin serta melemahnya energi pasut (surut), dan sebaliknya. Stratifikasi massa air (isohaline 1–28 psu) di Musim Barat dan Musim Peralihan I terbentuk pada lapisan permukaan hingga kolom perairan (stratifikasi tinggi) baik pada kondisi pasang maupun surut, masing-masing mencapai ketebalan 4.4 m (pasang) dan 6.2 m (surut) pada Musim Barat serta 2.2 m (pasang) dan 4.2 m (surut) pada Musim Peralihan I. Sementara itu, stratifikasi massa air (isohaline 1–28 psu) di Musim Timur dan Musim Peralihan II pada saat surut terbentuk pada lapisan permukaan hingga kolom perairan (masing-masing mencapai ketebalan 2.1 m dan 2.0 m), sedangkan pada saat pasang stratifikasi yang terbentuk lebih dangkal (hanya di lapisan permukaan), masing-masing mencapai ketebalan 1.0 m dan 0.7 m.The Eastern Part of Jakarta Bay is shallow water which obtains freshwater inflow from several rivers, two of them are rivers with the highest annual averaged discharges in Jakarta Bay. The process of mixing freshwater mass with seawater mass in the coastal region can changes salinity values. Analysis of salinity dispersion can be used as an indicator of the process of dynamics water mass. In these waters, dynamics of water that occur is determined by combination of monsoon winds and tidal forcing. This study aims to analyze salinity dispersion in the Eastern Part of Jakarta Bay are carried out in different seasons through a three-dimensional hydrodynamic model, with assumption that salinity dispersion occurring is by freshwater inflow, tidal forcing and wind.
A three-dimensional numerical model DHI MIKE 3 Flow Model FM, is employed to salinity dispersion model in the Eastern Part of Jakarta Bay. Model simulation are carried out in different seasons, there are northwest monsoon, southeast monsoon and transition monsoon. Model was calibrated and verified using observational data including tidal, current, temperature and salinity. The modeled results are in reasonable agreement with observational data in the Eastern Part of Jakarta Bay.
Current pattern in the Eastern Part of Jakarta Bay based on the results of the hydrodynamic model moves to the north (northwest monsoon and transition monsoon II) and to the west (transition monsoon I and southeast monsoon) following seasons, with speeds ranging from <0.01 to 0.26 m/s. The current speed will be stronger when the wind direction matches the water level positions, namely at the flood period on the southeast monsoon (0.05 m/s) and ebb period on the transition monsoon II (0.10 m/s).
The result shows that the seasonal variation of wind speed, tide, river discharge and precipitation are important factor controlling the salinity distribution in the Eastern Part of Jakarta Bay. When the river discharge and precipitation are increased and strong wind speeds (northwest monsoon), distribution of low salinity water (isohaline 28 psu) widespread seaward to a distance of 4.8 km from the shoreline in the surface layer. Otherwise, when the river discharge and precipitation are decreased and week wind speeds (southeast monsoon), the distribution distance of the low salinity water mass in the surface layer is reduced (3.0 km from the shoreline). The distribution of this low salinity water mass can spread wider towards the sea at ebb period. This is because the tidal energy impulse from the sea is weak, while the flow of fresh water is dominant.
Freshwater inflow and mixing caused by wind and tides also play an important role in the vertical structure of salinity in the Eastern Part of Jakarta Bay. Water mass startification will increase with increasing freshwater inflow, strong winds and ebb period. Water mass startification (isohaline 1–28 psu) on the northwest monsoon and transition monsoon I was formed on the surface layer to the water column (high stratification) both at flood and ebb period, each reaching a thickness of 4.4 m (flood) and 6.2 m (ebb) on the northwest monsoon and 2.2 m (flood) and 4.2 m (ebb) on the transition monsoon I. Meanwhile, water mass stratification (isohaline 1–28 psu) on the southeast monsoon and transition monsoon II at ebb period forms on the surface layer to the water column (reaching a thickness of 2.1 m and 2.0 m, respectively), while at flood period the stratification is formed shallower (only on the surface layer), reaching 1.0 m and 0.7 m thickness, respectively
Struktur Vertikal Arus dan Variabilitas Volume Transpor Massa Air di Busur Luar Laut Banda
Gelombang ekuator Pasifik diperkirakan dapat masuk ke Perairan Indonesia dan mempengaruhi Arus Lintas Indonesia (Arlindo) di jalur Timur, khususnya di sepanjang Busur Luar Laut Banda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur vertikal arus dan variabilitas transpor volume Arlindo serta kaitannya dengan perambatan gelombang Rossby Pasifik di Busur Luar Laut Banda pada kanal Laut Seram, Laut Aru, dan Laut Timor, dengan menggunakan hasil model INDESO dari Januari 2008 sampai Desember 2014 (7 tahun).
Hasil penelitian menunjukkan struktur vertikal aliran Arlindo di Busur Luar Laut Banda dari komponen arus zonal (Seram-Timor) dan meridional (Aru) memiliki pola pergerakkan searah jarum jam. Volume transpor di Laut Seram sebesar +1.04 Sv (± 1.54) Sv ke arah Timur, di Laut Aru arah transpor ke arah Selatan dengan besar transpor sebesar -0.61 (± 0.79) Sv, dan di Laut Timor ke arah Barat dengan volume transpor sebesar -8.42 (± 2.05) Sv. Struktur vertikal memperlihatkan bahwa arus dominan lebih kuat pada kedalaman di atas 300 m. Analisis Power Spectral Density pada selang kepercayaan 95% menunjukkan periodisitas energi signifikan terjadi pada periode tahunan, semi-tahunan dan intra-musiman, dimana variabilitas transpor di Laut Seram dan Laut Aru didominasi oleh skala-waktu tahunan dan intra-musiman, namun di Laut Timor dominan oleh variabilitas dalam skala-waktu intra-musiman dan semi-tahunan. Hasil koherensi tertinggi antara Laut Seram-Laut Aru, Laut Aru-Laut Timor, dan Laut Seram-Laut Aru memperlihatkan bahwa koherensi yang signifikan (0.9689) terjadi pada periode 341 hari dengan beda fase 26.5 hari, hal ini menunjukkan bahwa adanya perambatan gelombang ekuator Pasifik yang merambat di sepanjang Busur Luar Laut Banda.
Analisis diagram Hovmoller memperlihatkan propagasi sinyal dari energi kinetik ditemukan di sepanjang Busur Luar Laut Banda pada kedalaman 5 m dan 155.9 m dengan nilai rerata kecepatan fase masing-masing kedalaman ialah 8.7 cm s-1 dan 11.1 cm s-1, dimana fase kecepatannya mirip dengan fase kecepatan golombang Rossby yang terperangkap. Analisis normal mode memperlihatkan Laut Seram, Laut Aru, dan Laut Timor memiliki pola osilasi arus yang hampir mirip karena berdasarkan profil densitas potensial dan frekuensi Brunt-Vaisalla. Koherensi antara angin Zonal Indo-Pasifik dan volume transpor di Laut Aru menunjukkan koherensi tertinggi ditemukan di Pasifik Utara Subtropis dan Ekuatorial, dengan fluktuasi arus terjadi pada variabilitas skala-waktu tahunan, semi-tahunan, dan intra-musiman. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa angin zonal di sepanjang Laut Pasifik ekuator berperan sebagai remote forcing yang menghasilkan respon gelombang Rossby
Percampuran Turbulen Akibat Pasang Surut Internal dan Implikasinya Terhadap Nutrien di Selat Ombai
Ombai Strait is one of the exit passages of Indonesian Throughflow (ITF) which has strong internal tidal energy. Internal tide is one of the main energy which causes mixing processes in the oceans. The purpose of this research was to estimate the turbulent mixing by using Thorpe scale approach and effect of mixing on the flux of nutrients (nitrate, phosphate and silicate). CTD instrument equipped with bottle rosettes were casted nine times for one tidal cycle (24 hours), but for nutrient samples only taken from the third casting with 22 samples at determined depth. The results showed that Ombai Strait has an internal tide with semidiurnal period. The average value of in the Ombai Strait is very high (7,56 x 10-2 + 2,83 x 10-1 m2 s-1) and the highest is found in deep layer (2,17 x 10-1 + 4,75 x 10-1 m2 s-1). This is presumably due to strong internal tide in that water. The strong effect of these internal tide especially during the low tide where the water mass induce to the deep layer. Vertical nutrient concentrations increase with depth. The nutrient fluxes estimation showed that the thermocline layer has the lowest flux of nutrients (0 m μmol l-1 s-1) and the highest flux in the deeper layer (8,28 x 10-5-165,56 x 10-5 m μmol l-1 s-1). Estimation of three nutrient fluxes showed that the phosphate is the lowest, followed by nitrate, and silicate as the highest.Selat Ombai merupakan salah satu daerah di perairan Indonesia yang memiliki kecepatan arus dan energi pasut internal yang tinggi. Kombinasi antara energi dan kecepatan arus pasut internal yang kuat menjadikan Selat Ombai memiliki potensi yang besar untuk terjadinya proses percampuran turbulen. Namun demikian, belum diketahui besarnya nilai percampuran turbulen yang terjadi. Percampuran turbulen merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya penaikkan nutrien yang sangat penting untuk kehidupan biota yang berada di lapisan atas. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengestimasi percampuran turbulen (vertikal eddy difusivitas) di Selat Ombai menggunakan pendekatan skala Thorpe dan mengestimasi efek percampuran turbulen terhadap fluks nutrien (nitrat, fosfat, dan silikat). Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 9-22 Juli 2010 bersamaan dengan Pelayaran INDOMIX (Internal Tides and Mixing in The Indonesian Throughflow) merupakan riset kerjasama antara Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan LEGOS dan LOCEAN Perancis. Lokasi pengambilan data dilakukan di Selat Ombai dengan menggunakan Kapal Riset Marion Dufresne dari Perancis. Data temperatur, salinitas, dan tekanan diperoleh dengan menggunakan sensor CTD Sea-Bird Electronics (SBE) 911 Plus, selanjutnya dilakukan tahap pengolahan data dengan prosedur standar menggunakan perangkat lunak SBE Data Processing. Data nutrien (nitrat, fosfat, dan silikat) diperoleh dari air yang diambil dengan menggunakan botol rosette yang diturunkan bersama dengan CTD. Sampel air yang diambil sebanyak 22 sampel masing-masing pada kedalaman 5, 25, 50, 75, 100, 125, 150, 200, 300, 350, 450, 550, 650, 750, 800, 900, 1000, 1100, 1200, 1300, 1400, dan 1500 m. Pengukuran konsentrasi nitrat, fosfat, dan silikat dilakukan di Laboratorium Prolink IPB dengan masing-masing menggunakan metode Brucine, Ascorbic Acid, dan Molybdosilicate. Dari data CTD dilakukan perhitungan nilai Thorpe displacement , skala Thorpe , panjang skala Ozmidov , frekuensi Brunt Vaisala , tingkat energi kinetik disipasi turbulen eddy dan selanjutnya melakukan estimasi difusivitas vertikal eddy . Dari nilai dan konsentrasi nutrien kemudian dilakukan perhitungan fluks nutrien
Dinamika perubahan garis pantai Pekalongan dan Batang, Jawa Tengah
Pantai Pekalongan dan Batang berada pada pesisir pantai utara Provinsi Jawa Tengah dan mendapat pengaruh gelombang dari laut Jawa yang menyebabkan perubahan garis pantai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi gelombang, menghitung angkutan sedimen sepanjang pantai dan menelaah perubahan garis pantai Pekalongan dan Batang selama kurun waktu tahun 1989 hingga 2002 dengan menggunakan model numerik. Selanjutnya hasil model divalidasi dengan menggunakan citra satelit. Lokasi penelitian terletak pada koordinat 6o50’32,74”- 6o54’0,36” LS dan 109o41’34,63”- 109o45’1,26” BT. Garis pantai dianalisis sepanjang ± 6 km. Data angin diperoleh dari European Centre for Medium Range Weather Forecasts (ECMWF), data kedalaman perairan diperoleh dari peta batimetri Dinas Hidro- Oseanografi TNI-AL dan data citra satelit Landsat diperoleh dari United State Geological Survey (USGS) National Aeronautics and Space Administration (NASA). Pengolahan data angin dan gelombang laut dalam menggunakan perangkat lunak ODV 4.1.3, WRPLOT View 6.5.1 dan Microsoft Excel 2007. Citra Landsat diolah menggunakan perangkat lunak ER Mapper 7.0 dan ArcGIS 9.3. Model perhitungan transformasi gelombang dan laju angkutan sedimen dibuat menggunakan perangkat lunak Visual Basic Application 6.5 dalam bahasa basic. Hasil analisis model transformasi gelombang dan parameter gelombang pecah di dekat pantai menunjukkan bahwa gelombang yang pecah di dekat pantai Pekalongan dan Batang dibangkitkan oleh angin dominan yang berasal dari arah timur dan timur laut. Tinggi dan sudut gelombang pecah pada tiap lokasi berbedabeda dipengaruhi oleh profil kelerengan pantai dan arah datangnya gelombang. Lokasi A, B dan C memiliki profil pantai yang lebih curam dibandingkan lokasi D sehingga tinggi gelombang di lokasi tersebut lebih tinggi dibandingkan lokasi D. Pembelokkan arah perambatan gelombang terjadi pada saat mendekati garis pantai. Arah muka gelombang cenderung sejajar mengikuti kontur garis pantai. Angkutan sedimen sepanjang pantai sebagian besar ke arah barat laut dan sebagian kecil ke arah tenggara dikarenakan arah datang gelombang pecah yang dominan berasal dari timur dan timur laut. Hasil simulasi model menunjukkan bahwa selama tahun 1989-2002 sepanjang garis pantai Pekalongan dan Batang mengalami kemunduran (abrasi) dan kemajuan (akresi) yang cukup besar. Proses abrasi dan akresi pada tiap lokasi dipengaruhi oleh karakterstik gelombang pecah, profil kelerengan pantai dan angkutan sedimen pada lokasi tersebut. Hasil tumpang tindih garis pantai hasil model dan citra tahun 2002 relatif terhadap garis pantai awal (citra tahun 1989) menunjukkan pola perubahan garis pantai yang hampir sama baik abrasi maupun akresi. Perbedaan jarak perubahan garis pantai hasil model dan citra tahun 2002 terhadap garis pantai awal diperkirakan karena pengaruh faktor lain yang tidak diperhitungkan dalam model. Model ini merupakan penyederhanaan dari proses dinamik oseanografi yang kompleks di alam, tidak semua proses di alam tersebut dapat diikutsertakan dalam model
- …
