1,720,964 research outputs found

    Perbandingan Kadar C-Peptide pada Diabetes Melitus Tipe 2 yang Baru Didiagnosa dengan Non Diabetes Melitus

    No full text
    Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit yang banyak dijumpai di seluruh dunia. Prevalensi DM di seluruh dunia diperkirakan sekitar 4%. Untuk Indonesia, World Health Organization (WHO) memperkirakan kenaikan jumlah pasien DM dari 8,4 juta orang pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta orang pada tahun 2030. Prevalensi DM yang paling banyak dijumpai adalah DM tipe 2 (Non Insulin Dependen Diabetes Mellitus, NIDDM). Prevalensi DM tipe 2 di Indonesia berdasarkan berbagai penelitian epidemiologis berkisar antara 1,5 - 2,3 %. DM tipe 2 umumnya ditemukan pada usia dewasa, walaupun dapat terjadi pada anak-anak. DM tipe 2 terjadi karena kombinasi dari kelainan produksi insulin dan resistensi terhadap insulin, atau berkurangnya sensitifitas terhadap insulin yang melibatkan reseptor insulin di membran sel. Dalam hubungannya dengan kadar insulin di dalam darah, penelitian-penelitian menunjukkan bahwa pada stadium awal DM tipe 2 masih dijumpai sel-sel beta pankreas yang mampu menghasilkan insulin, belum terjadi defisiensi insulin yang absolut. Pada tahap ini mungkin terjadi hiperinsulinemia yang merupakan kompensasi ataupun akibat dari resistensi insulin. Pada tahap ini tidak diperlukan terapi dengan insulin. Pada stadium lanjut DM tipe 2, produksi insulin dari sel-sel beta pankreas sangat berkurang sehingga pasien harus mendapat terapi insulin. Pada proses biosintesa insulin, C-peptide dibentuk sebagai produk yang disekresikan bersamaan dengan insulin melalui proses pemecahan proteolitik dari molekul prekursor proinsulin. Insulin dan C-peptide dibentuk dalam jumlah yang sama dan dilepaskan ke dalam sirkulasi darah melalui vena porta. Sebagian dari insulin diekstraksi di dalam hepar. Tapi hampir tidak ada C-peptide yang diekstraksi di hepar, sehingga masa paruh C-peptide lebih panjang dibandingkan insulin. Kadar C-peptide 5–10 kali lebih tinggi di dalam sirkulasi perifer, dan kadarnya berfluktuasi sedikit dibandingkan insulin. Konsentrasi C-peptide dalam darah memberikan suatu penilaian yang akurat terhadap fungsi cadangan sel beta pankreas manusia dan ini sudah menjadi suatu petanda yang penting dari sekresi insulin pada pasien DM. Penentuan kadar C-peptide puasa dan setelah stimulasi (dengan glukosa atau glukagon) telah digunakan untuk penentuan aktivitas sekresi sel beta pankreas, karena kadar C-peptide di sirkulasi tidak dipengaruhi insulin eksogen. Beberapa penelitian telah menjumpai bahwa kadar C-peptide meningkat pada DM tipe 2 yang baru didiagnosa. Penelitian ini dilakukan secara cross sectional study di Departemen/Instalasi Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/RSUP H. Adam Malik Medan bekerja sama dengan Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/RSUP H. Adam Malik Medan, yang dimulai pada bulan Mei 2009 sampai dengan Oktober 2009. Populasi yang dimasukkan dalam penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 yang berobat jalan di poliklinik Penyakit Dalam FK USU/ RSUP H. Adam Malik Medan dan kontrol normal diambil dari orang yang tidak menderita DM. Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi dan perkiraan besar sampel, diperolehlah sampel penelitian 68 orang yaitu 34 orang sebagai sampel pasien DM tipe 2 yang baru didiagnosa dan 34 orang sebagai kontrol sampel non DM. Sebanyak 5 cc darah dari vena mediana cubiti tanpa antikoagulan diambil untuk pemeriksaan kadar C-peptide serum puasa dan creatinin serum. Pemeriksaan kadar C-peptide dilakukan setelah terkumpul sejumlah sampel dengan alat Cobas elecsys 601 (Cobas e 601), dengan metode electrochemiluminescentimmunoassay (ECLIA). Pengolahan data dan analisa statistik menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 15.0. Berdasarkan analisa statistik didapatkan hasil bahwa dijumpai peningkatan kadar C-peptide yang bermakna pada DM Tipe 2 yang baru didiagnosa dibandingkan dengan kontrol non DM (p < 0,05).68 HalamanTesis Magiste

    PERBANDINGAN PEMERIKSAAN BASIL TAHAN ASAM METODEDIRECT SMEAR DAN METODE IMUNOCHROMATOGRAPHI TEST PADA TERSANGKA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI UPT. KESEHATAN PARU MASYARAKAT DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA UTARA: PERBANDINGAN PEMERIKSAAN BASIL TAHAN ASAM METODEDIRECT SMEAR DAN METODE IMUNOCHROMATOGRAPHI TEST PADA TERSANGKA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI UPT. KESEHATAN PARU MASYARAKAT DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA UTARA

    No full text
    Tuberkulosis (TB) Paru merupakan penyakit paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.Diagnosis yang tepat dan cepat untuk menemukan TB secara dini sangat diperlukan dalam memutus mata rantai penularan TB.Pemeriksaan BTA merupakan pemeriksaan awal yang dianjurkan oleh WHO dan Nasional sedangkan Pemeriksaan ICT TB merupakan pemeriksaan serologik untuk mendeteksi antibodi Mycobacterium tuberculosis dalam serum dan dapat dilakukan secara mudah dan cepat.Penelitian ini bertujuan untk mendeskripsikan hasil pemeriksaan BTA Metode Direct Smear dan Metode Imunochromatografi Test. Penelitian ini menggunakan Disain Deskriptif Cross Sectional.Penelitian dilakukan di Laboratorium UPT.Kesehatan Paru Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dan dilakukan terhadap 10 sampel pasien tersangka penderita TB Paru yang datang memeriksakan diri. Hasilyang didapatkan pada penelitian ini adalah sensitivitas uji ICT TB sebesar 33,33% dan spesifisitas uji ICT TB sebesar 100. Sensitivitas uji ICT TB adalah rendah (33,33%) dan spesifisitasnya cukup baik (100%) namun uji ICT TB ini masih kurang baik jika digunakan untuk screening awal dalam mendeteksi TB Paru.Kata Kunci : BTA Direct Smear, Imunochromatographi Test

    ANALISA KADAR SERUM GLUTAMAT PYRUVIC TRANSMINASE (SGPT) PADA PASIEN SCHIZOPHRENIA yang MENGKONSUMSI OBAT ANTIPSIKOSIS

    Full text link
    Schizophrenia adalah penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi gerakan dan perilaku yang aneh dan terganggu. Obat antispsikosis telah menjadi terapi farmakologi utama untuk Schizophrenia sejaka 1950-an. Untuk melihat kelainan pada jaringan sel hati ada aminotransferase yaitu serum glutamat pyruvic transaminase sebagai pemeriksaan untuk mengetahui adanya kerusakkan pada jaringan hati. Telah dilakukan penelitian di Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Jiwa Prof.Dr.Muhammad Ildrem&nbsp; dengan jenis penelitian bersifat deskriptif. Populasi penelitian diambil dari seluruh pasien wanita. Schizophrenia dirawat inap di RSJ Prof.Dr.Muhammad Ildrem &nbsp;yang mengkonsumsi obat antipsikosis lebih dari satu tahun, jumlah sampel yang digunakan sebanyak 20 sampel pada pasien wanita Schizophrenia. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kinetic UV yang telah direkomendasikan oleh IFCC. Tujuan untuk mengetahui kada SGPT pasien Schizophrenia yang mengkonsumsi obat antipsikosis lebih dari satu tahun di RSJ Prof.Dr.Muhammad Ildrem dengan analisa data yang dilakukan secara deskriptif dan melihat presentase data kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi relatif dalan presentase. Disimpulkan bahwa dari 20 sampel wanita Schizophrenia yang mengkonsusmsi obat antipsikosis lebih dari satu tahu ditemukan 8 sampel (40%) nilai SGPT meningkat dan 12 sampel 60% nilai SGPT normal. Kesimpulan bahwa pada penderita Schizophrenia didapatkan nilai aktivitas SGPT meningkat

    ANALISA KADAR BILIRUBIN TOTAL PADA SERUM PENDERITA TUBERKULOSIS PARU SETELAH MENGGUNAKAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS SELAMA 4 BULAN DI UPT RUMAH SAKIT KHUSUS PARU (RSKP) MEDAN

    Full text link
    Bilirubin dibentuk dari pemecahan hemoglobin oleh sistem retikuloendotel dibawa oleh plasma ke hepar tempat dimana bilirubin terkonjugasi dan diekskresikan dalam empedu. Pada pasien penderita tuberkulosis paru setelah mengkonsumsi obat anti tuberkulosis selama 4 bulan terjadi perubahan kadar bilirubin pada pasien. Hal ini terjadi akibat efek samping dari Obat Anti Tuberkulosis&nbsp; yang&nbsp; menyebabkan hepatoksisitas. Telah dilakukan Pemeriksaan sebanyak 20 sampel serum penderita Tuberkulosis&nbsp; paru setelah mengkonsumsi Obat Anti Tuberkulosis selama 4 bulan. Desain penelitian yang digunakan adalah metode Deskriptif Crosscectional dengan tujuan untuk menganalisa kadar bilirubin total pada serum penderita tuberkulosis paru setelah menggunakan OAT selama 4 bulan di UPT. Rumah Sakit Khusus Paru (RSKP) Medan Tahun 2017. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 20 sampel yang diperiksa di dapatkan hasil kadar bilirubin yang normal 15 pasien dengan persentase (75%) dan bilirubin yang meningkat 5 pasien dengan persentase (25%). Peningkatan ini terjadi akibat efek samping mengkonsumsi Obat Anti Tuberkulosis Isoniazid, rifampisin, parazinamid, etambutol dan streptomisin. Yang mana Isoniazid dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kadar bilirubin pada serum penderita tuberkulosis&nbsp; paru

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Penyuluhan Pencegahan Penyakit Menular HIV-Aids Pada Anak Remaja Di Kelurahan Dwikora Medan

    Full text link
    Remaja merupakan masa dimana terjadinya peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Hal ini dapat dimulai saat terjadinya kematangan seksual pada usia 11 atau 12 tahun sampai dengan usia 20 tahun, yaitu menjelang masa dewasa muda. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan salah satu virus yang dapat menyerang sel darah putih. Sementara Acquired immune Defiency Syndrome (AIDS) merupakan kelanjutan dari virus HIV yang ditandai dengan munculnya berbagai penyakit Tanpa melihat resiko sebaiknya remaja sudah harus mendapatkan pembelajaran untuk melindungi diri sendiri terhadap infeksi HIV/AIDS dengan mencegah atau mengubah perilaku yang berhubungan dengan resiko HIV. Masyarakat khususnya di Kelurahan Dwikora Medan merupakan salah satu lingkungan yang banyak usia remaja yang belum pernah mendapatkan informasi atau penyuluhan mengenai HIV-AIDS. Tujuan dari kegiatan penyuluhan ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman konsep penyakit menular HIV-AIDS pada kelompok remaja di Kelurahan Dwikora Medan. Pelatihan ini dilakukan dengan metode ceramah, praktek dan diakhiri dengan pemberian bingkisan serta foto bersama. Hasil kegiatan ini menunjukkan peserta memberikan respon positif terhadap penyuluhan ini dilihat dari peran aktif peserta. Berdasarkan hasil kegiatan ini, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini memiliki pengaruh positif terhadap pengetahuan dan pengalaman masyarakat khususnya remaja yang ada di Kelurahan Dwikora Medan serta telah terlaksana sesuai dengan rencana dan tujuan

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods
    corecore