91 research outputs found
Pemanfaatan House Tree Person Testpada Asesmen Psikologi Perilaku Kriminal Remaja
House Tree Person Test (tes HTP) merupakan salah satu tes grafts (drawing test} yang dapat
mengungkap kepribadian individu dan Jatar belakang keluarga melalui teknik projektlf. Asesmen
psikologi perilaku kriminal remaja bertujuan melakukan identifikasi faktor penyebab munculnya
tindakan krlminal dari aspek psikologisnya. Faktor-faktor yang melatarbelakangl perllaku kriminal
dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu core factors (sikap, kepribadian anti sosial, ada tidaknya
sejarah dan dukungan yang bersifat antisososial) dan background factors (keluarga, relasi dengan
ternan sebaya) (Ma, 2012). Tes HTP menghasilkan data yang dapat mengungkap kedua faktor
tersebut secara komprehensif. Core factors melalui figur person dan background factors melalui
hubungan antara ketiga figur dalam HTP : figur house, tree, person secara terintegrasi.
Dalam studi empirik pada 10 hasil HTP test dari anak didik di La pas Anak Blitar,usia 17-23
tahun, dianalisis menggunakan distribusi frekuensi berdasarkan ciri-ciri formal/molar gambar
yang terdiri dari ciri graphomotor dan ciri primer. Ciri graphomotor yang menunjukkan frekuensi
tinggi pada figur orang digambar dengan ukuran paling kecll, memiliki proporsi yang buruk,
tekanan garis tipis dan munculnya shading.Jnterpretasi cir-ciri tersebut mengindikasikan adanya
konsep diri yang buruk, keterbatasan fungsi intelektual dalam regulasi dan kontrol diri, serta
kecemasan. Ciri primer yang menonjol adalah adanya penghilangan yang menglndikasikan
adanya konsep diri yang buruk.
Pengalaman menggunakan tes HTP dalam asesmen psikologi dalam penelitian ini
memberikan manfaat tambahan antara lain; mampu menghindari munculnya respon manipulatif
dari anak didik dalam membuka diri. Selain itu, tes HTP juga mampu berfungsi sebagai "ice
breaker• pada proses asesmen psikologi yang dilakukan (Kennedy et al., 1994). Teknik asosiasi
diduga dapat memberikan data tambahan untuk memperjelas kehidupan keluarga (home) baik
yang nyata maupun yang diangankan (wishes) dari individu
Keluarga: Awal membangun karakter bangsa. In: Pendidikan Karakter: Perspektif guru dan psikolog
Keluarga terutama orang tua diharapkan dapat berperan sebagai character builder, character enabler, dan character enginer dalam keluarganya sehingga proses pembangunan dan pengembangan karakter anak bangsa yang berkualitas atau berakhlaqul karimah dapat dicapai. Dibutuhkan komitmen yang kuat pada keutuhan keluarga, agar anak-anak bangsa mendapatkan tempat yang sehat untuk menumbuhkembangkan karakter yang kuat dan positif. Anak-anak bangsa yang cerdas secara intelektual,emosi, berdaya juang dan bermoral spiritual serta mengimplementasikan nilal-nilal luhur universal adalah modal utama bangsa ini untuk berdaya saing di era globalisasi
ANAK DAN PENDIDIKAN KARAKTER dalam buku Pendidikan Karakter :Perspektif Guru dan Psikolog
Marginalized Society in the City of Surabaya: A Proposal for Effective Solution
Advance development of a city as big as Surabaya has created a sophisticated physical development. Nevertheless, on the other side it has enlarged the marginalized society. Marginalized society is a group of people which is due to many factors, they cannot take roles properly in the society. The number of marginalized society in East Java has been up to 26.27 % of total population, and most of them live in Surabaya. The aim of this article is to provide a description of marginalized society (such as street children, sex workers, beggars, the homeless, the homeless with psychosomatic disorder, and criminals), treatment by the government, and a proposal for effective solution from the perspective of psychology.
Perkembangan pesat kota sebesar Surabaya telah menciptakan perkembangan fisik yang canggih. Namun, di sisi lain hal tersebut telah meningkatkan jumlah masyarakat yang terpinggirkan. Masyarakat yang terpinggirkan adalah kelompok orang yang karena berbagai sebab, tak mampu berperan secara tepat dalam masyarakat luas. Jumlah masyarakat terpinggirkan di Jawa Timur telah meningkat hingga 26.27 % dari seluruh populasi, dan sebagian besar tinggal di Surabaya. Tujuan artikel ini adalah mengenali masyarakat terpinggirkan (seperti anak jalanan, pekerja seks komersial, pengemis, tuna wisma, tuna wisma dengan kelainan psikosomatik, dan kriminal), penanganan oleh pemerintah, dan menyampaikan solusi efektif dari sudut pandang psikologi
Viktimisasi Keluarga Penyebab Anak Pengguna Narkotika
Saat ini penyebaran narkoba sudah sangat masif dan ham-
pir tak bisa dicegah. Peredaran narkoba tidak hanya melanda
Indo nesia saja, mengingat hampir seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Para bandar narkoba tidak saja mengedarkan pada mereka yang sudah mengalami kecanduan terutama di diskotik, karaoke atau tempat pelacuran namun mereka juga mencari korban di lingkungan sekolah, komunitas anak-anak muda yang suka berkumpul atau “nongkrong”, dan tempat perkumpulan “genk”. Tentu saja hal ini membuat para orang tua, para guru ormas serta pemerintah khawatir akan penyebaran narkoba yang begi tu merajarela
Psikologi Forensik: Tantangan Psikolog sebagai Ilmuwan dan Profesional
In addressing various legal issues and problems, psychology has much to contribute. Psychological expertise is needed, for instance, in legal cases involving children experiencing domestic violence; in creating criminal profiles of terrorists; in the process of psychological rehabilitation; and in trials which involve judgements about mental health. The psychological study of legal issues/problems is called forensic psychology. This article describes the contributions that forensic psychologists can make and have made, both as researchers/scientists and as practitioners. This article also presents the challenges faced by forensic psychology, along with reflections on the future of this important field in Indonesia.
Ada berbagai kontribusi yang dapat diberikan psikologi kepada penanganan masalah hukum. Misalnya, keahlian psikologi diperlukan dalam penanganan anak-anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga; dalam pembuatan profil kriminal teroris; dalam proses rehabilitasi psikologis di lembaga pemasyarakatan; serta dalam persidangan yang menyangkut penilaian kesehatan mental. Kajian psikologis atas berbagai masalah hukum ini disebut sebagai psikologi forensik. Artikel ini memaparkan kontribusi yang dapat dan telah disumbangkan oleh psikolog forensik, baik dalam kapasitas sebagai peneliti/ilmuwan maupun sebagai praktisi. Artikel ini juga mendiskusikan tantangan yang dihadapi psikologi forensik, beserta refleksi mengenai masa depan bidang penting ini di Indonesia
- …
