1,720,957 research outputs found

    PERANAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI TABALONG, KALIMANTAN SELATAN

    Get PDF
    Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan suatu elemen penting kerangka sustainability, mencakup aspek ekonomi, lingkungan dan sosial budaya. Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan proses pengelolaan biaya dan keuntungan kegiatan bisnis stakeholders baik secara internal (pekerja, stakeholders dan penanam modal) maupun eksternal (kelembagaan pengaturan umum, anggotaanggota masyarakat, kelompok masyarakat sipil dan perusahaan lain), tidak hanya terbatas pada konsep pemberi donor saja, tetapi konsepnya sangat luas dan tidak bersifat statis dan pasif, merupakan hak dankewajiban yang dimiliki bersama antar stakeholders. Alasan penting mengapa harus melakukan Corporate Social Responsibility, untuk mendapatkan keuntungan sosial, mencegah konfl ik dan persaingan yang terjadi, kesinambungan usaha/bisnis, pengelolaan sumber daya alam serta pemberdayaan masyarakat sebagai license to operate. Implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan tidak hanya mendapatkan keuntungan ekonomi, tetapi secara sosial dan lingkungan alam bagi keberlanjutan perusahaan serta mencegah terjadinya konfl ik. Pemberdayaan masyarakat sekitar pertambangan batubara di desa Manduin Kecamatan Muara Harus Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan merupakan kegiatan CSR PT Adaro, PT Adaro sebagai penyandang dana memberikan stimulus dananya untuk 3 kelompok masyarakat yaitu kelompok pemuda dan petani usaha pembibitan karet sebagai bibit karet unggulan,kelompok usaha ekonomi produktif (KUEP) pembuatan gorong-gorong dan batako, dan kelompok ibu-ibu usaha menanam tanaman sayuran kebutuhan sehari-hari dengan media polybag (sebagai usaha ekonomi tambahan)

    REMITAN SEBAGAI DAMPAK MIGRASI PEKERJA KE MALAYSIA

    Get PDF
    Remitan adalah bentuk keterikatan dan ketertarikan penduduk yang melakukan migrasi dengandaerah asal. Remitan merupakan indikator penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat penerimanya karena disamping bisa meningkatkan perekonomian masyarakatjuga mempunyai dampak sosial lain seperti perubahan perilaku dan gaya hidup, perubahanorientasi hidup yang lebih materialistik dan juga sangat berpengaruh terhadap tenaga kerjadi daerah asal. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.Hasilnya menunjukkan bahwa banyaknya remitan yang mengalir ke desa ternyata membawadampak tersendiri baik secara positif maupun negatif. Agar fungsi remitan dalam kehidupanmasyarakat setempat bisa bermanfaat secara maksimal perlu diadakan penyuluhan danpengarahan agar masyarakat tidak hanya berpihak pada pengumpulan materi saja tetapilebih memperhatikan orientasi masa depan. Peningkatan ekonomi sebaiknya juga disertaidengan kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi generasi selanjutnya. Pemerintah dan masyarakat setempat perlu menciptakan suatu usaha padat karya agar tidak terlalu banyak tenaga produktif yang terserap ke perekonomian di daerah tujuan. Selain itu, pemanfaatan remitan lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif dibandingkan kebutuhan konsumtif. Di sini pemanfaatan yang tertinggi digunakan untuk membeli tanah/sawah, kemudian disimpan di Bank untuk merenovasi/memperbaiki rumah dan yang terakhir untuk konsumsi. Kata-kata kunci: remitan, dampak migrasi

    Nasionalisme Tenaga Kerja Indonesia di Daerah Perbatasan Indonesia-Malaysia

    Get PDF
    Abstrak Istilah nasionalisme biasanya dijelaskan dengan “faham kebangsaanâ€. Kata bangsa itu sendiri berarti: (1) Kesatuan orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa dan sejarahnya serta berpemerintahan sendiri; (2) Kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti umum dan yang biasanya menempati wilayah tertentu di muka bumi. Beberapa makna kata ‘bangsa’ di atas menunjukkan arti bahwa bangsa adalah kesatuan yang timbul dari kesamaan keturunan, budaya, pemerintahan dan tempat. Fakta bahwa para TKI di luar negeri, khususnya di Malaysia, hanya memikirkan kerja untuk memperoleh upah sehingga urusan perut menjadi terselesaikan, sedangkan masalah lain yang berkaitan dengan simbol-simbol kebangsaan, bagi mereka menempati urutan paling belakang. Bukan hanya TKI berpendidikan rendah yang mengabaikan nasionalisme dalam mencari nafkah, para TKI yang berpendidikan cukup tinggi pun ternyata juga kurang memiliki “rasa nasionalâ€. Strategi baru pembangunan daerah perbatasan diperlukan untuk mengatasi persoalan di wilayah perbatasan, khususnya dalam menumbuhkan rasa kebangsaan atau nasionalisme. Kata kunci: nasionalisme, daerah perbatasan, pembangunan

    Menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean‐Asean Economic Community (MEA‐AEC) 2015 Strategi Tki Bekerja Di Luar Negeri / Preparing Asean Economic Community 2015 Strategy Of The Indonesian Migrant Workers

    Get PDF
    Persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir 2015 pemerintah dinilai perlu menperhatikan perlindungan terhadap buruh Indonesia. Tanggungjawab pemerintah dalam memberikan perlindungan pada TKI di luar negeri berkewajiban untuk memberikan perlindungan serta menjamin hak‐hak semua Tenaga Kerja Indonesia. Perlindungan hukum yang diberikan oleh pemerintah dapat dilihat dari instrumen hukum dan kebijakan‐kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, kaitannya dengan tanggungjawab pemerintah dalam memberikan perlindungan TKI yang bekerja di luar negeri mulai dari tingkatan pemerintah dalam negeri, serta tanggungjawab pemerintah pusat dan daerah, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan Kementerian Tenaga Kerja, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konjen Republik Indonesia (KJRI) dengan upaya perlindungan bantuan hukum berdasarkan perundang‐undangan yang berlaku di Negara tujuan dan kebiasaan internasional. Implikasi perlindungan TKI di luar negeri adalah terjaminnya hak‐hak TKI, khususnya yang bekerja di luar negeri baik mulai dari pra penempatan, masa penempatan maupun purna penempatan. Hal ini dapat dilihat dari ketentuan pasal 77 ayat 1 dan 2, pasal 80 Undang‐undang Republik Indonesia nomor 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri. Dalam menyelenggarakan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri sebaiknya pemerintah harus mengambil langkah proaktif dalam memberikan perlindungan terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, dengan cara memperkuat upaya diplomasi antar Negara. Dan pihak‐pihak yang terkait di dalamnya selalu melakukan koordinasi dalam penempatan dan perlindungan TKI agar tidak terjadi saling menyalahkan antar lembaga yang terkait. Usaha peningkatan kualitas SDM bisa ditempuh dengan upaya sinergi antara pemerintah,pelaku usaha dan akademisi untuk menerapkan standar kompetensi profesionalisme di masing-masing sektor. Upaya peningkatan kualitas SDM untuk bersaing dalam menghadapi MEA 2015 harus segera dilaksanakan dalam rangka mencapai kemajuan dan mengejar ketertinggalannya dari Negara‐negara lain. Pendidikan dan pelatihan kerja merupakan kegiatan pra penempatan yang sangat perlu dilakukan.Calon TKI wajib memiliki sertifikat kompetensi kerja sesuai dengan persyaratan jabatan. Sertifikasi kompetensi diperoleh melalui uji kompetensi dan diterbitkan oleh lembaga sertifikasi profesi yang dilisensi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Get PDF
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods
    corecore