18 research outputs found
EVALUASI PENGGUNAAN SERUM DAN PLASMA YANG DISIMPAN PADA TABUNG CLOTING ACTIVATOR DAN NAF SELAMA 6 DAN 24 JAM PARAMETER GLUKOSA DARAH
Pemeriksaan laboratorium klinik akan memiliki mutu yang baik apabila ketepatan (akurasi) dan ketelitiannya (presisi) juga baik. Salah satu parameter pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium adalah pemeriksaan kadar glukosa darah. Kebaruan dari penelitian ini karena meneliti tentang evaluasi penggunaan serum dan plasma yang disimpan pada tabung cloting activator dan NaF selama 6 dan 24 jam parameter glukosa darah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis rata-rata persentase penurunan, akurasi, presisi, dan total error pada pemeriksaan glukosa menggunakan tabung cloting activator dan tabung NaF selama segera, 6, dan 24 jam. Sampel dalam penelitian ini adalah darah mahasiswa jurusan teknologi laboratorium medis Poltekkes Kemenkes Kaltim sebanyak 40 spesimen. Data hasil diolah menggunakan aplikasi Microsoft excel. Hasil penelitian ini didapatkan rata-rata persentase penurunan tabung cloting activator 6 dan 24 jam sebesar 17,2% dan 24%. Rata-rata persentase penurunan tabung NaF 6 dan 24 jam sebesar 14,3% dan 20,9%. Akurasi pemeriksaan glukosa menggunakan tabung cloting activator 6 jam terhadap tabung cloting activator segera, tabung cloting activator 24 jam terhadap tabung cloting activator segera, tabung NaF 6 jam terhadap tabung NaF segera, tabung NaF 24 jam terhadap tabung NaF segera sebesar -17,2%, -24.1%, -14.4%, dan -21.0%. Presisi pemeriksaan sebesar 8,3%, 10,6%, 7,2%, dan 7,3%. Total error pemeriksaan sebesar 33,5%, 44,7%, 28,7%, dan 35,4%. Kesimpulan bahwa terdapat perbedaan klinis pada pemeriksaan glukosa menggunakan tabung cloting activator dan tabung NaF selama 6, dan 24 jam.
Pengaruh Lama Penyimpanan 5 Jam dan 10 Jam pada Suhu 2-8 0C Terhadap Kadar Glycated Hemoglobin (HbA1c)
ABSTRAKTes HbA1c digunakan untuk mendiagnosa Diabetes Mellitus. Pada tes laboratorium HbA1c kadar glukosa tidak dipengaruhi oleh fluktuasi glukosa harian. Maka dari itu tes HbA1c digunakan sebagai tes pengendalian Diabetes Mellitus. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan apakah ada pengaruh lama penyimpanan 5 jam dan 10 jam pada suhu 2-8 oC terhadap kadar HbA1c. Jenis penelitian adalah penelitian Observasi Analitik. Menggunakan 20 sampel darah whole blood yang dilakuan pemeriksaan kadar HbA1c. Sampel diberi perlakuan yaitu tanpa penyimpanan, penyimpanan pada suhu 2-8 oC selama 5 jam, penyimpanan pada suhu 2-8 0C selama 10 jam. Dari tes Kolmogorov Smirnov, menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal dengan p value 0,025 (P 0,05 dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh lama penyimpanan 5 jam dan 10 jam pada suhu 2-8 oC terhadap kadar HbA1c. Proses penundaan pemeriksaan dan penyimpanan sampel darah perlu diperhatikan, karena kesalahan pada faktor pra analitik akan mempengaruhi kondisi sampel whole blood yang akan dilakukan analisa HbA1c yang akan dapat memberikan hasil tinggi palsu atau rendah palsu. Kata kunci : Lama Penyimpanan 5 Jam Dan 10 Jam, Suhu 2-8 0C, HbA1
PERBEDAAN NILAI PEMERIKSAAN ACTIVATED PARTIAL THROMBOPLASTIN TIME (APTT) DENGAN MENGGUNAKAN SAMPEL DARAH NON HEMOLISIS HEMOLISIS DAN HEMOLISIS
Sampel yang hemolisis akan berpengaruh terhadap kesalahan pra-analitik di banyak laboratorium. Menurut Clinical Laboratory and Standards Institute (CLSI),pedoman pengujian untuk Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) sampel hemolisis tidak boleh digunakan untuk dilakukan pemeriksaan karena adanya potensi aktivasi faktor pembekuan dan gangguan pada akhir titik pengukuran. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan nilai pemeriksaan Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) dengan menggunakan sampel darah non hemolisis dan hemolisis. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat Eksperimen Semu (Quasi Eksperimental Design). Desain penelitian yang digunakan adalah Nonequivalent Control Group Desaign yaitu desain yang melakukan pengukuran pada kelompok yang diberi perlakuan dan tidak diberi perlakuan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 13 sampel darah dengan antikoagulan natrium sitrat yang diberi perlakuan non hemolisis, hemolisis rigan dan dan hemolisis sedang sebanyak total 39 perlakuan. Analisis normalitas data menggunakan Shapiro wilk. Uji T test berpasangan digunakan untuk mengetahui perbedaan sampel non hemolisis dan hemolisis. Hasil penelitian ini didapatkan rata-rata nilai Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) sampel Non Hemolisis dengan nilai 30 detik, sampel hemolisis ringan 20,7 detik, dan sampel hemolisis sedang 20,5 detik. Pada hasil uji univariat didapatkan hasil memendek pada sampel hemolisis ringan dan hemolisis sedang. Pada hasil uji bivariat didapatkan hasil terdistribusi normal dan pada uji T test berpasangan didapatkan adanya perbedaan nilai Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) pada sampel hemolisis dan non hemolisis dengan p value < 0,05. Kesimpulan penelitian ini adalah ada perbedaan yang signifikan pada sampel non hemolisis dan hemolisis terhadap hasil nilai Activated Partial Thromboplastin Time (APTT)
PROFIL CANDIDA ALBICANS PADA SPUTUM LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA NIRWANA PURI SAMARINDA TAHUN 2023
Candida albicans merupakan jamur golongan khamir bersifat dimorfik yang dapat membentuk ragi, pseudohifa, dan hifa semu serta merupakan flora normal pada tubuh manusia. Jamur ini dapat bersifat patogen apabila terdapat faktor risiko. Jamur ini dapat ditemukan pada saluran pernapasan manusia seperti paru-paru, sehingga dapat menyebabkan mikosis. Lansia rentan terinfeksi mikroorganisme khususnya jamur karena penurunan imunitas tubuh, massa tubuh, dan fungsi tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jamur C.albicans pada sputum lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif dengan desain cross sectional. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 30 sputum. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling dengan kriteria inklusi sputum bersifat purulent, mukopurulent, dan mukoid. Pemeriksaan ini diinkubasi pada suhu ruang dan suhu 40ºC selama 48 jam dengan menggunakan biakan Saboraud Dextrose Agar (SDA), dilanjutkan dengan pemeriksaan menggunakan pewarnaan langsung dengan larutan pewarna Lactophenol Cotton Blue (LPCB), yang dilanjutkan uji konfirmasi C.albicans dengan pemeriksaan Germ Tube, dan uji menggunakan media Chrom Agar. Analisa data secara univariat dengan jenis data yaitu data primer. Hasil penelitian pertumbuhan jamur Candida sp pada suhu ruang dan suhu 40ºC yaitu 29 (97%), sedangkan pertumbuhan C.albicans lebih mendominasi pada suhu 40ºC yaitu 17 (58%). Dapat disimpulkan bahwa didapatkan pertumbuhan jamur C.albicans sputum lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda
Identifikasi Jamur Dermatophyta Pada Helm Penumpang Ojek Online Di Samarinda Seberang
Jamur Dermatophyta adalah patogen yang dapat menyebabkan infeksi kulit pada manusia dan telah di identifikasi sebagai salah satu penyebab dermatofitosis, yang dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan benda yang terkontaminasi, termasuk helm. Helm yang digunakan oleh penumpang ojek dapat menjadi media yang potensial untuk kontaminasi jamur yang dapat menyebabkan infeksi kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah terdapat jamur Dermatophyta pada helm penumpang ojek online di Samarinda Seberang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional dengan 26 sampel yang dipilih secara acak (random sampling). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah keberadaan jamur, sedangkan variabel independen adalah pemakaian helm penumpang ojek online dalam sehari dan pembersihan helm. Data dianalisis menggunakan analisis univariat. Helm penumpang ojek online di Samarinda Seberang memiliki risiko kontaminasi jamur Dermatophyta, hasil identifikasi menunjukkan bahwa dari 26 sampel helm penumpang ojek online di Samarinda Seberang, sekitar 19,2% atau 5 sampel helm terkontaminasi jamur Dermatophyta. Jenis jamur Dermatophyta yang di temukan meliputi Microsporum gypseum (3,8%), Microsporum ferrugineum (11,6%), dan Trichophyton tonsurans (3,8%). Ditemukan bahwa pola pemakaian dan pembersihan helm mempengaruhi keberadaan jamur Dermatophyta pada helm penumpang. Helm yang digunakan oleh lebih dari 10 penumpang per hari cenderung memiliki tingkat positivitas jamur yang lebih tinggi, demikian juga dengan helm yang jarang dibersihkan
ANALISIS KADAR HEMOGLOBIN MAHASISWA DENGAN KEBIASAAN SARAPAN
Dalam penyediaan gizi masyarakat, Indonesia saat ini sedang menghadapi masalah yang besar. Kebiasaan sarapan terkadang sering diabaikan pada setiap orang khususnya remaja. Melewatkan sarapan menyebabkan hilangnya energi dan zat gizi yang diperlukan untuk sintesis hemoglobin. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kadar hemoglobin adalah asupan gizi. Ditandai dengan kadar hemoglobin rendah menjadi faktor adanya anemia karena rendahnya cadangan zat besi. Kebaruan penelitian ini karena menganalisis kadar hemoglobin mahasiswa dengan kebiasaan sarapan. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui Menganalisis Kadar Hemoglobin pada Mahasiswa Dengan Kebiasaan Sarapan di Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Kaltim. Penelitian dilakukan dengan rekomendasi uji etik RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda No.101/KEPK-AWS/V/2023 di Laboratorium Hematologi Prodi D-III Teknologi Laboratorium Medis. Jenis penelitian yang digunakan deskriptif dengan desain cross sectional. Variabel penelitian ini kebiasaan sarapan dan kadar hemoglobin. Jumlah sampel yang dibutuhkan 163 sampel dari jumlah populasi menggunakan rumus slovin. Analisa data dilakukan secara univariat satu variabel pada hasil pengukuran kebiasaan sarapan dan kadar hemoglobin. Hasil pemeriksaan laboratorium dalam penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan kebiasaan sarapan pagi memiliki kadar hemoglobin yang normal sebanyak 86 mahasiswa dan terdapat 2 mahasiswa dengan kebiasaan sarapan memiliki kadar hemoglobin yang rendah. Adapun mahasiswa dengan tidak kebiasaan sarapan pagi memiliki kadar hemoglobin yang rendah sebanyak 61 mahasiswa dan terdapat 14 mahasiswa dengan tidak kebiasaan sarapan pagi memiliki kadar hemoglobin yang normal. Kesimpulannya mahasiswa dengan kebiasaan sarapan pagi memiliki kadar hemoglobin normal
PERBEDAAN NILAI HEMATOKRIT METODE MIKROHEMATOKRIT MENGGUNAKAN DARAH KAPILER PADA POSISI DUDUK DAN BERBARING
Pemeriksaan hematokrit dilakukan untuk mengetahui perbandingan jumlah sel darah merah dalam volume darah menggunakan satuan persen. Hematokrit dapat diukur menggunakan darah vena maupun kapiler baik menggunakan metode makro maupun mikro. Pemeriksaan hematokrit dipengaruhi tahap pra-analitik, analitik, pasca analitik. Pra-analitik merupakan tahap yang memiliki kesalahan terbesar yaitu 62%, tahap analitik 15%, pasca analitik 23%. Penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah ada tidaknya perbedaan nilai hematokrit metode mikrohematokrit menggunakan darah kapiler pada posisi duduk dan berbaring. Penelitian ini dilakukan di laboratorium hematologi Poltekkes Kemenkes Kaltim, tanggal 17 sampai 18 mei 2023. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiawa jurusan D3 TLM tingkat 3, jumlah sampel sebanyak 20 sampel, sampel diambil dengan cara mngambil darah kapiler yang kemudian di tamping kedalam tabung mikrokapiler. Penelitian ini menggunakan metode True Experience dengan Post Test Only Control Design menggunakan 2 kelompok, duduk dan berbaring. Data dianalisis dengan uji statistik SPSS dengan uji Paired T Test untuk melihat perbedaan nilai hematokrit pada posisi duduk dan berbaring. Diketahui bahwa tidak ada perbedaan nilai hematokrit pada posisi duduk dan berbaring. Uji statistik Paired Sampel T Test menunjukkan nilai sig 0,190. Kesimpulan dari penelitian ini tidak ada perbedaan nilai hematokrit metode mikrohematokrit menggunakan darah kapiler pada posisi duduk dan berbaring
GAMBARAN JUMLAH TROMBOSIT PADA PENGGUNAAN ANTIKOAGULAN NA2EDTA DAN K2EDTA
Dalam pemeriksaan laboratorium ada tiga tahap pemeriksaan, yaitu tahap pra analitik, analitik, dan pasca analitik. Tahapan pra analitik pada pemeriksaan hematologi menggunakan darah vena yang ditambahkan dengan antikoagulan. EDTA adalah antikoagulan untuk pemeriksaan hematologi dan terdiri dari 3 macam, yaitu Na2EDTA, K2EDTA dan K3EDTA. Jenis EDTA yang masih banyak digunakan di laboratrium saat ini adalah Na2EDTA padahal antikoagulan yang direkomendasikan oleh WHO, ICSH dan CLSI untuk pemeriksaan hematologi adalah K2EDTA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah trombosit pada penggunaan antikoagulan Na2EDTA dan K2EDTA. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Teknik pengambilan sampel simple random sampling. Sampel yang digunakan adalah 30 sampel darah yang diambil dari mahasiswa sehat Tingkat I Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Kaltim. Pengambilan data menggunakan lembar kuisioner dan pengambilan langsung sampel darah yang diperiksa menggunakan observasi laboratori. Darah yang diambil kemudian dibagi menjadi 2 tabung dengan antikoagulan Na2EDTA dan K2EDTA kemudian diperiksa pada alat Hematology Analyzer. Pengolahan dan analisa datanya menggunakan analisa univariat. Penelitian menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan jumlah tombosit dengan antikoagulan Na2EDTA dan K2EDTA didapatkan hasil normal (96,7%) dan tidak normal (3,3%). Hasil perhitungan jumlah trombosit menggunakan antikoagulan Na2EDTA dan K2EDTA didapatkan perbedaan tertinggi sebesar 54.000 sel/ µl dan terendah sebesar 2.000 sel/ µl. Dari hasil didapatkan kesimpulan bahwa sampel dengan antikoagulan K2EDTA memiliki hasil yang lebih tinggi daripada sampel dengan antikoagulan Na2EDTA
GAMBARAN PENDERITA RHEUMATOID ARTHRITIS DITINJAU DARI PEMERIKSAAN RHEUMATOID FAKTOR PADA LANSIA USIA 50-70 TAHUN DI RSUD ABDOEL WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA
Rheumatoid Arthritis (RA) merupakan penyakit inflamasi sistemik kronik, peningkatan risikonya sebagian besar disebabkan oleh penyakit kardiovaskular. Rheumatoid Arthritis (RA) sering terjadi pada usia 45-70 tahun karena pada usia tersebut cenderung terjadi perubahan pola makan dan pola hidup yang biasanya akan menimbulkan gangguan kesehatan. Perubahan tersebut dapat terjadi karena usia 45 tahun merupakan usia milestone atau usia transisi dalam kehidupan seseorang. Dalam kondisi tersebut semua perubahan dapat terjadi dan terdapat satu hal yang tidak dapat dihindarkan yaitu transisi menuju penuaan. Kondisi ini menyerang wanita dua sampai tiga kali lebih banyak dari pada pria dan biasanya dimulai antara usia 25 dan 50 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penderita Rheumatoid Arthritis (RA) melalui pemeriksaan rheumatoid faktor (RF) pada lansia usia 50-70 tahun di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif menggunakan data primer yang diperoleh dari hasil pemeriksaan kadar rheumatoid faktor (RF) pada lansia. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan usia 50-70 tahun yang melakukan pemeriksaan rheumatoid faktor (RF) sebanyak 30 sampel di Laboratorium RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Analisis data yang digunakan, yaitu univariate dengan mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukan pemeriksaan Rheumatoid Faktor (RF) kualitatif terhadap 30 sampel di dapatkan 3 sampel yang menunjukkan reaksi positif (aglutinasi) yaitu sampel no 18,19 dan 20. Sebanyak 3 sampel positif dilanjutkan ke Rheumatoid Faktor semi-kuantitatif di dapatkan hasil pada sampel 1 hasil menunjukan kadar titer sebesar 256 ul/ml (3,3%), pada sampel 2 titer menunjukan kadar titer sebesar 64 ul/ml (3,3%), sampel 3 titer menunjukan kadar titer sebesar 128 ul/ml (3,3%)
PROFIL ASPERGILLUS SP PADA SPUTUM LANSIA DI PANTI LANSIA KOTA SAMARINDA TAHUN 2023
Aspergillus sp merupakan salah satu jamur yang dapat menyebabkan mikosis pada paru-paru. Jenis penyakit dan beratnya bergantung pada status fisiologi dan imunitas manusia. Penyakit sistem pernapasan yang disebabkan jamur Aspergillus sp disebut Aspergillosis. Aspergillosis umumnya berkembang pada individu immunocompromised. Lansia cenderung mengalami berbagai perubahan fisik dan mental seiring bertambahnya usia. Perubahan lansia ditandai dengan penurunan sistem imun, penurunan massa tubuh, dan penurunan fungsi tubuh. Selain itu infeksi jamur pada lansia dapat dipengaruhi oleh penggunaan antibiotik, kondisi lingkungan, dan aktivitas. Tujuan penelitian untuk mengetahui profil jamur Aspergillus sp pada sputum lansia di Panti Lansia UPTD Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda. Jenis penelitian yaitu deskriptif dengan desain penelitian menggunakan study observasional. Sampel penelitian ini berjumlah 47 lansia berusia 60-74 tahun (elderly) di Panti Lansia UPTD Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Penelitian ini dilakukan dengan makroskopis dan mikroskopis menggunakan metode slide culture. Data dianalisis secara univariat dalam bentuk persentase. Hasil penelitian didapatkan 18 sampel (39%) positif Aspergillus sp yang terdiri dari Aspergillus niger 14 (30%), Aspergillus flavus 3 (7%), Aspergillus niger dan Aspergillus flavus 1 (2%). Kesimpulan didapatkan pertumbuhan Aspergillus sp pada sputum lansia di Panti Lansia UPTD Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri Samarinda tidak menyebabkan penyakit pada lansia dengan sistem imun yang kuat
