1,720,956 research outputs found

    Posisi perempuan dalam sistem kekerabatan patriarkhi: studi analisi gender pada masyarakat Kabupaten Padang Lawas Utara

    No full text
    Sejatinya, perbedaan gender (gender diffrentiation) tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Namun, faktanya perbedaan jenis kelamin seringkali berujung ketidakadilan yang umumnya dialami oleh kaum perempuan terutama dalam hal kedudukan, fungsi, peran dan tanggungjawab mereka. Kondisi ini rentan terjadi terutama pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan patriarkhi, di mana kaum laki-laki dominan atas kaum perempuan. Kaum perempuan Kabupaten Padang Lawas Utara Provinsi Sumatera Utara saat ini sedang berjuang meruntuhkan”tembok kokoh” yang mengurung mereka dalam kurungan ”sistem patriarkhi”. Perjuangan yang mereka lakukan nampaknya mulai memperoleh momentum meskipun belum pada semua aspek. Pada hari ini, mereka telah memiliki akses pendidikan yang setara dan bahkan melebihi kaum lak-laki; terutama dengan kesadaran anak do boru, boru do anak (anak laki-laki sama dengan anak perempuan). Mereka juga memiliki kebebasan dalam menentukan pasangan hidup mereka dalam pernikahan; tidak terikat lagi dengan adat manyunduti. Namun di sisi lain, mereka masih mengalami diskriminasi pada bidang warisan; memperoleh bagian yang kecil atau bahkan hanya pangalehenan (pemberian), dan mereka masih mengalami marginalisasi dalam bidang ekonomi

    Analisis rantai nilai ayam ras pedaging untuk meningkatkan daya saing (studi kasus di pt charon pokphand indonesia, tbk)

    Get PDF
    Penerapan pasar global membuat negara-negara menghapus hambatan tarif dan non-tarif. Akibatnya, produk dari berbagai negara akan semakin mudah memenuhi pasar domestik. Hal ini juga terjadi pada ayam pedaging. Meskipun Indonesia merupakan negara agraris yang dikaruniai sumber daya alam yang banyak, tetapi produksi ayam pedaging di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan negara-negara penghasil ayam pedaging (Amerika Serikat dan Brasil). Sementara permintaan akan ayam pedaging lebih tinggi dibandingkan dengan produksi ayam dalam negeri. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan ayam pedaging, pemerintah mengimpor ayam dari beberapa negara produsen. Sebetulnya kondisi ini merupakan sebuah peluang yang bisa dimanfaatkan oleh peternak dalam negeri. PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk adalah perusahaan terbesar yang bergerak di bidang perunggasan di Indonesia. Di sektor hulu, PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk memproduksi pakan ayam, day old chicks (DOC), dan peralatan peternakan serta mendistibusikan obat dan vaksin. Sementara di sektor hilir, PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk mengolah ayam hidup menjadi produk olahan, seperti bakso, nugget, dan sosis. Namun demikian, dengan semakin ketatnya persaingan di industri perunggasan nasional, daya saing ayam pedaging perlu ditingkatkan. Untuk mengukur daya saing pada sebuah industri, salah satunya bisa dilakukan melalui analisis rantai nilai. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan rantai nilai ayam ras pedaging yang berjalan di PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk, menganalisis pengelolaan rantai nilai, mengetahui margin pemasaran pelaku bisnis ayam pedaging di tingkat on farm dan off farm, menganalisis gap antara harapan dan performa peternak terhadap produk yang dikeluarkan oleh PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk, mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan daya saing ayam pedaging, menganalisis lingkungan internal dan eksternal, serta merumuskan peningkatan rantai nilai ayam ras pedaging sehingga bisa meningkatkan daya saing ayam pedaging, terutama di PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. Penelitian mengenai Analisis Rantai Nilai Ayam Ras Pedaging untuk Meningkatkan Daya Saing (Studi Kasus di PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk) ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2010 dengan mengambil lokasi di PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk beserta anak perusahaannya, yaitu PT Charoen Pokphand Jaya Farm; PT Surya Hidup Satwa International; dan PT Primafood International; serta stakeholder yang terkait, yaitu peternak (CV Pie Tiek Koe Farm). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, focus group discussion (FGD), dan wawancara mendalam (indepth interview). Responden ahli yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah 9 orang direksi dan manajemen PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk, 3 orang expert, dan 2 orang peternak ahli. Sementara peternak yang dilibatkan sebagai responden untuk menentukan analisis gap sebanyak 72 orang. Analisis rantai nilai dilakukan dengan metode deskriptif, menghitung biaya dan keuntungan di sektor on farm dan off farm menggunakan analisis margin pemasaran, menentukan kesenjangan harapan dan performa peternak dengan produk yang dikeluarkan oleh PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk menggunakan analisis gap, mengidentifikasi faktor yang berpengaruh terhadap daya saing menggunakan Diamond Porter’s Metode (DM), serta perumusan strategi peningkatan rantai nilai menggunakan matriks internal eksternal dan SWOT. PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk memiliki peran yang penting dalam rantai nilai ayam pedaging. Beserta dengan anak perusahaannya, PT Charoen Pokphand Indonesia, tbk menyuplai sapronak, yaitu DOC, pakan, vaksin dan obat, serta peralatan peternakan. Pembesaran ayam ras pedaging dilakukan oleh peternak luar/lepas yang secara fungsi maupun struktural tidak berhubungan dengan PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. Di sisi hilir, PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk menampung ayam dari peternak untuk diolah menjadi ayam olahan, misalnya sosis, bakso, dan nugget. Produk olahan ayam ini didistribusikan ke minimarket, supermarket, dan restoran. Posisi tawar yang paling kuat pada rantai nilai ini adalah PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk karena sebagai market leader, PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk memiliki kekuatan untuk menentukan harga sapronak dan sistem pembayarannya meskipun sebenarnya mekanisme pembentukan harga dipengaruhi oleh faktor pasar. Tipe pengelolaan rantai nilai antara pemasok pakan, DOC, obat dan vaksin, peralatan peternakan, serta produk olahan ayam dengan konsumennya adalah market value chain. Sementara pengelolaan rantai nilai antara penyuplai daging ayam dengan restoran bersifat captive value chain. Pada analisis margin pemasaran, porsi biaya yang paling besar dalam pembesaran ayam pedaging adalah biaya pakan (57,99%), sedangkan biaya terendah adalah obat-obatan dan vaksin (2,26%). Pada pengolahan, unsur biaya yang paling besar adalah pembelian ayam hidup (57,97%) dan biaya yang paling rendah adalah tenaga kerja (3,53%). Pelaku bisnis yang mendapatkan pendapatan paling rendah adalah peternak (Rp 642,44/kg ayam hidup) dengan tingkat risiko yang cukup tinggi, yaitu mortalitas ayam yang cukup tinggi dan pemeliharaan ayam yang relatif lama (kira-kira 30 hari). Sementara pelaku bisnis yang mendapatkan pendapatan paling tinggi adalah prosesing, yaitu Rp 3.741/kg olahan ayam. Namun demikian, risiko pada prosesing juga cukup tinggi karena membutuhkan biaya investasi yang tinggi di awal usaha. Rata-rata harapan pada analisis gap antara harapan dan performa produk yang dihasilkan oleh PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk adalah 3,57; rata-rata performa adalah 3,67; dan rata-rata gap (73,77%). Atribut yang memiliki angka terendah adalah harga pakan bersaing (63,18%); sedangkan atribut dengan nilai gap tertinggi adalah pembayaran obat dan vaksin kredit 2 bulan (88,14%). Selain itu, pada atribut DOC, variabel yang berada di bawah rata-rata gap adalah DOC tahan terhadap serangan penyakit dan kondisi cuaca buruk (70,97%); tingkat pertumbuhan DOC bagus (70,67%); harga DOC bersaing (70,20%); dan pengiriman DOC tepat waktu (69,75%). Pada atribut pakan, variabel yang berada di bawah rata-rata adalah daya simpan pakan mencapai 1 bulan (70,63%) dan harga pakan bersaing (63,18%). Pada atribut vaksin dan obat, variabel yang berada di bawah rata-rata adalah obat dan vaksin ampuh (70,07%); jenis obat dan vaksin memudahkan dalam aplikasi pemberian (71,32%); harga vaksin dan obat bersaing (70,08%); serta pengiriman obat dan vaksin tepat waktu (71,00%). Atribut peralatan peternakan yang masih berada di bawah rata-rata adalah harga peralatan peternakan bersaing (68,46%). Faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing ayam pedaging ada empat macam, yaitu faktor kondisi: infrastruktur (3,71), sumber daya manusia (4,00), sumber daya modal (4,00), sumber daya alam (3,14), dan teknologi (3,71); faktor permintaan: jumlah pembeli (3,86), pertumbuhan permintaan (3,71), dan preferensi permintaan (2,57); persaingan industri : tingkat persaingan di industri ayam pedaging (3,14) dan strategi pesaing (2,86); industri terkait dan industri pendukung: industri pemasok sapronak (3,71), peternak mitra/mandiri (3,57), agen/distributor (3,00), dan industri pengolahan hasil (2,71); serta peran pemerintah: akses pinjaman modal (3,29), regulasi (3,14), iklim bisnis (3,43), edukasi (3,86), dan pemberantasan penyakit zoonosis (3,71). Faktor kekuatan yang memiliki nilai bobot tertinggi pada analisis IFE yaitu layanan after sale CP Grup Indonesia bagus (0,083), sedangkan nilai bobot paling rendah adalah keuntungan pabrik pengolah ayam tinggi (0,064). Faktor kelemahan yang memiliki nilai bobot paling tinggi adalah posisi tawar peternak rendah (0,079), sedangkan faktor kelemahan paling rendah adalah sebagian besar peternak masih menggunakan kandang terbuka dan vaksin dan obat yang distribusikan PT SHS International masih impor (nilainya sama, 0,041). Pada analisis EFE (Eksternal Factor Evaluation), faktor peluang yang memiliki nilai bobot paling tinggi adalah pertumbuhan industri perunggasan naik (0,152), sedangkan faktor peluang yang memiliki nilai bobot paling rendah adalah konsumsi ayam per kapita masih rendah (0,098). Faktor ancaman yang memiliki nilai bobot paling tinggi adalah serangan wabah penyakit (0,112) dan faktor yang ancaman yang memiliki bobot nilai rendah adalah adanya produk subsitusi ayam (0,083). Nilai matriks IFE adalah 2,739 dan nilai matriks EFE adalah 3,194 sehingga posisi rantai nilai berada pada kuadran II, yaitu tumbuh dan kembangkan. Strategi peningkatan rantai nilai yang diusulkan kepada pelaku bisnis pada rantai nilai di PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk adalah (1) product upgrading, dilakukan dengan mengoptimalkan produksi DOC dan pakan, mengembangkan produksi pakan di Pulau Kalimantan, meningkatkan kualitas ayam, menambah produksi ayam olahan, dan memperkuat manajemen stok vaksin dan obat; (2) process upgrading, dilakukan dengan mengkonversi penggunaan kandang terbuka menjadi kandang tertutup serta meningkatkan biosekuriti kandang dan lingkungan; (3) functional upgrading, dilakukan dengan membentuk kluster oleh para peternak; dan (4) channel upgrading, dilakukan dengan meningkatkan edukasi pada masyarakat tentang konsumsi daging ayam dan mempertajam strategi bisnis produk olahan ayam

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Get PDF
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
    corecore