1,720,958 research outputs found
Akibat Hukum Pembayaran Hutang Oleh Pihak Ketiga Terhadap Objek Waris Yang Sedang Dijaminkan Hipotek
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengatur mengenai kewarisan perdata antara keluarga sedarah yang notabene aanvullen recht (prinsip keterbukaan). Keterbukaan di sini berarti tiap-tiap ahli waris yang berhak atas harta warisan pewaris selama mereka berlapang dada terhadap hasil pembagian maka bukan menjadi hal apabila mereka tidak mengikuti sebagaimana yang telah diatur dalam kitab terkait. Karya tulis ini dilakukan secara yuridis-normatif dengan melakukan pendekatan undang-undang dan menggunakan berbagai literatur hukum yang bersangkutan dengan permasalahan. Pembagian waris pada dasarnya berjalan sesuai dengan yang diharapkan namun menjadi suatu problema ketika terdapat salah satu atau lebih ahli waris yang mempermasalahkan suatu keadaan pembagian warisan yang pada akhirnya mereka bersengketa di pengadilan. Lebih sulit lagi apabila ketika suatu objek waris pernah dijaminkan atau dalam arti objek waris tersebut sedang terbebani hutang seperti yang dibahas dalam karya tulis ini yakni objek warisan dijaminkan kepada Bank. Bentuk pelunasan hutang yang terjadi juga mempengaruhi jalannya pembagian warisan yang mana dibayarkan oleh pihak ketiga. Akibat hukum yang terjadi dikarenakan pembayaran hutang oleh pihak ketiga menunjuk kepada siapa yang sedang terikat oleh perjanjian penjaminan mendapatkan hak yang diunggulkan dalam melaksanakan pembagian warisan
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
POLITIK HUKUM PERUNDANG-UNDANGAN: UNDANG-UNDANG KHUSUS SUBROGASI PERLU ATAU TIDAK?
Hukum merupakan petunjuk dan tata aturan dengan konsep hidup
bermasyarakat. Indonesia sebagai negara hukum tentunya tidak lepas
dari politik hukum dalam pembuatan atau pembentukan peraturan
perundang-undangannya dengan maksud untuk mengatur seluruh unsur
kehidupan bangsa Indonesia sebagai upaya untuk mencapai tujuan negara.
Peraturan perundang-undangan pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan
dari politik hukum. Namun dalam praktiknya, masih banyak materi yang
sudah seharusnya diatur dalam undang-undang khusus tetapi masih
diatur dalam kitab undang-undang warisan Belanda, salah satunya adalah
praktik subrogasi. Masyarakat Indonesia tanpa disadari telah secara rutin
melakukan praktik subrogasi sehubungan dengan transaksi pinjam-
meminjam uang, namun banyak yang tidak mengenal istilah subrogasi
namun hanya memahami praktiknya saja. Sebagaimana salah satu tuju-
an dari Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehi-
dupan bangsa, maka dari sisi politik hukum, perlu dilakukan kajian apakah
undang-undang khusus yang mengatur subrogasi diperlukan atau tidak
Akibat Hukum Terjadinya Subrogasi Objek Waris dalam Sengketa Waris Perdata
Indonesian civil code generally regulates inheritance rights between blood relatives which in fact aanvullen recht (openness). Openness here means that they are not required to follow what has been regulated or in other words each and every heir is entitled to the inheritance as long as they are tolerant to the results of the distribution portion and they are contend with it. However, the problem arises when there is one or more heirs who start a dispute which ultimately resulted and processed in court. Even more so complicated when the inheritance object had previously been mortgaged to the Bank. The form of debt repayment that occurred on the collateral could significantly affect the inheritance, especially when subrogation happened. The legal consequences focus on whoever holds the subrogative rights and as such gets preferential rights in the distribution of the inheritance
POLITIK HUKUM PERUNDANG-UNDANGAN: UNDANG-UNDANG KHUSUS SUBROGASI PERLU ATAU TIDAK?
Hukum merupakan petunjuk dan tata aturan dengan konsep hidup
bermasyarakat. Indonesia sebagai negara hukum tentunya tidak lepas
dari politik hukum dalam pembuatan atau pembentukan peraturan
perundang-undangannya dengan maksud untuk mengatur seluruh unsur
kehidupan bangsa Indonesia sebagai upaya untuk mencapai tujuan negara.
Peraturan perundang-undangan pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan
dari politik hukum. Namun dalam praktiknya, masih banyak materi yang
sudah seharusnya diatur dalam undang-undang khusus tetapi masih
diatur dalam kitab undang-undang warisan Belanda, salah satunya adalah
praktik subrogasi. Masyarakat Indonesia tanpa disadari telah secara rutin
melakukan praktik subrogasi sehubungan dengan transaksi pinjam-
meminjam uang, namun banyak yang tidak mengenal istilah subrogasi
namun hanya memahami praktiknya saja. Sebagaimana salah satu tuju-
an dari Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehi-
dupan bangsa, maka dari sisi politik hukum, perlu dilakukan kajian apakah
undang-undang khusus yang mengatur subrogasi diperlukan atau tidak
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
