1,721,059 research outputs found
Growth, Yield and Seed Quality of Corn (Zea Mays L.) And Soybean (Glycine Max L. Merr.) As Affected by Population Density in Row Intercropping.
Suatu penehtian dengan percobaan lapangan, dilanjutkan dengan pengamatan laboratorium telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi populasi tanaman pada tumpang sari larikan jagung dengan kedelai terhadap pertumbuhan, hasil dan kualitas benihnya. Juga untuk dapat menentukan proporsi masing-masing tanaman dalam tumpangsari larikan yang terbaik, yang memberikan hasil dan kualitas benih yang memenuhi standar sertifikasi benih. Diharapkan cara ini dapat dipakai sebagai alternatif cara memproduksi benih, utamanya jagung dan kedelai.
Percobaan ini menerapkan rancangan acak lengkap berblok, dengan enam perlakuan, tiga ulangan, luas petak masing-masing 6 x 11 m2.
Cara bertanam dengan tumpangsari larikan, ternyata mempengaruhi pertumbuhan tanaman kedelai dan hasilnya, namun tidak pada kualitasnya. Lebih sedikit populasi tanaman kedelai, menghasilkan tanaman lebih tinggi, umur panjang, hasil per tanaman lebih rendah dan sebaliknya. Benih kedelai berukuran besar, cenderung mempunyai kandungan protein lebih tinggi.
Pert umbuhan, pembungaan dan umur tanaman jagung, juga dipengaruhi sistem Mi. Populasi tanaman yang lebih rendah, menghasilkaritanaman lebih pendek, umur lebih panjang, hasil per tanaman lebih tinggi, dan sebaliknya. Benih jagung berukuran besar cenderung mempunyai kandungan protein lebih tinggi. Proporsi benih besar, lebih tinggi pada populasi tanaman yang rendah.
Tumpang sari larikan dengan: satu larik jagung + empat larik kedelaidua larik jagung tiga larik kedelai, memberikan land equivalent ratio (LER) lebih dari 1.00. Kedua perlakuan di atas, merupakan dua yang terbaik di antara enam perlakuan yang ada dan diharapkan dapat sebagai alternatif cara memproduksi benih seba
Tea shoot production in relation to rainfall, solar radiation and temperature in Pagilaran tea estate, Batang=Produksi pucuk teh, hubungannya dengan curah hujan, panjang penyinaran sinar matahari dan suhu di kebun teh...
Tea shoot production pattern in PT Pagilaran tea estate, Batang is studied in relation to rainfall, solar radiation and temperature. pagilaran tea estate is located at 700-1,500 m above the sea level, with temperature of 15-30 degrees C and ranging from 4,500 mm to 7000 mm per year. However the area is also characterized by up to three dry month for every three years.
key words: shoot production fluctuation, rainfall, solar radiation, temperatur
Perkembangan teknologi dan pengelolaan perbenihan di Indonesia serta perannya dalam percepatan peningkatan produksi pertanian
Kajian Karater Fisiologis dan Agronomls padl Efislen Air (> 50%), Produktivitas Tinggi (> 8 t/hal) dengan Sistem Genangan Dalam Parit dl Tanah Regosol Berpengalran Teknis
Perbenihan tanaman : dasar ilmu, teknologi dan pengelolaan
Benih dalam bahasa asing (inggris)umumnya disebut sweeds memiliki banyak definisi, tergantung dari sudut pandang yang kenyebutnya. Seorang ahli ilmu fisiologi tumbuhan menyebut benih sebagi ovula yang masak, yang memiliki embrio, endosperm dan dilindungi oleh kulit biji. Ahli biolgi menyatakan biji adalah maniatur tanaman atau sebagai vehicle (kendaraan)pembawa gen untuk menuju generasi berikutnya.
Seeds juga memiliki arti bagian tanaman yang bukan saja berupa biji rimpang, tuber, stek (propagules). Beih yang berupa bagian tanaman tersebut seeds sedang yang berupa biji biasa disebut true seeds. Sebagai contoh, pada berupa biji tanaman kentang (popatoes) atau bawang merah (shallots) adalah true seeds, semntara yang berupa umbi (tuber) disebut seeds)
Seorang ahli budidaya tanaman mengatakan bahwa benih merupakan biji terpilih untuk tanam atau bahan penelitian, yang lain mengatakan bahwa benih adalah tanaman atau bagian tanaman (misalnya:daun, ranting,cabang,batang,akar,biji) yang dipergukanan untuk perbanyakan dan atau bahan penelitian. Meski dalam dialek daerah dikenal kata bibit(tanaman muda dan bagian dari tanaman bukan biji ) yang akan dipergunkan untuk bahan tanam
IMPLEMENTASI PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT YANG TEPAT DAN RELEVAN DENGAN POTENSI SUMBER DAYA LOKAL MASYARAKAT
Tea shoot production in relation to rainfall, solar radiation, and temperature in Pagilaran tea estate, batang.Produksi pucuk teh, hubungannya dengan curah hujan, panjang penyinaran matahari dan suhu di kebun teh ...
Suatu penelitian telah dilakukan di kebun PT Pagilaran, Batang, untuk mengkaji pola produk: pucuk teh yang diperkirakan dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim seperti curah hujan, panjang penyinara matahari, dan suhu sehingga terjadi fluktuasi produksi.
Kebun teh PT Pagilaran terletak pada ketinggian 700 m â 1500 m di atas permukaan laut,
.suhu pada kisaran 15°C â 30°C dan curah hujan yang tinggi yakni 4500 mm â 7000 mm per tahur Sayangnya, lokasi ini juga memiliki bulan kering antara dua sampai tiga bulan hampir setiap 3 tahun.
Pada penelitian dengan metoda survai ini, data sekunder yang dikumpulkan mencakup produk! pucuk teh, curah hujan, panjang penyinaran matahari, dan suhu. Data yang diperoleh dianalisis denga metode analisis korelasi, regresi, dan juga uji-t.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola produksi pucuk pada tiga bagian kebun yang ad (Kayulandak, Pagilaran, dan Andongsili) tidak berbeda, yakni produksi meningkat pada bulan Oktober Desember dan kembali menurun pada bulan Januari-Februari. Fluktuasi produksi pada bagian kebu Kayulandak dan Andongsili lebih kecil, kemungkinan disebabkan ketersediaan air tanah yang lebih bai pada masa bulan kering karena kebun ini berbatasan langsung dengan hutan lindung di atasnya.
Procluksi pucuk teh memiliki korelasi dengan jumlah curah hujan (r = -0,3771), hari huja: (r = -0,3512), suhu maksimum (r = 0,3502), suhu minimum (r = -0,2786), dan panjang penyinara matahari (r = 0,6607) pada bulan yang sama. Perhitungan data pada bagian kebun Pagilaran menunjukka: bahwa produksi pucuk terutama ditentukan oleh curah hujan dan panjang penyinaran matahari seperl tercermin dalam persamaan yi = 759,5616 â 0,1802 + 0,1057 xi_2 + 0,5239 zi.1 ( R2=0,3398), dimarr yi = produksi pucuk, xi= mm curah hujan, zi= panjang penyinaran matahari, dan mengacu ke suatu bulan.
Kata kunci : produksi teh, curah hujan, panjang penyinaran matahari, suhu
Tea shoot production pattern in PT Pagilaran tea estate, Batang, is studied in relation to rainfall solar radiation, and temperature. Pagilaran tea estate is located at 700 â 1,500 m above the sea level. wits temperature of 15 â 30°C and rainfall ranging from 4,500 mm to 7,000 mm per year. However, the area i: also characterized by two up to three dry month for every three years.
Monthly data of rainfall, solar radiation, and temperature were collected and were related to ter shoot production using correlation and regression analysis.
The results indicated that there was no significant different pattern of tea shoot production form the three estate units (Kayulandak, Pagilaran, and Andongsili). Monthly shoots production increases durinl October up to December, and then goes down in January up to February. It fluctuated at a lesser degree it the upper units (Kayulandak and Andongsili) which might be attributed to better soil moisture available in the area. They are right below a forests area which understandably serves as rainfall catchment area and maintains soil moisture of the area below in a better condition.
Weak to moderate correlation was obtained when monthly tea shoot production was correlated tc amount of rainfall (r=-0.3771), days of rainfall (r=-0.3512), maximum temperature (r=0.3502), minimum temperature (r=-0.2786), and solar radiation (r=0.6607) of the same month. On regressing monthly tet shoot production to those variables, rainfall and duration of solar radiation turned out to be the twc significant factors through the following equation y = 759.5616 â 0.1802 41 + 0.1057 xi.2 + 0.5239 zi.1 (R-=0.3398), where y = tea shoots production, x = amount of monthly rainfall, z = duration of solar radiation, and i refer to month.
Key words : shoot production fluctuation, rainfall, solar radiation, temperatur
The Effect Of Crop Proportion In Row Intercorpping Of Corn(Zea Mays) and soybean(Cycyne Max L.Merr) on their growth and yield performences
RINGKASAN
Suatu percobaan lapangan telah dilakukan untuk mengkaji pengaruh proporsi tanaman dalam tumpangsari Iarikan antara kedelai dan jagung terhadap pertumbuhan dan hasilnya, serta hubungan antara sifat-sifat agronomic dan hasil sebagai pengaruh proporsi tanaman tersebut.
Enam pola tumpangsari larikan jagung-kedelai dengan proporsi yang berlainan mengikuti pola seri penggantian dengan selang 20%, yaitu perbandingan jumlah larikan jagung/kedelai : 0/51/42/33/24/1 dan 5/0 dievalusi menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tiga blok sebagai ulangan. Jarak tanam antar larikan adalah 75 cm dan dalam larikan adalah 25 cm untuk jagung dan 6,25 untuk kedelai. Ukuran petak yang digunakan adalah 6 m x 11,25 m.
Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, umur tanaman, index luas daun, basil, komponen basil dan rasio kesetaraan lahan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian dan analisis koreiasi.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa kecuali jumlah cabang ptoduktif, jumlah larikan biji pada tongkol dan index panen, semua parameter agronomi dan hasil secara nyata dipengaruhi proporsi tanaman dalam tumpangsari. Semakin rendah proporsi tanaman jagung dalam tumpangsari mengakibatkan secara nyata bentuk tanaman jagung lebih pendek, umur tanaman lebih panjang, hasil tanaman lebih besar, jumlah biji tiap larik pada tongkol meningkat, panjang tongkol meningkat dan rasio kesetaraan lahan meningkat. Semakin rendah proporsi tanaman kedelai dalam tumpangsari secara nyata mengakibatkan tanaman kedelai tumbuh lebih tinggi, umur tanaman lebih panjang, basil menurun dan rasio kesetaraan lahan dalam sistem ini menurun. Index luas daun pada kedua jenis tanaman tidak secara nyata dipengaruhi oleh variasi proporsi tanaman.
ABSTRACT
A field experiment was done to study the effect of crop proportion in corn-soybean intercropped in rows on their growth and yield performances and correlation among those parameters as well. Six in row corn-soybean intercropped at varrying proportions corresponding to a replacement series of 20% interval, i.e. ratio of corn-soybean row at 0/5, 1/4, 2/3, 3/2, 4/1, and 5.10 were evaluated in a Randomized Completely Block with three blocks as replicates. Rows were spaced at 75 cm. Within row spacing was 25 cm corn and 6.25 cm for soybean. Plot size of 6 m x 11.25 in was used.
Records were made on plant height, plant age, leaf area index, yield and yield components, and land equivalent ratio. The data were subjected to analysis of variance and correlation analysis.
The results showed that except for the number productive branches of soybean, seed row number per ear in corn, LAI and 111, all other parameters were significantly affected by crop proportion in the intercrop. Lower proportions of corn in the system resulted significantly to lower stature of corn plants, longer plant age, higher yield per plant due to longer ear, higher number of seeds per row, and higher LER.
Lower soybean proportion in the system resulted significantly to taller soybean plants, longer plant age, lower yield, and lower LER
Ilmu dan teknologi benih rekalsitran: tanaman buah dan perkebunan
buku ini secara khusus menjelaskan seluk beluk benih rekalsitran. sebagaimana diketahui, benih tanaman buah tahunan berbiji besar, seperti avokad, jeruk, pepaya, jambul bol, durian, rambutan, mangga, manggis, nagka, dan lain-lain, serta tanaman perkebunan seperti cengkih, karet, teh, pala, kakao, kopi, dan lain-lain sebagainy
- …
