1,721,552 research outputs found
PENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X JASA BOGA 3 MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING PADA MATA PELAJARAN PENGETAHUAN BAHAN MAKANAN DI SMK N 3 KLATEN
PENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X JASA
BOGA 3 MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN SNOWBALL
THROWING PADA MATA PELAJARAN PENGETAHUAN BAHAN MAKANAN
DI SMK N 3 KLATEN
Oleh:
Praptiningsih
NIM 10511244016
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) peningkatan keaktifan belajar
siswa setelah menggunakan metode pembelajaran Snowball Throwing pada mata
pelajaran Pengetahuan Bahan Makanan, 2) peningkatan hasil belajar siswa
setelah menggunakan metode pembelajaran Snowball Throwing pada mata
pelajaran Pengetahuan Bahan Makanan.
Jenis Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan
pada bulan Desember 2013 sampai dengan Juni 2014 di SMK N 3 Klaten. Subjek
penelitian adalah siswa kelas X Jasa Boga 3 SMK N 3 Klaten berjumlah 26 siswa.
Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi catatan lapangan, observasi,
tes, dan dokumentasi. Uji kualitas instrumen yang dilakukan adalah validitas
instrumen dengan menggunakan pendapat dari ahli (judgment experts). Teknik
analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif.
Hasil penelitian ini adalah: 1) metode pembelajaran Snowball Throwing dapat
meningkatkan keaktifan belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya
peningkatan persentase skor keaktifan belajar sebesar 14,87% dari 73,15% pada
siklus I menjadi 88,02% pada siklus II, 2) metode pembelajaran Snowball
Throwing dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan
adanya peningkatan rata-rata dari pre test sebesar 48,71 menjadi 89,79 pada
post test. Saat post test seluruh siswa sudah mencapai ketuntasan belajar.
Kata Kunci: Pembelajaran, Keaktifan, Hasil Belajar, Snowball Throwin
ENKAPSULASI EKSTRAK DAUN SIRSAK (Annona Muricata) DENGAN VARIASI
Serbuk ekstrak daun sirsak dengan sifat-sifat yang baik dapat dibuat dengan pengaturan jumlah penambahan campuran dekstrin dan kasein. Jumlah
penambahan campuran dekstrin dan kasein dapat berpengaruh terhadap rendemen, kadar air, higroskopisitas, total polifenol, dan aktivitas antioksidan serbuk
ekstrak daun sirsak yang dihasilkan. Perlakuan terbaik pada F1 yaitu jumlah penambahan campuran dekstrin dan kasein sebesar 13% dengan rendemen sebesar
62,58%, warna L 39,41 ; C 30,70 ; oH 179,40, higroskopisitas sebesar 9,36%, kadar air sebesar 7,88%, total polifenol sebesar 0,78 mg/g dan aktivitas
antioksidan sebesar 49,58%
KARAKTERISTIK SENSORIS DAN FISIOKIMIA SOSIS LELE DUMBO (Clarias gariepinus)
Lele dumbo (Clarias gariepinus) merupakan pangan bergizi dan sehat karena berprotein tinggi, rendah lemak dan kolesterol. Lele dumbo
memungkinkan untuk diolah menjadi produk olahan, seperti sosis. Penambahan bahan pengikat berfungsi untuk menghasilkan sosis dengan sifat-sifat
yang baik. Sumber protein nabati dari koro-koroan yang cukup mengandung protein tinggi yaitu koro komak sebagai pangan lokal yang potensial.
Konsentrat protein koro komak dan susu skim dapat digunakan sebagai bahan pengikat pembuatan sosis. Tujuan penelitian untuk memperoleh jenis
dan konsentrasi bahan pengikat yang tepat dalam pembuatan sosis lele dumbo dengan sifat-sifat baik dan disukai. Konsentrasi bahan pengikat yang
digunakan 3,5%; 4,5%; dan 5,5%. Pengamatan karakteristik fisik meliputi tekstur, warna, cookingloss, kenampakan irisan, karakteristik kimia meliputi
kadar air dan kadar protein, karakteristik sensoris meliputi warna, rasa, tekstur, aroma, kesukaan keseluruhan. Perlakuan terbaik ditentukan
menggunakan uji efektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik penggunaan bahan pengikat konsentrat protein koro komak
4,5%. Sosis yang dihasilkan mempunyai kadar air 66,17%; kadar protein 20,72%; kadar lemak 5,12%; kadar abu 1,41%; karbohidrat 6,58%; nilai
tekstur sebesar 170,10g/5mm; intensitas kecerahan 70,58, nilai cookingloss 0,003%; nilai kesukaan warna, rasa, tekstur, aroma berturut-turut 3,36;
3,93; 3,93; 3,64 (agak suka sampai suka), dan nilai keseluruhan 4 (suka)
PEMBUATAN ES KRIM EKSTRAK UBI JALAR UNGU (Ipomea batatas L.) DENGAN
Ekstrak ubi jalar ungu dapat dibuat menjadi es krim. Pembuatan es krim dari ekstrak ubi jalar ungu perlu penambahan susu full cream sebagai sumber lemak
dan protein sehingga terbentuk emulsi minyak dalam air. Pada pembuatan es krim diperlukan bahan penstabil, dan pembuih. Penstabil yang banyak digunakan
dalam pembuatan es krim adalah karagenan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh jumlah susu full cream dan karagenan yang tepat sehingga dihasilkan
es krim ubi jalar ungu dengan sifat fisik yang baik dan disukai. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktor. Faktor
A : jumlah susu full cream (5%, 10%, 15%) dan faktor B : jumlah karagenan (0,3%, 0,5%) dari volume ekstrak ubi jalar ungu, dengan 3 kali pengulangan.
Parameter yang diamati adalah sifat fisik es krim meliputi overrun, kecerahan (menggunakan colour reader), tekstur (menggunakan pnetrometer), kecepatan
meleleh, dan sifat sensoris (kesukaan warna, tekstur, rasa, dan keseluruhan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat-sifat es krim yang baik dihasilkan pada
jumlah penambahan susu full cream 15% dan karagenan 0,5% (A3B2). Es krim yang dihasilkan mempunyai nilai overrun 66,27%, nilai kecerahan 75,34,
nilai chroma 1,13, nilai tekstur 27,20 mm/10 s, kecepatan meleleh 15,63% / 15 menit, dan nilai kesukaan warna, tekstur, rasa, serta keseluruhan berturut-turut
yaitu 2,96; 3,52; 3,92; 4,00 (agak suka sampai suka)
KARAKTERISTIK SAMBAL TUMPANG DARI CAMPURAN TEMPE SEGAR DAN TEMPE
Tempe merupakan makanan khas Indonesia. Lama fermentasi yang optimal dalam pembuatan tempe adalah 36-48 jam. Jika tempe tidak terjual dan tidak ada
proses pengolahan lebih lanjut akan mengalami over fermented atau terfermentasi lanjut. Salah satu alternatif untuk meningkatkan nilai ekonomi tempe
terfermentasi lanjut adalah dengan mengolah menjadi sambal tumpang. Alternatif pembuatan sambal tumpang diharapkan dapat melestarikan warisan makanan
tradisional Indonesia agar tidak mengalami kepunahan. Sambal tumpang merupakan sambal berbahan baku campuran tempe terfermentasi lanjut dan tempe
segar serta penambahan bumbu-bumbu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh perbandingan tempe terfermentasi lanjut dan tempe segar serta
lama fermentasi tempe terfermentasi lanjut dalam pembuatan sambal tumpang dan untuk mengetahui karakteristik fisik, kimia dan mikrobiologis sambal
tumpang pada suhu rendah (50C) selama 3 minggu. Penelitian terdiri dari 2 perlakuan yaitu A (1 : 1) dan B (3 : 2 ) dan diulang 3 kali.Data yang diperoleh
diolah menggunakan metode deskriptif, untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan digunakan uji T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada penyimpanan
suhu rendah (50C) selama tiga minggu, sambal tumpang A (1 : 1) memiliki karakteristik nilai kecerahan 41,77 - 42,5; kadar air 49,650 - 51, 067% (wb);
protein terlarut 0,456 - 0,554 % (db) dan total mikroba 8,340 - 8,950 log CFU/ml. Pada sambal tumpang B (3 : 2) memiliki karakteristik nilai kecerahan 41,08
- 41,98; kadar air 50,712 - 52,535% (wb); protein terlarut 0,558 - 0,623 % (db) dan total mikroba 8,592 - 9,090 log CFU/ml
KARAKTERISTIK ROTI TAWAR DENGAN SUBSTITUSI
Roti tawar merupakan salah satu jenis makanan yang berbentuk sponge, yaitu makanan
yang sebagian besar volumenya tersusun dari gelembung-gelembung gas yang dihasilkan
oleh yeast pada proses fermentasi. Inovasi pembuatan roti tawar dari tepung gayam yang
bertujuan untuk mengurangi penggunaan terigu dengan memanfaatkan komoditi lokal.
Tujuan penelitian yaitu mengetahui pengaruh substitusi tepung gayam terhadap sifat fisik,
kimia dan organoleptik roti tawar dan mengetahui jumlah tepung gayam maksimal yang
dapat disubtitusikan pada pembuatan roti tawar sehingga dihasilkan roti tawar dengan sifatsifat
masih baik dan disukai. Pelaksanaan penelitian terdiri dari dua tahap yaitu pembuatan
tepung gayam dan pembuatan roti tawar dengan substitusi tepung gayam. Tingkat tepung
gayam maksimal yang dapat disubtitusikan sebanyak 10%. Roti tawar yang dihasilkan
mempunyai daya kembang 91,39%; lightness 69,4; hue 103,23; kenampakan irisan yang
seragam; kadar air 35,30%; kadar abu 1,74%; kadar protein 26,83%; kadar lemak 1,83%;
kadar karbohidrat 35,10%; tingkat kesukaan warna 2,88 (agak suka); tingkat kesukaan
aroma 2,92 (agak suka); tingkat kesukaan kenampakan irisan 2,96 (agak suka); tingkat
kesukaan rasa 3,12 (suka); tingkat kesukaan tekstur 3,24 (suka); tingkat kesukaan
keseluruhan 3,12 (suka
KARAKTERISTIK APEL MANALAGI CELUP YANG DIBUAT DENGAN VARIASI LAMA
Apel (Malus sylvestris Mill.) adalah tanaman tahunan yang berasal dari Indonesia. Produksi apel di Indonesia mencapai 22.000 ton/tahun
namun pemanfaatannya belum optimal. Pemanfaatan apel sebagai bahan makanan olahan kurang lebih 12.000 ton/tahun. Apel celup adalah
produk inovasi baru dengan menggunakan apel sebagai bahan bakunya, berbentuk butiran kasar dari apel yang telah dikeringkan dan
dibungkus dalam kertas berpori-pori halus dan tahan panas menyerupai teh celup. Apel celup diharapkan mampu menjadi alternatif produk
inovasi berbahan dasar apel dan menjadi salah satu cara untuk memanfaatkan banyaknya jumlah apel hasil panen petani apel Indonesia.
Apel banyak mengandung senyawa fenolik sehingga mudah mengalami pencoklatan/browning. Untuk mengurangi terjadinya pewarnaan
coklat akibat proses browning dapat dilakukan dengan cara blanching. Waktu/lamanya blanching pada setiap hasil pertanian tidak sama,
termasuk buah apel. Selain lama blanching, suhu pengeringan juga berperan dalam menentukan kualitas dalam pembuatan apel celup. Suhu
pengeringan yang tepat juga perlu diatur dalam pembuatan apel celup. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik apel celup serta
mengetahui lama blanching dan suhu pengeringan yang tepat pada pembuatan apel celup. Penelitian dilakukan dua tahap, penelitian
pendahuluan dilakukan dengan tujuan untuk menentukan waktu blanching dan suhu pengeringan yang digunakan dalam pembuatan apel
celup. Penelitian utama terdiri dari dua faktor, faktor A adalah lama blanching dan faktor B adalah suhu pengeringan. Parameter yang
diamati ialah kadar air, rendemen, warna, total asam, vitamin C, dan organoleptik. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa lama blanching menyebabkan kadar air, rendemen, total asam, dan vitamin C menurun namun menyebabkan kecerahan/warna
meningkat. Pengeringan dengan suhu 70 0C menyebabkan rendemen dan kadar air yang lebih kecil, namun menyebabkan warna lebih cerah,
total asam, dan vitamin C lebih banyak dibandingkan pengeringan dengan suhu 60 0C. Formulasi pembuatan apel celup terbaik berdasarkan
uji efektivitas adalah apel tanpa blanching dengan suhu pengeringan 70 0C atau sample A1B1. Apel celup yang terbaik mempunyai
rendemen 13,51 %, warna/kecerahan 51,92, kadar air 7,69 %, total asam 0,97 %db, vitamin C 1,26 %db, dan skor kesukaan warna 3,72,
aroma 4,24, rasa 4,12, dan kesukaan keseluruhan 4,3
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
