86 research outputs found

    Studi analisis keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 734/KEP/L0/B/2001 tentang tahfidz keputusan musyawarah nasional XXXI tarjih Muhammadiyah tentang kiteria awal waktu subuh

    Get PDF
    Awal waktu subuh erat kaitannya dengan matahari yang dijadikan acuan untuk menentukan kapan masuk waktu subuh atau belum. Ada banyak kriteria yang bisa dijadikan acuan terkait ketinggian matahari ketika wakru subuh. Di antaranya adalah kriteria yang digunakan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) yakni -20o. Pada November sampai dengan Desember 2020, Majelis Tarjih dan Tajdid menggelar Musyawarah Nasional Tarjih ke-XXXI yang dilaksanakan secara daring. Dari Munas Tarjih tersebut, dihasilkan keputusan untuk mengubah kriteria awal waktu subuh yang tadinya -20o diubah menjadi -18o. Kriteria awal waktu yang berubah ini menimbulkan akibat berupa pemunduran waktu subuh sebesar 8 menit. Perubahan inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian tentang perubahan kriteria awal waktu subuh hasil Munas Tarjih ke-XXXI. Penelitian yang dilakukan penulis tentang perubahan kriteria awal waktu subuh hasil dari Musyawarah Tarjih ke-XXXI Pengurus Pusat Muhammadiyah mengambil dua rumusan masalah. Dua rumusan masalah yang coba dikaji dan dipaparkan oleh penulis yakni bagaimana metodologi atau pendekatan istinbath al-hukm yang digunakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid dalam merubah kriteria awal waktu subuh tersebut. Lalu rumusan masalah yang kedua adalah bagaimana validitas pemunduran awal waktu salat Subuh dalam perspektif ilmu falak. Di dalam penelitian yang penulis lakukan, penulis memerlukan metologi penelitian dan metode analisis data untuk melakukan analisis rumusan masalah di atas. Penulis dalam melakukan penelitian menggunakan metodologi penelitian kualitatif. Di dalam melakukan analisis data, penulis menggunakan metode deskriptif analitis guna menjawab permasalahan yang ada. Setelah melakukan penelitian dan analisis data, penulis menemukan kesimpulan yakni dalam melakukan istinbath al-hukm Majelis Tarjih dan Tajdid Pengurus Pusat Muhammadiyah pendekatan yang dominan dipakai dalam merubah kriteria awal waktu subuh ini adalah pendekatan burhani. Lalu, penelitian yang dilakukan oleh penulis juga menghasilkan simpulan bahwa upaya dari Majelis Tarjih dan Tajdidi untuk merubah kriteria awal waktu subuh ini memiliki validitas yang bisa dipertanggungjawabkan. Ini disebabkan, kriteria baru tidak berbeda dengan beberapa kriteria ulama falak. Di samping itu juga, awal waktu subuh adalah wilayah ijtihadiyah dengan begitu, segala usaha melakukan ijtihad tentang awal waktu subuh diperbolehkan

    Kinerja Modulasi dan Coding Rate Adaptif pada Physical Layer Long Term Evolution

    Get PDF
    Layer fisik LTE (E-UTRAN) mendukung link adaptation, skema transmisi untuk menjaga throughput dan drop rate dengan merubah jenis modulasi dan code rate yang dinamis berdasar kondisi kanal. Perubahan modulasi dan code rate didasarkan nilai channel quality indicator (CQI) feedback dari user ke Node B. Penelitian ini menggunakan modulasi QPSK,16 QAM,64 QAM dan code rate channel coding 1/2, 1/3. Orde modulasi yang lebih tinggi digunakan pada saat nilai CQI besar atau SNR kanal bagus. Hasil penelitian menunjukkan, kinerja modulasi orde rendah(QPSK) menghasilkan kinerja bit error rate (BER) sistem lebih baik, akan tetapi efisiensi yang dihasilkan rendah, sedangkan modulasi orde tinggi(64 QAM) menghasilkan kinerja yang sebaliknya. Code rate 1/3 menghasilkan kinerja BER sistem lebih baik dibanding code rate 1/2, kemampuan deteksi dan koreksi error lebih baik. Penentuan jenis/orde modulasi dan code rate yang optimal pada kanal rayleigh flat fading menghasilkan kinerja BER sistem yang maksimal

    Rancang Bangun Antena Microstrip Array 2x2 Frekuensi 2300 MHz

    Get PDF
    Perkembangan teknologi telekomunikasi dan informasi serta berkembangnya jenis layanan telekomunikasi yang begitu cepat mendorong pengimplementasian teknologi telekomunikasi nirkabel pita lebar (broadband). Penetrasi broadband sebesar 10%, akan meningkatkan GDP 1,38% di negara berkembang.Untuk setiap 1% kenaikan penetrasi broadband, lapangan kerja bertambah 0,2%-0,3%. Penerapan telekomunikasi seluler LTE frekuensi 2300 MHz sangat mendukung komunikasi broadband, akan tetapi dengan frekuensi yang cukup tinggi menjadikan coverage area semakin kecil dan tantangan redaman propagasi semakin besar, sehingga dibutuhkan infrastruktur yang lebih handal, salah satunya antena array. Dimulai dari perancangan yang disimulasi software, pabrikasi dan pengukuran. Penelitian antena lungs microstrip array 2 x 2 menghasilkan parameter yang baik : spektrum frekuensi 2350 ”“ 2400 MHz, standing wave ratio (SWR) 1,158 , S 11 -27,71 dB, gain / penguatan sekitar 13 dBi, bandwidth (SWR < 2) sekitar ± 50 MHz

    Analisa Empiris Voltage Standing Wave Ratio (VSWR) dan Distance to Fault (DTF) pada Feeder Base Transceiver Station GSM 900 MHz

    Get PDF
    Penelitian ini fokus membahas secara empiris hasil implementasi pengukuran VSWR (voltage standing wave ratio) dan DTF (Distance to Fault) pada salah satu site BTS GSM 900 MHz dengan frekuensi uplink 890 ”“ 915 MHz dan downlink 935 ”“ 960 MHz dengan panjang feeder 50 meter. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan site master. Sistem pemancar/transmitter harus didukung subsistem feeder dan subsistem antena yang optimal untuk menghasilkan EIRP (equivalent isotropic radiated power) yang besar menghasilkan jarak jangkauan yang jauh. Nilai VSWR yang rendah (dibawah VSWR threshold 1,04) menandakan gelombang yang dipantulkan kembali sangat kecil. Hasil pengukuran setelah adanya perbaikan konektor dan feeder menunjukan keseluruhan VSWR pada range frekuensi 890 ”“ 960 MHz dibawah VSWR threshold, yaitu antara 1,03 ”“ 1,005 dengan prosentase daya pantul antara 0,022 % - 0,000625 % sedangkan VSWR threshold menghasilkan prosentase daya pantul sebesar 0,038%

    Analisa Perencanaan Power Link Budget untuk Radio Microwave Point to Point Frekuensi 7 GHz (Studi Kasus : Semarang)

    Get PDF
    Penelitian ini fokus perencanaan radio microwave 7 GHz untuk komunikasi radio point to point. Komunikasi radio pada jaringan backbone pada sistem seluler menggunakan microwave/frekuensi tinggi, hal ini didasari pada traffic rate yang tinggi pada jaringan backbone tersebut. Frekuensi tinggi mampu menyediakan bandwidth yang lebar untuk traffic rate tinggi. Pada sisi lain, dengan kondisi jaringan backbone dengan traffic rate yang tinggi perlu perencanaan radio link-power link budget yang optimal untuk menjaga realibility dengan tetap menjaga kondisi line of sight (LOS). Perencanaan ini untuk link yang menghubungkan site transmitter (07 o 02”™ 36,64”™”™ LS :110 o 25”™ 24,33”BT), 250 m ASL dan site receiver (06 o 59”™ 00,55”™”™LS : 110 o 26”™ 52,62”BT), 10 ASL. Dengan keuntungan site transmitter di posisi goegrafis tinggi (250 m ASL), perancangan, untuk BER 10 -3 didapat received signal level (RSL) -30,55 dBm, 44,45 dB lebih tinggi dari daya threshold -75,00 dBm. Kondisi fresnel area ke-1 (F1) yang clearance mendukung tercapainya kondisi line of sight jaringan backbone.  (07 o 02”™ 36,64”™”™ LS :110 o 25”™ 24,33”BT), 250 m ASL dan sitereceiver (06 o 59”™ 00,55”™”™LS : 110 o 26”™ 52,62”BT), 10 AS

    DESAIN DAN SIMULASI PAYLOAD HAPS UNTUK MULTIMEDIA

    Get PDF
    ABSTRAKSI: Kata Kunci : ABSTRACT: Keyword

    Kinerja Sinyal Referensi Long Block dan Short Block pada Single Carrier ”“ Frequency Division Multiple Access (SC-FDMA) Uplink Long Term Evolution (LTE)

    Get PDF
    Sinyal referensi berfungsi sebagai sinyal pilot untuk mengetahui kondisi kanal, sinyal ini sebagai  umpan balik pada arah uplink. Sinyal referennsi terdiri atas 2 jenis, long block dan short block. Tipe long  code terdapat 1 kali dalam 1 periode time slot (0.5ms), sedangkan tipe short block terdapat 2 kali dalam 1  periode time slot. Hasil simulasi menunjukkan sinyal referensi tipe short block menghasilkan perbaikan  sistem untuk user bergerak dengan kecepatan tinggi (150 km/jam)-dengan doppler spread besar (263,9  Hz),terutama pada block error rate. Sistem dengan Block Error Rate (BER) 10-2 dan modulasi 16QAM,  short block memberikan perbaikan ±2 dB dibandingakan long block, sedangkan dengan level modulasi  lebih rendah-QPSK, short block hanya memberikan perbaikan ±1 dB dibandingkan long block. Dengan  periode kemunculan yang lebih sering dalam 1 periode time slot, tipe short code memberikan informasi  umpan balik kondisi kanal lebih sering

    Kinerja Precoding pada Downlink MU-MIMO

    Get PDF
    Multiuser pada downlink MU MIMO mengakibatkan multiuser interference (MUI). Precoding linier merupakan salah satu bagian dari sistem transmiter untuk mengatasi MUI tersebut. Pengurangan MUI melalui pemilihan matrik precoding yang orthogonal untuk user 1 dengan user lainnya. Penerapan precoding mensyaratkan informasi channel state indicator ditransmiter yang didapat dari feedback yang dikirim user. Informasi CSI yang didapat akan memberikan informasi mengenai kondisi kanal saat itu, Selain itu, CSI melalui informasi MCS akan memberikan level modulasi dan coding yang optimal untuk menghasilkan kapasitas yang optimal. Linier precoding meningkatkan kinerja bit error rate dan menaikan kapasitas sistem. MMSE menghasilkan kinerja dan kapasitas terbaik dibanding BD dan SO. MMSE dengan BER 10 -4 menghasilkan precoding gaining ± 1,5 dB terhadap BD dan ± 2,3 dB terhadap SO. Untuk SNR 8 dB, MMSE menghasilkan kapasitas ± 7,5 b/Hz/s
    corecore