1,721,031 research outputs found

    Penambahan Tepung Pare (Momordica Charantia L) Pada Pakan Ruminansia Dan Efeknya Terhadap Kecernaan Dan Produksi Gas Secara In Vitro.

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efek dari penambahan tepung pare (Momordica charantia L) pada pakan ternak ruminansia terhadap kecernaan pakan dan produksi gas fermentasi secara in vitro. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan (5x3). P1= Kontrol (60:40, Hijauan:Konsentrat); P2= Kontrol + 2% Tepung Pare; P3= Kontrol + 4% Tepung Pare; P4= Kontrol + 6% Tepung Pare; P5= Kontrol + 8% Tepung Pare. Peubah yang diamati adalah produksi gas, kinetika gas, pengukuran NH3, pengkuran kecernaan bahan kering (KBK) dan kecernaan bahan organik (KBO). Hasil penelitian menunjukan penambahan tepung pare (Momordica charantia L) pada pakan ruminansia tidak mampu meningkatkan nilai kecernaan pakan, akan tetapi memberikan pengaruh terhadap produksi gas in vitro 24 jam. Pada kinetika produksi gas, produksi gas in vitro pada jam ke-24 sudah menghasilkan rata-rata lebih dari 65% dari total gas pada 72 jam, diikuti dengan laju produksi gas yang semakin menurun. Sedangkan pada pengujian konsentrasi amonia (NH3), penambahan tepung pare (Momordica charantia L) dapat menurunkan nilai konsentrasi amonia (NH3) yang optimal pada level penambahan 2%, dan meningkatkan nilai konsentrasi amonia pada 6% penambahan

    Evaluasi Produktivitas Tanaman Sorghum (Sorghum bicolor) Varietas Numbu Terhadap Pemberian Vermikompos dan Cacing Tanah Eisenia foetida

    No full text
    Vermicompost is organic fertilizer which is created by worm contribution. Vermicompost can increase hara content that needed by plant to grow. This study was conducted to evaluate productivity of Sorghum bicolor (L.) Moench by adding vermicompost and worm Eisenia foetida in different level. The measured parameters in this study were plant height, amount of leaves, as fed weight, dry matter weight and nutrient quality that composed by N (Nitrogen), P (Phospor), and K (Potasium). The study was arranged by factorial completely randomized design 3x3 with 3 replications. The first factor was vermicompost addition level 0%, 12.5% and 25%, the second factor was Eisenia foetida worm addition level 0, 16 and 32 heads. The result showed that by 25% vermicompost adding, it increased productivity and nutrient quality of Sorghum bicolor plant (P<0.05). On the other hand, the addition of Eisenia foetida worm affected the vertical height of plants but it did not influence nutrient quality of Sorghum bicolor plan

    Evaluasi Penggunaan Cacing Eisenia foetida dan Frekuensi Pemberian Pupuk Kandang terhadap Produktivitas dan Kualitas Tanaman Legum Clitoria ternatea.

    No full text
    Legum adalah jenis hijauan yang mempunyai kandungan protein kasar sebesar 10.5%-25.5%. Produktivitas legum akan lebih baik jika diberikan unsur hara dari bahan organik dengan penambahan cacing yang berperan dalam penguraian bahan organik tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan Clitoria ternatea dengan penambahan cacing Eisenia foetida dan feces sapi pada fase vegetatif tanaman. penelitian ini menganalisis produksi tanaman seperti akar, daun, dan batang, serta unsur nutrisi seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Penelitian ini menggunakan model rancangan acak lengkap faktorial yaitu 2 x 4 dengan 3 ulangan, terdapat 2 tanaman C. ternatea yang ditanam di dalam pot, menggunakan feses sapi masing-masing dengan jumlah yang sama sebesar 1.500 g dengan pembagian waktu 1, 2, 3 dan 4 kali. Hasil yang ditunjukkan dalam reaksi pada tanaman cacing E. foetida dan aplikasi waktu feses sapi pada C. ternatea hanya berpengaruh (P<0.05) terhadap produktivitas akar pada berat segar dan berat kering

    Identifikasi Jenis Hijauan Makanan Ternak di Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Sapi Perah Kecamatan Cibungbulang dan Pamijahan Kabupaten Bogor

    No full text
    KUNAK is a dairy farm area which located at Cibungbulang and Pamijahan district, Bogor regency, it was built on 1995. The aim of this research was to identify types of forage of areas in KUNAK diversity analysis, and identification of its crude fiber and crude protein. This research used ArcGis application, descriptive analysis, proximate analysis, botanical composition analysis, and vegetation analysis. The result of botanical composition in KUNAK 1 is Ottochloa nodosa (Kunth) 11.83 %, Brachiaria ruziziensis Mez. 10.34 % and Pennisetum purpureum Schum. 8.88 %, while in KUNAK 2 Pennisetum purpureum Schum. 14.24 %, Ottochloa nodosa (Kunth) 13.37 % and Eleusine indica L. Gaertn 7.40 %. Based on vegetation analysis, vegetation diversity in KUNAK 1 and 2 were clasified as medium. The result of proximate analysis, crude protein (CP) and crude fiber (CF) Ottochloa nodosa (Kunth) were 9.1 % and 28.4 %, Brachiaria ruziziensis Mez. 7.4 % and 25.4 % and Pennisetum purpureum Schum. 8.6 % and 30.7 %

    Potensi Hijauan Lokal Pesisir Pantai bagi Ternak Ruminansia di Desa Mangunlegi Kecamatan Batangan Kabupaten Pati

    No full text
    Coastal area has many grass species diversity which can be used as feed for ruminant livestock. The result of botanical composition analysis by “dry weight rank” method showed that the coastal zone was dominated by Panicum repens L. (45.46%), the embankment zone was dominated by Cynodon dactylon L. Pers. (30.28%), the rice-field zone was dominated by Cynodon dactylon L. Pers. (35.17%), and the residential zone was dominated by Cynodon dactylon L. Pers. (23.60%). The forage production in Mangunlegi village (except the embankment zone) was 793.64 ton of dry matter per year. This forage production could fulfill 345.68 livestock unit. However the forage production of embankment zone was 96.34 ton of dry matter per year. This forage production could fulfill 41.96 livestock unit. The value of increment capacity of ruminant livestock population (KPPTR) effectively showed that Mangunlegi village can hold the population up to 202.14 livestock units

    Pengaruh Pemberian Dolomit terhadap Produktivitas dan Kualitas Rumput Raja dan Rumput Taiwan pada Tanah Latosol Ciampea-Bogor

    No full text
    Providing of feed plays an important role on a farm and holds 60%-70% on production costs. Farmers take effort to provide feed for their farm, as example on Ciampea. Ciampea has acidic soil. That is called latosol soil. Latosol is acidic soil, poor nutrient contents, and can be toxic if it contents high Al and Fe. The method for recondition the soil is by application of limestone (dolomite). Dolomite [CaMg(CO3)2] is limestone containing calcium and magnesium. This research aimed to determine and to compare the effect of applying three level dolomite to productivity and quality of king grass and Taiwan grass on latosol soil. The design of the experiment was Complete Randomized Design (CRD) with factorial pattern (2 x 3) and three replications. Factor 1 is grass types: king grass and taiwan grass and factor 2 is level of dolomite: 0 ton/ha (D0), 12.5 tons/ha (D1), and 25 tons/ha (D3). The data were analyzed by using SPSS 16. The results showed that interaction between types of grass and dolomite were significantly affected the productivity and the quality (P<0.01) of grass. King grasss has the highest productivity and magnesium. Taiwan grass has the highest vertical height and calcium. Moreover, applying dolomite significantly affected the productivity and the quality of king grass and Taiwan grass.Penyediaan pakan berperan penting dalam usaha peternakan dan memegang 60%-70% untuk biaya produksi. Beberapa peternakan berusaha untuk menyediakan pakan sendiri bagi peternakannya, seperti di daerah Ciampea. Ciampea dengan kondisi tanah pada umumnya bersifat masam. Tanah jenis ini digolongkan tanah latosol. Tanah latosol merupakan tanah yang bersifat masam, miskin unsur hara, dan dapat bersifat racun bagi tanaman jika mengandung aluminium dan besi yang tinggi. Salah satu cara untuk memperbaiki sifat tanah latosol adalah dengan pengapuran. Pengapuran merupakan penambahan senyawa yang mengandung kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) ke dalam tanah sehingga mampu mengurangi kemasaman tanah. Kapur yang umum digunakan berupa dolomit. Dolomit (CaMg(CO3)2) merupakan kapur yang mengandung Ca dan Mg yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan pengaruh pemberian dolomit pada tanah latosol terhadap produktivitas dan kualitas rumput raja dengan rumput taiwan. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) berpola faktorial 2 x 3 dengan 3 ulangan

    Geographical information system application to see forage requirement and land use at ranch business area’s dairy cattle of Bogor's Regency

    No full text
    Geographic Information Systems (GIS) can serve as a platform to link data sets and models based on locations and spatial relationships. The benefits of this research will enhance the capability of GIS as a platform of information integration for management forage supply and land use system at ranch business area (Kunak) of Bogor’s Regency, West Java. The research was done at Kunak Bogor's Regency dairy cattle as extensive as 94.41 ha that consist of Kunak I and Kunak II. The method that is observation and interview sheet as GIS layer to record data management system (forage requirement, livestock’s population, milk production, and feed supplement that is given at Kunak). Identification of forage availability was used to calculate and identify agricultural waste. The result of this research was on the form of maps as a basic of information for various purposes (such as forage and feed resources development). Moreover, it was also found there were a shortage of forage supply, a change of dairy cattle population composition, and an increasing of milk production. Based an calculation, forage requirement for 7,800 animal unit can be supplied either by utilization of agricultural waste from surrounding area (Cibungbulang’s district and Pamijahan’s district) or by land extencivication of forage planting from an area of 101.5 ha.Penelitian ini bertujuan sebagai informasi dasar pendukung usaha peternakan sapi perah yang menjadi dasar pengembangan hijauan pakan ternak dan sumber informasi pakan di Kunak, Kabupaten Bogor. Lokasi yang menjadi objek penelitian adalah Kunak sapi perah Kabupaten Bogor seluas 94,41 ha yang berada dalam dua wilayah yaitu Kunak I terletak di lokasi Gunung Sarengseng, Kecamatan Cibungbulang, seluas 52,43 ha terdiri dari 98 kavling dan Kunak II di Gunung Geulis, Kecamatan Pamijahan, seluas 41,98 ha terdiri dari 83 kavling. Lokasi Kunak berada antara 06°37’046”LS - 06°38’180”LS dan 106°38’545”BT - 106°39’544”BT dengan ketinggian 350,7 – 451,3 mdpl dan suhu antara 20-28°C serta curah hujan rata-rata 2400 mm/tahun. Metode yang digunakan yaitu peta dasar Kunak sebagai informasi dasar, observasi lapang sebagai verifikasi peta dasar, wawancara sebagai sumber data primer yang diinginkan dalam bentuk kuisioner, dan terakhir pembuatan GIS layer untuk mengolah data yang sudah didapat agar dapat ditampilkan ke dalam bentuk peta. Hasil yang ditampilkan dalam bentuk peta yaitu kebutuhan hijauan makanan ternak (HMT), populasi ternak, produksi susu, dan pakan tambahan yang diberikan di Kunak. Identifikasi tingkat ketersediaan HMT digunakan untuk perhitungan daya dukung limbah pertanian di sekitar lokasi Kunak. Kondisi peternakan Kunak mengalami defisit HMT sebesar 69,51 ton tiap harinya, kekurangan ini disiasati dengan penambahan jerami/daun jagung/limbah pasar dan secara berkala mencari rumput lapang (antara lain Panicum maximum, Eleusine indica, dan Axonopus compressus) di desa-desa sekitar. Populasi per November 2011 sebanyak 2.745 ekor dengan total sapi betina laktasi sebanyak 10.086 ekor (43,96%) dan total jantan dewasa sebanyak 92 ekor (3,76%), sedangkan ternak ruminansia lain sebanyak 261 ekor (9,54%) dari total populasi ternak ruminansia pada 114 peternak di Kunak. Produksi susu harian per November 2011 sebesar 10.427 liter susu dengan rata-rata sebesar 9,6 liter/ekor/hari. Sebanyak 73,68% kebutuhan konsentrat dipenuhi oleh KPS Bogor, sisanya sebesar 18,42% dari luar KPS (Cibinong, Jakarta, dan Bandung) dan 7,90% pakan diolah secara mandiri. Penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat memberikan informasi berdasarkan hasil analisa informasi yang didapat. Kebutuhan HMT di Kunak dapat tercukupi dengan cara ekstensifikasi lahan seluas 101,5 ha disekitar lokasi dan atau pemanfaatan limbah pertanian masyarakat di Kecamatan Cibungbulang dan Kecamatan Pamijahan dengan daya dukung limbah pertanian mencapai 7.800 ST

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore