1,720,965 research outputs found
PENINGKATAN KAPASITAS IBU DALAM DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN STUNTING DI KAMPUNG PINTARENG KECAMATAN TABUKAN SELATAN TENGGARA
Salah satu intervensi bidang kesehatan untuk menurunkan prevalensi stunting di Indonesia adalah dengan intervensi gizi spesifik. Di antaranya dengan memberikan edukasi kepada Ibu yang memiliki balita terkait stunting. Strategi ini dapat diperkuat melalui peran perguruan tinggi dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Ibu dalam deteksi dini dan pencegahan stunting. Semua anak balita dari Ibu yang menjadi sasaran penyuluhan mendapatkan makanan tambahan berupa susu dan biskuit. Kegiatan pengabdian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pintareng pada Maret-Agustus 2021. Metode yang dilakukan dalam pengabdian ini adalah memberikan penyuluhan kepada Ibu yang memiliki balita tertkait stunting dan deteksi dini stunting. Penyuluhan dilakukan dari rumah ke rumah dengan menerapkan protokol kesehatan yang baik. Dengan meningkatnya pengetahuan Ibu maka diharapkan dapat menjadi salah satu upaya menurunkan prevalensi stunting di wilayah kerja Puskesmas Pintareng. Selain penyuluhan dilakukan juga pemberian makanan tambahan berupa susu dan biscuit. Hasil kegiatan ditemukan bahwa terdapat 7 orang anak stunting sementara 3 orang lainnya masuk kategori normal. Berdasarkan wawancara terdapat faktor risiko stunting pada anak diantanya faktor ekonomi, faktor pengasuhan yang kurang baik, anak sering sakit infeksi, dan anak tidak mau makan. Sebanyak 10 orang Ibu dan 1 orang petugas kesehatan mendapatkan penyuluhan terkait stunting dan deteksi dini stunting. Sebelum dilakukan penyuluhan, mayoritas tingkat pengetahuan ibu masih kurang (90 persen) dan hanya 1 orang Ibu (1 persen) yang memiliki pengetahuan baik terkait stunting. Setelah penyuluhan, pengetahuan ibu menjadi meningkat meskipun pengukurannya dilakukan secara kualitatif (wawancara) dengan demikian kapasitas Ibu dalam deteksi dini stunting juga semakin meningkat. Proses pendidikan kesehatan merupakan proses yang harus dilakukan secara terus menerus sehingga disarankan kepada Puskesmas untuk menyisipkan kegiatan penyuluhan terkait stunting dalam posyandu rutin.
One of the interventions in the health sector to reduce the prevalence of stunting in Indonesia is specific nutrition interventions. Among them by providing education to mothers who have toddlers who stunting. This strategy can be strengthened through the role of universities in community service activities. Therefore, this activity aims to increase the capacity of mothers in the early detection and prevention of stunting. All children under five from mothers who were the target of counseling received additional food in the form of milk and biscuits. Service activities are carried out in the work area of the Pintareng Health Center. The method used is to provide counseling to mothers who have toddlers related to stunting and early detection of stunting. Counseling is carried out from door to door by implementing good health protocols. With the good knowledge of mothers, it is hoped that it can be one of the efforts to reduce the prevalence of stunting in the Pintareng Health Center. In addition to counseling, additional food was also provided in the form of milk and biscuits. The results of the activity found that there were 7 stunting children while 3 others were in the normal category. Based on interviews, there are risk factors for stunting in children including economic factors, poor parents, children often getting infections, and children don't want to eat. A total of 10 mothers and 1 health worker received counseling related to stunting and early detection of stunting. Before the counseling was carried out, the majority of mothers' knowledge levels were still lacking (90 percent) and only 1 mother (1 percent) had good knowledge regarding stunting. After counseling, the mother's knowledge increased even though the measurement was done qualitatively (interview). The process of health education is a process that must be carried out continuously so it is recommended to the Puskesmas to insert the outreach activities in Health Center
PEMBERDAYAAN PERILAKU MEMBUANG SAMPAH DAN PENGGUNAAN SAMPAH PLASTIK DI KAMPUNG BARANGKA KECAMATAN MANGANITU
Berdasarkan data yang disampaikan oleh Meteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menyebutkan bahwa timbunan sampah di Indonesia tahun 2020 mencapai 67,8 ton. Pertumbuhan jumlah penduduk juga diperkirakan akan membuat jumlah ini terus meningkat. Sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun 3,2 ton yang dibuang ke laut dan yang dibuang dilingkungan sebanyak 10 miliar lembar sampah pertahun atau sebanyak 85.000 per tahun. Permasalahan sampah yang begitu kompleks disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan, disebabkan karena kurangnya informasi yang diterima, ditunjang dengan bagaimana masyarakat bersikap dan bertindak. Berdasarkan survey masyarakat pesisir pantai Kampung Barangka mempunyai kebiasaan membuang sampah di pantai. Tujuan penelitian ingin mengetahui Perilaku Masyarakat dalam Membuang Sampah di Pesisir Pantai Kampung Barangka Kecamatan Manganitu Kabupaten Kepulauan Sangihe. Jenis penelitian deskriptif metode survey. Hasil penelitian masyarakat pesisir pantai Kampung barangka berpengetahuan baik, bersikap baik namun bertindak kurang baik dalam melakukan perilaku hidup bersih sehat.
Based on data submitted by the Ministry of Environment and Forestry (LHK) it is stated that the landfill in Indonesia in 2020 reached 67.8 tons. Population growth is also expected to make this number continue to increase. Plastic waste in Indonesia reaches 64 million tons per year, 3.2 tons are dumped into the sea and 10 billion pieces of waste are thrown into the environment per year, or as much as 85,000 per year. The problem of waste is so complex due to a lack of public knowledge about the importance of environmental hygiene and health, due to the lack of information received, supported by how people behave and act. Based on a survey, the coastal community of Barangka Village has a habit of throwing garbage on the beach. The purpose of the study was to find out about Community Behavior in Disposing of Garbage on the Coastal Coast of Barangka Village, Manganitu District, Sangihe Islands Regency. This type of research is the descriptive survey method. The results of the research of the coastal community of Barangka Village have good knowledge, and behave well but act poorly in carrying out clean and healthy living behavior
PERAN KELUARGA DALAM MELAKSANAKAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI RT V KELURAHAN SOATALOARA II KECAMATAN TAHUNA
Upaya untuk mengubah perilaku masyarakat agar mendukung peningkatan derajad kesehatan dilakukan melalui program pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Indeks resiko dalam rumah tangga yaitu: persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan 90 persen, ASI ekslusif 42 persen, penimban ganbalita 95 persen, menggunakan air bersih 89 persen, mencuci tangan dengan sabun 80 persen, menggunakan jamban sehat 79 persen, memberantas jentik nyamuk dirumah 40 persen, konsumsi sayur dan buah tiap hari 50 persen, melakukan aktivitas fisik setiap hari 30 persen, dan tidak merokok dalam rumah 35 persen (Dinas KesehatanKabupatenSangihe, 2012).Tujuan penelitiaan ini adalah untuk mendapatkan gaambaran Peran keluarga dalam melaksanakan PHBS di RT V Kelurahan Soataloara II Kec. Tahuna. Hasil penelitian keluarga yang mempunyai bayi dan balita cukup berperan 73,91 persen dalam melaksanakan PHBS dan keluarga yang tidak mempunyai bayi dan anak balita cukup berperan 45,24 persen
PEMBERDAYAAN PERILAKU MEMBUANG SAMPAH DAN PENGGUNAAN SAMPAH PLASTIK DI KAMPUNG BEENG LAUT KECAMATAN TABUKAN SELATAN TENGAH
Pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam penanganan masalah sampah diwujudkan dengan adanya peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah yang ada di desa-desa. Budaya lama membakar dan membuang sampah ke selokan dan sungai serta laut menunjukkan bahwa setiap upaya untuk membersihkan lingkungan membutuhkan perubahan besar dalam pola pikir masyarakat. Perilaku membuang sampah pada tempat sampah dan penggunaan ulang sampah plastik mengurangi persentase sampah berdasar jenis di Kepulauan Sangihe. PKMS ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat tentang perilaku membuang sampah, memanfaatkan limbah wadah minuman plastik dan pembuatan tempat sampah. Metode yang digunakan berupa penyuluhan, demonstrasi dan kerja bakti. Hasil dari Program Kemitraan Masyarakat Stimulus berupa penyuluhan tentang penanganan dan pengolahan sampah, penyuluhan penanganan Covid 19, pembuatan keranjang sampah dari gelas aqua serta pembuatan tempat sampah. Kegiatan PKMS di Kampung Beng Laut terlaksana dengan baik, dengan harapan masyarakat membuang sampah di tempat sampah yang telah disiapkan dan menggunakan kembali sampah plastik untuk menjadi barang yang bernilai.
Community empowerment in handling waste problems is realized through community participation in waste management in the villages. The old culture of throwing trash into rivers and seas shows that any attempt to clean up the environment requires a major change in people mindsets. Behavior of throwing trash and reuse plastic and reduces the percentage of trash by type in the Sangihe Islands. Those PKMS aim to empower the people in Beng Laut about throw of plastics trash, used of plastics drink glass waste and make trash can. The method used were form of counseling, demonstrations and community service. The results of the Stimulus Community Partnership Program were form of counseling on waste handling and processing, counseling on handling Covid 19, make of baskets trash from aqua glass plastics and trash bins. PKMS activities in village Beng Laut going smoothly, hope that people could throwing trash in garbage and make use of plastics trash are become goods value
PEMBINAAN KESEHATAN LANSIA DI GMIST JEMAAT ZAITUN PAGHULU KARATUNG I KECAMATAN MANGANITU KABUPATEN SANGIHE
Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan melambat, dan figur tubuh yang tidak proporsional (Nugroho, 2008). Pembinaan kesehatan lansia sangat penting dilaksanakan oleh petugas kesehatan. Pembinaan kesehatan lansia meliputi penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan. Pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam masyarakat. Metode pelaksanaan yang diterapkan adalah tahap persiapan, tahap pelaksanaan. Tahapan persiapan dilakukan sebelum kegiatan PKMS. Tahapan pelaksanaan meliputi tahapan penyuluhan kesehatan, tahapan pemeriksaan dan konseling. Hasil pengabdian kepada masyarakat menunjukkan bahwa jumlah lansia yang memeriksakan kesehatan di Posyandu lansia berjumlah 37 orang (berumur lebih dari 60 tahun). Lansia yang mengalami hipertensi berjumlah 23 orang atau 62,16 persen, mengalami peningkatan gula darah sejumlah 10 orang atau 22.72 persen, mengalami peningkatan asam urat berjumlah 12 orang atau 27.27 persen. Kesimpulan pengabdian kepada masyarakat menunjukkan bahwa proses sosialisasi terlaksana dengan baik, lansia memahami materi penyuluhan kesehatan dan mengetahui hasil pemeriksaan kesehatan sehingga lansia dapat merubah pola hidup mereka supaya lebih sehat dan bahagia.
Entering old age means experiencing physical setbacks, such as sagging skin, graying hair, toothless experiencing, unclear hearing, poor vision, slowing movements, and unproportional body figures. Elderly health development is very important to be carried out by health workers. Elderly health development includes health education and health checks. Community service aims to improve the degree of health and quality of life to achieve a happy and useful old age in family and community life in accordance with its existence in the community. The implementation method applied is the preparation phase, the implementation phase. The preparatory stages are carried out before the PKMS activities. The stages of implementation include the stages of health education, examination and counseling stages. The results of community service show that the number of elderly people who get health checks at the Posyandu for the elderly is 37 elderly people (more than 60 years). Elderly who have hypertension are 23 people or 62, 16 percent, have an increase in blood sugar of 10 people or 22.72 percent, have an increase in urid acid of 12 people or 27.27 percent. Conclusion of community service shows that the socialization process is carried out well, the elderly understand the health counseling material and know the results of health checks so that the elderly can change their lifestyle to be healthier and happier
PERAN KADER POS PELAYANAN TERPADU (POSYANDU) TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MANGANITU KABUPATEN SANGIHE
Keberhasilan akan pelaksanaan pembangunan kesehatan masyarakat tidak bisa lepas dari berbagai dukungan dan peran aktif yang dilakukan oleh seluruh masyarakat. Dalam hal ini peran yang besar adalah peran kader posyandu yang secara langsung berhadapan dengan berbagai permasalahan kemasyarakatan termasuk masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. Kecamatan Manganitu merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe Propinsi Sulawesi Utara yang pembangunan kesehatannya tidak seperti yang diharapkan. Masyarakatnya tidak begitu tahu tentang bagaimana cara mencegah penyakit dimana masih banyak masyarakat yang tidak berolahraga dengan rutin dan teratur, banyaknya masyarakat yang merokok, dan membuang sampah tidak pada tempatnya. Hal ini juga dikarenakan kurangnya upaya yang nyata dan realistis dari seorang kader kesehatan untuk mengajak masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat. Tujuan Penelitian untuk mengetahui peran kader Posyandu tentang PHBS di Wilayah Kerja Puskesmas Manganitu Kabupaten Kepulauan Sangihe. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskritif dengan menggunakan metode survey. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh kader posyandu yang berada di Kecamatan Manganitu sebanyak 100 orang. Sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling.Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Data diolah dengan menggunakan Microsof Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran kader mengajak masyarakat dalam persalinan ditolong oleh nakes 87 persen, Bayi di beri ASI eksklusif 86 persen, Menimbang bayi dan balita setiap bulan 90 persen, Menggunakan air bersih 59 persen, mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir 53 persen, menggunakan jamban sehat 72 persen, memberantas jentik di rumah 38 persen, makan buah dan sayur setiap hari 90 persen, melakukan aktivitas fisik 67 persen, tidak merokok dalam rumah 79 persen. Berdasarkan hasil penelitian ini maka sebagian besar peran kader Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Manganitu adalah menimbang bayi dan balita setiap bulan (90 persen). Saran lebih melakukan pencatatan dan pelaporan PHBS sehingga dapat diketahui rumah tangga mana saja yang tidak menerapkan PHBS. Selanjutnya kader dan masyarakat melakukan kegiatan-kegiatan yang mendukung terwujudnya PHBS dan tidak hanya menitikberatkan satu indicator saja
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DALAM PENINGKATAN PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT DI LEHUPU KECAMATAN TABUKAN SELATAN TENGAH KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Salah satu cara mengatasi masalah sampah adalah dengan membuat tempat penampungan sampah sementara (TPS) atau tempat penampungan akhir (TPA). Hal ini diharapkan agar dapat mengurangi volume sampah dan masalah sampah yang mengaibatkkan dampak lingkungan kesehatan pada masyarakat pesisir dan laut serta mempermudah manajemen pengelolaan sampah. Berdasarkan data dari mahasiswa KKL Politeknik Negeri Nusa Utara di Kampung Lehupu Kecamatan Tabukan Selatan Tengah Tahun Akademik 2019/2020 ada 30 rumah 34 persen yang membuang sampah di laut dengan menenggelamkannya ke dasar laut dan 25 rumah (29 persen) dibakar, 21 rumah (24 persen) di buang sembarang, 10 rumah (12 persen) dibuang di kebun dan hanya 1 rumah yang menggali lubang untuk membuang sampah. Berdasarkan latar belakang masalah, tim pengabdi telah melakukan pengabdian tentang “PKMS Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Dalam Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih Sehat Melalui Pembuatan Tempat Pembuangan Sampah. Kegiatan dilaksanakan di Kampung Lehupu Kecamatan Tabukan Selatan Tengah Kabupaten Kepulauan Sangihe pada Juni-Agustus 2021. Tahapan kegiatan pengabdian diawali dengan melakukan penyuluhan tentang pengelolaan sampah rumah tangga, pandemi COVID-19, vaksinasi COVID-19 dan pemberian bantuan 3 sak semen dan cat guna pembuatan tempat sampah dengan tujuan agar masyarakat tidak lagi membuang sampah di laut tapi membuang sampah di tempat sampah yang tersedia. Pembuatan tempat sampah dilakukan oleh masyarakat secara suka rela dan bergotong royong. Adanya kegiatan yang sama dan berkelanjutan sangat diharapkan agar perilaku membuang sampah pada tempatnya menetap pada masyarakat Lehupu.
One way to overcome the waste problem is to create a temporary waste shelter (TPS) or final shelter (TPA). This is expected to reduce the volume of waste and waste problems that cause environmental health impacts on coastal and marine communities and facilitate waste management. Based on data from KKL (Community Service Program) at the State Polytechnic of North Nusa in Lehupu Village, South Tabukan District, Middle of the Academic Year 2019/2020, there were 30 houses, 34 percent of which were thrown garbage in the sea in sinking it into the seabed and 25 houses (29 percent) were burned, 21 houses (24 percent) ) was thrown away, 10 houses (12 percent) were dumped in the garden and only 1 house dug a hole to dispose of garbage. Based on the background of the problem, the service team has done service on "PKMS for Empowering Coastal Communities in Improving Clean and Healthy Life Behaviors through the Construction of a Garbage Disposal Site”. The activity was carried out in Lehupu Village, South Central Tabukan District, Sangihe Islands Regency in June-August 2021. The stages of service activities begin with conducting counseling on household waste management, the COVID-19 pandemic, and COVID-19 vaccination, and providing assistance with 3 bags of cement and paint for making trash cans with the aim that people no longer throw garbage in the sea but throw garbage in the trash. which is available. The construction of garbage dumb is carried out by the community voluntarily and by working together. The existence of the same and sustainable activities is highly recommended so that the behavior of disposing of waste in its place remains in the Lehupu community
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
