1,720,966 research outputs found
Horizon Kajian Al-Quran : Pendekatan dan Metode
Buku ini menjelaskan beberapa pendekatan tafsir tematik yang meliputi interpretasi inter-relationship, interpretasi alquran dengan hadis, interpretasi linguistik, interpretasi sosio-historis, interpretasi teleologis (qawaid fiqhiyyah), interpretasi teologis (kalam), interpretasi ilmiah (kultural).
Tafsir tematik mempunyai tiga cara penentuan tema yaitu ditentukan berdasarkan masalah, dipahami secara implisit, dan dipahami secara eksplisit. Penentuan tema secara implisit ini membutuhkan ijtihad, karena tema atau permasalahan harus dipahami terlebih dahulu dari apa yang dikandung oleh ayat yang terkait
Wawasan al-Qur'an tentang al-Nasr : suatu kajian tafsir tematik dengan pendekatan historis
Wawasan Al-Qur’an tentang al-Tasbīḥ
Masalah pokok yang muncul dari judul ”Wawasan Al-Qur’an tentang al-Tasbīḥ” adalah bagaimana rumusan-rumusan Al-Qur’an tentang al-tasbīḥ? Dari permasalahan pokok dijabarkan dalam bentuk sub masalah yaitu: 1) Bagaimana hakekat dan esensi al-tasbīḥ dalam al-Qur’an. 2) Bagaimana wujudal-tasbīḥ. 3) Apa urgensial-tasbīḥ bagi kehidupan manusia.
Untuk menjawab masalah di atas, maka digunakan metode pendekatan ilmu tafsir, dan metode tafsir mauḍū‘ī. Dalam pengolahan data digunakan teknik analisis isi (content analysis), dan untuk menafsirkan ayat-ayat menggunakan beberapa teknik interpretasi yaitu; interpretasi tekstual, linguistik, sistimatis, sosio historis, kultural, logis, dan ganda.
Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwadari 92 kali dalam 87 ayat dan49 surah penyebutan kata al-tasbīḥ dengan segala derivasinya dalam al-Qur’an ditemukan bahwa hakekat al-tasbīḥ adalah pengagungan Allah dan pengakuankelemahan diri yang diimplementasikan dalam bentuk penghambaan dan menghinakan diri di hadapan Allah swt. karena kecintaan kepada-Nya, dengan sarana yang dipakai berupa salat, zikir dan doa dalam bentuk perkataan, perbuatan dankeyakinan hati, sekalipun tidak menyertakan kalimat subḥānallāh. Atas pemaknaan ini, maka esensi al-tasbīḥ adalah doa, sebab pengagungan Allah dan pengakuan kelemahan diri hakikatnya adalah permohonan agar kehendaknya bisa sesuai dengan yang dikehendaki dan diridai Allah dan ini adalah makna zikir yaitu bermohon dengan cara memuji-Nya (du‘ā al-ṡanā). Salat sendiri esensinya adalah doa seperti makna dasarnya. Sedangkan sari patinya ibadah adalah doa.
Adapun wujudal-tasbīḥ adalah ibadah seluruh makhluk yang tidak berujung. Hal ini dipahami dari; pertama, subyek al-tasbīḥ dalam al-Qur’an yang meliputiAllah sendiri, dan seluruh makhluk-Nya, baik dari malaikat, manusia, jin, dan seluruh makhluk hidup lainnya bahkan benda-benda yang tidak bernyawa sekalipun, serta penghuni surga kelak di akhirat. Kedua,Allah swt. menjadi satu-satunya objekal-tasbīḥ yang disebut al-Qur’an. Ketiga, waktu al-tasbīḥ yang disebutkan al-Qur’an adalah waktu pagi-sore dan siang-malam yang menunjukkan waktu secara keseluruhan. Urgensi al-tasbīḥ bagi kehidupan manusia adalah bisa mendatangkan kesabaran dan menghilangkan kesusahan, bisa menghadirkan kepuasan hati, dan sebagai bekal utama untuk menghadap Sang Khalik. Hal ini dikarenakan pelaku tasbih akan senantiasa diingat Allah swt. hatinya selalu gembira, senang dan tenteram, akan mendapatkan rahmat Allah di dunia dan di akhirat dan terbebas darikegelapan hidup, akan mendapatkan ampunan Allah dan pahala yang besar, dan pada akhirnya mengantarkan pelakunya mampu meraih rida dan surganya Allah swt.
Dari hasil penelitian tersebut di atas, menunjukkan bahwa konsepsi al-tasbīḥ dapat menjadi sarana pendidikan akhlak dalam hal ketidak bolehan seseorang mengkultuskan orang laindan untuk selalu berbaik sangka (ḥusn al-ẓann) kepadaAllah swt. dengankeadaan apapun yang dihadapinya. Pemahaman tentang konsepsial-tasbīḥ juga akan mampu menghilangkan konflik yang terjadi dalam masyarakat, mencegah perilaku korup dalam seluruh tataran kehidupan, serta kejahatan lainnya dan pada gilirannya akan menghantarkan kepada kehidupan yang tenteram
PENEGAKAN SYARI`AT ISLAM KAJIAN TEMATIK PADA FRASE IQAMATUDDIN DALAM Q.S. AL-SYURA/42: 13
Iqâmat al-dîn adalah penegakkan ajaran agama Islam, sebagai satu-satunya agama yang diturunkan Allah kepada seluruh nabi-Nya, yang mencaku seluruh aspek ajarannya, dengan memenuhi segala syarat-syaratnya, dan dilandasi dengan pengetahuan yang benar dan memadai serta keikhlasan, dan dilakukan secara terus-menerus oleh seluruh komponen masyarakat (baca: umat), terutama penguasa atau pemerintah, sehingga menjadi suatu ketetapan (kebiasaan) dalam diri pribadi dan masyarakat. Wujud Iqâmat al-dîn adalah mencakup segala aspek agama: aqidah, syari`ah dan akhlak, yang dalam pelaksanaannya menuntut peran aktif seluruh komponen umat, terutama waliy al-amr. Tujuan iqâmat al-dîn setidaknya bisa dirumuskan sebagai upaya meluruskan aqidah, menciptakan tatanan kehidupan yang baik dan benar, serta menciptakan kedamaian dan kerukunan hidup
ADAM AS. DALAM PRESPEKTIF HADIS Suatu Kajian Tematik Terhadap Hadis ‘Âdam Abû al-Basyar’
Keberadaan hadis sebagai penjelas al-Qur’an memiliki posisi yang tinggi. Karena itu, dalam upaya memahami al-Qur’an tidak boleh mengabaikan keberadaan hadis. Hadis tentang Adam sebagai abu al-basyar yang dikuatkan dengan redaksi lain abu al-khalq dan abu al-nas yang kesemuanya memiliki makna bapak manusia, menguatkan pandangan para mufassir yang menafsirkan ayat-ayat yang berbicara tentang manusia pertama adalah Adam as.Tulisan ini berupaya mendiskusikan kembali perbedaan pandangan tentang asal muasal manusia, yang berpijak pada kajian tematik hadis yang intinya membahas tentang hakekat Adam as., proses dan tujuan penciptaannya, serta implikasinya dalam kehidupan keseharian
METODE PENAFSIRAN SYEKH NAWAWI AL-BANTANI DALAM TAFSIR MARAH LABID
Tulisan ini membahas tenhtang Syekh Nawawi al-Bantânî dan Metode Penafsirannya pada karyanya Tafsir Marâh Labîd. Syekh Nawawi al-Bantânî adalah putera bangsa yang mendunia dengan karya-karyanya yang luar biasa dalam berbagai disiplin ilmu dan keilmuannya diakui oleh berbagai Negara dengan menjadi pengajar di Mesjid al-Haram dan mendapat pengakuan dari al-Azhar Kairo, serta karya-karya menjadi kajian pokok di berbagai pesantren di Indonesia. Metode penafsirannya adalah Ijmali dan pada banyak bagian Tahlili dengan memadukan antara bentuk bi al-ma`tsur dan bi al-ra’y. Dalam tafsirnya, beliau menggunakan berbagai pendekatan keilmuan seperti Aqidah, Ilmu Kalam, Fiqh, Tasawuf, dan lain-lain, hal ini dipengaruhi oleh keluasan ilmu beliau. Karena itu teknik interpretasi yang digunakan oleh Nawawi adalah teknik interpretasi tekstual, linguistik (kaidah-kaidah Bahasa), sosio-historis (asbab al-nuzul), teleologis (kaidah-kaidah fiqh), kultural (pengetahuan yang mapan), dan interpretasi logis
ADAM AS. DALAM PRESPEKTIF HADIS (Suatu Kajian Tematik Terhadap Hadis ‘Âdam Abû al-Basyar’)
Penelitian terhadap hadis tentang Adam as. sebagai Abu al-Basyar adalah pnelitian deskriptif dan kebenarannya ditemukan; bahwa setelah dilakukan penelitian, hadis tersebut memenuhi kriteria keshahihan hadis.Hakekat Adam sebagai manusia pertama yang diciptakan Allah bisa ditelusuri lewat pemaknaan kebahasaan dimana salah satu artinya adalah tanah sebagai bahan penciptaannya. Tiga term yang digunakan hadis untuk menunjukkan Adam sebagai bapak manusia abu al-basyar, abu al-nas, dan abu al-khalq menguatkan pemaknaan tersebut (Adam sebagai manusia pertama sekaligus Nabi pertama). Proses penciptaan Adam secara khusus dan manusia secara umum dari tanah telah banyak diungkap al-Qur’an dengan berbagai istilah thin, turab (tanah), thin lazib (tanah liat), shalshal (tanah liat kering), hama’ (lumpur hitam), dan sari pati tanah.Keempat, sejak awal Adam (manusia) telah direncanakan hidup di atas bumi, penempatannya di surga adalah ujian pertamanya yang merupakan bagian dari ujian-ujian hidup yang harus diemban sebagai khalifah di muka bumi. KeywordsAdam as., prespektif hadis, kajian tematik dan hadis ‘âdam abû al-basyar
MAKNA DAN FUNGSI TASBIH (Suatu Kajian Tafsir Tematik terhadap Term al-Tasbīḥ dalam al-Qur’an)
Tasbih merupakan “kegiatan” utama dalam kehidupan seorang muslim. Bukan sekedar mengucapkan kalimat subhanallah, namun jauh lebih dalam makna tasbih ternyata dapat dilihat dalam berbagai sisi, terutama melihatnya dari persebaran makna dan fungsinya dalam al-Quran. dalam penelitian ini akan menggunakan dan menjelaskan kosakata atau istilah al-tasbīḥ secara khusus. Adapun makna ragam makna tasbih dalam al-Quran ada lima pemaknaan: al-Shalah, al-zikr, al-Ibadah, al-du’a, al-istisna. Sedangkan fungsi dari tasbih terdiri dari, bisa Membuat Hati Gembira, Senang, dan Tenang (Tenteram), Mendatangkan Rahmat Allah, Terbebas dari Kegelapan Hidup, dan akan Mendatangkan Pahala di Dunia dan Akhirat, Sebagai Doa, dan Bisa Mendatangkan Rida Allah swt
PENEGAKAN SYARI`AT ISLAM KAJIAN TEMATIK PADA FRASE IQAMATUDDIN DALAM Q.S. AL-SYURA/42: 13
Iqâmat al-dîn adalah penegakkan ajaran agama Islam, sebagai satu-satunya agama yang diturunkan Allah kepada seluruh nabi-Nya, yang mencaku seluruh aspek ajarannya, dengan memenuhi segala syarat-syaratnya, dan dilandasi dengan pengetahuan yang benar dan memadai serta keikhlasan, dan dilakukan secara terus-menerus oleh seluruh komponen masyarakat (baca: umat), terutama penguasa atau pemerintah, sehingga menjadi suatu ketetapan (kebiasaan) dalam diri pribadi dan masyarakat. Wujud Iqâmat al-dîn adalah mencakup segala aspek agama: aqidah, syari`ah dan akhlak, yang dalam pelaksanaannya menuntut peran aktif seluruh komponen umat, terutama waliy al-amr. Tujuan iqâmat al-dîn setidaknya bisa dirumuskan sebagai upaya meluruskan aqidah, menciptakan tatanan kehidupan yang baik dan benar, serta menciptakan kedamaian dan kerukunan hidup
- …
