1,721,046 research outputs found
Proses Kreatif Pardiman Djoyonegoro dalam Kelompok Musik Sragam ABG di Yogyakarta
Proses kreatif seorang seniman merupakan tahapan-tahapan yang dilalui dalam menciptakan sebuah karya. Pardiman membentuk kelompok Sragam ABG berawal dari berbagai kegelisahan yang dirasakan mengenai perkembangan gamelan khususnyapada anak. Dari sebelum dan sesudah terbentuknya Sragam ABG Pardiman melewati tahapan-tahapan untuk menemukan metode pembelajaran dan konsep dalam Sragam ABG. Dalam Sragam ABG Pardiman juga telah melahirkan beberapa karya yang dimainkan oleh Sragam ABG dengan menuangkan kreativitasnya sebagai seniman. Penelitian ini dikerjakan dengan metode deskriptif analisis. Data yang didapat diolah dan dikaji, sehingga menghasilkan karya tulis mengenai proses kreatif Pardiman dalam Sragam ABG.
Kata kunci : proses, kreatif, Pardiman, dan Sragam AB
Karakter Cakil Versi Markus Pardiman dalam Wayang Wong Gaya Surakarta
Tulisan ini mengupas tentang “Karakter Cakil Versi Markus Pardiman Dalam Wayang Wong Gaya Surakarta”. Cakil dalam wayang wong merupakan salah satu tokoh raksasa yang menyerupai manusia, memiliki keunikan dalam memainkan gregel kedua tangan, dan secara umum berkarakter Lincah, Pemberani, dan Sombong.
Dalam hal ini peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis karakter. Penelitian ini menggunakan teori gerak dari buku Desmond Morris untuk mengupas karakter Cakil versi Markus Pardiman meliputi Expressive Gesture, Theatrical Mimicry, dan Baton Signal.
Hasil dalam penelitian ini dapat menunjukkan bahwa Pardiman memiliki ciri tersendiri dalam menunjukkan karakter Cakil yang dapat dilihat dari gerak yang dihadirkan, rias, busana, antawecana, dan pola lantai yang digunakan Pardiman untuk mewujudkan karakter Cakil dalam wayang wong gaya Surakarta.
Kata Kunci : Karakter Cakil, Wayang Wong, Markus Pardiman
Kreativitas Pardiman Djoyonegoro Dalam Mengenalkan Gamelan Kepada Anak-Anak Di Omah Cangkem Yogyakarta
Fokus pembahasan penelitian ini pada analisis, tujuan, proses, metode, dan faktor yang mempengaruhi penciptaan karya. Pembelajaran gamelan pada anak-anak melalui karya baru merupakan cara yang digunakan Pardiman untuk memaksimalkan keinginannya dalam melestarikan kebudayaan. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran yang dilakukan, antara lain dorongan pribadi, kondisi anak, dukungan keluarga dan lingkungan sosial seni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penciptaan karya Pardiman didorong oleh tiga hal, yaitu faktor dari dalam, faktor dari luar dan tujuan penciptaan. Metode atau proses penciptaan dimulai dari dorongan (rangsang awal), inspirasi, penuangan, dan pembentukan. Bentuk karya Pardiman terdiri dari karya baru yang tidak mengacu pada aturan yang ada dalam tradisi karawitan. Faktor yang mempengaruhi Pardiman dalam berkarya untuk anak-anak yaitu, teknik tabuhan, irama serta dinamika. Selanjutnya bentuk penyajian yang disajikan yaitu instrumental maupun karya musik. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis dengan mengumpulkan data melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk mendeskripsikan strategi dan kreativitas Pardiman dalam mengenalkan gamelan kepada anak-anak di Omah Cangkem Yogyakarta
Peran musik karawitan bagi kehidupan Pardiman Djoyonegoro dalam film dokumenter potret "Nabuh Rasa"
Penciptaan karya ini didasari oleh pengalaman empiris mengenal musik karawitan. Pada awalnya terbangun stigma mistis dalam memandang musik karawitan karena tidak pernah bersinggungan secara langsung. Namun perkenalan dengan Pardiman Djoyonegoro seorang seniman musik karawitan, menjadi kesempatan untuk merubah cara pandang dalam melihat musik karawitan. Kekaguman terhadap cara pandang Pardiman Djoyonegoro dalam memaknai musik karawitan menjadi latar belakang penciptaan film dokumenter Nabuh Rasa. Bentuk potret dalam film dokumenter bertujuan untuk mewadahi setiap cerita perjalanan kehidupan hingga pemikiran dari subjek mengenai musik karawitan. Metode ekspositori dipilih untuk memperkuat narasi – narasi yang disampaikan oleh subjek melalui ilustrasi – ilustrasi visual. Film dokumenter ini juga menggunakan struktur bertutur cerita secara tematis yang tujuannya untuk mengelompokkan cerita kedalam 3 segmentasi. Film dokumenter potret Nabuh Rasa dapat menampilkan perjalanan kehidupan seorang Pardiman Djoyonegoro dalam mengenal, berproses, hingga menemukan makna – makna dalam musik karawitan. Karya film dokumenter ini juga menjadi ruang apresiasi dan profil bagi Pardiman Djoyonegoro
Peran Musik Karawitan Bagi Kehidupan Pardiman Djoyonegoro Dalam Film Dokumenter Potret "Nabuh Rasa"
Penciptaan karya ini didasari oleh pengalaman empiris mengenal musik karawitan. Pada awalnya terbangun stigma mistis dalam memandang musik karawitan karena tidak pernah bersinggungan secara langsung. Namun perkenalan dengan Pardiman Djoyonegoro seorang seniman musik karawitan, menjadi kesempatan untuk merubah cara pandang dalam melihat musik karawitan. Kekaguman terhadap cara pandang Pardiman Djoyonegoro dalam memaknai musik karawitan menjadi latar belakang penciptaan film dokumenter Nabuh Rasa.
Bentuk potret dalam film dokumenter bertujuan untuk mewadahi setiap cerita perjalanan kehidupan hingga pemikiran dari subjek mengenai musik karawitan. Metode ekspositori dipilih untuk memperkuat narasi – narasi yang disampaikan oleh subjek melalui ilustrasi – ilustrasi visual. Film dokumenter ini juga menggunakan struktur bertutur cerita secara tematis yang tujuannya untuk mengelompokkan cerita kedalam 3 segmentasi.
Film dokumenter potret Nabuh Rasa dapat menampilkan perjalanan kehidupan seorang Pardiman Djoyonegoro dalam mengenal, berproses, hingga menemukan makna – makna dalam musik karawitan. Karya film dokumenter ini juga menjadi ruang apresiasi dan profil bagi Pardiman Djoyonegoro
Analisis karya Cokolokomok Suku Nga-Fredy man karya Pardiman melalui pendekatan
Karya musik Pardiman merupakan salah satu hasil proses kreatif dari eksplorasi terhadap segala unsur budaya yang dihasilkan oleh instrument yang juga terus berkembang inspirasi yang diperoleh diwujudkan dalam ide2 musikal dengan media suara manusia tanpa meninggalkan akr tradisi budaya khususnya tradisi musik Jawa sebagai latar belakang dan dasar utama dalam berkarya.Salah satu karya Pardiman yang berjudul "Cokolokomak Suku Nga-Fredy-Man" menjadi objek penelitian untuk mengetahui proses pembuatan karyua tersebut melalui pendekatan musikologis. Pendekatan tersebut membahas musik dalam kaitan unsur analisis musik, idiom musikal dan sosiolog
Pendekatan Unsur Karawitan dalam Cangkem Garden "Kancil Merawat Timun" Karya Pardiman Djoyonegoro
Skripsi dengan judul “Pendekatan Unsur Karawitan dalam Cangkem Garden Kancil Merawat Timun Karya Pardiman Djoyonegoro” bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses kreatif Pardiman dalam menggunakan dan mengolah unsur-unsur karawitan menjadi sebuah karya drama musikal Cangkem Garden Kancil Merawat Timun. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh upaya pelestarian budaya yang dibuat dengan konsep yang menyenangkan, serta kritik sosial dengan narasi cerita rakyat yang sering dimaknai negatif.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan diskografi. Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan penelitian berdasarkan data-data hasil dari wawancara. Hasil penelitian ini menemukan bahwa (1) proses penciptaan karya “Kancil Merawat Timun” melewati beberapa tahapan, yaitu Ide diangkat melalui proses moco roso, roco rogo, dan moco kahanan. Serta direalisasikan melalui praktik, evaluasi dan revisi; (2) bentuk dan struktur penyajian yang dibuat menyenangkan dengan menyesuaikan kemampuan anak-anak; (3) kolaborasi antara gamelan dan non gamelan digunakan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Alur pertunjukan yang dibuat membangun suasana yang komunikatif yang menyenangkan dengan cerita dan motif-motif garapan yang dibuat. Karya ini merupakan contoh pelestarian nilai-nilai lokal melalui pendekatan yang relevan dan beradaptasi dengan berkembangnya zaman
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
