41 research outputs found
EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN KIRINYUH (Chromolaena odorata L.) UNTUK MENEKAN PERTUMBUHAN JAMUR Colletotrichum capsici PENYEBAB PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA CABAI SECARA In-Vitro
Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas ekstrak daun kirinyuh (Chromolaena odorata L.) sebagai fungisida alami dalam megendalikan penyakit antraknosa yang disebabkan jamur Colletotrichum capsici pada buah cabai serta untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun kirinyuh (C. odorata L) yang terbaik untuk menghambat pertumbuhan C. capsici. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap satu factorial yang terdiri dari 6 perlakuan 3 kali ulangan. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0%; 0,1%; 0,2; 0,3%; 0,4% dan 0,5% sehingga total perlakuan sebanyak 18 unit perlakun. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji BNJ taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun kirinyuh pada konsentrasi 0,5% menunjukkan daya hambat yang lebih baik dalam mengendalikan penyakit antraknosa pada buah cabai secara in-vitro
UJI EFEKTIVITAS JAMUR Trichoderma harzianum TERHADAP CENDAWAN Sclerotium rolfsii PENYEBAB PENYAKIT REBAH SEMAI PADA TANAMAN TOMAT(Lycopersicum esculentum Mill.)
Tomat (Lycopersicon esculentum Miller) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Badan Pusat Statistik (2019) menunjukkan rata-rata produksi dan produktivitas tomat di Sulawesi Tengah menurun. Pada tahun 2017 produksi tomat mencapai 22,490 ton, akan tetapi pada tahun 2018 turun menadi 16,161 ton dan 16,516 ton pada tahun 2019. Produktivitas tomat dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya yaitu oleh penyakit tanaman. Salahsatu penyakit pada tanaman tomat adalah penyakit rebah yang disebabkan oleh jamur S. rolfsii. Penyakit rebah semai yang disebabkan oleh S. rolfsii merupakan sakah satu penyakit yang menyerang tanaman tomat pada masa persemaian, yang menyebabkan pembusukan pada persemaian atau pada tajuk tanaman muda.T. harzianum adalah jamur akar hijau yang bersifat antagonis pada beberapa jenis jamur dan serangga lainnya. Distribusi jenis jamur ini sangat luas dan terdapat pada hampir semua jenis tanah dan habitat alam lainnya, khususnya pada tempat-tempat yang mengandung bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk menenukan potensi T. harzianum dalam mengendalikan cendawan S. rolfsii penyebab penyakit rebah semai pada tanaman tomat. Manfaatnya yaitu untuk menjadi referensi bagi penelitian berikutnya dalam aplikasi T. harzianum dalam mengendalikan cendawan S. rolfsii penyebab penyakit rebah semai pada tanaman tomat dan mengurangi penggunaan pestisida kimia dalam mengendalikan cendawan S. rolfsii tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu. Mulai bulan November 2020 sampai bulan Februari 2021. Variabel pengamatannya yaitu Masa Inkubasi Cendawan S. rolfsii dan kejadian penyakit. Hasil penelitian pengamatan kejadian penyakit pada masing-masing perlakuan memberi pengaruh sangat nyata dalam menghambat pertumbuhan cendawan S. rolfsii. Daya hambat paling efektif terjadi pada perlakun P5 dengan rata-rata 33%
EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN PEPAYA Carica papaya L. TERHADAP JAMUR Alternaria porri PENYEBAB PENYAKIT BERCAK UNGU PADA BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) SECARA IN VITRO
One of the significant diseases afflicting shallots (Allium ascalonicum L) is the purple spot disease (Alternaria porri), leading to substantial harm. The objective of this investigation was to assess the efficacy of papaya leaf extract (Carica papaya L.) against Alternaria porri, the causative agent of purple spot disease in shallots (Allium ascalonicum L.). This research employed a completely randomized design (CRD) with six concentrations of papaya leaf extract (0%, 1%, 2%, 3%, 4%, and 5%) as treatments. The most effective treatment was observed at a 5% extract concentration, which resulted in the slowest expansion of the A. porri colony diameter (1.60 cm) and the most substantial inhibition percentage (77.21%). These outcomes were significantly different from the control treatment, wherein A. porri colony growth reached 6.17 cm and the inhibitory effect was only 16.22%.
 
EFEKTIVITAS CENDAWAN ENTOMOPATOGEN Beauveria bassiana TERHADAP MORTALITAS DAN DAYA HAMBAT MAKAN ULAT DAUN KUBIS Plutella xylostella L.
Plutella xylostella merupakan hama penting yang menyerang tanaman kubis, sehingga menjadi kendala dalam upaya peningkatan produksi kubis. Cendawan entomopatogenik yang dapat digunakan sebagai agens pengendali hayati dalam menekan perkembangan larva Lepidoptera salah satunya adalah Beauveria bassiana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari cendawan B. Bassiana. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Mei 2019 di laboratorium Hama dan di laboratorium Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu. Metode pemberian pakan menggunakan metode Sandwich dengan 5 taraf perlakuan yaitu (kontrol), pengenceran , . Variabel yang diamati yaitu viabilitas konidium, mortalitas, daya hambat makan serta morfologi gejalah infeksi B. bassiana terhadap serangga uji P. xylostella. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa perlakuan tingkat pengenceran konidia berpengaruh sangat nyata terhadap mortalitas dan daya hambat makan larva P. xylostella pada kerapatan konidia 9,464 x 106 sebesar 55%, serta mampu menghambat aktivitas makan dengan nilai rata-rata hari mencapai 17,75% dan kerapatan konidia 8,240 x 106 sebesar 47,5% dengan daya hambat makan mencapai 17,05% dengan Viabilitas konidium B. bassiana yaitu sebesar 82,42%. Sedangkan Gejala larva yang terinfeksi B. bassiana yaitu terdapatnya hifa berwarna putih keluar dari tubuh larva P. xylostella
UJI ANTAGONIS JAMUR TRICHODERMA TERHADAP PERTUMBUHAN PATOGEN SCLEROTIUM ROLFSII SAC PENYEBAB BUSUK BATANGNILAM (POGOSTEMON CABLIN BENTH)
Penyakit busuk batang yang disebabkan oleh jamur Sclerotium rolfsii merupakan salah satu penyakit pada tanaman nilam. Jamur patogen ini juga dapat menyebabkan penyakit seperti layu dan rebah kecambah. Jamur ini dapat bertahan lama dalam bentuk sklerotia di dalam tanah, pupuk kandang dan sisa-sisa tanaman yang sakit. Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang penting dalam menghasilkan devisa negara. Minyaknya bernilai ekonomi tinggi, dapat digunakan sebagai fiksatif dalam industri parfum dan kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jamur Trichoderma sp. dan Trichoderma Harzianum dalam mengendalikan patogen penyebab busuk batang secara invitro Sclerotium rolfsii pada tanaman nilam. Penelitian ini di lakukan di Labolatorium Hama dan Penyakit Tanaman Fakultas pertanian Universitas Tadulako. Penelitian ini mulai bulan Maret 2020 sampai September 2020. Variabel penelitian ini yaitu mengukur diameter koloni dan persentase daya hambat S. rolfsii. Penelitian menggunakan Uji-t untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan dari dua perlakuan yang digunakan. Hasil persentase penghambatan pada jamur Trichoderma sp. dan T. harzianum terhadap pertumbuhan S. rolfsii masing-masing perlakuan memberikan pengaruh nyata dalam menghambat pertumbuhan S. rolfsii. Kedua jamur antara Trichoderma sp. dan T. Harzianum tidak memiliki perbedaan dalam menghambat pertumbuhan patogen S. rolfsii
Pseudomonas SP. Strain Dsmz 13134 dan Efektivitasnya pada Pertumbuhan Tanaman Tomat (Lycopersicum Esculentum Mill. ) Serta Serapan P pada Tanah Masam
A quite big amount of tomato for consumption in Indonesia is still from import. There are two strong challenges on tomato production namely low productivity and pest and diseases. The challenge to improve tomato production becomes stronger if it is planted on acid soil. Acid soil is well known to have low pH which influence on the macro nutrients availability such as N and P. This experiment was aimed to investigate the effectiveness of Pseudomonas sp on tomato growth and P uptake on acid soil. There were 8 treatments tested namely control treatment non-sterilized soil; control sterilized soil;non-sterilized soil + Pseudomonas sp;sterilized soil +Pseudomonas sp;non-sterilized soil + Pseudomonas sp + N, P, K; sterilized soil +Pseudomonas sp + N, P,K; non-sterilized soil + N, P,K ; sterilized soil + N, P, K; and treatment was replicated 3 times. The data was then analyzed with One Way ANOVA and tested by Tukey HSD. Bacteria Pseudomonas sp amendment increased significantly Phosphor (P) concentration, uptake in the shoot of tomato, and triggered the flowering. Amendment of low concentration of N, P, K, together with Pseudomonas sp on acid soil improved significantly tomato growth (plant height, and shoot and root dry biomass), leaf chlorophyll concentration and soil bacteria total colony. The effectiveness of Pseudomonas sp on plant growth was strongly improved when the acid soil microbe diversity was maintained (non-sterilized soil)
Pengaruh Berbagai Dosis Cendawan Antagonis Trichoderma Spp.untuk Mengendalikan Penyakit Layufusarium Oxysporum Pada Tanaman Tomat
One of the diseases that exist and are very detrimental to farmers wilt disease caused by the fungus Fusarium oxysporum on tomato plants, where the disease is an important disease and including major diseases on tomato plants. The level of pathogenic attack caused substantial losses to farmers. The aim of research to determine the effect of the fungus Trichoderma spp. in suppressing the development of Fusarium wilt disease in relation to the optimal plant growth and yield of tomato. This study aims to determine the effect of the fungus Trichoderma spp. in suppressing the development of Fusarium oxysporum disease in relation to growth and optimal results on tomato plants. This study was conducted in September 2014 until the month of February 2015, at the Laboratory of Plant Pests and Diseases and Greenhouse, Faculty of Agriculture, University of Tadulako. Research using completely randomized design (CRD) consisting of 5 treatments, T1 = control (without application), T2 = treated Trichoderma spp. as much as 20 g / polybag, T3 = treatment of Trichoderma spp. as much as 30 g / polybag, T4 = treated Trichoderma spp. as much as 40 g / polybag and T5 = treated Trichoderma spp. as much as 50 g / polybag. Each treatment was repeated five times so that there are 25 experimental units. The results showed the introduction of the fungus Trichoderma spp. In polybag can suppress Fusarium oxysporum disease progression and sustain growth (plant height) as well as the results (number and weight of fruit) tomato plants
Pengaruh Aplikasi Trichoderma sp. Terhadap Layu Bakteri Ralstonia solanacearum Pada Tanaman Pisang
Tanaman pisang (Musa paradisiacal L.) salah satu tanaman asli Indonesia akhir-akhir ini menghadapi masalah serius adanya penyakit layu bakteri disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh aplikasi Trichoderma sp. dengan dosis berbeda dalam mengendalikan penyakit layu bakteri disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum pada tanaman pisang. Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan April sampai dengan bulan September 2017 dan di laksanakan di Laboratorium Penyakit Tanaman dan di Lahan Fakultas pertanian, Universitas Tadulako. Bibit tanaman pisang digunakan yaitu pisang kepok yang berumur ±4 bulan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu pemberian Trichoderma sp. dengan dosis berbeda atau di singkat dengan T0, T1, T2, dan T3, T0 (kontrol), T1 : 20 g, T2 : 40 g, T3 : 60 g, yang diulang sebanyak lima kali. Hasil penelitian ini menunjukkan masa inkubasi tercepat terjadi pada perlakuan T0 (7 hari) dibanding dengan T3 (25 hari), pada pengamatan intensitas serangan perlakuan (T3) dengan dosis Trichoderma sp. yaitu 60 gram dapat menghambat serangan layu bakteri 10-20%
Intensitas Serangan Penyakit Vascuar Streak Vsd pada Beberapa Klon Kakao di Desa Sidondo III
This study aims to determine the intensity of the disease Vascular Streak Dieback (VSD) in some cocoa clones in the village of the District III Sidondo Sigi Biromaru. This study was conducted in cocoa plantations in the village of the District III Sidondo Sigi Biromaru 01 ° 06' 01.9 "latitude and 199 ° 54' 56,0' BT 61 M above sea level. The study took place in the third week of February 2015 until the second week of April 2015. In this study used six types of clones observed that cocoa Local, S2 clone, M01 clone, Phanter clone, ICCRI 1 clone and Irian clone. This study used survey methods and in the determination of the observation plots using Priposive Sampling method in which each set of 15 plants cocoa clones to be observed. Based on observations VSD disease in cacao plantations in the village of Sidondo III shows that the six types of cocoa clones observed have experienced any symptoms of infection VSD. From the intensity calculation data VSD disease attacks on each clone kakaodi Sidondo village III shows the percentages of different clones S2 is on average 3.53%, 4.02% Irian clones, ICCRI 1 4.43%, 4.575 M01 clones, clones Phanter 4.65% and 15.16% local cocoa. Based on the results of the calculation of the rate of fungus infection O. theobromae on cocoa clones 6 In the village Sidondo III shows the rate of infection is quite low at Cocoa Locale 0, 1307 cm², S2 0, 2195 cm², M01 0, 2207 cm², Phanter 0, 1652 cm², ICCRI 1 0, 1 348 cm² and Irian 0, 2887 cm²
