1,725,669 research outputs found
The ASEAN : economies; economic and trade prospects in the 1990s. by Mari Pangestu
tag=1 data=The ASEAN : economies; economic and trade prospects in the 1990s. by Mari Pangestu
tag=2 data=Pangestu, Mari
tag=3 data=The Sydney Papers,
tag=4 data=5
tag=5 data=2
tag=6 data=Autumn 1993
tag=7 data=57-68.
tag=8 data=TRADE
tag=11 data=1993/5/6
tag=12 data=93/0350
tag=13 data=CA
Pangestu, suatu pandangan hidup Djawa
II. 1. J. Indrakusuma jang sedang menjelesaikan sebuah tesis tentang perkumpulan2 kebatinan Djawa di Institut Catholique Paris, da- lam nomer ini, menulis tentang perkumpulan "Pangestu" disertai dengan pendjelasan historis danphilisophis jang tjukup terperintji. Perkumpulaa "Pangestu" tersebut didirikan di Solo tahun 1949 dan telah berhasil mempunjai 82 tjabang dengan beberapa ribu pengikutnja dalam tahun 1965. Penulis memberikan hasil pene- laahannja dari teks2 teorik jang diterbitkan oleh "Pangestu" ter- utama Sasangka Djati, peladjaran dasar jang terdiri dari tudjuh bagian, jang telah diterima oleh pendiri perkumpulan tersebut, Bapak Sunarto, sebagai wahju dari Tuhan.II. 1. J. Indrakusuma who is finishing a thesis on the kebatinan
ments in Java at the Catholic University of Paris, presents with some historical and philosophical detail here the Pangestu movement, which was created in 1949 in Solo and was proud of having 82 branches and several thousands of adherent in 1965. The author gives us an analysis of the principle theoretical texts published by Pangestu, notably the Sasangka Djati, the fundamental text in seven parts revealed by God to the creator of the movement,Indrakusuma J. Pangestu, suatu pandangan hidup Djawa. In: Archipel, volume 4, 1972. pp. 32-45
Ajaran Ritual dalam Aliran Pangestu
Aliran Pangestu merupakan Ajaran Mistik yang berasal dari Jogjakarta dan Surakarta. Ajaran ini meyakini Konsep Trinitas yang dianut oleh Aliran Pangestu. Penganut Aliran Pangestu melakukan Ritual bulanan yang disebut "bowo raos" yang merupakan salah satu bentuk olah rasa atau penyucian diri. Praktik Ritual dalam Aliran Pangestu juga merupakan aspek penting dalam pelajaran
UMAT AGAMA DALAM PAGUYUBAN NGESTI TUNGGAL (PANGESTU) (Religious Members Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu) )
Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu) is one of the Javanese mysticism groups that was established as a formal organization in Solo in 1949 in¬spired by a 'revelation' to Soenarto Mertowardojo (Pakde Narto). Based on the movement doctrine rooted on Kitab Sasangka ]ati, Pangestu is not a reli¬gion and does not establish a new religion. Pakde Narto and his fellows also refuse Pangestu as an association of mysticism (Himpunan Penganut Kepercayaan (HPK)). They prefer to call Pangestu as 'Faculty of Psychology', a place for mental spiritual forging. As the consequence of that doctrine, Pangestu is not only followed by them who declare themselves as abangan but also by those who obey their religion (Moslem or Christian). To Pangestu doctrine, its followers can be described as people who have tolerance and vision to other religious followers.
Anthropologically, the participation of the followers of the religions to Pangestu becomes a unique problem. Because of that, they have enclosed two belief system
TASAWUF JAWA DALAM AJARAN PANGESTU
ABSTRAK
Skripsi dengan judul “Tasawuf Jawa dalam Ajaran Pangestu” ini ditulis oleh Zain
Nur Chaliq, NIM. 2832133032, Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas
Ushuluddin, Adab dan Dakwah, IAIN Tulungagung dibimbing oleh Bapak Dr. A.
Rizqon Khamami, Lc. M.A.
Kata Kunci: Tasawuf Jawa, Ajaran Pangestu
Penelitian dalam skripsi ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus-kasus
tindakan kriminal maupun tindak kejahatan lainnya yang sering dimuat dalam
media massa seperti televisi, radio, internet dan media massa lainnya, di mana
semua itu pastilah disebabkan oleh kurangnya pengontrolan nafsu di dalam jiwa
manusia yang bersangkutan. Oleh karena itu, penulis ingin menjelaskan konsep
tasawuf Jawa dalam ajaran Pangestu, sekiranya konsep tersebut dapat dijadikan
sebagai salah satu referensi metode untuk menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq,
membangun zahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi
dalam rangka mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga
menjadikan kita bisa menjadi orang yang mampu mengatur nafsu-nafsu yang ada
di dalam jiwa, juga menjadikan kita selalu berperasaan yang positif serta bisa
menjalankan tugas sebagai manusia dengan sebaik-baiknya.
Rumusan masalah dalam penelitian skripsi ini adalah (1) Bagaimana
konsep tasawuf jawa dalam ajaran Pangestu?, (2) Bagaimana anggota Pangestu
mengimplementasikan ajarannya tentang tasawuf jawa di dalam kehidupan sehari
hari?. Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan
konsep tasawuf jawa dalam ajaran Pangestu dan menjelaskan anggota Pangestu
mengimplementasikan ajarannya tentang tasawuf jawa di dalam kehidupan sehari
hari. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah
pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode historis dan fenomenologi.
Sedangkan dalam menganalisa data yang diperoleh, penulis menggunakan metode
deskriptif analisis.
Berdasarkan hasil dari penelitian ini, menggambarkan bahwa (1) Tasawuf
jawa dalam ajaran Pangestu berupa ajaran akhlak terhadap Tuhan dan manusia.
Sementara untuk mencapai titik puncaknya, adalah dengan menjauhi paliwara,
menjalankan jalan rahayu dan melaksanakan panembah. (2) sedangkan anggota
Pangestu dalam mengimplementasikan ajarannya tentang tasawuf jawa di dalam
kehidupan sehari-hari adalah dengan mengikuti kegiatan olah rasa dan
menjalankan ajaran Sang Guru Sejati yang ada di dalam kitab Sasangka Jati
Relevansi Paliwara Dalam Pangestu Dengan Dunia Modern
Penelitian ini fokus kepada suatu ajaran aliran kepercayaan dengan kesinambungannya pada zaman sekarang. Khususnya dalam persoalan hal-hal yang dilarang oleh Tuhan dalam suatu aliran kepercayaan. Berfokus kepada aliran kepercayaan Paguyuban Ngesti Tunggal atau biasa disebut dengan Pangestu, yakni bagaimana pandangan Pangestu tentang ajaran larangan Tuhan.
Ajaran larangan Tuhan dalam Pangestu disebut Paliwara. Paliwara merupakan salah satu ajaran yang paling penting untuk dipelajari oleh setiap anggota Pangestu. Karena sifat manusia yang mudah lupa dan cenderung melakukan perbuatan pelanggaran. Penelitian ini merupakan studi pustaka yang didukung dengan data-data observasi langsung ke kantor pusat Pangestu. Data-data yang digunakan mencakup ajaran-ajaran Pangestu dari referensi primer kitab pedoman Pangestu yaitu Sasanka Jati kemudian dijelaskan oleh narasumber yaitu pengurus tetap anggota Pangestu.
Secara definitif Paliwara mengandung arti larangan-larangan Tuhan yang dirumuskan dengan lima perbuatan yang tidak boleh dilanggar oleh manusia, yaitu jangan menyembah kepada selain Allah, jangan mengumbar syahwat, jangan makan atau makan makanan yang memudahkan rusaknya badan jasmani, jangan melanggar undang-undang dan peraturan negara dan jangan bertengkar. Akibat bagi seseorang yang melakukan pelanggaran paliwara akan menerima tempelak (hukuman) dari Tuhan. Secara sosial akan membuat kerusakan terhadap diri sendiri, orang lain bahkan masyarakat lua
THE DIVINITY TEACHING IN PANGESTU ACCORDING TO ISLAM
Adalah merupakan suatu tabiat manusia yang lahir di muka bumi ini mereka memiliki dan membutuhkan suatu agama. Karena sesuai dengan fitrahnya manusia ingin mengabdi dan menyembah terhadap yang dianggapnya Maha Kuasa yang dapat melindunginya dari kelemahan atau kesulitannya. Percaya terhadap keberadaan Tuhan atau ketuhanan merupakan suatu hal terpenting yang tidak dapat dipisahkan dari pemelukan agama oleh seseorang di dunia ini. Pangestu adalah salah satu dari sekian banyak aliran kepercayaan yang ada di Jawa, yang bertujuan untuk menggapai kebahagiaan hidup yang fana di dunia, dengan cara menyatu kembali dengan Tuhan. Pangestu muncul karena adanya ketidakpuasan hati dalam mencari suatu kebenaran pada sistem agama yang ada (Islam) dengan cara mencari jalan tersendiri yang tidak ada dalam agama guna mencapai tujuannya itu. Pangestu sebagai aliran kepercayaan sangat menekankan segi rohaniah dan mengesampingkan segi jasmaniah, I i jasmaniah, karenanya dalam mengajarkan ajaran ketuhanan, Pangestu lebih mengedepankan kepercayaan batin. Walaupun kadang harus bertolak belakang dengan akal fikiran manusia sendiri. Berdasarkan keterangan di atas, maka perlu kiranya diadakan suatu kajian yang bertujuan mengungkapkan dan mengetahui ajaran ketuhanan Pangestu menurut Islam. Untuk mengungkapkan dan mengetahui ajaran ketuhanan pangestu menurut Islam, digunakan metode deduktif, induktif dan analisis. Metode deduktif untuk mer mengupas ajaran ketuhanan Pangestu, metode induktif untuk mengambil kesimpulan tentang ajaran ketuhanan Pangestu menurut Islam dan metode analisis untuk menganalisa pandangan Islam terhadap ajaran ketuhanan Pangestu. Dimulai dengan pemaparan pengertian dan latar belakang Pangestu, sejarah Pangestu, ajaran ketuhanannya dan diakhiri suatu kajian sederhana yang menarik suatu kesimpulan tentang ajaran ketuhanan Pangestu menurut Islam. Dengan mengunakan metode-metode diatas, ajaran ketuhanan Pangestu penulis bagi menjadi tiga permasalahan pokok yakni Tripurusha (Ketritunggalan Tuhan, yakni satu dalam tiga aspek dan tiga dalam satu aspek), Hubungan manusia dengan Tuhan (Syari'at yang harus dikerjakan guna mencapai derajat Tuhan) dan Peribadatan Pangestu. Ketiga ajaran tersebut sangat mereka selewengkan dan menyalahi ajaran Islam karena itu bukanlah ajaran yang benar. Penulis mengharap kepada saudara kaum muslimin semua, supaya tidak terjatuh dalam perbuatan sesat dan jahat karena kepercayaan yang salah, dan supaya menjaga dengan baik dalam menggunakan syahwatnya
UMAT AGAMA DALAM PAGUYUBAN NGESTI TUNGGAL (PANGESTU) (Religious Members Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu) )
Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu) is one of the Javanese mysticism groups that was established as a formal organization in Solo in 1949 in¬spired by a \u27revelation\u27 to Soenarto Mertowardojo (Pakde Narto). Based on the movement doctrine rooted on Kitab Sasangka ]ati, Pangestu is not a reli¬gion and does not establish a new religion. Pakde Narto and his fellows also refuse Pangestu as an association of mysticism (Himpunan Penganut Kepercayaan (HPK)). They prefer to call Pangestu as \u27Faculty of Psychology\u27, a place for mental spiritual forging. As the consequence of that doctrine, Pangestu is not only followed by them who declare themselves as abangan but also by those who obey their religion (Moslem or Christian). To Pangestu doctrine, its followers can be described as people who have tolerance and vision to other religious followers.
Anthropologically, the participation of the followers of the religions to Pangestu becomes a unique problem. Because of that, they have enclosed two belief systemsthey, in one side, believe and undergo Islam or Christian¬ity, and on the other side, they also believe and undergo Pangestu doctrine. Based on the problems above, this research is meant to understand the moti¬vation and the meaning of\u27penyiswaan\u27 (being students) of the religious fol¬lowers to Pangestu. The collected data is done in Kotamadaya and Kabupaten Sleman Yogyakarta, by participant observation, individual life history, and in-depth interview technique.
The result of this research describes that there are two major motives that drive \u27penyiswaan\u27 of the followers to Pangestu. The first major motiva¬tion is related to their dissatisfaction in understanding their religion, so the Pangestu doctrine can be made as a \u27reference\u27 in understanding that reli¬gion. The second major motivation is related to the dissatisfaction of the followers in doing panembah (spiritual rites) of their religion teachs. Pangestu mysticism has offered the intensive religious way and improved religious "taste" of the religious followers. This is different from the various ways offered by the formal religions tending to emphasize the syariat panembah (spiritual rites) and only offering rational sense of religious. Pangestu mysti¬cism has also offered to the religious followers various peaceful and tolerant performances that does not create social problems, for it is more oriented to inner of human. Besides, this research also finds out a fact that by some of the followers, Pangestu Mysticism is not only believed and undergone to feel the power of God," to the path of God", but also understood as a earthly ritual, that is "to present the God will in this world", in gaining a successful life or solving of problems. These findings are in accordance with what have been written by Geertz (1983:427) and also by Zoetmulder (2000:136), that is in every mysticism performance, Javanese often do not want to find theoretical experiences but practical experiences useful to their life.
Key Words: Javanese Mysticism â PangestuâMotivation â Meanin
"Pangestu", une vision javanaise du monde (résumé)
"Pangestu", une vision javanaise du monde (résumé). In: Archipel, volume 4, 1972. pp. 46-48
"Pangestu", une vision javanaise du monde (résumé)
"Pangestu", une vision javanaise du monde (résumé). In: Archipel, volume 4, 1972. pp. 46-48
- …
