1,720,966 research outputs found
PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN METODE DISCOVERY BERDASARKAN TEORI BEBAN KOGNITIF
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pembelajaran matematika menggunakan metode Discovery berdasarkan teori beban kognitif. Menurut teori beban kognitif, beban kognitif peserta didik terdiri dari beban kognitif intrinsic, extraneous, dan beban kognitif germane. Dengan mengelola beban kognitif intrinsic, mengurangi beban kognitif extraneous, dan meningkatkan beban kognitif germane pada peserta didik, proses pengolahan informasi pada peserta didik dapat menjadi lebih efektif. Penelitian mengkaji tahapan-tahapan dalam metode discovery berdasarkan teori beban kognitif. Dari setiap tahapan tersebut diperlihatkan beban kognitif apa saja yang mucul dan efektifitasnya dalam pembelajran. Hasil penelitian adalah munculnya beban kognitifintrinsic, extraneous,dan germane peserta didik dalam pembelajaran matematika menggunakan metode didscovery, dan karakteristik beban kognitif yaitu intrinsic, extraneous, dan germane peserta didik dalam setiap tahapan metode discovery
Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Siswa SD Melalui Model Pembelajaran Treasure Hunt
This classroom action research aimed to improve third-grade students’ mathematics achievement on decimal numbers through a game-based Treasure Hunt learning model. The study employed the Kemmis and McTaggart classroom action research design carried out in two cycles, each consisting of planning, acting, observing, and reflecting stages, involving 28 third-grade students of SD Islam Sabilillah Malang. Data were collected using mathematics achievement tests, observation sheets for students’ activities and instructional implementation, and a learning motivation questionnaire. The results showed that the mean score increased from 61.8 at the pre-test to 72.4 in the first-cycle post-test and 81.6 in the second-cycle post-test, while mastery learning improved from 35.7% to 89.3%, with a normalized gain of 0.52 (medium category). Students’ motivation reached an average score of 4.1 (high category), and instructional implementation achieved 94.6% (very good category). In conclusion, the Treasure Hunt learning model is effective in enhancing students’ mathematics achievement, motivation, and engagement in elementary mathematics learning.
Keywords: Game-Based Learning, Mathematics Achievement, Motivation, Treasure Hunt
PENGEMBANGAN SISTEM PENILAIAN BERBASIS ICT UNTUK MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU MATEMATIKA SMP KURIKULUM 2013
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam bidang penilaian. Dengan dikembangkannya Sistem penilaian berbasis ICT tersebut diharapkan dapat mempermudah kinerja guru dalam memberikan penilaian deskriptif pada setiap keunikan kemampuan siswa yang beragam.Target khusus yang ingin dicapai peneliti dalam pengembangan sistem penelitian ini adalah terciptanya produk penelitian berupa sistem penilaian berbasis ICT yang dapat menginterpretasi nilai siswa yang berupa data kuantitatif menjadi data deskriptif yang mampu menggambarkan setiap keunikan masing-masing siswa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini model 4D. Komponen 4 D terdiri dari 4 tahap yaitu Define (pendifinisian), Design (perancangan), Develop (Pengembangan), dan Disseminate (penyebaran). Berdasarkan analisis hasil validasi ahli Pengembang Penilaian dapat disimpulkan bahwa Sistem Penilaian berbasis ICT yang dikembangkan memenuhi kriteria kevalidan yaitu cukup valid dengan banyak revisi dan persentase akhir 76,1%. Berdasarkan analisis hasil validasi praktisi memenuhi kriteria kevalidan dengan kategori sangat valid tanpa revisi dan persentase akhir adalah 90.33%. Berdasarkan hasil analisis validasi user pada 3 Guru Matematika SMP menunjukkan bahwa produk Sistem Penilaian berbasis ICT memiliki kriteria praktis tanpa revisi dengan persentase 82,46%.Kata Kunci : Pengembangan, Sistem Penilaian, Kurikulum 2013, IC
Analysis of Grade VIII Students' Geometric Thinking Ability in Flat Surface Construction Material Based on Van Hiele's Theory
Geometric thinking ability is a process carried out by students to obtain information, then from that information, they draw conclusions to solve problems related to geometry. The thinking process of each student is different and not always the same between one student and another. Therefore, to determine geometric thinking ability, we can look at the students' ability to pass through the stages of geometric thinking based on Van Hiele's Theory. These stages are level 0 (visualization), level 1 (analysis), level 2 (informal deduction), level 3 (deduction), and level 4 (rigor). The subjects in this study were students in class VIII at Miftahul Ulum As-Sholchah Islamic Junior High School in Warungdowo, Pasuruan who had already learned the material on flat-sided shapes. There were three subjects who had geometric thinking abilities, and they were selected using purposive sampling. This study aims to explore the geometric thinking abilities of eighth-grade students in flat-sided spatial figures based on Van Hiele's Theory. The method used in this study is an exploratory qualitative research method with data collection techniques using tests and interviews. The results of this study indicate that the geometric thinking abilities of eighth- grade students in flat-sided solid geometry material based on Van Hiele's Theory are at level 0 (visualization), level 1 (analysis), level 2 (informal deduction), and level 3 (deduction), but none of the students are at level 4 (rigor)
PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA DAN KEPERCAYAAN DIRI PESERTA DIDIK MENGGUNAKAN MODEL STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING DENGAN METODE PEER TEACHING
Pemahaman konsep dan kepercayaan diri merupakan dua hal sangat penting bagi peserta didik dalam belajar matematika. Pemahaman konsep dasar matematika menjadi prasyarat dalam pemecahan masalah matematika maupun masalah dalam bidang lain. Di samping pemahaman konsep, kepercayaan diri merupakan salah satu faktor penting dalam pemecahan masalah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kombinasi dengan desain Sequantial Explanatory di mana metode kuantitatif pada tahap pertama dan metode kualitatif pada tahap kedua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan, mengetahui manakah yang lebih baik dan mendeskripsikan pemahaman konsep matematika dan kepercayaan diri peserta didik antara kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining dan metode Peer Teaching dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional pada materi segiempat dan segitiga kelas VII SMPN2 Sukorejo. Hasil penelitian ini yakni terdapat perbedaan pemahaman konsep matematika dan kepercayaan diri peserta didik kelas eksperimen dengan kelas kontrol, pemahaman konsep matematika dan kepercayaan diri peserta didik kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol, dan deskripsi pemahaman konsep matematika dan kepercayaan diri peserta didik kelas eksperimen berbeda dari kelas kontrol dilihat dari pencapaian indikator pada masing-masing kategori peserta didik. Conceptual understanding and self-confidence are very important things for students in learning mathematics. Understanding the basic concepts of mathematics is a prerequisite for solving mathematical problems and problems in other fields. In addition conceptual understanding, self-confidence is an important factor in problem solving. The method used in this study is a combination method with Sequantial Explanatory design in which the quantitative method in the first stage and the qualitative method in the second stage. This study aims to find out whether there are any differences and to know which one is better and describe the understanding of mathematical concepts and self-confidence of students between experimental classes that use Student Facilitator and Explaining learning models and Peer Teaching methods with control classes that use conventional learning models on quadrilateral material and the VII class triangle of Sukorejo Junior High School 2. The results of this study are different in the understanding of mathematical concepts and self-confidence between the experimental class students and the control class. The understanding of mathematical concepts and self-confidence of experimental class students are better than the control class, and descriptions of understanding mathematical concepts and confidence in experimental class students differ from control class which shown from the achievement of indicators in each category of students
PENGEMBANGAN TES ONLINE MENGGUNAKAN THATQUIZ PADA BIDANG STUDI MATEMATIKA
Pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMP dan SMA tahun 2016 di Indonesia adalah langkah awal Pendidikan kita menuju Digitalisasi Teknologi dan Informasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan khususnya dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Damapaknya seorang guru benar-benar dituntut profesionalismenya untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang Teknologi untuk mengikuti arus perkembangan teknologi, khusunya dalam menyelenggarakan tes berbasis komputer baik offline maupun online. Tidak semua guru mampu mengembangkan test berbasis komputer untuk digunakan dalam tes atau ujian yang dibuatnya. Test online dipilih karena mampu secara cepat melakukan penilaian dan sekaligus menampilkan nilai perolehan. Sehingga guru lebih cepat mengetahui kemampuan siswa dan segera melakukan perbaikan bagi yang belum berhasil dan memberi penghargaan bagi yang berhasil. Tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan guru dalam bidang TIK untuk melaksanakan evaluasi dan penilaian. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pengembangan yang dikemukakan oleh Dick dan Carry (1996) yang terdiri dari 4 tahap yang dikenal dengan model 4D. Hasil Penelitian adalah produk test online yang valid dan teruji yang dapat di gunakan guru dalam melakukan penilaian terhadap siswa
Leveraging Local Culinary Heritage as a Context for Learning Mathematics
This study investigates how a diverse set of traditional Malang foods—including Mendol Tempe, Bakwan Malang, Tempe Chips, Cwie Mie, Rawon, Bakso Bakar, Putri Salju cookies, and Orem-Orem—can function as culturally grounded contexts for developing students’ mathematical reasoning and model-construction competencies. Each food item reveals distinct mathematical structures: density and texture patterns in Mendol Tempe, irregular yet classifiable shapes in Bakwan Malang, fractal-like crisp patterns in Tempe Chips, proportional seasoning in Cwie Mie, time-based flavor development in Rawon, rotational symmetry in Bakso Bakar, geometric uniformity in Putri Salju, and combinatorial layering in Orem-Orem. Drawing on a philosophical perspective that positions mathematics as an interpretive lens for understanding real-world phenomena, students transition from sensory observation to formal modeling, constructing representations such as ratio models, time–intensity functions, geometric similarity models, rotational interval equations, and combinatorial structures. Findings indicate that embedding mathematical tasks in local culinary culture enhances conceptual understanding, promotes creative model construction, and strengthens culturally responsive pedagogical practices. This approach highlights the natural emergence of mathematical ideas from daily life experiences, making learning more meaningful, engaging, and contextually relevant
PENINGKATAN SOFT SKILL KEWIRAUSAHAAN SISWA MA MELALUI PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN BERBASIS BLOG
Abstrak: Dalam rangka meningkatkan soft skill kewirausahaan siswa MA PK Wachid Hasyim Surabaya, sebuah program pelatihan kewirausahaan diadakan dengan melibatkan 83 siswa dan didampingi oleh 8 guru. Program ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa menghadapi tuntutan dunia bisnis yang semakin kompleks. Melalui program ini, diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuan kewirausahaan yang meliputi integritas, komunikasi, kesopanan, tanggung jawab, keterampilan sosial, sikap positif, profesionalisme, fleksibilitas, kerja tim, dan etos kerja. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam keterampilan kewirausahaan siswa, dengan persentase peningkatan skill mencapai 40%. Kegiatan ini melibatkan serangkaian tahap, dimulai dari pra kegiatan yang meliputi analisis kebutuhan, perencanaan pelatihan, hingga implementasi penggunaan platform blog. Selama kegiatan inti, siswa didampingi untuk memahami konsep desain dan penulisan blog, menguasai teknis penggunaan platform, serta mengembangkan kemampuan kreatif dalam merancang tata letak dan menghasilkan konten yang informatif. Selanjutnya, monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala untuk mengukur dampak program, yang menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam literasi digital dan kreativitas siswa.Abstract: In order to enhance the entrepreneurial soft skills of MA PK Wachid Hasyim Surabaya students, an entrepreneurship training program was conducted involving 83 students and accompanied by 8 teachers. This program aims to prepare students to face the demands of an increasingly complex business world. Through this program, it is expected that students can develop entrepreneurial skills including integrity, communication, etiquette, responsibility, social skills, positive attitude, professionalism, flexibility, teamwork, and work ethic. Evaluation results show a significant improvement in students' entrepreneurial skills, with a 40% increase in skill levels. The activities involve a series of stages, starting from pre-activities which include needs analysis, training planning, to the implementation of blog platform usage. During the core activities, students are assisted in understanding the concepts of blog design and writing, mastering the technical use of the platform, and developing creative skills in designing layouts and producing informative content. Furthermore, monitoring and evaluation are conducted periodically to measure the program's impact, showing a significant improvement in students' digital literacy and creativity
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
