437 research outputs found
Hasil Penilaian Sejawat Sebidang atas artikel berjudul: Subalternitas Pelajar Perempuan Minangkabau dalam Kontroversi Pengaturan Jilbab
Penilaian dari Prof. Dr. Iffatin Nur, M.Ag
Responsif terhadap isu aktual, sangat relevan dan kontributif bagi kajian hukum berperspektif gender, perlu ditambahkan dengan teori hak asasi manusia dan hak asasi perempuan agar lebih taja
Hasil Penilaian Sejawat Sebidang atas Hasil Penilaian Sejawat Sebidang atas artikel berjudul: Pemahaman Masyarakat Banjar Kalimantan Selatan tentang Pemikiran Fiqh Syekh Arsyad Al Banjari dalam Hal Harta Perpantangan
Penilaian Prof. Dr. Iffatin Nur, M. Ag:
Tulisan yang memperluas perspektif tentang hukum Islam secara sosiologis, sangat baik sebagai referensi kajian fiqh nusantara, perlu diperkuat dengan teori sosiologi hukum Isla
E-MONEY PERSPEKTIF MAQASHID SYARIAH FII AL-MUAMALAH
E-money merupakan modernisasi metode pembayaran non tunai berbasis teknologi yang saat ini lazim digunakan oleh masyarakat. Perkembsngsn  metode pembayaran berbaasi e-money ini tentunya harus sejalan dengan prinsip-prinsip agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dengan adanya e-money ini sejalan dengan kosep maqashid syariah fi al-muamalah. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan ialah studi dokumen atau sudi pustaka dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan jika hukum bertransaksi dengan e-money adalah mubah atas dasar kaidah “Al ashlu fil mua'malati al ibahah hatta yadullu ad-daliilu ala tahrimihaâ€, namun kemubahan ini hanya terbatas pada e-money dengan prinsip syariah yang berpedoman pada Fatwa Dewan Syariah Nasional. Adapun e-money kovensional dianggap tidak memenuhi prinsip syariah sebaiknya kita menghindari penggunaannya karena ditakutkan adanya unsur riba, gharar, dan maitsir yang dapat merugikan pihak-pihak dalam e-money tersebut.Kata Kunci: E-Money, Maqashid Syariah Fi Al-Muamalah, Maslahah
KETAHANAN KELUARGA PASANGAN DISABILITAS INTELEKTUAL PERSPEKTIF MAQĀṢID AL-USRAH (Studi di Desa Karangpatihan Kecamatan Balong dan Desa Sidoharjo Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo)
Tesis dengan judul “Ketahanan Keluarga Pasangan Disabilitas
Intelektual Perspektif Maqāṣid al-Usrah (Studi di Desa Karangpatihan
Kecamatan Balong dan Desa Sidoharjo Kecamatan Jambon Kabupaten
Ponorogo)” ini ditulis oleh Novi Ainun Jariyah, NIM. 1880509230004,
dengan pembimbing Prof. Dr. Iffatin Nur, M.Ag. dan Dr. Hj. Nur
Fadhilah, S.H.I, M.H.
Kata Kunci: Ketahanan Keluarga, Disabilitas Intelektual, Maqashid Al
Usrah
Penelitian ini di latar belakangi oleh perkawinan sesama disabilitas
intelektual. Dimana keterbatasan intelektual sering kali diiringi oleh
berbagai tantangan dalam hal komunikasi, kemandirian, serta
keterampilan dalam mengelola kehidupan sehari-hari. Akan tetapi
mereka menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi
terciptanya kehidupan keluarga yang harmonis dan saling mendukung.
Tujuan dari penelitian ini di harapkan memberikan sumbangsih dan
bisa di jadikan referensi untuk penelitian selanjutnya yang mengenai: (1)
Problem pasangan disabilitas intelektual (2) Ketahanan keluarga
pasangan disabilitas intelektual (3) Ketahanan keluarga pasangan
disabilitas intelektual perspektif Maqāṣid al-Usrah .
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif (field
research), Secara khusus dengan mencari informasi di lapangan secara
langsung untuk dilakukan observasi, wawancara mendalam, dan
dokumentasi. Sumber data yang diteliti adalah dari data primer dan
sekunder. Teknik analisis data meliputi kondensasi data, penyajian data,
penarikan kesimpulan. Analisis keabsahan data dengan triangulasi data.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Ditemukan fakta bahwa
problem ketahanan keluarga pasangan disabilitas intelektual meliputi
aspek komunikasi dalam pengambilan keputusan, pemenuhan gizi,
minimnya ketersediaan tempat tidur, minimnya pendapatan keluarga,
ketiadaan tabungan, serta tantangan pengasuhan anak. (2) Meskipun
pasangan disabilitas intelektual menghadapi problem dalam ketahanan
keluarga, temuan penelitian menunjukkan bahwa mereka telah mampu
memenuhi beberapa indikator ketahanan keluarga. (3) Ketahanan
keluarga pasangan disabilitas intelektual sebagian sudah sesuai dengan
prinsip Maqāṣid al-Usrah hal tersebut menunjukkan nilai-nilai dan
tujuan keluarga dalam Islam menjadi pilar kekuatan.ABSTRAC
PRAKTIK ENDORSEMENT OLEH SELEBGRAM TULUNGAGUNG DALAM PERSPEKTIF HUKUM EKONOMI SYARIAH DAN FATWA DSN MUI NOMOR 24 TAHUN 2017 TENTANG HUKUM DAN PEDOMAN BERMUAMALAH MELALUI MEDIA SOSIAL
Luzfi Amanatur Rohmi, 126101212185, “Praktik Endorsement oleh Selebgram
Tulungagung dalam Perspektif Hukum Ekonomi Syariah dan Fatwa DSN
MUI Nomor 24 Tahun 2017 Tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah
Melalui Media Sosial” Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, UIN
Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, 2025, Pembimbing Prof. Dr. Iffatin
Nur. M.Ag.
Kata Kunci: Endorsement, Selebgram, Hukum Ekonomi Syariah, Fatwa DSN
MUI
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pesatnya pertumbuhan praktik
endorsement oleh selebgram di Indonesia termasuk di Tulungagung, seiring dengan
peningkatan UMKM yang mencapai 139.386 pada tahun 2021. Meskipun strategi
endorsement berkembang pesat, selebgram sering mengabaikan rukun dan syarat
akad serta tidak menyampaikan informasi produk secara jujur dan transparan. Oleh
karena itu hal ini akan dianalis berdasarkan Hukum Ekonomi Syariah dan Fatwa
DSN MUI Nomor 24 Tahun 2017.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana praktik
endorsement yang dilakukan oleh selebgram Tulungagung? 2) Bagaimana praktik
endorsement oleh selebgram Tulungagung ditinjau dari Hukum Ekonomi Syariah?
3) Bagaimana praktik endorsement oleh selebgram Tulungagung ditinjau dari
Fatwa DSN MUI Nomor 24 Tahun 2017?
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan jenis penelitian
lapangan (field research). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa
observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data meliputi
kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk pengecekan
validitas data menggunakan tringulasi sumber dan tringulasi metode.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Praktik endorsement yang
dilakukan oleh selebgram Tulungagung termasuk dalam kategori celebrity endorser
dimana pelaku usaha memilih selebgram berdasarkan kriteria visibility (tingkat
popularitas), credibility (pengetahuan terhadap produk), attraction (daya tarik), dan
power (kemampuan mempengaruhi konsumen). 2) Ditinjau dari Hukum Ekonomi
Syariah, praktik endorsement selebgram Tulungagung termasuk dalam akad ijarah
al-a’mal (sewa atas jasa) yang telah memenuhi rukun dan syarat akad. 3) Dalam
perspektif Fatwa DSN MUI No.24 Tahun 2017 dapat diketahui bahwa ada beberapa
aspek yang tidak sesuai, diantaranya potensi informasi yang tidak akurat, strategi
konten yang berpotensi menyembunyikan kebenaran dan aspek komersial yang
mendominasi motivasi pembuatan konten endorsement
Pereview artikel Fintech of Financing at BPRS: a Challenge between a Legal Problem and Business Opportunity
Pereview artikel Binti Nur Asiya
PROPHETIC LEADERSHIP DI ERA INDUSTRI 4.0
Islam berkembang sangat cepat ke seluruh dunia karena sifat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan penerus beliau (khulafā). Nabi Muhammad SAW mengubah karakter orang-orang dengan sifat kepemimpinannya yang indah. Setelah kepergian beliau, para penerus beliau juga terus menarik orang untuk menerima da’wah Islam dan hidup dalam suatu masyarakat yang menjalankan ajaran Islam melalui sifat kepemimpinan yang luar biasa. Tapi hari ini, pemimpin Muslim di seluruh dunia hampir tidak memiliki ciri-ciri kepemimpinan yang begitu indah dan ini mungkin saja salah satu alasan utama mengapa kaum Muslimin sekarang di mana-mana tertindas, terdiskriminasi, dan termarginalkan.
Pada Era Industri 4.0 yang ditandai dengan kehidupan yang serba cepat dan instan, otomasi, digital economy, artificial intelligence, big data, dan robotic atau dikatakan sebagai era inovasi disruptif saat ini, kebutuhan akan digital leadership yang memiliki jiwa profetik tidak terelakkan lagi. Hal ini mengingat bahwa konsekuensi lain dari visualisasi teknologi telah menyebabkan terbangunnya karakter masyarakat yang cepat marah dan cepat putus asa atas tuntutan kerja keras. Generasi yang adaptif, kapable, dan representativelah yang mampu bertahan dan berhadapan dengan berbagai peluang dan tantangan pada era disrupsi.
Pada kondisi demikian, masyarakat senantiasa menantikan kehadiran tokoh panutan yang berjiwa memimpin dan berkemajuan, progresif, reformatif, inspiratif serta berakhlak mulia. Pemimpin yang demikian senantiasa belajar terhadap kebutuhan dan harapan masyarakatnya dan menjadikan masyarakatnya sebagai subyek yang harus dilayani dan diperjuangkan keterwujudan cita-citanya
TURNITIN KAFAAH IN ISLAM: TOWARDS A PROGRESSIVE INTERPRETATION
KAFAAH IN ISLAM: TOWARDS A PROGRESSIVE
INTERPRETATIO
Islamic Law on Gender Based Sexual Violence
Abstrak: Hukum Islam tentang Kekerasan terhadap Perempuan Berbasis Jender. Dalam pandangan hukum Islam, kekerasan seksual berbasis gender dikenal dengan istilah “al-intihā’ ‘ala ḥurmah al-nisā’ or al-waṭ’ bi al-ikrāh”. Di bidang hukum pidana Islam, ada tiga jenis hukuman terhadap kejahatan, yaitu: qiṣāṣ, ḥudūd, dan ta‘zīr (takzir). Qiṣāṣ adalah hukuman yang setara dengan kejahatan yang dilakukan, termasuk pembunuhan, melukai, atau serangan yang disengaja. Ḥudūd mengacu pada hukuman terhadap kejahatan spesifik sebagaimana terdapat dalam Alquran dan Sunah. Termasuk dalam kategori ini perzinaan, menuduh seseorang melakukan zina, mencuri, ḥirābah, dan tindakan memberontak terhadap Pemerintahan islami dan sah. Sedangkan takzir adalah jenis hukuman terhadap kejahatan lain yang diputuskan oleh hakim Muslim. Kejahatan seksual yang berbasis gender dalam artikel ini dapat digolongkan dalam tiga bentuk yaitu: perzinaan yang dipaksakan, serangan terhadap qiṣāṣ, dan prostitusi yang dipaksakan.Kata Kunci: hukum Islam, kekerasan seksual, genderAbstract: Islamic Law on Gender Based Sexual Violence. In the view of islamic law, gender based sexual violence is known by the term “al-intihā’ ‘ala ḥurmah al-nisā’ or al-waṭ’ bi al-ikrāh”. In the area of Islamic criminal law, there are three types of punishment toward crimes. They are: qiṣāṣ, ḥudūd, and ta‘zīr. Qiṣāṣ is a short punishment equal to the crimes committed including murder, wounding or intentional attacks. Ḥudūd refers to punishment toward some spesific crimes that have been explained by god through revelation. Kind of crimes and their corresponding form of punishment were disceibed in the holy Quran and the prophet Muhammad’s traditions. Including in this kategory is adultery, accusing some one to commit addultery, stealing, ḥirābah, and organising rebellious actions againts an islamically legal and good government. Whereas ta‘zīr is a type of punishment toward other crimes where its forms are left to consideration and decision of Muslim judges. Gender based sexual violence in this article can take three forms of crim which is a forced adultery, an assault in qiṣāṣ, and a forced prostitution.Keywords: Islamic law, sexual violence, gender</p
Turnitin buku Prophetic Leadership di Era Industri 4.0 (Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Drs. Munardji, M.Ag.)
Islam berkembang sangat cepat ke seluruh dunia karena sifat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan penerus beliau (khulafā). Nabi Muhammad SAW mengubah karakter orang-orang dengan sifat kepemimpinannya yang indah. Setelah kepergian beliau, para penerus beliau juga terus menarik orang untuk menerima da’wah Islam dan hidup dalam suatu masyarakat yang menjalankan ajaran Islam melalui sifat kepemimpinan yang luar biasa. Tapi hari ini, pemimpin Muslim di seluruh dunia hampir tidak memiliki ciri-ciri kepemimpinan yang begitu indah dan ini mungkin saja salah satu alasan utama mengapa kaum Muslimin sekarang di mana-mana tertindas, terdiskriminasi, dan termarginalkan.
Pada Era Industri 4.0 yang ditandai dengan kehidupan yang serba cepat dan instan, otomasi, digital economy, artificial intelligence, big data, dan robotic atau dikatakan sebagai era inovasi disruptif saat ini, kebutuhan akan digital leadership yang memiliki jiwa profetik tidak terelakkan lagi. Hal ini mengingat bahwa konsekuensi lain dari visualisasi teknologi telah menyebabkan terbangunnya karakter masyarakat yang cepat marah dan cepat putus asa atas tuntutan kerja keras. Generasi yang adaptif, kapable, dan representativelah yang mampu bertahan dan berhadapan dengan berbagai peluang dan tantangan pada era disrupsi.
Pada kondisi demikian, masyarakat senantiasa menantikan kehadiran tokoh panutan yang berjiwa memimpin dan berkemajuan, progresif, reformatif, inspiratif serta berakhlak mulia. Pemimpin yang demikian senantiasa belajar terhadap kebutuhan dan harapan masyarakatnya dan menjadikan masyarakatnya sebagai subyek yang harus dilayani dan diperjuangkan keterwujudan cita-citanya
- …
