1,721,021 research outputs found
Perubahan Kondisi Fisiologis Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) akibat Pengaruh Perbedaan Ukuran dan Suhu Lingkungan
Ikan mas merupakan ikan air tawar yang biasa dijual dalam keadaan hidup. Teknik transportasi ikan hidup yang dapat menjamin ikan tetap hidup hingga ke tangan konsumen sangat dibutuhkan. Upaya meningkatkan kepadatan ikan dengan mengurangi jumlah air telah dilakukan. Upaya tersebut masih belum diikuti dengan upaya peningkatan ketahanan hidup ikan dan kajian fisiologis ikan sehingga, masih banyak masalah yang dihadapi. Suhu merupakan salah satu faktor fisik yang berpengaruh terhadap proses fisiologis ikan. Informasi dasar tentang sifat fisiologis ikan mas pada suhu berbeda yaitu suhu dingin, suhu ruang, dan suhu hangat sangat diperlukan terutama mengeanai metabolismenya (tingkat konsumsi oksigen dan produksi metabolit). Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan informasi mengenai perubahan kondisi fisiologis ikan mas (C. carpio L.) serta perubahan kualitas air pada perlakuan perbedaan ukuran dan perbedaan suhu lingkungan. Penelitian ini terdiri dari dua tahap yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Tujuan penelitian pendahuluan adalah untuk memilih size ikan mas ukuran konsumsi (size 4, size 5, dan size 6) yang memiliki daya tahan terbaik terhadap perubahan lingkungan (kepadatan). Penelitian utama dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai perubahan kondisi fisiologis ikan mas dibawah kondisi suhu lingkungan yang berbeda. Rancangan percobaaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan satu faktor, yaitu faktor pemberian ukuran untuk penelitian pendahuluan dan faktor pemberian suhu untuk penelitian utama dengan taraf suhu dingin, suhu ruang, dan suhu hangat. Apabila hasil perhitungan menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata, maka dilakuan uji lanjut Duncan
Ekstraksi dan Karakterisasi Enzim Tripsin dari Usus Ikan Tongkol
Jeroan ikan tongkol memiliki berbagai macam kandungan protein sehingga
berpotensi sebagai sumber enzim, salah satunya adalah enzim tripsin. Enzim
tripsin dari jeroan ikan bisa menjadi alternatif dari enzim tripsin komersil yang
berasal dari babi dan sapi. Penelitian ini bertujuan mengekstraksi dan
mengkarakterisasi enzim tripsin dari jeroan ikan tongkol. Ekstrak kasar enzim
diendapkan menggunakan amonium sulfat. Pengukuran aktivitas enzim
menggunakan substrat BAPNA (N-α-benzoyl-DL-arginine-p-nitroanilide).
Ekstrak kasar tripsin memiliki aktivitas sebesar 0.205 U/mL. Aktivitas enzim
tripsin tertinggi terdapat pada hasil pengendapan menggunakan amonium sulfat
fraksi 40-50% sebesar 0.248 U/mL. Enzim bekerja optimal pada suhu 60 °C dan
pH 9. Ion logam ZnCl2 dan CaCl2 menghambat aktivitas tripsin, sedangkan
MnCl2, CuCl2, dan NaCl dapat meningkatkan aktivitas tripsin. Aktivitas tripsin
stabil pada NaCl 5-30%
Aplikasi Ekstrak Daun Jambu Biji Daging Buah Merah (Psidium guajava var. pomifera) pada Proses Transportasi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Transportasi ikan nila hidup yang umumnya digunakan oleh pembudidaya adalah teknik transportasi sistem basah. Kendala utama pada aplikasi teknik sistem basah adalah jumlah kapasitas angkut yang sedikit. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah air untuk meningkatkan kapasitas angkut ikan, namun metode tersebut cukup riskan karena peningkatan densitas ikan berisiko terhadap tingkat ketahanan hidup dan kerusakan fisik yang muncul akibat gesekan antar ikan dengan wadahnya. Metode alternatif lain yang dapat menjadi solusi kendala di atas adalah penambahan ekstrak daun jambu biji daging buah merah (Psidium guajava var. pomifera) ke dalam media transportasi ikan nila. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari aplikasi ekstrak daun jambu biji daging buah merah pada transportasi ikan nila hidup, mengetahui kemampuan ekstrak daun jambu biji daging buah merah dalam menghambat metabolit ikan nila selama transportasi, dan menentukan konsentrasi optimal ekstrak daun jambu biji daging buah merah sebagai agen antimetabolit selama transportasi. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu penelitian pendahuluan dan inti. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk memperoleh data konsentrasi letal median (LC50) ekstrak daun jambu biji guna dijadikan dasar penentuan dosis ekstrak dalam penelitian inti. Penelitian inti bertujuan menguji ekstrak daun jambu biji dengan konsentrasi 0%, 0,25%, 0,50%, dan 0,75% dalam aplikasi transportasi ikan nila. Pengujian ini dilakukan untuk melihat pengaruh ekstrak terhadap penurunan laju (inhibisi) metabolit dan tingkat stres ikan nila selama transportasi melalui rangkaian uji analisis kualitas air (suhu, DO, CO2, pH, TAN, dan turbiditas) dan kadar glukosa darah. Hasil pengujian aplikasi ekstrak daun jambu biji daging buah merah terhadap parameter-parameter kualitas air dan tingkat stres menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak dengan konsentrasi 0,25% memiliki keunggulan terhadap parameter suhu, konsentrasi DO, konsentrasi CO2, nilai pH, dan turbiditas dibandingkan perlakuan lainnya, dimana konsentrasi ekstrak 0,25% mampu mempertahankan kondisi yang relatif lebih stabil terhadap parameter-parameter tersebut dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan lainnya. Sedangkan perlakuan dengan konsentrasi 0,75% menunjukkan hasil yang dominan unggul terhadap pengujian nilai TAN dan kadar glukosa darah. Namun demikian, perlakuan dengan konsentrasi 0,25% dinilai sebagai dosis yang paling efektif untuk aplikasi transportasi ikan nila. Pada dosis tersebut dapat mereduksi tingkat metabolit ikan (yang diindikasikan dari nilai TAN) dan tidak mengakibatkan stres yang dominan dengan sedikit perubahan kadar glukosa darah yang relatif rendah serta dapat mempertahankan kondisi media angkut lebih baik dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan lainnya
Kandungan Gizi dan Logam Berat Pada Ikan Rawa di Perairan Rawa Kabupaten Tanah Laut, Propinsi Kalimantan Selatan
Wilayah Indonesia merupakan wilayah perairan yang luas dan diperkirakan memiliki potensi sumber daya ikan sebesar 6,4 juta ton pertahun yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan ZEEI (Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia). Tingkat konsumsi ikan perkapita masyarakat Indonesia juga terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Potensi fisik Indonesia yang memiliki iklim tropis menunjukkan bahwa Indonesia memiliki banyak kawasan yang dapat dikembangkan sebagai basis perikanan budidaya untuk memenuhi kebutuhan ikan yang terus meningkat. Salah satunya adalah pemanfaatan potensi kawasan perairan rawa yang kurang dilirik. Kawasan perairan rawa di Indonesia cukup luas, yakni mencapai 20,6 juta ha atau 10,8% dari luas daratan Indonesia. Khususnya Propinsi Kalimantan Selatan didominasi oleh perairan rawa dan sungai. Selain itu, mengingat masyarakat Banjar sangat menggemari beberapa jenis ikan lokal ekonomis yang berasal dari perairan rawa, perlu dilakukannya eksplorasi lebih dalam terhadap potensi perikanan pada kawasan perairan rawa terutama ikan rawa yang memiliki nilai ekonomis penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik ikan rawa yang meliputi persentase rendemen daging (fillet), kandungan proksimat, asam lemak dan kandungan logam berat (Pb dan Cd) beberapa spesies ikan rawa di perairan selatan Kalimantan. Beberapa rawa yang diteliti terdiri dari 5 spesies, yaitu Mastamcembelus erythrotaenia, Hemibagrus fortis, Channa micropeltes, Channa striatus, dan Channa lucius. Beberapa ikan rawa yang diteliti, memiliki persentase rendemen produksi fillet sebesar 27,63-43,73 %. Ikan rawa yang diteliti memiliki kandungan proksimat yang bervariasi, yaitu kadar air sebesar 74,23-78,84 %, kadar abu 0,99-4,13 %, kadar lemak sebesar 0,45-3,24 %, dan kadar protein 15,85-21,74 %. Keragaman komposisi kimia ini dapat disebabkan oleh faktor makanan, spesies, jenis kelamin, dan umur ikan (Kusumo 1997). Analisis asam lemak menunjukkan bahwa beberapa spesies ikan rawa yang diteliti mengandung 11 jenis asam lemak, meliputi asam lemak jenuh (SAFA) adalah asam laurat, asam miristat, asam palmitat, dan asam stearat; asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) adalah asam palmitoleat dan asam oleat, serta asam lemak tak jenuh jamak (PUFA) meliputi asam linoleat, linolenat, asam arakhidonat, asam eikosapentaenoat (EPA), dan asam dokosaheksaenoat (DHA). Asam lemak yang mendominasi adalah asam palmitat sebesar 8,86-19,99 mg/g lemak dan asam oleat yang temasuk kedalam golongan omega-9 sebesar 5,19-19,66 mg/g lemak. Kandungan beberapa logam berat yang meliputi timbal (Pb) dan kadmium (Cd) dari beberapa ikan rawa yang diperoleh dari perairan rawa selatan Kalimantan, menunjukkan bahwa ketiga logam berat ini tidak terdeteksi oleh alat yang digunakan. Maka dapat diketahui bahwa beberapa ikan rawa yang diteliti tergolong aman untuk dikonsumsi, karena besar kandungan logam berat kadmium (Cd) dan timbal (Pb) berada di ambang batas aman konsumsi
Analisis jaringan tanaman lindur (Bruguiera gymnorrhiza) dan pemanfaatan patinya sebagai edible film dengan penambahan gliserol dan karagenan
Edible film merupakan salah satu kemasan yang ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan yang telah berkembang dewasa ini. Salah satu sumber hayati yang dapat dikaji sebagai bahan baku edible film adalah buah lindur (Bruguiera gymnorrhiza), buah ini adalah salah satu jenis buah dari tumbuhan mangrove yang keberadaannya cukup banyak ditemui di Indonesia. Kandungan karbohidrat buah lindur relatif tinggi sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi edible film berbasis pati. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik jaringan tanaman lindur B. gymnorrhiza, memanfaatkan pati buah lindur sebagai edible film, dan mempelajari karakteristik edible film yang dihasilkan. Penelitian ini terdiri dari dua tahap yaitu penelitian awal dan penelitian lanjutan. Penelitian awal bertujuan untuk mengetahui kandungan proksimat, karakteristik histologi tanaman lindur, dan karakteristik tepung pati buah lindur yang dihasilkan. Penelitian lanjutan bertujuan untuk mendapatkan edible film dan mengatahui karakteristik edible film yang dihasilkan. Penggunaan konsentrasi tepung pati buah lindur adalah 4%, gliserol 1% dan 1,5%, dan konsentrasi karagenan 2%, 2,5% dan 3%. Pengujian karakteristik edible film yang dihasilkan meliputi pengujian ketebalan, kuat tarik (tensile strength), persen pemanjangan (elongation), dan laju transmisi uap air (WVTR)
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
