1,720,960 research outputs found

    Pengaruh Penambahan Formulasi Bawang Putih dan Waktu Pengeringan Bubuk terhadap Kualitas Bumbu Asam Keueng

    No full text
    Masam keueung (asam pedas) merupakan masakan tradisional khas daerah Aceh, penelitian ini membahas mengenai pengaruh penambahan formulasi bawang putih dan lama pengeringan bubuk terhadap mutu bumbu masam keung. Dalam penelitian ini, bumbu masam keung dikaji untuk mengetahui bagaimana kualitasnya dipengaruhi oleh dua faktor tersebut. Masam Keueung dapat dikategorikan sebagai Asam pikel.  Penambahan bawang putih merupakan formulasi bahan yang sangat berpengaruh terhadap cita rasa bumbu, untuk membuat bumbu  masam keueung dalam bentuk bubuk merupakan salah satu metode yang diterapkan dalam pembuatan bubuk masam keueung.   Proses pengolahan bubuk masam keueung ini adalah untuk membuat bumbu secara instan. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahuai pengaruh penambahan bawang putih dan lama pengeringan metode oven, untuk menentukan perlakuan terbaik dan pengaruh variabel pada pengolahan bubuk masam keueng.  Variabel yang dilakukan yaitu penambahan bawang putih (P) 5 gram, 10 gram dan 15 gram  dan pengeringan metode oven (L) 7 jam, 8 jam dan 9 jam.  Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 ulangan, analisis data dengan ANOVA dan Uji Lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT).  Perlakuan terbaik berdasarkan nilai kadar air yaitu pada perlakuan penambahan bawang putih 10 gram (P2) dan lama pengeringan 8 Jam (L2) sebesar 5,75%, sedangkan perlakuan pada kadar abu tidak memiliki perlkuan terbaik karena nilai terendah yang dihasilkan pada perlakuan konsentrasi penambahan 5 gram (P1) dan lama pengeringan 9 jam (L3) 61,64 ? maks 7,7 sehingga tidak memenuhi nilai SNI yang telah di tetapkan, nilai organoleptik masam keueung terhadap aroma adalah pada penambahan bawang putih 5 gram (P1), dan lama pengeringan metode oven 8 jam (L2) yaitu sebesar  6,62%, organopletik rasa pada penambahan garam 15 gram (P3) dan lama pengeringan metode oven 8 jam (L2) sebesar 6,84.&nbsp

    Analisis Pemberian Pupuk Nitrogen Nitrat dan Jarak Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis pemupukan nitrogen nitrat dan jarak tanam yang tepat agar peroleh pertumbuhan yang baik hasil bawang merah yang tinggi.  Penelitian ini menggunakan (RAK) faktorial dengan 3 blok : ada dua faktor yang diteliti yaitu dosis pemupukan nitrogen dan jarak tanam.  Faktor dosis urea dalam 4 taraf yaitu : P1 (19,44 g/plot), P2 (23,76 g/plot) P3 (28,08 g/plot) dan P4 (32,40 g/plot) sedangkan faktor jarak tanam 3 taraf yaitu : T1 (15 cm x 10 cm), T2 (15 cm x 20 cm) dan T3 (15 cm x 30 cm).  Perubahan yang diamati meliputi tinggi tanaman pada umur 15, 30 dan 45 hari setelah tanam, jumlah umbi per rumpun, berat berangkasan basah, berat umbi kering dan berat 100 umbi.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis pemupukan nitrogen nitrat berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 45 hari setelah tanam dan berat 100 umbi, serta berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 30 hari setelah tanam, jumlah umbi, berat berangkasan basah dan umbi kering tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 15 hari setelah tanam.  Dosis pemupukan nitrogen yang  terbaik untuk tinggi tanaman pada umur 30 dan 45 hari setelah tanam, jumlah umbi, berat berangkasan basah, berat umbi kering dan berat 100 umbi adalah 28,08 g/plot.  Jarak tanam terbaik untuk tinggi tanaman pada umur 15, 30 dan 45 hari setelah tanam, berat berangkasan basah dan umbi kering adalah 15 cm x 10 cm dan untuk jumlah umbi, berat 100 umbi adalah 15 x 20 cm.  Terdapat interaksi yang nyata antara perlakuan dosis pemupukan nitrogen dan jarak tanam terhadap tinggi tanaman pada umur 45 hari setelah tanam, tetapi tidak terdapat interaksi yang nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 45 hari setelah tanam, tetapi tidak terdapat interaksi yang nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 15 dan 30 hari setelah tanam

    Pengaruh Lama Perendaman Dalam Natrium Metabisulfit (Na2s2o5) Dan Lama Pengeringan Kulit Pisang Kepok Terhadap Mutu Tepung Yang Dihasilkan

    No full text
    Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahuai pengaruh lama perendaman dalam Na2S2O5) dan lama pengeringan terhadap mutu tepung kulit pisang kepok, untuk menentukan perlakuan terbaik dan pengaruh variabel pada pengolahan tepung kulit pisang kepok. Variabel yang digunakan ialah lama perendamandalam (Na2S2O5) 15 menit, 30 menit, dan 45 menit, dengan lama pengeringan20 jam, 22 jam dan 24 jam. Sedangkan Parameter yang dianalisis adalah Kadar Air, Kadar keasaman (pH), serta uji organoleptik (Aroma, Warna, dan Tekstur). Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 ulangan, analisis data dengan ANOVA dan Uji Lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Perlakuan terbaik pada penelitian ini adalah perlakuan L3P1 dan syarat mutu SNI tepung 3549-2009 adalah tepung secara umum kadar pH 5 – 7 dengan lama perendaman dalam Na2S2O5 (L3) dan lama pengeringan (P1) dengan nilai kadar air 8,17, nilai pH5,93, uji organoleptik nilai aroma3,77, nilai warna 3,77 dantekstur 3,77 (Suka

    PENGARUH PENAMBAHAN GARAM DAN IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) TERHADAP KARAKTERISTIK ABON JANTUNG PISANG

    No full text
    Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahuai pengaruh penambahan garam dan perbandingan ikan lele dumbo dengan jantung pisang, untuk menentukan perlakuan terbaik dan pengaruh variabel pada pengolahan abon jantung pisang.  Variabel yang digunakan ialah penambahan garam 1,5%, 2,5%, dan 3,5%, dengan perbandingan ikan lele dengan abon pisang (50 : 50%), (40 : 60%) dan (30 : 70%).  Sedangkan Parameter yang dianalisis adalah Kadar Air, Kadar Abu, Kadar Protein, Kadar Serat serta uji organoleptik (Warna, Aroma, dan Rasa).Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 ulangan, analisis data dengan ANOVA dan Uji Lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT).  Perlakuan terbaik pada penelitian ini adalah pada perlakuan G2L1 syarat mutu SNI abon 3549-2009 secara umum kadar air maks 10% dan kadar abu maks 9%, dengan nilai kadar air 8,86%, kadar abu 8,50, kadar protein 19,72% dan kadar serat 7,17 uji organoleptik nilai aroma 4,00 (suka), nilai rasa 4,37 (suka) dan nilai warna 3,70 (agak suka)

    PENGARUH LAMA FERMENTASI SERTA PENYULINGAN TERHADAP RENDEMEN DAN KUALITAS MINYAK DAUN KAYU PUTIH (MEULALEUCA LEUCADENDRON L)

    Get PDF
    Minyak atsiri dikenal dengan nama minyak eteris atau minyak terbang merupakan bahan yang bersifat mudah menguap (volatile). Salah satu jenis minyak atsiri yang paling banyak dikonsumsi dalam negeri dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi adalah minyak kayu putih. Konsumsi minyak atsiri beserta turunannya di seluruh dunia meningkat sekitar 8-10%, Kenaikan itu disebabkan karena masyarakat sudah mulai menyadari akan pentingnya minyak atsiri untuk industri parfum, kosmetik, dan kesehatan. Melihat begitu pesatnya perkembangan minyak atsiri di dunia perdagangan, perlu adanya perlakuan lama fermentasi dan lama penyulingan daun kayu putih untuk meningkatkan dan memaksimalkan mutu serta rendemen minyak kayu putih yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kualitas dan rendemen minyak kayu putih serta lamanya penyulingan terhadap mutu dan rendemen yang dihasilkan, untuk menentukan perlakuan terbaik dan pengaruh variabel pada perlakuan pendahuluan daun minyak kayu putih maka variabel yang digunakan ialah lama fermentasi daun kayu putih masing-masing 2 hari, 4 hari, dan 6 hari dengan lama penyulingan selama 4 jam, 5 jam dan 6 jam. Sedangkan Parameter yang dianalisis adalah Bobot jenis, Indeks bias, rendemen, GC-MS serta uji organoleptik hedonik (Aroma dan Warna). Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 ulangan, analisis data dengan ANOVA dan Uji Lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Dari hasil analisa, perlakuan terbaik pada penelitian ini ialah pada lama fermentasi 6 hari dan lama penyulingan 6 jam (F3P3) dengan rendemen 0,94, indek bias 1,48 serta bobot jenis 0,9430 (memenuhi standar SNI), organoleptik warna 3,67 (suka) dan organoleptik aroma 4,02 (suka).Kata Kunci : Minyak Kayu Putih, Fermentasi Daun, dan Lama Penyulinga

    TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN SELADA SERTA ANALISIS KELAYAKAN USAHA (Lactuca sativa L.) DI BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN (BALITSA) LEMBANG-BANDUNG, JAWA BARAT

    No full text
    Selada (Lactuca sativa L) adalah tumbuhan sayur yang biasa ditanam di daerah beriklim sedang maupun daerah tropika. Produksi selada dunia diperkirakan mencapai sekitar 3 juta ton, yang ditanam pada areal lebih dari 300.000 hektar lahan. Selada, satu-satunya jenis Lactuca yang didomestikasi, Kegiatan pemuliaan tanaman ini ditekankan untuk memperoleh tanaman yang tidak berduri, lambat berbunga, berbiji besar dan tidak menyebar, tidak bergetah, dan tidak pahit. Metode/teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Wawancara yang dilakukan dengan segenap pihak pelaksana, para staf dan pekerja atau petani yang berkecimpung langsung dalam menangani proses teknik menanam selada, Observasi dilapangan dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap keadaan dilahan BALITSA yang sebenarnya serta Mengikuti praktek langsung budidaya dari awal sampai akhir dari mulai penyiapan lahan, penyiapan benih, panen dan Analisis pemasaran. Dari hasil analisis Harga rata-rata per kg Rp. 1.000,. Hasil analisis diatas menunjukkan bahwa R/C rasio sebesar 1,4 aertinya dari 1 rupiah yang dikeluarkan akan memperoleh pendapatan 1,4 rupiah. Break event point (BEP) atau titik impas adalah Rp. 710,00/kg dan B/C rasio 0,4.Berdasarkan hasil analisis diatas menunjukkan bahwa budidaya tanaman selada layak untuk dikembangkan

    TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN SELADA SERTA ANALISIS KELAYAKAN USAHA (Lactuca sativa L.) DI BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN (BALITSA) LEMBANG-BANDUNG, JAWA BARAT

    Get PDF
    Lettuce (Lactuca sativa L) is a vegetable plant that is commonly grown in temperate and tropical regions. World lettuce production reaches about 3 million tonnes, which are planted on an area of more than 300,000 hectares of land. Lettuce, the only type of Lactuca that is domesticated. This plant breeding activity is to obtain plants that are not thorny, slow flowering, have large seeds and do not spread, are not gummy, and are not bitter. The data interview method used was interviews conducted with different implementing parties, staff and workers or farmers who were directly involved in the process of planting lettuce techniques, field observations by directly observing the actual condition of BALITSA's land and following direct cultivation practices. from beginning to end starting land preparation, seed preparation, harvesting and marketing analysis. From the results of the analysis, the average price per kg is Rp. 1,000,. The results of the analysis above show that the R / C ratio is 1.4, which seems that from 1 rupiah spent will earn 1.4 rupiahs. Break event point (BEP) or break-even point is Rp. 710.00 / kg and a B / C ratio of 0.4. Based on the results of the analysis above, it shows that lettuce cultivation is feasible to developSelada (Lactuca sativa L) adalah tumbuhan sayur yang biasa ditanam di daerah beriklim sedang maupun daerah tropika. Produksi selada dunia diperkirakan mencapai sekitar 3 juta ton, yang ditanam pada areal lebih dari 300.000 hektar lahan. Selada, satu-satunya jenis Lactuca yang didomestikasi, Kegiatan pemuliaan tanaman ini ditekankan untuk memperoleh tanaman yang tidak berduri, lambat berbunga, berbiji besar dan tidak menyebar, tidak bergetah, dan tidak pahit. Metode/teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Wawancara yang dilakukan dengan segenap pihak pelaksana, para staf dan pekerja atau petani yang berkecimpung langsung dalam menangani proses teknik menanam selada, Observasi dilapangan dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap keadaan dilahan BALITSA yang sebenarnya serta Mengikuti praktek langsung budidaya dari awal sampai akhir dari mulai penyiapan lahan, penyiapan benih, panen dan Analisis pemasaran. Dari hasil analisis Harga rata-rata per kg Rp. 1.000,. Hasil analisis diatasmenunjukkan bahwa R/C rasio sebesar 1,4 aertinya dari 1 rupiah yang dikeluarkan akan memperoleh pendapatan 1,4 rupiah. Break event point (BEP) atau titik impas adalah Rp. 710,00/kg dan B/C rasio 0,4.Berdasarkan hasil analisis diatas menunjukkan bahwa budidaya tanaman selada layak untuk dikembangkan

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore