1,721,033 research outputs found

    KAJIAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES PADA FILM “LOST IN PAPUA” IRHAM ACHO BACHTIAR (MAKNA DENOTASI DAN KONOTASI)

    No full text
    ABSTRAK Meidina Pusparani, 2022. Kajian Semiotika Roland Barthes pada Film “Lost in Papua Irham Acho Bachtiar (Makna Denotasi dan Konotasi). Skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Bengkulu. Pembimbing Utama Drs. Bambang Djunaidi, M.Hum., dan Pembimbing Pendamping Dra. Ngudining Rahayu, M.Hum. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna denotasi dan konotasi pada tuturan tokoh-tokoh dalam percakapan yang ada di film “Lost in Papua” Irham Acho Bachtiar dengan menggunakan kajian semiotika Roland Barthes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data yang dikumpulkan berasal dari video film “Lost in Papua” dan transkripsi filmnya. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati objek penelitian yaitu rekaman film dan transkripsi film serta mencatat data analisis yang diklasifikasi menggunakan peta tanda semiotika Roland Barthes yaitu penanda denotasi, petanda (makna) denotasi, tanda denotasi, penanda konotasi, petanda (makna) konotasi, dan tanda konotasi. Hasil penelitian ditemukan tiga belas tuturan tokoh dalam film dengan makna denotasi yang juga mengandung makna konotasi, yakni kalung jimat, gempa bumi, penjahat, lapangan, pelarian, dingin, nomor satu, ngejer, pythecantropus erectus, selesaikan, binatang hutan, setan, pejantan yang ditemukan di tiap adegan dan menit yang berbeda. Simpulan dari hasil penelitian ini terdapat tuturan-tuturan tokoh dalam film yang bermakna denotasi dan mengandung makna konotasi sehingga menghasilkan hubungan semiotik antara keduanya pada tiap tuturan tokoh–tokoh dalam film “Lost in Papua” Irham Acho Bachtiar. Kata kunci : semiotika, denotasi, konotasi, film “Lost in Papua”

    TOPONIMI DUSUN DAN DESA DI KECAMATAN GIRI MULYA KABUPATEN BENGKULU UTARA

    No full text
    ABSTRAK Ajeng Cristina Anggraini. 2021. Toponimi Dusun dan Desa di Kecamatan Giri Mulya Kabupaten Bengkulu Utara. Dr. Irma Diani, M.Hum, dan Dra. Ngudining Rahayu, M.Hum, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan IlmuPendidikan, Universitas Bengkulu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui toponimi yang mendasari penamaan dusun dan desa di Kecamatan Giri Mulya Kabupaten Bengkulu Utara. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data pada penelitian adalah informasi dari informan yang paham mengenai sejarah dusun dan desa di Kecamatan Giri Mulya. Metode pengumpulan data yaitu dengan observasi, wawancara, rekam dan catat. Langkah-langkah analisis data (1) transkrip data, (2) identifikasi data, (3) klasifikasi data, (4) analisis dan (5) kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toponimi dusun dan desa di Kecamatan Giri Mulya pada penamaanya cenderung berkaitan dengan aktivitas manusia, keadaan sosial, dan perilaku manusia sedangkan penamaan lainya berkaitan dengan pengharapan. Kesimpulan pada penelitian ini adalah pada penamaan desa dan dusun mengacu pada aspek perwujudan: latar rupa bumi, latar perairan, latar lingkungan alam, Aspek kemasyarakatan: tradisi, aspek sosial, keadaan sosial serta tokoh masyarakat, aspek kebudayaan: nilai pikiran positif, dan dari segi etnolinguistik mengacu pada tiga unsur wujud kebudayaan sebagai sistem ide, aktivitas dan artefak. Saran bagi peneliti selanjutnya dapat mengkaji dan meneliti lebih dalam untuk melakukan penelitian penelitian yang mengkaji kebudayaan bahasa masyarakatnya berdasarkan pada teori etnolinguistik. Kata Kunci : Desa, Kecamatan Giri Mulya, Bengkulu Utra

    TOPONIMI DESA-DESA DI KECAMATAN PINO RAYA KABUPATEN BENGKULU SELATAN

    No full text
    ABSTRAK Febrina Milenia. 2022. Toponimi Desa-Desa di Kecamatan Pino Raya Kabupaten Bengkulu Selatan. Dr. Irma Diani, M.Hum., dan Dra. Ngudining Rahayu, M.Hum., Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Bengkulu. Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk mendeskripsikan toponimi desa-desa di Kecamatan Pino Raya Kabupaten Bengkulu Selatan berdasarkan kategori aspek penamaan (aspek perwujudan, aspek kemasyarakatan, dan aspek kebudayaan), 2) untuk mendeskripsikan sejarah dan budaya penamaan desa di Kecamatan Pino Raya Kabupaten Bengkulu Selatan menurut kajian Etnolinguistik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data diperoleh dari wawancara, rekam, dan dokumentasi. Langkah-langkah analisis data menggunakan 1) transkripsi data, 2) identifikasi data, 3) klasifikasi data, 4) interpretasi data, 5) kesimpulan. Hasil penelitian penamaan desa yang meliputi aspek perwujudan yaitu Desa Nanjungan, Talang Padang, Air Kemang, Pagar Gading, Tanjung Aur II, Kemang Manis, Tanggo Raso, Telaga Dalam, Napal Melintang, Serang Bulan, Karang Cayo Padang Beriang. Penamaan desa yang meliputi aspek kemasyarakatan yaitu Desa Pasar Pino, Padang Serasan, Tungkal I, Tungkal II, Kembang Seri, Suka Bandung, Bandung Ayu, Cinto Mandi dan penamaan desa yang meliputi aspek kebudayaan yaitu Desa Selali. Sejarah berdirinya desa-desa di Kecamatan Pino Raya Kabupaten Bengkulu Selatan yaitu sebelum Kemerdekaan Indonesia. Wujud warisan budaya tak benda (intangible heritage) terdapat 16 desa dan wujud warisan budaya berupa benda (tangible heritage) terdapat 5 desa. Nilai budaya dalam penamaan desa di Kecamatan Pino Raya terdapat nilai pikiran positif, nilai peduli lingkungan, nilai pelestarian dan kreativitas budaya, nilai kerja keras, dan nilai pengelolaan gender. Kata Kunci : Toponimi, Kecamatan Pino Raya, Kabupaten Bengkulu Selata

    TINDAK TUTUR PUJIAN DALAM BAHASA PEKAL PADA MASYARAKAT PEKAL DI KECAMATAN PUTRI HIJAU KABUPATEN BENGKULU UTARA

    No full text
    Lestari, Sri Titis. 2013. Tindak Tutur Pujian dalam Bahasa Pekal pada Masyarakat Pekal di Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara.Dosen pembimbing utama Dra. Ngudining Rahayu, M. Hum dan pembimbing pendamping Drs. Bambang Djunaidi, M. Hum. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana penggunaan tindak tutur ekspresif memuji bahasa Pekal dan kaitannya dengan dimensi sosial, dalam percakapan masyarakat Pekal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengunaan tindak tutur ekspresif memuji dan kaitannya dengan dimensi sosial yang menyertainya. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, rekaman, wawancara, dan pencatatan. Sedangkan langkah analisis data dilakukan dengan dengan cara (1) pentranskripsian data, (2) penyeleksian data, (3) pengklasifikasian data, (4) penginterprestasian data, dan (5) penyimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang tindak tutur ekspresif memuji bahasa Pekal dapat disimpulkan bahwa tindak tutur ilokusi ekspresif memuji pada masyarakat Pekal terbiasa memuji dalam 3 hal yaitu, (1) memuji hasil kerja, tampak pada dimensi sosial yaitu ; jenis kelamin wanita, tingkat pendidikan dasar (SD, SMP), tingkat ekonomi menenggah, hubungan kekerabatan antara kakek dengan cucu, dan tingkat usia anak-anak. Pada memuji hasil kerja ada persamaan lain yaitu memuji hasil kerja dengan membandingkan sesuatu yang sudah ada atau yang sudah dikerjakan orang lain, dan kesamaan yang lain yaitu terdapat pada ungkapan yang digunakan oleh penutur ketika memuji mitra tutur yaitu menggunakan kata pujian lemok “enak” dan mantap ”mantap”. (2) memuji yang dimiliki, tampak pada dimensi sosial; jenis kelamin pria, hubungan kekerabatan antara orang tua dengan anak, hubungan kekerabatan antara adik dengan kakak atau sebaliknya, dan hubungan kekerabatan antara bibi dengan keponakan. Kesamaan yang lain terdapat pada ungkapan yang digunakan oleh penutur ketika memuji mitra tutur yaitu menggunakan kata pujian bahas dan ebat “bagus” dalam mengungkapkan pujiannya untuk mengekspresikan kekagumannya kepada mitra tuturnya. Dari data yang diperoleh dalam memuji yang dimiliki ada dua hal yaitu, memuji barang yang dimiliki mitra tutur dan memuji kecantikan atau ketampanan mitra tutur. (3) memuji hasil prestasi, tampak pada dimensi sosial; hubungan kekerabatan antara bibi / paman dengan keponakan, tingkat usia anak-anak, hubungan kekerabatan antara kakak dengan adik, dan hubungan kekerabatan antara orang tua dengan anak. Kesamaan yang lain terdapat pada ungkapan yang digunakan oleh penutur ketika memuji mitra tutur yaitu menggunakan kata pujian ebat “hebat”, pintar ”pintar”, dan baik “baik/bagus”, pada data yang diperoleh memuji prestasi lebih tampak pada prestasi belajar

    ANALISIS ASPEK KOHESI LEKSIKAL PADA RUBRIK HUKUM BAGIAN KRIMINAL HARIAN RAKYAT BENGKULU EDISI FEBRUARI 2018

    No full text
    ABSTRAK Tri Putriana. 2018. Analisis Aspek Kohesi Leksikal Rubrik Hukum Bagian Kriminal Surat Kabar Harian Rakyat Bengkulu Edisi Februari 2018. Pogram (S-1) Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Bengkulu. Pembimbing I: Drs. Suryadi, M.Hum, Pembimbing II: Dr. Ngudining Rahayu, M.Hum., 119 halaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan aspek kohesi leksikal dari segi bentuk dan hubungan makna yang berfokus pada rubrik hukum dan kriminal harian rakyat Bengkulu edisi Februari 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik penggumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi, selanjutnya data direduksi, menyajikan data dan terakhir menyimpulkan data. Hasil analisis data menunjukkan bahwa rubrik hukum bagian kriminal merupakan sebuah wacana yang padu karena didukung oleh penanda kohesi leksikal yang apik. Sinonim yang terdapat di dalam kohesi leksikal tidak semuanya dapat bersubstitusi di dalam konteks wacananya. Selain itu terdapat bentuk kohesi leksikal antonim yang bersifat mutlak, gradasi, dan relasional yang memiliki hubungan makna. Bentuk hiponim yang terdapat di dalam wacana kebanyakan tentang hubungan atas bawah suatu wilayah dan jabatan. Bentuk kolokasi di dalam wacana ada yang berupa frase dan berupa satu paragraf, artinya di dalam satu paragraf terdapat kolokasi yang saling berhubungan. Selain itu terdapat repetisi keseluruhan dan sebagian. Repetisi keseluruhan banyak merujuk kepada penekanan-penekanan penting yang mempengaruhi wacana, sedangkan repetisi bagian di dalam wacana adalah penjabaran jabatan dan akronim suatu istilah. Kata kunci : Analisis, Aspek Kohesi Leksikal, Rubrik Hukum dan Kriminal, Harian Rakyat Bengkulu

    TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM TRANSAKSI JUAL - BELI DI PASAR RAKYAT KEDURANG

    No full text
    ABSTRAK Tinti Apritus Jana, 2022. Tindak Tutur Direktif dalam Transaksi Jual - Beli di Pasar Rakyat Kedurang. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Bengkulu. Pembimbing Utama Dr. Irma Diani, M.Hum. Pembimbing Pendamping Dra. Ngudining Rahayu, M.Hum. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kategori tindak tutur direktif dalam transaksi jual beli di Pasar Rakyat Kedurang dan penggunaan konteks tindak tutur direktif dalam transaksi jual beli di Pasar Rakyat Kedurang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan yang disampaikan pedagang sayuran, pedagang ikan dan pedagang perabotan kepada pembeli di Pasar Rakyat Kedurang. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah percakapan atau tindak tutur yang dituturkan para pedagang dan pembeli pada saat melakukan transaksi di Pasar Rakyat Kedurang. Teknik pengumpulan data digunakan teknik observasi dan teknik rekam. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data meliputi transkripsi tuturan, pengkodean data, pengidentifikasian data, pengklasifikasian data, penginterpretasian data, dan p enarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kategori dan penggunaan konteks tuturan tindak tutur direktif dalam transaksi jual beli yaitu (1) Tindak tutur direktif perintah memiliki penanda dengan akhiran kata ‘Lah (Lah) dan Cube (Coba)’ yang digunakan untuk menyuruh seseorang agar melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan. (2) Tindak tutur direktif meminta memiliki penanda dengan kata ’Mintak (Minta), Tolong (Tolong), Pacak ape Dide (Bisa atau tidak), Ukan (Bukan)’ pada awal atau akhir kalimat. Tindak tutur direktif dengan kategori meminta digunakan oleh penjual dan pembeli sebagai pelaku tutur dalam transaksi jual beli. (3) Tindak tutur direktif mengajak memiliki penanda seperti ajakan ‘Taghuk we ( Sayur bu) , Sini(Sini), Ikan yuk (Ikan yuk) ’ pada awal atau akhir kalimat agar menarik minat pembeli untuk membeli apa yang mereka jual. (4) Tindak tutur direktif menyarankan memiliki penanda dengan kalimat ‘Kebile kinah (Lain kali), Alaplah ye luk ini saje (Lebih bagus yang seperti ini saja), Anukahlah (Lakukanlah atau ambil saja) . (5) Tindak tutur direktif melarang memiliki penanda berupa’ Jangan (Jangan), Ndik (Tidak), Belum kalu (Tunggu dulu)’ pada awal atau akhir kalimat. (6) Tindak tutur direktif pemberian izin memiliki penanda dengan kata ‘Au (Iya), ambiklah (Ambillah), Ndik ngape anukahlah (Tidak apa- apa lakukanlah atau ambil saja) ,yang memiliki makna sudah memberikan izin agar melakukan sesuatu. Unsur – unsur konteks yang lebih dominan dalam transaksi jual beli sayuran, ikan dan perabotan di Pasar Rakyat Kedurang adalah tawar menawar antara penjual dan pembeli secara lisan dengan menggunakan bahasa Pasemah. Proses tawar menawar dilakukan oleh penjual dan pembeli guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak dan pihak lain. Di dalam konteks tuturan terdapat konteks tuturan tindak tutur direktif perintah, meminta, mengajak, menyarankan, melarang, pemberian izin antara pedagang dan pembeli dalam melakukan transaksi jual beli di Pasar Rakyat Kedurang. Kata Kunci: Tindak tutur direktif, transaksi jual beli, Pasar Rakyat Keduran

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore