3 research outputs found

    Identifikasi Morfologi Dan Marka Molekuler Terpaut Sifat Tidak Berbunga Jantan Pada Mutan Pisang Kepok

    Get PDF
    Salah satu masalah dalam pengembangan produksi pisang ialah penyakit darah. Infeksi penyakit ini dapat dikurangi dengan menanam pisang kepok mutan tidak berbunga jantan. Penerapan teknik kultur jaringan dapat menyediakan benih seragam secara cepat dan dalam waktu yang singkat. Namun, penggunaan teknik kultur jaringan dapat menginduksi variasi somaklonal. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang stabilitas genetik dan keseragaman morfologi pada benih hasil kultur jaringan. Penelitian dilakukan dari Bulan Agustus 2012 sampai Mei 2013. Identifikasi morfologi pisang dilaksanakan di Kebun Koleksi PKHT Ciomas, Bogor. Analisis molekuler dilaksanakan di Laboratorium Molekuler PKHT. Penelitian bertujuan mempelajari karakter morfologi mutan pisang kepok Unti Sayang tidak berbunga jantan dan mengidentifikasi marka molekuler terpaut sifat tidak berbunga jantan. Identifikasi karakter morfologi dari 24 sampel tanaman dilakukan menggunakan panduan deskriptor dari International Plant Genetic Research Institute. Identifikasi marka molekuler dilakukan berdasarkan teknik PCR, menggunakan 20 primer RAPD, 12 primer ISSR, serta primer gen Pistillata, dan Agamous yang didesain berdasarkan informasi database sekuen DNA Musa acuminata yang terdapat di gene bank. Hasil pengamatan menunjukkan tidak ada variasi morfologi antara tipe liar, tanaman mutan, dan tanaman mutan yang kembali berbunga jantan, kecuali ada atau tidaknya bunga jantan. Analisis PCR dari 24 sampel tanaman menggunakan 20 primer RAPD dan 12 primer ISSR berturut-turut menghasilkan 379 dan 216 pita yang seragam. Hal yang sama juga ditemukan dari hasil amplifikasi DNA menggunakan primer Pistillata dan Agamous yang menghasilkan pita tunggal pada semua sampel. Analisis sekuen fragmen PCR hasil amplifikasi dengan primer gen Pistillata menunjukkan terdapat tiga nukleotida yang berbeda antara tipe liar dan tanaman mutan yang kembali berbunga jantan pada posisi 445, 461, dan 507

    Implementasi Kriptografi Hynrid Cryptosystem Menggunakan Algoritma Vigenere Cipher dan Algoritma RSA-CRT dalam Pengamanan File Citra

    No full text
    The development of technology has enabled each person to exchange information without any limitations of distance and time, one of them is the exchange of information in the form of image files. There is a possibility of data leakage during the process of exchanging the information. The confidentiality of the images transmitting is a matter to be considered. There are several ways and techniques used to maintain the security and confidentiality of the transmitted images. One of them is by cryptography where information is disguised to encrypted information. In this study, the author combines two algorithms, the Vigenere Cipher algorithm and RSA-CRT algorithm in hybrid cryptosystem scheme. The Vigenere Cipher algorithm is used to secure image files and RSA-CRT algorithms used to secure keys from the encrypted images. The system is designed using Java programming language. The results show that hybrid cryptosystem can secure and restore the image as before. The average time required to encrypt a 960x540 pixel image is 17443 millisecond, the 1280x720 pixel image is 30890 millisecond, the 1600x900 pixel image is 48650 millisecond and the 1920x1080 pixel image is 71144 millisecond. The average time required to decrypt a 960x540 pixel image is 16020 millisecond, the 1280x720 pixel image is 29337 millisecond, the 1600x900 pixel image is 46202 millisecond and the 1920x1080 pixel image is 66228 millisecond. It can be seen that the encryption process takes a longer time compared to the decryption process.Perkembangan teknologi telah memungkinkan setiap orang untuk saling melakukan pertukaran informasi tanpa ada batasan jarak dan waktu, salah satunya adalah pertukaran informasi dalam bentuk file citra. Tidak tertutup kemungkinan adanya kebocoran data pada saat proses pertukaran informasi yang dilakukan. Terjaminnya kerahasiaan citra yang dikirimkan merupakan hal yang harus diperhatikan. Ada beberapa cara dan teknik yang digunakan untuk menjaga keamanan dan kerahasian dari citra yang dikirim. Salah satunya adalah dengan kriptografi dimana informasi disamarkan menjadi informasi tersandi. Dalam penelitian ini penulis mengombinasikan dua algoritma, yakni algoritma Vigenere Cipher dan algoritma RSA-CRT dalam skema hybrid cryptosystem. Algoritma Vigenere Cipher digunakan untuk mengamankan file citra dan algoritma RSA-CRT digunakan untuk mengamankan kunci dari citra yang telah dienkripsi. Sistem ini dirancang menggunakan bahasa pemrograman Java. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hybrid cryptosystem dapat mengamankan serta mengembalikan citra seperti semula. Waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk mengenkripsi citra berdimensi 960x540 piksel adalah 17443 millisecond, citra berdimensi 1280x720 piksel adalah 30890 millisecond, citra berukuran 1600x900 piksel adalah 48650 millisecond dan citra berukuran 1920x1080 piksel adalah 71144 millisecond. Waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk mendekripsi citra berdimensi 960x540 piksel adalah 16020 millisecond, citra berukuran 1280x720 piksel adalah 29337 millisecond, citra berukuran 1600x900 piksel adalah 46202 millisecond dan citra berukuran 1920x1080 piksel adalah 66228 millisecond. Dapat dilihat bahwa proses enkripsi membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan proses dekripsi.Skripsi Sarjan

    Identifikasi Morfologi dan Marka Molekuler Terpaut Sifat Tidak Berbunga Jantan Pada Mutan Pisang Kepok

    Get PDF
    Salah satu masalah dalam pengembangan produksi pisang ialah penyakit darah. Infeksi penyakit ini dapat dikurangi dengan menanam pisang kepok mutan tidak berbunga jantan. Penerapan teknik kultur jaringan dapat menyediakan benih seragam secara cepat dan dalam waktu yang singkat. Namun, penggunaan teknik kultur jaringan dapat menginduksi variasi somaklonal. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang stabilitas genetik dan keseragaman morfologi pada benih hasil kultur jaringan. Penelitian dilakukan dari Bulan Agustus 2012 sampai Mei 2013. Identifikasi morfologi pisang dilaksanakan di Kebun Koleksi PKHT Ciomas, Bogor. Analisis molekuler dilaksanakan di Laboratorium Molekuler PKHT. Penelitian bertujuan mempelajari karakter morfologi mutan pisang kepok Unti Sayang tidak berbunga jantan dan mengidentifikasi marka molekuler terpaut sifat tidak berbunga jantan. Identifikasi karakter morfologi dari 24 sampel tanaman dilakukan menggunakan panduan deskriptor dari International Plant Genetic Research Institute. Identifikasi marka  molekuler dilakukan berdasarkan teknik PCR, menggunakan 20 primer RAPD, 12 primer ISSR, serta primer gen Pistillata, dan Agamous yang didesain berdasarkan informasi database sekuen DNA Musa acuminata yang terdapat di gene bank. Hasil pengamatan menunjukkan tidak ada variasi morfologi antara tipe liar, tanaman mutan, dan tanaman mutan yang kembali berbunga jantan, kecuali ada atau tidaknya bunga jantan. Analisis PCR dari 24 sampel tanaman menggunakan 20 primer RAPD dan 12 primer ISSR berturut-turut menghasilkan 379 dan 216 pita yang seragam. Hal yang sama juga ditemukan dari hasil amplifikasi DNA menggunakan primer Pistillata dan Agamous yang menghasilkan pita tunggal pada semua sampel. Analisis sekuen fragmen PCR hasil amplifikasi dengan primer gen Pistillata menunjukkan terdapat tiga nukleotida yang berbeda antara tipe liar dan tanaman mutan yang kembali berbunga jantan pada posisi 445, 461, dan 507
    corecore