35 research outputs found
KARAKTER PENDIDIKAN DALAM SOHIH BUKHARI DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA
ABSTRAK
Awaluddin Nasution (2021): Karakter Pendidikan Dalam Sohih Bukhari dan
Kontribusinya Dengan Pendidikan Karakter di
Indonesia
Pendidikan karakter dipahami sebagai upaya penanaman kecerdasan dalam
berpikir, penghayatan dalam bentuk sikap, dan pengalaman dalam bentuk perilaku
yang sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam
interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, antar sesama, dan lingkungannya.
Penanaman pendidikan karakter tidak bisa hanya sekadar mentransfer ilmu
pengetahuan atau melatih suatu keterampilan tertentu. Penanaman pendidikan
karakter perlu proses, contoh teladan dan pembiasaan atau pembudayaan dalam
lingkunngan peserta didik, dalam lingkungan sekolah, keluarga, lingkungan
masyarakat, maupun lingkungan (exposure) media massa. Maka, penelitian ini
bertujuan untuk memahami formulasi pendidikan karakter dalam sohih bukhari.
melalui telaah pemahaman secara kontekstual serta mengungkap relevansi hadishadis
Nabi
SAW.
Berdasarkan
analisis
yang
sudah
dilakukan
mengenai
Karakter
pendidikan dalam sohih bukhari dan kontribusinya terhadap pendidikan karakter di
Indonesia. Maka dapat disimpulkan: pendidikan Islam, pendidikan karakter
memiliki kesamaan untuk membentuk anak yang memiliki akhlak dan karakter
yang baik dalam hidupnya dalam bermasyarakat dan bernegara. Pertama, untuk
mewujudkan generasi yang memiliki karakter yang baik dalam kehidupannya,
diperlukan kansep pendidikan yang baik juga, dimana konsep pendidikan karakter
membentuk anak agar memiliki jiwa disiplin yang tinggi serta meliliki sikap yang
dapat dijadikan suatu acuan dalam kehidupanny
Perbandingan Respon Hemodinamika Akibat Tindakan Laringoskopi dan Intubasi pada Pemberian Intravena Fentanyl 2 µg/kgBB + Magnesium Sulfat 30 mg/kgBB dengan Fentanyl 2 µg/kgBB + Lidokain 1.5 mg/kgBB
Background. Laryngoscopy and endotracheal intubation is routine performed in general
anesthesia. However laryngoscopy and endotracheal intubation can lead to an increase in
hemodynamic that characterized by hypertension and tachycardia, and can endanger the
patients who have risk factors such as hypertension, coronary heart disease,
cerebrovascular disorders, myocardial infarction, and thyrotoxicosis. Various drugs and
methods have been used to reduce the hemodynamic responses due to laryngoscopy and
endotracheal intubation. The purpose of this study was to compare the administration of
fentanyl + magnesium sulfate with fentanyl + lidocaine in reducing hemodynamic
response due to laryngoscopy and endotracheal intubation.
Method. This study was performed on 30 patients aged 18-50 years, ASA 1, who
underwent elective surgery with general anesthesia endotracheal intubation. The patients
randomly divided into two equal groups. Group A get Fentanyl 2 µg/kg iv + MgSO4 30
mg/kg iv as premedication, and Group B get Fentanyl 2 µg/kg iv + Lidocaine 1.5 mg/kg
iv before laryngoscopy and endotracheal intubation. Systolic blood pressure value
(SBP), diastolic (DBP), mean arterial pressure (MAP), heart rate (HR) and Rate Pressure
Product (RPP) were recorded at the time before administration of the test drug, after
administration of the test drug, before induction, after induction and at minute 1st, 3rd, and
5
th after laryngoscopy and endotracheal intubation.
Result. Patient characteristic data showed no differences between two groups (p> 0.05).
Both groups had decreased SBP, DBP, MAP and had increased HR and RPP after
endotracheal intubation compared to baseline value. There was significant rise in HR at
the first minute after laryngoscopy and intubation. Maximum rise in HR in Group A was
12.20% and maximum rise in Group B was 11.54%, when compared with baseline value,
and statistically significant (p <0.05). However, this rise in HR did not reach 20% of
baseline value. There is no significant difference of SBP, DBP, MAP, HR and RPP
between group A and group B at minute 1st, 3rd, and 5th after laryngoscopy and
endotracheal intubation (p<0,05).
Conclusion. Fentanyl + Magnesium Sulfate and Fentanyl + Lidocaine are equally
effective in reducing hemodynamic response due to laryngoscopy and endotracheal
intubation.Latar Belakang. Tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea merupakan hal yang
rutin dilakukan pada anastesi umum. Namun tindakan laringoskopi dan intubasi tersebut
dapat menyebabkan terjadinya peningkatan hemodinamik berupa hipertensi dan
takikardi, dan dapat membahayakan pada pasien-pasien yang mempunyai faktor resiko
seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, kelainan serebrovaskular, miokard infark
dan tirotoksikosis. Berbagai obat dan cara telah digunakan untuk mengurangi
peningkatan hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea
tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan pemberian fentanyl +
magnesium sulfat dengan fentanyl + lidokain dalam mengurangi respon peningkatan
hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea.
Metode. Penelitian ini dilakukan pada 30 pasien berusia 18 – 50 tahun dan tergolong
dalam ASA 1, yang menjalani pembedahan elektif dengan anestesi umum intubasi
endotrakhea secara acak tersamar ganda dibagi dalam 2 kelompok yang sama besar.
Kelompok A mendapatkan premedikasi fentanyl 2 µg/kgBB intravena + MgSO4 30
mg/kgBB intravena, dan kelompok B mendapatkan premedikasi fentanyl 2µg/kgBB
intravena + Lidokain 1,5 mg/kgBB intravena sebelum tindakan laringoskopi dan intubasi
endotrakhea. Dilakukan pencatatan nilai tekanan darah sistolik (TDS), diastolik (TDD),
tekanan arteri rerata (TAR), denyut jantung (DJ) dan Rate Pressure Product (RPP) pada
saat sebelum pemberian obat uji (basal), setelah pemberian obat uji, sebelum induksi,
setelah induksi dan setelah tindakan laringoskopi dan intubasi pada menit ke-1, ke-3 dan
ke-5.
Hasil. Data karakteristik pasien tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara kedua
kelompok penelitian (p>0,05). Pada kedua kelompok dijumpai penurunan TDS, TDD,
TAR dan dijumpai peningkatan DJ serta RPP setelah tindakan laringoskopi dan intubasi
dibandingkan nilai basal. Peningkatan yang bermakna terlihat pada peningkatan frekuensi
DJ pada saat menit ke-1 setelah tindakan laringoskopi. Pada kelompok A peningkatan DJ
sebesar 12,20% dan pada kelompok B peningkatan sebesar 11,54% bila dibandingkan
dengan nilai basal, dan secara statistik bermakna (p<0,05). Namun peningkatan tersebut
tidak mencapai 20% dari nilai basal. Tidak dijumpai perbedaan nilai TDS, TDD, TAR,
DJ dan RPP yang bermakna antara kelompok A dan kelompok B pada pengamatan menit
ke-1, ke-3 dan ke-5 setelah tindakan laringoskopi dan intubasi (p<0,05).
Kesimpulan. Fentanyl + Magnesium Sulfat dan Fentanyl + Lidokain sama-sama efektif
dalam mengurangi respon peningkatan hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan
intubasi endotrakhea.109 HalamanTesis Magiste
Perbandingan Respon Hemodinamik Akibat Tindakan Laringoskopi dan Intubasi pada Pemberian Intravena Fentanyl 2 μg/kgBB + Magnesium Sulfat 30 mg/kgBB dengan Fentanyl 2 μg/kgBB + Lidokain 1.5 mg/kgBB
Background. Laryngoscopy and endotracheal intubation is routine performed in general
anesthesia. However laryngoscopy and endotracheal intubation can lead to an increase in
hemodynamic that characterized by hypertension and tachycardia, and can endanger the
patients who have risk factors such as hypertension, coronary heart disease,
cerebrovascular disorders, myocardial infarction, and thyrotoxicosis. Various drugs and
methods have been used to reduce the hemodynamic responses due to laryngoscopy and
endotracheal intubation. The purpose of this study was to compare the administration of
fentanyl + magnesium sulfate with fentanyl + lidocaine in reducing hemodynamic
response due to laryngoscopy and endotracheal intubation.
Method. This study was performed on 30 patients aged 18-50 years, ASA 1, who
underwent elective surgery with general anesthesia endotracheal intubation. The patients
randomly divided into two equal groups. Group A get Fentanyl 2 μg/kg iv + MgSO4 30
mg/kg iv as premedication, and Group B get Fentanyl 2 μg/kg iv + Lidocaine 1.5 mg/kg
iv before laryngoscopy and endotracheal intubation. Systolic blood pressure value
(SBP), diastolic (DBP), mean arterial pressure (MAP), heart rate (HR) and Rate Pressure
Product (RPP) were recorded at the time before administration of the test drug, after
administration of the test drug, before induction, after induction and at minute 1st, 3rd, and
5th after laryngoscopy and endotracheal intubation.
Result. Patient characteristic data showed no differences between two groups (p> 0.05).
Both groups had decreased SBP, DBP, MAP and had increased HR and RPP after
endotracheal intubation compared to baseline value. There was significant rise in HR at
the first minute after laryngoscopy and intubation. Maximum rise in HR in Group A was
12.20% and maximum rise in Group B was 11.54%, when compared with baseline value,
and statistically significant (p <0.05). However, this rise in HR did not reach 20% of
baseline value. There is no significant difference of SBP, DBP, MAP, HR and RPP
between group A and group B at minute 1st, 3rd, and 5th after laryngoscopy and
endotracheal intubation (p<0,05).
Conclusion. Fentanyl + Magnesium Sulfate and Fentanyl + Lidocaine are equally
effective in reducing hemodynamic response due to laryngoscopy and endotracheal
intubation.Latar Belakang. Tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea merupakan hal yang
rutin dilakukan pada anastesi umum. Namun tindakan laringoskopi dan intubasi tersebut
dapat menyebabkan terjadinya peningkatan hemodinamik berupa hipertensi dan
takikardi, dan dapat membahayakan pada pasien-pasien yang mempunyai faktor resiko
seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, kelainan serebrovaskular, miokard infark
dan tirotoksikosis. Berbagai obat dan cara telah digunakan untuk mengurangi
peningkatan hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea
tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan pemberian fentanyl +
magnesium sulfat dengan fentanyl + lidokain dalam mengurangi respon peningkatan
hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea.
Metode. Penelitian ini dilakukan pada 30 pasien berusia 18 – 50 tahun dan tergolong
dalam ASA 1, yang menjalani pembedahan elektif dengan anestesi umum intubasi
endotrakhea secara acak tersamar ganda dibagi dalam 2 kelompok yang sama besar.
Kelompok A mendapatkan premedikasi fentanyl 2 μg/kgBB intravena + MgSO4 30
mg/kgBB intravena, dan kelompok B mendapatkan premedikasi fentanyl 2μg/kgBB
intravena + Lidokain 1,5 mg/kgBB intravena sebelum tindakan laringoskopi dan intubasi
endotrakhea. Dilakukan pencatatan nilai tekanan darah sistolik (TDS), diastolik (TDD),
tekanan arteri rerata (TAR), denyut jantung (DJ) dan Rate Pressure Product (RPP) pada
saat sebelum pemberian obat uji (basal), setelah pemberian obat uji, sebelum induksi,
setelah induksi dan setelah tindakan laringoskopi dan intubasi pada menit ke-1, ke-3 dan
ke-5.
Hasil. Data karakteristik pasien tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara kedua
kelompok penelitian (p>0,05). Pada kedua kelompok dijumpai penurunan TDS, TDD,
TAR dan dijumpai peningkatan DJ serta RPP setelah tindakan laringoskopi dan intubasi
dibandingkan nilai basal. Peningkatan yang bermakna terlihat pada peningkatan frekuensi
DJ pada saat menit ke-1 setelah tindakan laringoskopi. Pada kelompok A peningkatan DJ
sebesar 12,20% dan pada kelompok B peningkatan sebesar 11,54% bila dibandingkan
dengan nilai basal, dan secara statistik bermakna (p<0,05). Namun peningkatan tersebut
tidak mencapai 20% dari nilai basal. Tidak dijumpai perbedaan nilai TDS, TDD, TAR,
DJ dan RPP yang bermakna antara kelompok A dan kelompok B pada pengamatan menit
ke-1, ke-3 dan ke-5 setelah tindakan laringoskopi dan intubasi (p<0,05).
Kesimpulan. Fentanyl + Magnesium Sulfat dan Fentanyl + Lidokain sama-sama efektif
dalam mengurangi respon peningkatan hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan
intubasi endotrakhea.105 HalamanTesis Magiste
Perbandingan Respon Hemodinamik Akibat Tindakan Laringoskopi dan Intubasi pada Pemberian Intravena Fentanyl 2 μg/kgBB + Magnesium Sulfat 30 mg/kgBB dengan Fentanyl 2 μg/kgBB + Lidokain 1.5 mg/kgBB
Background. Laryngoscopy and endotracheal intubation is routine performed in general
anesthesia. However laryngoscopy and endotracheal intubation can lead to an increase in
hemodynamic that characterized by hypertension and tachycardia, and can endanger the
patients who have risk factors such as hypertension, coronary heart disease,
cerebrovascular disorders, myocardial infarction, and thyrotoxicosis. Various drugs and
methods have been used to reduce the hemodynamic responses due to laryngoscopy and
endotracheal intubation. The purpose of this study was to compare the administration of
fentanyl + magnesium sulfate with fentanyl + lidocaine in reducing hemodynamic
response due to laryngoscopy and endotracheal intubation.
Method. This study was performed on 30 patients aged 18-50 years, ASA 1, who
underwent elective surgery with general anesthesia endotracheal intubation. The patients
randomly divided into two equal groups. Group A get Fentanyl 2 μg/kg iv + MgSO4 30
mg/kg iv as premedication, and Group B get Fentanyl 2 μg/kg iv + Lidocaine 1.5 mg/kg
iv before laryngoscopy and endotracheal intubation. Systolic blood pressure value
(SBP), diastolic (DBP), mean arterial pressure (MAP), heart rate (HR) and Rate Pressure
Product (RPP) were recorded at the time before administration of the test drug, after
administration of the test drug, before induction, after induction and at minute 1st, 3rd, and
5th after laryngoscopy and endotracheal intubation.
Result. Patient characteristic data showed no differences between two groups (p> 0.05).
Both groups had decreased SBP, DBP, MAP and had increased HR and RPP after
endotracheal intubation compared to baseline value. There was significant rise in HR at
the first minute after laryngoscopy and intubation. Maximum rise in HR in Group A was
12.20% and maximum rise in Group B was 11.54%, when compared with baseline value,
and statistically significant (p <0.05). However, this rise in HR did not reach 20% of
baseline value. There is no significant difference of SBP, DBP, MAP, HR and RPP
between group A and group B at minute 1st, 3rd, and 5th after laryngoscopy and
endotracheal intubation (p<0,05).
Conclusion. Fentanyl + Magnesium Sulfate and Fentanyl + Lidocaine are equally
effective in reducing hemodynamic response due to laryngoscopy and endotracheal
intubation.Latar Belakang. Tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea merupakan hal yang
rutin dilakukan pada anastesi umum. Namun tindakan laringoskopi dan intubasi tersebut
dapat menyebabkan terjadinya peningkatan hemodinamik berupa hipertensi dan
takikardi, dan dapat membahayakan pada pasien-pasien yang mempunyai faktor resiko
seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, kelainan serebrovaskular, miokard infark
dan tirotoksikosis. Berbagai obat dan cara telah digunakan untuk mengurangi
peningkatan hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea
tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan pemberian fentanyl +
magnesium sulfat dengan fentanyl + lidokain dalam mengurangi respon peningkatan
hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea.
Metode. Penelitian ini dilakukan pada 30 pasien berusia 18 – 50 tahun dan tergolong
dalam ASA 1, yang menjalani pembedahan elektif dengan anestesi umum intubasi
endotrakhea secara acak tersamar ganda dibagi dalam 2 kelompok yang sama besar.
Kelompok A mendapatkan premedikasi fentanyl 2 μg/kgBB intravena + MgSO4 30
mg/kgBB intravena, dan kelompok B mendapatkan premedikasi fentanyl 2μg/kgBB
intravena + Lidokain 1,5 mg/kgBB intravena sebelum tindakan laringoskopi dan intubasi
endotrakhea. Dilakukan pencatatan nilai tekanan darah sistolik (TDS), diastolik (TDD),
tekanan arteri rerata (TAR), denyut jantung (DJ) dan Rate Pressure Product (RPP) pada
saat sebelum pemberian obat uji (basal), setelah pemberian obat uji, sebelum induksi,
setelah induksi dan setelah tindakan laringoskopi dan intubasi pada menit ke-1, ke-3 dan
ke-5.
Hasil. Data karakteristik pasien tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara kedua
kelompok penelitian (p>0,05). Pada kedua kelompok dijumpai penurunan TDS, TDD,
TAR dan dijumpai peningkatan DJ serta RPP setelah tindakan laringoskopi dan intubasi
dibandingkan nilai basal. Peningkatan yang bermakna terlihat pada peningkatan frekuensi
DJ pada saat menit ke-1 setelah tindakan laringoskopi. Pada kelompok A peningkatan DJ
sebesar 12,20% dan pada kelompok B peningkatan sebesar 11,54% bila dibandingkan
dengan nilai basal, dan secara statistik bermakna (p<0,05). Namun peningkatan tersebut
tidak mencapai 20% dari nilai basal. Tidak dijumpai perbedaan nilai TDS, TDD, TAR,
DJ dan RPP yang bermakna antara kelompok A dan kelompok B pada pengamatan menit
ke-1, ke-3 dan ke-5 setelah tindakan laringoskopi dan intubasi (p<0,05).
Kesimpulan. Fentanyl + Magnesium Sulfat dan Fentanyl + Lidokain sama-sama efektif
dalam mengurangi respon peningkatan hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan
intubasi endotrakhea.105 HalamanTesis Magiste
ANALISA PENYEBAB PENURUNAN KINERJA KOMPRESOR TERHADAP MESIN PENDINGIN DI MV.ENERGY PROSPERITY
Muhammad Awaluddin Khoir, 50134913.T, 2018, "Analysis of the cause of the compressor performance degradation of cooling machine in MV.Energy Prosperity by using SWOT method", Diploma IV Program, Teknika, Merchant Marine Polytechnic, Advisors: Dwi Prasetro, MM, M.Mar.E, MM, M.Mar .E and Advisor II: Dodik Widarbowo, MT, M.Mar. Sailing will be able to reach its destination safely and safely if the food is well supplied, foodstuffs are the main ingredients to be aware of its existence. To maintain the quality and quantity of food on board, one of them can use the food cooling system. Refrigerator is a machine that serves to cool and preserve food. The purpose of this study is to be able to find out what influences the compressor's performance degradation of the cooling machine in MV.Energy Prosperity by using SWOT method which results in factors that may affect the compressor's performance degradation when the compressor operates and stops too often, decreases compression pressure and also the suction pressure is too low. In this study, the authors used a descriptive qualitative method using subapplication of the authors to limit factors that may affect the decrease of compressor performance to the cooling machine. After the authors make observations of the factors above can the author convey as follows. The effect of decreasing compressor performance on cooling machine is decreasing compression pressure on the compressor due to broken piston rings and worn cylinder liner wall can cause compression pressure to decrease. So that required the maintenance of a routine and well-planned degan good proes pressure perfect compression. And hopefully this thesis is useful for the compression system on the compressor in case of damage.
Keywords: Compressor, SWOT, cooling machine
Perbandingan Respon Hemodinamika Akibat Tindakan Laringoskopi dan Intubasi pada Pemberian Intravena Fentanyl 2 µg/kgBB + Magnesium Sulfat 30 mg/kgBB dengan Fentanyl 2 µg/kgBB + Lidokain 1.5 mg/kgBB
Background. Laryngoscopy and endotracheal intubation is routine performed in general
anesthesia. However laryngoscopy and endotracheal intubation can lead to an increase in
hemodynamic that characterized by hypertension and tachycardia, and can endanger the
patients who have risk factors such as hypertension, coronary heart disease,
cerebrovascular disorders, myocardial infarction, and thyrotoxicosis. Various drugs and
methods have been used to reduce the hemodynamic responses due to laryngoscopy and
endotracheal intubation. The purpose of this study was to compare the administration of
fentanyl + magnesium sulfate with fentanyl + lidocaine in reducing hemodynamic
response due to laryngoscopy and endotracheal intubation.
Method. This study was performed on 30 patients aged 18-50 years, ASA 1, who
underwent elective surgery with general anesthesia endotracheal intubation. The patients
randomly divided into two equal groups. Group A get Fentanyl 2 µg/kg iv + MgSO4 30
mg/kg iv as premedication, and Group B get Fentanyl 2 µg/kg iv + Lidocaine 1.5 mg/kg
iv before laryngoscopy and endotracheal intubation. Systolic blood pressure value
(SBP), diastolic (DBP), mean arterial pressure (MAP), heart rate (HR) and Rate Pressure
Product (RPP) were recorded at the time before administration of the test drug, after
administration of the test drug, before induction, after induction and at minute 1st, 3rd, and
5
th after laryngoscopy and endotracheal intubation.
Result. Patient characteristic data showed no differences between two groups (p> 0.05).
Both groups had decreased SBP, DBP, MAP and had increased HR and RPP after
endotracheal intubation compared to baseline value. There was significant rise in HR at
the first minute after laryngoscopy and intubation. Maximum rise in HR in Group A was
12.20% and maximum rise in Group B was 11.54%, when compared with baseline value,
and statistically significant (p <0.05). However, this rise in HR did not reach 20% of
baseline value. There is no significant difference of SBP, DBP, MAP, HR and RPP
between group A and group B at minute 1st, 3rd, and 5th after laryngoscopy and
endotracheal intubation (p<0,05).
Conclusion. Fentanyl + Magnesium Sulfate and Fentanyl + Lidocaine are equally
effective in reducing hemodynamic response due to laryngoscopy and endotracheal
intubation.Latar Belakang. Tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea merupakan hal yang
rutin dilakukan pada anastesi umum. Namun tindakan laringoskopi dan intubasi tersebut
dapat menyebabkan terjadinya peningkatan hemodinamik berupa hipertensi dan
takikardi, dan dapat membahayakan pada pasien-pasien yang mempunyai faktor resiko
seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, kelainan serebrovaskular, miokard infark
dan tirotoksikosis. Berbagai obat dan cara telah digunakan untuk mengurangi
peningkatan hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea
tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan pemberian fentanyl +
magnesium sulfat dengan fentanyl + lidokain dalam mengurangi respon peningkatan
hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea.
Metode. Penelitian ini dilakukan pada 30 pasien berusia 18 – 50 tahun dan tergolong
dalam ASA 1, yang menjalani pembedahan elektif dengan anestesi umum intubasi
endotrakhea secara acak tersamar ganda dibagi dalam 2 kelompok yang sama besar.
Kelompok A mendapatkan premedikasi fentanyl 2 µg/kgBB intravena + MgSO4 30
mg/kgBB intravena, dan kelompok B mendapatkan premedikasi fentanyl 2µg/kgBB
intravena + Lidokain 1,5 mg/kgBB intravena sebelum tindakan laringoskopi dan intubasi
endotrakhea. Dilakukan pencatatan nilai tekanan darah sistolik (TDS), diastolik (TDD),
tekanan arteri rerata (TAR), denyut jantung (DJ) dan Rate Pressure Product (RPP) pada
saat sebelum pemberian obat uji (basal), setelah pemberian obat uji, sebelum induksi,
setelah induksi dan setelah tindakan laringoskopi dan intubasi pada menit ke-1, ke-3 dan
ke-5.
Hasil. Data karakteristik pasien tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara kedua
kelompok penelitian (p>0,05). Pada kedua kelompok dijumpai penurunan TDS, TDD,
TAR dan dijumpai peningkatan DJ serta RPP setelah tindakan laringoskopi dan intubasi
dibandingkan nilai basal. Peningkatan yang bermakna terlihat pada peningkatan frekuensi
DJ pada saat menit ke-1 setelah tindakan laringoskopi. Pada kelompok A peningkatan DJ
sebesar 12,20% dan pada kelompok B peningkatan sebesar 11,54% bila dibandingkan
dengan nilai basal, dan secara statistik bermakna (p<0,05). Namun peningkatan tersebut
tidak mencapai 20% dari nilai basal. Tidak dijumpai perbedaan nilai TDS, TDD, TAR,
DJ dan RPP yang bermakna antara kelompok A dan kelompok B pada pengamatan menit
ke-1, ke-3 dan ke-5 setelah tindakan laringoskopi dan intubasi (p<0,05).
Kesimpulan. Fentanyl + Magnesium Sulfat dan Fentanyl + Lidokain sama-sama efektif
dalam mengurangi respon peningkatan hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan
intubasi endotrakhea.109 HalamanTesis Magiste
Optimasi Penjadwalan Proyek Pembangunan Jalan dengan Metode PERT dan CPM
The country's economic development can not be separated from the activities of
the project, because the project is the smallest developmental unit. Similarly
within the scope of the company, the development of the company also starts from
the project activities, such as plant construction projects, new product
development projects or other projects. In this paper the author can planning
techniques with network work (network planning) as one of the models that will
be used in the implementation of road construction projects in PT. Karya Muda
Nasional. The two planning techniques used by the author are PERT and CPM.
Both of these techniques are used by the Author to optimize the construction of
road construction projects, where the author examines issues related to time.
PERT and CPM used to complement each other. By comparing the actual
situation and the plan, it can be seen whether the progress of the project is on
schedule or delayed.Pembangunan ekonomi negara tidak terlepas dari kegiatan-kegiatan berupa
proyek, karena proyek merupakan unit pembangunan yang paling kecil. Demikian
pula dalam ruang lingkup perusahaan, pengembangan perusahaan juga dimulai
dari kegiatan-kegiatan proyek, misalnya proyek pembangunan pabrik, proyek
pengembangan produk baru atau proyek lainnya. Dalam tulisan ini Penulis
meggunakan teknik perencanaan dengan jaringan kerja (network planning)
sebagai salah satu model yang akan digunakan dalam penyelenggaraan proyek
pembangunan jalan di PT. Karya Muda Nasional. Dua teknik perencanaan yang
dipakai Penulis adalah PERT dan CPM. Kedua teknik ini digunakan Penulis
untuk mengoptimalkan proyek konstruksi pembangunan jalan, dimana Penulis
mengkaji masalah yang berkaitan dengan waktu. PERT dan CPM dipakai secara
bersamaan untuk saling melengkapi. Dengan membandingkan antara keadaan
nyata dan rencana, dapat diketahui apakah progres dari proyek yang bersangkutan
sesuai jadwal atau mengalami keterlambatan.Skripsi Sarjan
