1,722,137 research outputs found

    Mayor Jenderal TNI Nasrun Syahrun,SH:Pejuang Kemerdekaan,Abdi Hukum,Diplomat

    No full text
    24,5 cm; 276 ha

    EFEKTIVITAS TERAPI PURSED LIPS BREATHING DAN POSISI SEMI FOWLER TERHADAP PENURUNAN SESAK NAPAS PASIEN TUBERCULOSIS: LITERATURE REVIEW

    Full text link
    Tuberkulosis salah satu penyakit menular penyebab dari bakteri Mycobacterium tuberkulosis dan menyerang organ paru-paru. Pasien dengan TB Paru memerlukan Tindakan penanganan selain terapi farmakologis yaitu dengan Pursed Lips Breathing dan memberikan posisi Semi Fowler. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas terapi pursed lips breathing dan posisi semi fowler terhadap penurunan sesak napas pasien tuberkulosis. Studi penelitian menggunakan PICOT dengan pencarian pada Google Scholar sebanyak 830 artikel, Science Direct 1579 artikel, dan PUBMED 173 artikel yang ketiganya dari tahun 2019 – 2022 dengan menggunakan kata kunci Tuberculosis, Pursed lip breathing dan Semi fowler sehingga menghasilkan 10 jurnal yang di review. Hasil Menunjukkan hubungan antara terapi inhalasi sederhana dengan pursed lips breathing dan posisi semi fowler dalam menurunkan sesak nafas pada pasien tuberkulosis.. Disimpulkan bahwa memberikan posisi semi fowler berpengaruh pada penurunan gejala sesak yang dialami pasien tuberculosis. Selain itu penelitian menunjukan terapi pursed lips breathing berpengaruh pada pasien Tuberculosis  dalam menurunkan sesak nafas

    Transmisi Sanad dan Otoritas Qirâ’ah warsy di Tanah Banjar: Telaah Atas Kitab Fatḥ Al-Ghabsy Ta‘Līq Naẓm Riwayah Warsh Karya KH. Nasrun Thohir

    No full text
    Tradisi Qirâ’ah warsy merupakan salah satu kekayaan bacaan al-Qur’an yang jarang dikenal luas di Indonesia. Di Tanah Banjar, transmisi bacaan ini tetap hidup berkat peran sentral KH. Nasrun Thahir, seorang ulama karismatik yang mewarisi dan mengajarkan bacaan tersebut secara konsisten di lingkungan pesantren. Keberadaan Sanad yang bersambung hingga Imam Warsy menjadi fondasi penting dalam menjaga autentisitas bacaan ini. Hal ini menunjukkan bahwa Qirâ’ah warsy bukan hanya praktik keagamaan, tetapi juga warisan keilmuan yang patut dilestarikan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana proses transmisi Sanad Qirâ’ah warsy berlangsung di Tanah Banjar, serta bagaimana Otoritas keilmuan KH. Nasrun Thahir dibangun dan diakui dalam konteks tersebut. Penelitian ini ingin menjawab bagaimana metode pengajaran Qirâ’ah warsy dijalankan dan apa makna Sanad dalam mempertahankan kemurnian bacaan al Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Ditemukan bahwa proses transmisi dilakukan melalui metode talaqqi dan musyāfahah, dengan seleksi ketat terhadap murid yang berhak menerima Sanad. KH. Nasrun Thahir tidak hanya dikenal melalui jalur keilmuannya, tetapi juga melalui karyanya, Fath al-Ghabsy, yang memperkuat posisi keilmuannya dalam Qirâ’ah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sanad bukan sekadar jalur transmisi ilmu, tetapi juga simbol otoritas spiritual dan sosial. KH. Nasrun Thohir berhasil mentransmisikan ilmu Qirâ’ah Warsy secara berkesinambungan melalui pesantren. Hingga kini, sanad beliau masih diteruskan oleh para muridnya, menunjukkan keberlangsungan tradisi ini. Studi ini juga menegaskan pentingnya dokumentasi tradisi lokal sebagai bagian dari khazanah Islam Nusantara serta membuka ruang kajian Qirâ’ah di luar riwayat Hafsh yang dominan

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Transmisi Sanad dan Otoritas Qirâ’ah warsy di Tanah Banjar: Telaah Atas Kitab Fatḥ Al-Ghabsy Ta‘Līq Naẓm Riwayah Warsh Karya KH. Nasrun Thohir

    Full text link
    Tradisi Qirâ’ah warsy merupakan salah satu kekayaan bacaan al-Qur’an yang jarang dikenal luas di Indonesia. Di Tanah Banjar, transmisi bacaan ini tetap hidup berkat peran sentral KH. Nasrun Thahir, seorang ulama karismatik yang mewarisi dan mengajarkan bacaan tersebut secara konsisten di lingkungan pesantren. Keberadaan Sanad yang bersambung hingga Imam Warsy menjadi fondasi penting dalam menjaga autentisitas bacaan ini. Hal ini menunjukkan bahwa Qirâ’ah warsy bukan hanya praktik keagamaan, tetapi juga warisan keilmuan yang patut dilestarikan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana proses transmisi Sanad Qirâ’ah warsy berlangsung di Tanah Banjar, serta bagaimana Otoritas keilmuan KH. Nasrun Thahir dibangun dan diakui dalam konteks tersebut. Penelitian ini ingin menjawab bagaimana metode pengajaran Qirâ’ah warsy dijalankan dan apa makna Sanad dalam mempertahankan kemurnian bacaan al Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Ditemukan bahwa proses transmisi dilakukan melalui metode talaqqi dan musyāfahah, dengan seleksi ketat terhadap murid yang berhak menerima Sanad. KH. Nasrun Thahir tidak hanya dikenal melalui jalur keilmuannya, tetapi juga melalui karyanya, Fath al-Ghabsy, yang memperkuat posisi keilmuannya dalam Qirâ’ah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sanad bukan sekadar jalur transmisi ilmu, tetapi juga simbol otoritas spiritual dan sosial. KH. Nasrun Thohir berhasil mentransmisikan ilmu Qirâ’ah Warsy secara berkesinambungan melalui pesantren. Hingga kini, sanad beliau masih diteruskan oleh para muridnya, menunjukkan keberlangsungan tradisi ini. Studi ini juga menegaskan pentingnya dokumentasi tradisi lokal sebagai bagian dari khazanah Islam Nusantara serta membuka ruang kajian Qirâ’ah di luar riwayat Hafsh yang dominan

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Peranan pondok pesantren dalam perkembangan pendidikan Islam di Kerinci, Jambi, Indonesia / Nasrun S.

    Full text link
    Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan agama Islam yang wujud serta diiktiraf oleh masyarakat di Indonesia yang berperanan dalam mengembangkan pengetahuan Islam di Indonesia. Maka kajian ini menganalisis sejarah perkembangan Pondok Pesantren di Kerinci, Jambi, Indonesia, kurikulum dan peranannya dalam pendidikan Islam. Kajian ini menggunakan metode kualitatif yang mengabungkan kajian perpustakaan dan kajian lapangan. Dalam pengumpulan data, metode dokumentasi, historis, temu bual dan observasi telah digunakan manakala metode induktif dan deduktif telah digunakan bagi menganalisis data. Berikut merupakan perumusan masalah bagi kajian ini; Bagaimanakah perkembangan pondok pesantren di Indonesia amnya dan di Kerinci Negeri Jambi khususnya? Apakah ciri-ciri dan bentuk kurikulum pondok pesantren di Indonesia dan di Kerinci Jambi? dan Apakah peranan pondok pesantren di Daerah Kerinci, Jambi dalam pendidikan Islam seperti peranan dalam pembelajaran Al-Qur’an dan tafsir, bahasa Arab, kaligrafi, dan aktiviti-aktiviti kepada masyarakat. Hasil daripada kajian ini menunjukan bahawa pondok pesantren di Kerinci telah berkembang dengan pesat dari awal penubuhannya sehinggga sekarang dan menggunakan sistem pendidikan madrasah yang menggabungkan kurikulum pendidikan Islam dan kurikulum pendidikan umum. Selain itu, pondok pesantren telah memainkan peranan utama dalam pendidikan Islam dalam melahirkan para hafizul Qur’an, para pendakwah, ahli kaligrafi yang mahir, para pemimpin dalam masyarakat serta mahir dalam berbahasa Arab. Kesimpulannya, pendidikan yang ditawarkan oleh pondok pesantren telah memberi peluang kepada masyarakat Islam di Kerinci untuk menimba ilmu tentang Islam dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Selain itu, untuk lebih jelas mengenai pondok pesantren di Kerinci, banyak perkara yang masih boleh dikaji secara mendalam seperti bagaimana implementasi kurikulum umum dalam pendidikan pondok pesantren, bagaimana peningkatan pengetahuan Islam pada masyarakat Kerinci, dan sebagainya
    corecore