1,474 research outputs found
Pemikiran Ekonomi Dalam Perspektif Agama Islam: Tela’ah Pemikiran Imam Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, dan Nashiruddin Al-Tusi
Pemikiran ekonomi dalam Islam memiliki dasar yang kuat pada nilai-nilai moral, keadilan, dan kemaslahatan umat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran ekonomi dari tiga tokoh penting dalam tradisi intelektual Islam, yaitu Imam Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, dan Nashiruddin Al-Tusi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research) dengan menganalisis berbagai literatur yang berkaitan dengan konsep ekonomi dalam pemikiran ketiga tokoh tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya etika dan keseimbangan dalam aktivitas ekonomi serta memandang harta sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan dan kemaslahatan. Ibnu Taimiyah menyoroti peran mekanisme pasar yang adil, larangan praktik penipuan, serta pentingnya keadilan dalam penentuan harga. Sementara itu, Nashiruddin Al-Tusi menekankan keterkaitan antara ekonomi, moralitas, dan tata kelola masyarakat yang baik. Ketiga pemikiran tersebut menunjukkan bahwa ekonomi dalam perspektif Islam tidak hanya berfokus pada aspek material, tetapi juga pada nilai moral, keadilan, dan kesejahteraan sosial. Dengan demikian, pemikiran para tokoh ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan konsep ekonomi Islam yang berlandaskan pada prinsip-prinsip syariah
PUASA SUNAT PADA HARI SABTUMENURUT PANDANGAN ABU ABDILLAH MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I DAN MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI
Skripsi ini berjudul: PUASA SUNAT PADA HARI SABTU MENURUT
PANDANGAN ABU ABDILLAH MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I
DAN MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI.
Adapun latar belakang permasalahan dalam penelitian ini adalah apa yang
menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat tentang puasa sunah pada hari Sabtu itu,
Syaikh Nashiruddin Al-Alb ny rahimahull hu berpendapat bahwa puasa sunat pada
hari Sabtu hukumnya haram secara mutlak, sedangkan Imam Syafi’i rohimahullahu
berpendapat bahwa puasa sunat pada hari Sabtu hukumnya makruh. Kondisi ini
menimbulkan pertanyaan bagaimana pandangan Abu Abdillah Muhammad bin Idris
Asy-Syafi’i dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani tentang hukum puasa sunat pada
hari Sabtu dan bagaimana metode istinbath hukum yang digunakan Abu Abdillah
Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Sedangkan yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
bagaimana pandangan Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i dan
Muhammad Nashiruddin Al-Albani tentang hukum puasa sunat pada hari Sabtu dan
bagaimana metode istinbath hukum yang digunakan Abu Abdillah Muhammad bin
Idris Asy-Syafi’i dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui bagaimana pandangan Abu Abdillah Muhammad bin Idris
Asy-Syafi’i dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani tentang hukum puasa sunah pada
hari Sabtu dan untuk mengetahui bagaimana metode istinbath hukum yang digunakan
Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i dan Muhammad Nashiruddin Al- Albani. Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah library
research. Sebagai data primer yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh
peneliti secara langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga sebagai data
asli atau data baru yang memiliki sifat up to date, Data ini bersumber dari kitab-kitab
karya kedua ulama tersebut, yaitu Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy- Syafi’i
Kitab Al-Umm, Mazhab Imam Asy-Syafi’i Fi al-Ibadat Wa Adillatihah , Al-Majmu’
Syarhul Muhadzab, Nashiruddin Albani Tamam al-Minnah Fi Ta’liq ‘Ala Fiqh
Sunnah, Irwa’ al-Ghalil, Tuntunan Fiqh Islam Syaikh Albani dan data sekunder yaitu
data yang mendukung dan memperkuat data primer, selanjutnya dilakukan proses
analisa dan interpretasi terhadap data-data tersebut sesuai dengan tujuan penelitian. Data ini bersumber dari lliteratur-literatur yang ada hubungannya dengan masalah
yang dibahas. Antara lain adalah Sunan Abu Daud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan Ibnu
Majah, Musnad Ahmad bin Hanbal dan Sunan al-Dārimi, al-Qur‘an al-Karīm, kitab
Fiqh Islam Wa Adillatuhu karya Wahbah Az-Zuhaili, Jarh wa Ta‘dil, karya Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah, Iqtidha’u Shirathil Mustaqim Mukhalafata ashhabil Jamil, karya
Imam al-Hafiz Syihabuddin Ahmad Ibn Ali Ibn Hajar al-Asqalāni dan lain-lain.
Setelah data terkumpul, maka penulis menganalisis data dengan metode analisis data
komparatif, sedangkan metode yang digunakan adalah metode induktif, deduktif, dan
komparatif.
Adapun hasil dari penelitian ini adalah Imam Abu Abdillah Muhammad bin
Idris Asy-Syafi’i menghukumi makruh berpuasa sunat pada hari Sabtu, jika ia tidak
mengkhususkannya dengan keyakinan bahwa ia memiliki keistimewaan. Akan tetapi
jika berpuasa sunat pada hari Sabtu itu karena mengistimewakan hari Sabtu maka ia
dihukumi haram. Pendapat ini muncul karena Imam Syafi’i mengkompromikan
antara kelompok hadits yang melarang dan yang membolehkan.Syaikh Muhammad
Nashiruddin Al-Albani menghukumi haram secara mutlak berpuasa pada hari Sabtu.
Hadits At-Tirmidzi shahih dan hadits Juwairiyah, Ummu Salamah, Abu Hurairah
tidak kuat untuk digunakan sebagai pengkontradiksi hadits larangan. Karena tujuan
yang diperoleh dari ketiga hadits tersebut adalah kebolehan berpuasa hari Sabtu, jika
disertai puasa hari Jum’at dan kebolehan ini adalah sebagai penyerta, tidak berdiri
sendiri.
Kedua ulama tersebut sama-sama menggunakan metode bayani. Dikarenakan adanya dua kelompok hadits yang mukhtalif, yaitu: hadits yang
melarang berpuasa pada hari Sabtu dan hadits yang membolehkan berpuasa pada hari
Sabtu, Maka mereka berbeda cara pandang dalam menilai hadits tersebut. Imam
Syafi’i menggunakan al-jam’u wa at-taufiq dan Syaikh Albani menggunakan tarjih
bain al-Nushush
PENGARUH WANITA BEKERJA TERHADAP KELUARGA DALAM PERSPEKTIF NASHIRUDDIN AL-ALBANI
Muhammad Aulia Rahman. 2022. Pengaruh Wanita Bekerja Terhadap Keluarga
dalam Perspektif Nashirudin Al-Albani. Skripsi, Fakultas Syariah,
Program Studi Hukum Keluarga Islam Pembimbing: (I) H. Bahran, SH,
MH (II) Imam Alfiannor,S.Ag, MHI.
Kata Kunci: wanita bekerja, keluarga, Nashiruddin Al-Albani
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya wanita yang bekerja di
luar rumah yang menyebabkan sebagian besar kewajibannya sebagai ibu rumah
tangga sekaligus istri menjadi terabaikan. Disamping itu Banyak perkerjaan saat
ini yang apabila ditekuni oleh kaum wanita akan mengeluarkanya dari kodrat
kewanitaannya, menghilangkan rasa malunya dan mencabutnya dari
kefeminimannnya. Dan hal ini sudah pernah ditanyakan kepada syekh
nashiruddin al-albani dan fatwa-fatwa beliau sudah dibukukan dan menjadi
rujukan oleh karena itu penulis ingin membahas bagaimana fatwa beliau dengan
apa yang terjadi sekarang. Penelitian ini bertujuan: 1) Untuk mengetahui wanita
bekerja dalam perspektif Nashiruddin Al-Albani, 2) Untuk mengetahui pengaruh
wanita yang bekerja terhadap keluarga dalam perspektif Nashiruddin Al-Albani.
Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian pustaka (library
research) dan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan
metode kepustakaan. Data dianalisis mengunakan teknik analisis deskriptif
kualitatif.
Penelitian ini menghasilkan temuan-temuan: Pertama: wanita bekerja
menurut Nashiruddin Al-Albani adalah wanita yang bekerja di luar rumah akan
mengakibatkan dampak negatif terhadap keluarga khusunya kepada anak, karna
dengan keluarnya wanita untuk bekerja maka hak-hak anak yang seharusnya
diberikan ibu, tidak didapatkan anak sepenuhnya. Disamping itu wanita bekerja
sama artinya dengan wanita yang meninggalkan rumah dan akan menjurus kapada
ikhtilath (percampuran) antara kaum wanita dengan laki-laki yang bukan
muhrimnya, juga sangat tidak relevan dengan nash-nash syara‟, yang
memerintahkan kaum wanita supaya tetap tinggal di rumah. Kedua: Pengaruh
wanita yang bekerja terhadap keluarga dalam perspektif Nashiruddin Al-Albani
adalah banyak memberikan dampak negatif , karena akan menyebabkan wanita
bersangkutan melalaikan kewajiban utamanya dalam keluarga yaitu sebagai ibu
dan juga istri yang bertugas mengurus suami dan juga anak serta rumah tangga
Konsep Tashfiyah Dan Tarbiyah dalam Pemikiran Muhammad Nashiruddin Al Albany
The Muslims in this era can not be denied is in decreased. Prominent Muslims then trying reviewing the causes of these weaknesses and find solutions to new heights with a variety of Islamic thought and concept. Among them, Imam Albany is a figure who is very famous and influential in offering solutions Muslims slump. He offers the concept of Islamic education are motivated by the foundation tashfiyah and tarbiyah as the solution of the problems of the people. Starting from the above reasons, the authors tried to explore the concept of Islamic education according to Imam Albany to examine the subject matter related to how the concept of tashfiyah and tarbiyah according to Imam Muhammad Al Nashiruddin Albany. And how about a favor, criticized the concept. And what about the influence of Imam Albany concepts in the concept of Islamic education. Tashfiyah as a differentiator in the concept of Islamic education Imam Albany so crucial. Education or tarbiyah without preceded by tashfiyah according to Imam Al Albany does not provide a solution to the people. Lack of Muslims in the eyes of his enemies can not be completed. Tashfiyah is a purification of Islam from other element. Tarbiyah is guidance to generations of Muslims today who are growing on a purified Islam. Concept tashfiyah and tarbiyah was not a new concept and has been championed by previous scholars. Nevertheless, the concepts tashfiyah and tarbiyah Imam Albany still causing the pros and cons. Not a few scholars and leaders at the time supported the concept tashfiyah and tarbiyah Albany. And not a few who oppose both scientifically and in a violent manner. Concept tashfiyah and tarbiyah that conveyed by Imam Albany brings great influence on the concept of education today. Books by him to be the main reference. His thoughts also forwarded by scholars after him. Thus the concept tashfiyah and tarbiyah in this era synonymous with Imam AlbanyKeywords: al-Albany, Tashfiyah, Tarbiya
Suukuwoolu, Kawando, aniŋ, Tabirilaŋoolu: Poems, Sermon, and Utensils
The entire manuscript is available for download as a PDF file(s). Higher-resolution images may be available upon request. For technical assistance, please contact [email protected]. Fieldwork Team: Dr. Fallou Ngom (Pricipal Investigator; Director, African Studies Center), Ablaye Diakité (Local Project Manager), Mr. Ibrahima Yaffa (General Field Facilitator), and Ibrahima Ngom (photographer). Technical Team: Professor Fallou Ngom (Principle Investigator, Project Director and former Director of the African Studies Center at Boston University), and Eleni Castro (Technical Lead, BU Libraries). This collection of Mandinka Ajami materials is copied as part of the African Studies Center’s African Ajami Library. This is a joint project between BU and the West African Research Center (WARC), funded by the British Library/Arcadia Endangered Archives Programme. Access Condition and Copyright: These materials are subject to copyright and are distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 License, which permits non-commercial use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original author and source are credited. For use, distribution or reproduction beyond these terms, contact Professor Fallou Ngom ([email protected]). Citation: Materials in this web edition should be cited as: Ngom, Fallou, Castro, Eleni, & Diakité, Ablaye. (2018). African Ajami Library: EAP 1042. Digital Preservation of Mandinka Ajami Materials of Casamance, Senegal. Boston: Boston University Libraries: http://hdl.handle.net/2144/27112. For Inquiries: please contact Professor Fallou Ngom ([email protected]). For technical assistance, please contact [email protected] / Custodial history: Imam Ibrahima Camara is the author and current owner of the sermon and the list of utencils. Moustapha Manafa is the owner of the two poems.Contains a collection of: two short poems, a sermon delivered in 2003 by Imam Ibrahima Camara at the end of the Muslim holy month of Ramadan, and a list of utensils. The first document is a copy of the popular Mandinka Ajami poem called Teeroo I Tuloo Loo (My Friend, Listen). The second poem is copied from the original by Moustapha Manafa, a student of Imam Ibrahima Camara. Moustapha copied the two poems from his father's (Kutuboo Manafa) collection. The sermon is a bilingual Arabic-Mandinka text in which Arabic phrases are rendered in Mandinka Ajami. The sermon reminds people about the meaning of fasting during the month of Ramadan and their obligations (including the obligatory Islamic charity known as Zakāt). The list of utensils in Mandinka Ajami is a record of the gifts that the daughter of Imam Camara's friend received on the day of her wedding. In case of divorce, the list will help to identify her own belongings
Analysis of Connectivity Model and Encoding Standards on IP Interconnection Implementation in Indonesia (Study Case: Low Data Rate up to 72 Mbps)
Saat ini Indonesia dihadapkan pada permasalahan dimana lalu lintas data, termasuk OTT di dalamnya, mendominasi layanan telekomunikasi yang menyebabkan pendapatan interkoneksi semakin menurun. Padahal, biaya pemeliharaan jaringan cenderung naik. Kemunculan teknologi IP dapat memberikan keuntungan, baik terhadap Operator dalam scissor effect maupun menaikkan tingkat loyalitas pelanggannya. Namun, saat ini regulasi Interkoneksi di Indonesia masih menggunakan Time Division Multiplexing (TDM). Oleh karena itu, diperlukan suatu rekomendasi mengenai standarisasi pengkodean dan model interkoneksi IP. Dalam penelitian ini, aspek teknis dari model interkoneksi IP dianalisis dengan menggunakan perbandingan model, yaitu Peering dan Hubbing dengan metode no-transcoding pada 6 jenis codec(G.711a, G.711u, GSM, G.723, G.729, dan G.722) dengan pemberian berbagai beban trafik, (0 Mbps, 15 Mbps, 40 Mbps, dan 72 Mbps). Hasil performansi QoS berupa delay, Mean Opinion Score, packet loss, dan throughput yang diperoleh dari hasil simulasi masing-masing model dan kombinasi codec dianalisis dengan menggunakan server VOIP Asterisk 11 dan Microsip 3.17.3 untuk SIP phone juga Wireshark 2.2.4 dianalisis untuk mengetahui performansinya. Nilai one way delay QoS mengacu pada standar nilai pada ITU-T G.1010. Dari hasil simulasi diperoleh bahwa secara keseluruhan dengan beban trafik sampai 72 Mbps, model Peering merupakan alternatif model interkoneksi IP yang terbaik. Selain itu, penggunaan codec G729 menghasilkan performansi paling baik dengan nilai delay paling minimum dan MOS paling besar, sehingga paling direkomendasikan untuk digunakan dalam implementasi interkoneksi IP. *****Currently, Indonesia is faced with problems where data traffic including OTT dominates the telecommunications services lead to interconnection revenue declining. In the other hand, the cost of network maintenance tend to increase. The emergence of IP technology may provide benefit to the operators in handling the scissor effect and improving the level of customer’s loyalty. However, the current interconnection regulations in Indonesia are still using TDM. Therefore, a recommendation on standardization of IP encoding and interconnection model is required. In this research, technical aspect analysis of IP interconnect model is analyzed using comparison model, that is Peering and Hubbing with no-transcoding method on 6 types of codec (G.711a, G.711u, GSM, G.723, G.729, G.722) and loading of various traffic loads (0 Mbps, 15 Mbps, 40 Mbps, 72 Mbps). The results of QoS performance (delay, Mean Opinion Score, packet loss, throughput) obtained from the simulation results of each model and combination of codec are analyzed using VOIP server Asterisk 11 and Microsip 3.17.3 for SIP phone also Wireshark 2.2.4 to assess the performance. One-way delay QoS value refers to the standard in ITU-T G.1010. From the simulation results, it is obtained that for overall traffic load up to 72 Mbps, Peering model is the best alternative IP interconnect model. The usage of G.729 codec was the best performance codec with the minimum delay value and the biggest MOS, thus it was the most recommended for used in the IP interconnection implementation
Strategi Komunikasi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol Padang dalam Meningkatkan Jumlah Mahasiswa
This research was motivated by an increase in the number of students in 2013 up to 2016 at the Da'wah and Communication Faculty of the State Islamic Institute of Imam Bonjol Padang. The author wants to know how the faculty communication strategy in increasing the number of students, which includes promotional messages, promotional media and promotional effects. The research method used is qualitative descriptive. The research informants were taken from the academics involved in the faculty and student promotion activities of the class of 2013 until 2016. The technique of determining informants used the snowball technique. The technique of collecting data through observation, interviews and documentation studies. The results obtained are communication strategies used by the faculty in terms of promotional messages, namely verbal messages such as face to face dialogue, and non-verbal messages such as direct activities in the field. Judging from the promotional media used, namely direct media, including collaborative visits, seminars, and workshops. Indirect media such as brochures, posters, calendars, bags, websites, and the work of students, students and alumni. Judging from the promotional effects, the first cognitive effect, including the increase in knowledge of prospective students regarding the Faculty of Da'wah and Communication Sciences. The second is affective effects, including changes in attitudes of prospective students after knowing the information. the third is the behavioral effect, including decisions and actions taken by prospective students after receiving and understanding information about the Da'wah and Communication Science
MUSLIM COMMUNITY IN GERMANY: CURRENT CHALLENGES AND OPPORTUNITIES
A recent study showed that the number of Muslims had increased significantly in Germany since 2015. Many of them still face challenges in terms of employment and training. Religion may be a secondary cause of these challenges, "but it does not hinder integration in general." "We will do that," was the most famous phrase of German Chancellor Angela Merkel, in 2015, referring to her that her country is capable and ready to receive a large number of refugees, when Germany opened its doors to them and received about one million people, most of them from the Middle East, especially Syria. The author conducted a literature study by quoting from various sources as well as using a descriptive and comparative analysis approach, after about six years, the number of Muslims in Germany has become much larger, and the demographic structure has become less homogeneous, according to a recent official study, conducted by the Federal Office for Migration and Refugees (PAMF) at the request of the Islam Conference in Germany and the Federal Ministry of the Interior. However, the growing number of Muslims in Germany came under pressure as their numbers grew. Sometimes due to hatred and incitement from outside and within Germany itself. Cultural differences, especially religion, have become a catalyst for the emergence of such hatred. The number of Muslims continues to increase in line with the increasing efforts in cultural assimilation and the ongoing adjustment of the social environment that has changed the situation, which is expected to be better than the previous situation.
Studi Komparatif Menurut Dr. Yusuf Qardhawi dan Syekh Nashiruddin Al-albani Tentang Status Hukum Lagu/Nyanyian
Samsul Arifin. 2008. Studi Komparatif Menurut Dr. Yusuf Qardhawi dan Syekh Nashiruddin Al-albani Tentang Status Hukum Lagu/Nyanyian. Skripsi, Jurusan Perbandingan Hukum dan Mazhab, Fakultas Syariah. Pembimbing: (I) Drs. Jalaluddin, M.Hum, (II) Imam Alfiannor, M.H.I.
Penelitian ini berangkat dari kegelisahan pribadi yang merasa perlunya mengadakan penelitian lebih mendetail dan ilmiah tentang permasalahan tentang status hukum lagu/nyanyian yang mana dalam menyampaikan fatwa atau status Hukum lagu/nyanyian kedua Ulama Dr. Yusuf Qardhawi dan Syekh M. Nashiruddin Al-Albani belum ada kekompakan. Pada dasarnya hal ini sangat wajar karena merupakan salah satu bentuk produk ijtihad yang dikemukakan para Ulama.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status hukum lagu/nyanyian beserta Argumentasi (hujjah), istidlal, yang dikemukakan dua Ulama kharismatik abad 19 yaitu Dr. Yusuf Qardhawi dan Syekh M. Nashiruddin Al-Albani. Dengan demikian setidaknya yang selama ini menjadi titik masalah dapat terungkap dan Insya Allah akan menjadi sumber informasi ilmiah yang mencerdaskan serta mencerahkan.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dalam bidang fikih dan Metode istinbath Hukum. Untuk memperoleh data yang diperlukan, penulis terlebih dahulu melakukan survey kepustakaan kemudian mengolah data tersebut seobjektif mungkin dan menganalisis. Penelitian ini menghasilkan temuan-temuan: pertama: Dr. Yusuf Qardhawi dan Syekh M. Nashiruddin Al-Albani berpendapat bahwa lagu/nyanyian tanpa alat musik memang dibolehkan berdasarkan banyaknya riwayat-riwayat Hadis Nabi Saw yang memberikan kebolehan kepada para Sahabat, bahkan pernah menyuruh mereka di saat-saat tertentu untuk bernyanyi agar menimbulkan gairah himmah dalam pekerjaan yang sedang dihadapi. Kedua: Dr. Yusuf Qardhawi memberikan klasifikasi yang khusus dalam model fatwa beliau, beliau berusaha memeberikan kepastian dan kejelasan lagu/nyanyian mana yangg boleh dan tidak boleh. Sedangkan Syekh M.Nashiruddin Al-Albani dengan style, tipikal, karakter fatwa beliau yang selalu menekankan prinsip ikhtiyati maka beliau tidak menjelaskan klasifikasi secara jelas dan sistematis tentang batasan lagu yang di bolehkan dan yang diharamkan bahkan beliau mencoba memberikan beberapa qaul ulama tentang persaksian seorang penyanyi itu tertolak. Oleh karena kedua ulama tersebut memiliki karakter masing-masing dalam fatwanya, penulis berkesimpulan fatwa yang berkarakter ikhtiyati lebih cocok di pakai oleh para ulama untuk menjaga muru’ah mereka dalam membina umat, sedangkan model fatwa yang jelas dan sistemasis yang dikemukakan Dr.Yusuf Qardhawi tersebut memang sangat elegan untuk umat secara umum.
Samsul Arifin. 2008. Studi Komparatif Menurut Dr. Yusuf Qardhawi dan Syekh Nashiruddin Al-albani Tentang Status Hukum Lagu/Nyanyian. Skripsi, Jurusan Perbandingan Hukum dan Mazhab, Fakultas Syariah. Pembimbing: (I) Drs. Jalaluddin, M.Hum, (II) Imam Alfiannor, M.H.I.
Penelitian ini berangkat dari kegelisahan pribadi yang merasa perlunya mengadakan penelitian lebih mendetail dan ilmiah tentang permasalahan tentang status hukum lagu/nyanyian yang mana dalam menyampaikan fatwa atau status Hukum lagu/nyanyian kedua Ulama Dr. Yusuf Qardhawi dan Syekh M. Nashiruddin Al-Albani belum ada kekompakan. Pada dasarnya hal ini sangat wajar karena merupakan salah satu bentuk produk ijtihad yang dikemukakan para Ulama.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status hukum lagu/nyanyian beserta Argumentasi (hujjah), istidlal, yang dikemukakan dua Ulama kharismatik abad 19 yaitu Dr. Yusuf Qardhawi dan Syekh M. Nashiruddin Al-Albani. Dengan demikian setidaknya yang selama ini menjadi titik masalah dapat terungkap dan Insya Allah akan menjadi sumber informasi ilmiah yang mencerdaskan serta mencerahkan.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dalam bidang fikih dan Metode istinbath Hukum. Untuk memperoleh data yang diperlukan, penulis terlebih dahulu melakukan survey kepustakaan kemudian mengolah data tersebut seobjektif mungkin dan menganalisis. Penelitian ini menghasilkan temuan-temuan: pertama: Dr. Yusuf Qardhawi dan Syekh M. Nashiruddin Al-Albani berpendapat bahwa lagu/nyanyian tanpa alat musik memang dibolehkan berdasarkan banyaknya riwayat-riwayat Hadis Nabi Saw yang memberikan kebolehan kepada para Sahabat, bahkan pernah menyuruh mereka di saat-saat tertentu untuk bernyanyi agar menimbulkan gairah himmah dalam pekerjaan yang sedang dihadapi. Kedua: Dr. Yusuf Qardhawi memberikan klasifikasi yang khusus dalam model fatwa beliau, beliau berusaha memeberikan kepastian dan kejelasan lagu/nyanyian mana yangg boleh dan tidak boleh. Sedangkan Syekh M.Nashiruddin Al-Albani dengan style, tipikal, karakter fatwa beliau yang selalu menekankan prinsip ikhtiyati maka beliau tidak menjelaskan klasifikasi secara jelas dan sistematis tentang batasan lagu yang di bolehkan dan yang diharamkan bahkan beliau mencoba memberikan beberapa qaul ulama tentang persaksian seorang penyanyi itu tertolak. Oleh karena kedua ulama tersebut memiliki karakter masing-masing dalam fatwanya, penulis berkesimpulan fatwa yang berkarakter ikhtiyati lebih cocok di pakai oleh para ulama untuk menjaga muru’ah mereka dalam membina umat, sedangkan model fatwa yang jelas dan sistemasis yang dikemukakan Dr.Yusuf Qardhawi tersebut memang sangat elegan untuk umat secara umum
Kajian Kritis Repetisi Lafal “Lilla ̅hi ma ̅ fi ̅ as-sama ̅wa ̅ti wa ma ̅ fi ̅ al-arḍ” Dalam Surat An-Nisa ̅'
AbstrakRepetisi yang terjadi dalam al-Qur’an bukanlah sesuatu yang sia-sia, setiap lafalnya memiliki tujuan tertentu. Untuk membuktikannya melalui keilmuan al-Qur’an yaitu tikra ̅r, menerapkan kaidah tikra ̅r kepada salah satu lafal repetisi dalam surat an-Nisa ̅' yaitu lafal “Lilla ̅hi ma ̅ fi ̅ as-sama ̅wa ̅ti wa ma ̅ fi ̅ al-arḍ”, ditemukan enam kali dalam kategori tikra ̅r al-lafẓ wa al-ma’na dan tikra ̅r bi al-ma’na du ̅na al-lafẓ. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Pustaka (Library research), untuk analisis data penulis menggunakan analisis konten dan deskriptif analitik serta teknik pengumpulan data dilakukan secara mauḍu ̅’i,. Hasilnya adalah lafal ini direpetisi sebanyak enam kali dalam surat an-Nisa ̅'. Ditinjau dari kaidah-kaidah tikra ̅r, lafal-lafal tersebut memiliki kaitan yang berbeda-beda, bahkan repetisi lafal yang berdekatan tidak memiliki konteks yang sama, sedikit perbedaan lafal menimbulkan konteks yang berbeda juga. Mufassiri ̅n menjelaskan pengkhususan kepemilikan secara mutlak kepada Allah SWT, apapun yang tersembunyi dan tampak, maupun benda atau makhluk yang berada setiap lapisan langit dan bumi. Tiada sekutu dan tiada bergantung dengan makhluk manapun. Sehingga dengan kekuasaan-NYA mewajibkan untuk tunduk dan taat. Tujuan dari repetisi lafal-lafal ini sebagai peringatan atas kekuasaan Allah SWT, penegasan atau memperkuat terhadap posisi ketuhanan yang dikeragui oleh orang yang ingkar dan janji Allah SWT akan dibalas semua perbuatannya. Kata kunci: An-Nisa ̅', Tikra ̅r, Kepemilikan, Gaya bahasa. AbstractThe repetition that occurs in the Qur'an is not something in vain, each recitation has a specific purpose. To prove it through the science of the Qur'an i.e. tikra ̅r, applying the rule of tikra ̅r to one of the repetition recitations in the letter an-Nisa ̅.′ i.e. the pronunciation “Lilla ̅hi ma ̅ fi ̅ as-sama ̅wa ̅ti wa ma ̅ fi ̅ al-arḍ”found six times in the categories tikra ̅r al-lafẓ wa al-ma’na and tikra ̅r bi al-ma’na du ̅na al-lafẓ. This research uses a type of library research, for data analysis the author uses content analysis and descriptive analytics and data collection techniques carried out mauḍ, u.'i,. The result was that this recitation was repetitioned six times in the letter an-Nisa ̅′. Judging from the rules of tikra ̅r, the pronunciations have different relationships, even the adjacent repetitions of the pronunciation do not have the same context, the slight differences in pronunciation give rise to different contexts as well. Mufassiri ̅n explained the specificity of absolute possession to Allah Almighty, whatever is hidden and visible, or objects or beings that are in every layer of heaven and earth. No allies and no dependence on any creature. So that with HIS power it is obligatory to submit and obey. The purpose of these repetitions is as a warning of the power of Allah SWT, affirmation or strengthening of the divine position that is doubted by the person who disobeys and the promise of Allah SWT will be reciprocated for all his deeds. Keywords: An-Nisa ̅', Tikra ̅r, Ownership, styl
- …
