1,723,542 research outputs found

    Nafis Sadik portrait, undated

    No full text
    Black-and-white photograph of Nafis Sadik. The caption on the reverse of the image reads, "Dr. Nafis Sadik." The stamp on the reverse of the image reads, "Would appreciate your returning to; Public Relations; University of Tennessee at Chattanooga; Chattanooga, Tennessee 37401.

    6c. Nafis Sadik - Statement

    No full text
    This record was harvested from a previous catalogue system and will be withdrawn in 2025. Information in this record may be superseded or incomplete. Visit this record in UMA's new catalogue at: https://archives.library.unimelb.edu.au/nodes/view/448212Population and food: old questions, new developments, statement by Dr Nafis Sadik312430 Sub-item: [2020.0047.00191] "6c. Nafis Sadik - Statement

    Nafis Sadik portrait, undated

    No full text
    Black-and-white photograph of Nafis Sadik. The caption on the reverse of the image reads, "Dr. Nafis Sadik." The stamp on the reverse of the image reads, "Would appreciate your returning to; Public Relations; University of Tennessee at Chattanooga; Chattanooga, Tennessee 37401.

    Nur Muhammad Dalam Kitab Insân Kamîl Karya Abdul Karim Al-Jîlî Dan Kitab Al-Durr Al-Nafis Karya Muhammad Nafis Al-Banjari

    Get PDF
    Penelitian ini bertolak dari berkembangnya pengajian-pengajian yang bertemakan tasawuf, baik itu amali maupun falsafi. Tasawuf falsafi adalah ajaran tasawuf yang telah berbaur dengan ajaran filsafat. Salah satu tema pokok dalam kajian tasawuf falsafi adalah tentang Nur Muhammad. Para sufi dengan menggunakan konsep Nur Muhammad ini ingin menjelaskan bagaimana hubungan Tuhan dengan alam dan manusia. Salah satu pengembang konsep ini pada masa awal adalah ‘Abdul Karim al-Jîlî dari Jailan, dan terus berkembang sampai ke Kalimantan Selatan yang dikembangkan oleh Muhammad Nafis al-Banjari. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana konsep Nur Muhammad Abdul Karim al-Jîlî dalam kitab Insân Kamîl dan Muhammad Nafis al-Banjari dalam kitab al-Durr al-Nafis dan Bagaimana perbedaan dan persamaan konsep Nur Muhammad Abdul Karim al-Jîlî dan Muhammad Nafis al-Banjari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis konsep Nur Muhammad Abdul Karim al-Jîlî dalam kitab Insân Kamîl dan Muhammad Nafis al-Banjari dalam kitab al-Durr al-Nafis dan mengetahui Perbedaan dan persamaan, serta mengkomparasikan konsep Nur Muhammad Abdul Karim al-Jîlî dan Muhammad Nafis al-Banjari. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library Research). dengan menggunakan pendekatan kualitatif dalam memaparkan serta membandingkan konsep Nur Muhammad ‘Abdul Karim al-Jîlî dan Muhammad Nafis. Subjek penelitian adalah kitab Insân Kamîl dan Kitab al-Durr al-Nafis. Teknik yang digunakan dalam memperoleh data yaitu studi teks. Hasil data penelitian yang terkumpul dianalisis dengan metode deskriptif komparatif. Dari analisis diperoleh bahwa, konsep Nur Muhammad Abdul Karim al-Jîlî dalam kitab Insân Kamîl dan Muhammad Nafis al-Banjari dalam kitab al-Durr al-Nafis sebagai wasilah (penghubung) antara Tuhan dengan alam dan manusia. Perbedaan konsep Nur Muhammad Abdul Karim al-Jîlî dan Muhammad Nafis al-Banjari bisa dilihat dari bagaimana al-Jîlî berpendapat bahwa Nur Muhammad memiliki ragam wajah sedangkan Muhammad Nafis berpendapat hanya Huwiyat al-‘alam. Persamaan konsep Nur Muhammad Abdul Karim al-Jîlî dan Muhammad Nafis al-Banjari bisa dilihat dari bagaimana al-Jîlî dan Muhammad Nafis berpendapat bahwa Nur Muhammad yang secara aktual berad

    SYEIKH M. NAFIS AL-BANJARIE\u27S PERSPECTIVE TAUHIDUSSIFAT EDUCATION CONCEPT IN THE BOOK AD-DURUN NAFIS

    Get PDF
    Islamic basic education is tauhid. Islamic scholars tried to make the idea of the oneness of Allah as pure as possible. as the chaos that erupted in the scope of Indonesia. Even though many humans have the knowledge and are able to learn it, they ignore the Khaliq who teaches it. This study uses a qualitative methodology known as a literature review to describe and elaborate on the idea of monotheism education from the perspective of Sheikh Muhammad Nafis Al-Banjarie in Kita Ad-Durun Nafis. From the late 18th century to the early 19th century, Sheikh Muhammad Nafis al-Banjari was a Banjar scholar. In the Malay world, he is the most important figure in the field of Sufism. According to Sheikh Muhammad Nafis, education must be based on the belief that Allah is the source of knowledge. Allah, who permits and provides for human beings, is the main factor in all that we can achieve. This is because humans have a mortal nature that will vanish if given a good nature, such as Allah SWT

    Karya Utama Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari: analisa teks manuskrip al-Durr al-Nafis (MSS 225)

    No full text
    Kitab al-Durr al-Nafis adalah salah satu khazanah persuratan Melayu Islam abad ke-18 M. Ia membincangkan tentang ilmu tasawuf peringkat tinggi. Disebabkan masih tiada penganalisisan teks al-Durr al-Nafis (MSS 225) secara khusus, maka artikel ini memilih teks tersebut sebagai kajian. Hasil kajian akan memperlihatkan tentang gaya penulisan kitab termasuk cara penyusunan dan sumber rujukan penulisan. Di samping itu, keistimewaan kitab tersebut dapat dikeluarkan dan pendekatan yang diketengahkan dapat dikenal pasti

    Insan Kamil Dalam Pemikiran Muhammad Nafis al-Banjari dan Abdus Shamad al-Falimbânî Dalam Kitab ad-Durr an-Nafis dan Siyar as-Sâlikîn (Sebuah Studi Perbandingan),

    Get PDF
    Rodiah, 1101431177; Insan Kamil Dalam Pemikiran Muhammad Nafis al-Banjari dan Abdus Shamad al-Falimbânî Dalam Kitab ad-Durr an-Nafis dan Siyar as-Sâlikîn (Sebuah Studi Perbandingan), Skripsi Jurusan Akidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, IAIN Antasari Banjarmasin. 2015. Prof. Dr. H. Asmaran As, M. A., Dr. Ahmad Syadzali, M. Hum. Kata Kunci: Insan Kamil, ad-Durr an-Nafis, Siyar as-Sâlikîn, Muhammad Nafis al-Banjari, Abdus Shamad al-Falimbânî. Latar belakang penelitian ini didasari dari kesadaran untuk mengungkapkan jati diri manusia sebagai makhluk sempurna (Insan Kamil) melalui kajian terhadap kitab tasawuf. Banyaknya kitab tasawuf yang tersebar di masyarakat membuat penulis ingin melakukan kajian tidak hanya pada satu kitab tetapi dua kitab tasawuf sekaligus, yaitu kitab ad-Durr an-Nafis karya Muhammad Nafis al-Banjari dan Siyar as-Sâlikîn karya Abdus Shamad al-Falimbânî. Kajian tersebut dimaksudkan untuk melihat perbandingan terhadap konsep yang terdapat pada kedua kitab. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini yaitu mengenai konsep Insan Kamil Muhammad Nafis al-Banjari yang terdapat dalam kitab ad-Durr an-Nafis dan Abdus Shamad al-Falimbânî dalam kitab Siyar as-Sâlikîn, serta perbedaan dan persamaan antara kedua konsep Insan Kamil tersebut. Berdasarkan permasalahan penelitian, maka tujuan penelitian ini adalah mengetahui konsep Insan Kamil Muhammad Nafis al-Banjari yang terdapat dalam kitab ad-Durr an-Nafis dan Abdus Shamad al-Falimbânî dalam kitab Siyar as-Sâlikîn, serta mengetahui perbedaan dan persamaan antara kedua konsep Insan Kamil tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui pendekatan deskriptif komparatif dan termasuk jenis penelitian kualitatif dan literatur (library research). Data dalam penelitian ini bersumber dari kitab ad-Durr an-Nafis karya Muhammad Nafis al-Banjari dan Siyar as-Sâlikîn karya Abdus Shamad al-Falimbânî, kitab atau buku lain mengenai kitab ad-Durr an-Nafis karya Muhammad Nafis al-Banjari dan Siyar as-Sâlikîn karya Abdus Shamad al-Falimbânî, serta literatur lain mengenai Insan Kamil atau sumber lain yang terkait dengan tema penelitian. Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui teknik studi teks. Prosedur pengolahan data dimulai dari melakukan pencatatan terhadap data yang relevan, kemudian mereduksi data, lalu mengelompokkan data, dan terakhir mengecek ulang data serta menggunakan data yang valid dan relevan. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah awal mereduksi data yang ada, kemudian memahami data, dan langkah terakhir melakukan interpretasi atau mengaitkan data dengan teori. Dari hasil temuan penelitian ini diketahui bahwa konsep Insan Kamil Muhammad Nafis al-Banjari dan Abdus Shamad al-Falimbânî dalam kitab ad-Durr an-Nafis dan Siyar as-Sâlikîn sama-sama merujuk bukan hanya dalam pengertian hasil upaya peningkatan martabat ruhani, melainkan juga sintesis tajalli Tuhan yang sempurna. Selain itu, konsep Insan Kamil keduanya lebi

    Dakwah Tauhid Muhammad Nafis al-Banjari (1150 H/1735 M)

    No full text
    AbstractIn Islam, Tawheed is the primary foundation in getting closer to Allah and thus, every Muslim must have good understanding of it.  If the act of worshipping God is not based on right Tawheed, that act will have no value to Allah. According to Sufi masters, the quality of Muslims depends on how well his comprehension of Tawheed is, without which Muslims will never be able to become closer to Allah. Muhammad Nafis al Banjari (born 1150H / 1735) preached his knowledge by teaching the concept of Tawheed in Sufism. This Muslim scholar from South Kalimantan preached by employing bi al-kitÉb, through his work known by al-Durr al-Nafis (1200 H). This qualitative study utilizing the method of library research aimed at finding out and analyzing the thoughts of Muhammad Nafis regarding the concept of Tawheed written in his work. Muhammad Nafis taught Tawheed in Sufism, more specifically to believe and know Allah well by using the eyes of the heart (qalb). By understanding the concept of Tawheed in Sufism, one can reach the level of ma'rifatullÉh, especially to truly know God. Muhammad Nafis’ concept of Tawheed was aimed to straighten people's understanding in Nusantara, more importanly in South Kalimantan, which once was wrong in having thorough understanding of Tawheed. The concept of Tawheed taught in Sufism comprises tauÍid al-afÉ'l, tauÍid al-asma 'tauÍÊd al-SifÉt and tauÍÊd al-DzÉt. The highest knowledge of Tawheed will be achieved if someone has reached ‘fanÉ fÊ Tauhid’, while the highest Tawheed itself is fanÉ fi Allah and baqÉ bi Allah, the sÉlik is called ArÊf bi AllÉh. Muhammad Nafis’ view of the essence of tawheed is similar to the thoughts of prominent Sunni scholars such as al-Junaid, al-Qusyairiy, and al-Ghazali. Within the perspective of right Tawheed, people will achieve the level of ma'rifatullÉh after having arrived at such maqÉmKeywords: tawheed, Muhammad Nafis, al-Durr al-Nafis, fana, baka '. AbstrakDalam Islam ilmu tauhid merupakan landasan utama dalam ber-taqarrub kepada Allah, oleh karena setiap muslim harus memahami ilmu tauhid secara benar. Ibadah tanpa dilandasi tauhid yang benar, tidak ada nilainya dihadapan Allah SWT. Menurut ahli tasawuf kualitas seseorang tergantung pemahaman dalam ber-tauhid, tanpa demikian seseorang tidak akan dapat taqarrub kepada Allah secara hakiki. Muhammad Nafis al Banjari (lahir 1150H/1735) mendakwahkan ilmunya dengan mengajarkan konsep tauhid dalam tasawuf. Seorang ulama Kalimantan Selatan ini berdakwah dengan cara bi al-kitÉb, melalui karyanya al-Durr al-Nafis (1200 H). Kajian yang bersifat kualitatif dengan metode library research ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa pemikiran Muhammad Nafis mengenai konsep tauhid yang ditulis dalam karyanya itu. Muhammad Nafis mengajarkan ilmu tauhid dalam tasawuf, yaitu meyakini dan mengenal Allah secara hakiki dengan menggunakan matahati (qalb). Dengan memahami konsep tauhid dalam tasawuf, seseorang akan dapat mencapai tingkatan ma’rifatullÉh yaitu mengenal Allah secara hakiki. Dakwah Muhammad Nafis mengenai konsep tauhid itu bertujuan meluruskan pemahaman masyarakat di Nusantara khususnya di Kalimantan Selatan yang salah dalam memahami tauhid secara hakiki. Konsep tauhid dalam tasawuf yang diajarkan itu meliputi, tauÍid al-afÉ’l, tauÍid al-asma’ tauÍÊd al-SifÉt dan tauÍÊd al-DzÉt. Ilmu Tauhid tertinggi akan dicapai apabila seseorang telah mencapai ‘fanÉ fÊ Tauhid’ sedangkan punca tauhid tertinggi adalah fanÉ fi Allah dan baqÉ bi Allah, si sÉlik dinamakan ArÊf bi AllÉh. Pandangan Muhammad Nafis mengenai tauhid yang hakiki ini ada kesamaan dengan pemikiran para ulama-ulama Sunni yang masyhur seperti al-Junaid, al Qusyairiy dan al-Ghazali. Apabila telah sampai kepada maqÉm itu ia mendapatkan ma’rifatullÉh, inilah pandangan tauhid yang hakiki. Kata kunci: Tauhid, Muhammad Nafis, al-Durr al-Nafis, fana, baka’.</p

    Syekh Muhammad Nafis Al-Banjary (Kajian Sejarah Sosial Intelektual Islam)

    No full text
    Hasil kajian ini menunjukkan bahwa Nafis ikut memainkan peran penting dalam transmisi keislaman dari TImur Tengah ke Kalimantan Selatan dan sekitarnya. Karya tulisnya al Durr al Nafis yang ditulis di Makkah dengan bahasa Melayu beredar luas di wilayah Kalimantan Selatan. Dia bisa ditempatkan berada diurutan kedua setelah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary

    INSAN KAMIL DALAM PEMIKIRAN MUHAMMAD NAFIS AL-BANJARI DAN ABDUSH-SHAMAD AL-FALIMBÂNÎ DALAM KITAB AD-DURR AN-NAFIS DAN SIYAR AS-SÂLIKÎN (SEBUAH STUDI PERBANDINGAN)

    No full text
    This paper tries to explore the concept of Insan Kamil through two books of Sufism, ad-Durr an-Nafis by Muhammad Nafis al-Banjari and Siyar as-Salikin by Abdush-Shamad al-Falimbânî. The method used in this paper comparative descriptive approach, because the studies referred to in this study aims to look at the similarities and differences of the concept of Insan Kamil contained in both books. These results indicate that the thought of Muhammad Nafis al-Banjari in the book ad-Durr an-Nafis and Abdush-Samad al-Falimbânî in the book Siyar al-Salikin against the concept of Insan Kamil has the same basic concept, in addition to the typical thinking its own distinct between the two
    corecore