12 research outputs found

    The Value of Islamic Education in The Book of Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai by Emha Ainun Nadjib

    No full text
    This study is trying to describe the results of the analysis of Islamic Educational Values in the book of Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai by Emha Ainun Nadjib or commonly called Cak Nun and at the same time looking at the reconstruction of the concept or values of education offered with the needs and challenges of today's education. This study uses a library research approach with direct data sources from the book of Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai and Emha's books relevant to this research based on the analytical methods and content analysis. The results of this study or the Islamic Educational Values that the author found in the book of Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai talk about the peak of one's faith is monotheism, the net is through piety, and its manifestation is Rahmatan Lil 'Alamin. Then, the value of moral education is to question our attitude toward non-Muslims, re-understanding the meaning of Ukhuwah Islamiyah broadly and deeply. What is contained in the value of Islamic Education includes worship as a Manifestation of Love for Allah by understanding the concept of reward more broadly, Prayer, Fasting, Zakat, and Hajj. Meanwhile, the meaning of an educator, according to "Emha Ainun Nadjib in the book of Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai, is someone who can not only educate but can also position himself as a student anytime, anywhere, and to anyone

    Implementasi Gemar Membaca Melalui Program Pojok Baca Pada Siswa Sekolah Dasar di Dukuh Gayudan 1 Batang

    No full text
    The development of an increasingly advanced era makes reading activities decrease. In Gayudan 1 Batang,  for example, many children have low awareness of low reading and many are affected by less useful activities such as playing with smartphones. This made the author interested in carrying out Community Service Activities related to the implementation of a love of reading through the reading corner program. The reading corner program in Dukuh Gayudan aims to create children who love to read. Implementation of a fond of reading through the reading corner program for elementary school students in Gayudan 1 Batang using the developed strategies and creations means that implementing a reading fondness through the reading corner program for elementary school students in Gayudan 1 Batang is needed to improve children\u27s thinking skills so that they can excel in school and in the social environment

    Dynamic business model based on research in power electronics industry

    No full text
    The recent global economic crisis has caused an uncertain and challenging business environment and has battered managements that are running businesses all over the world.This paper focuses on new capabilities that can be used successfully in a fast changing business environment for improving firms’ efficiency.This research utilizes constructive approach including interviews and case studies. The relevant findings of the study are the elements of the key success factors: entrepreneurial strategy, R&D to market performance, dynamic operational excellence and innovativeness with links to the key actions which have led to new business model called dynamic business model (DBC). This research focuses on power electronics business industry which at the same time is a limitation. This research helps directors and managers to think more widely and make better decisions for the success of the company. This research results bring additional value of the previous studies regarding a firm’s key success factors and dynamic capabilities.Copyright © 2013 Polish Association for Production Management. Under the Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs license, the author(s) and users are free to share (copy, distribute and transmit the contribution) under the following conditions: 1. they must attribute the contribution in the manner specified by the author or licensor, 2. they may not use this contribution for commercial purposes, 3. they may not alter, transform, or build upon this work.fi=vertaisarvioitu|en=peerReviewed

    Rezension/Review/Mapitio: Yuning Shen. 2018. Transitivität und Verbvalenz im Swahili. [Transitivity and Verb Valence in Swahili/Uelekezi na Mpangilio wa Vitenzi katika Lugha ya Kiswahili]. Köln: Rüdiger Köppe, 104 pp., ISBN 978-3-89645-712-7.

    No full text
    Yuning Shen’s study deals with transitivity and verb valency in Kiswahili using a corpus-based approach. The author relates the methods used and results with previous studies dealing with the same topic, namely Whiteley (1968), Abdulaziz (1996) and Olejarnik (2005). He uses the meta-function-rank-matrix (MF/R) from Chinese to point out the fallacy of adopting such a matrix from one language and imposing it on another. Using the parts of speech annotation TreeTagger (Schmid 1994, 1995) to examine previous verb classifications, the author discusses the divergent use of concepts such as verb radicals, verb stems and verb bases as used in different theoretical approaches.Kitabu hiki cha Yuning Shen kinahusu uelekezi na mpangilio wa vitenzi katika lugha ya Kiswahili kwa kutumia mkabala wenye msingi wa kopasi ya kiisimu. Mwandishi anazihusisha mbinu zilizotumika na matokeo yake na kazi za utafiti zilizotangulia zilizoshughulikia mada hiyo yaani Whiteley (1968), Abdulaziz (1996), na Olejarnik (2005). Shen anatumia mkabala wa mpangilio wa viwango tofauti vya matumizi ya lugha (meta-function-rank-matrix, MF/R) iliyotumika kwa utafiti wa lugha ya Kichina kwa ajili ya kuonesha udhaifu wa mkabala huo kwani unaiga mfumo unaofanya kazi katika lugha moja na kuutumia kwa lugha nyingine bila kuzingatia kuwa lugha ni tofauti. Kwa kutumia njia ya matawi ya kutenganisha vipashio vya maneno (TreeTagger) iliyobuniwa na Schmid (1994, 1995) kwa lengo la kuchunguza njia za awali za kuainisha vitenzi, mwandishi anayajadili matumizi yanayotofautiana ya dhana mbalimbali kama vile viini vya vitenzi, mashina ya vitenzi, na mizizi ya vitenzi jinsi ambavyo zimetumika katika mikabala mbalimbali ya kinadharia

    Problematika pembelajaran pendidikan Agama Islam dan solusinya di SMP Negeri 4 Kepanjen Kabupaten Malang

    No full text
    ABSTRAK Pada dasarnya pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia untuk mengembangkan kemampuan atau potensi individu sebagai anggota masyarakat serta memiliki nilai-nilai moral maupun sebagai pedoman hidupnya. Dalam pendidikan Islam disebutkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah memiliki kepribadian muslim yaitu suatu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam yang disebut muttaqiin. Ini dapat diwujudkan melalui pendidikan formal yang disebut sekolah. Karena pendidikan sekolahlah yang mempunyai tujuan yang jelas. Pendidikan agama Islam di sekolah harus mempunyai kualitas yang bagus dalam rangka membentuk kepribadian tersebut sehingga anak didik mampu menghadapi tantangan yang ada. Dalam rangka meningkatkan kualitasnya masih banyak terjadi hambatan-hambatan terutama dalam pembelajaran baik itu dari anak didik, pendidik, kurikulum, maupun alat pendidikan. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mengambil judul Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Solusinya. Dengan rumusan masalah yaitu bagaimana pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam dan apa saja problem yang dihadapi dalam pembelajaran pendidikan agama Islam serta bagaimana cara mengatasinya. Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam dan juga untuk mengetahui problem-problem yang dihadapi dalam pembelajaran pendidikan agama Islam serta cara mengatasinya. Dan yang menjadi obyek penelitian adalah SMP Negeri 4 Kepanjen. Metode yang penulis gunakan dalam penulisan skripsi ini di awali dengan penentuan populasi dan sample, dan pengumpulan data menggunakan metode interview, observasi, dan documenter, serta analisis data yang digunakan adalah diskriptif kualitatif. Karena data yang diperoleh tidak berbentuk angka-angka, akan tetapi merupakan uraian yang didapatkan dari hasil interview, observasi, dan documenter. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diperoleh kesimpulan bahwa pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 4 Kepanjen menggunakan dua model pembelajaran yakni memakai kurikulum 1994 untuk kelas 2 dan 3, dan kurikulum berbasis kompetensi untuk kelas 1, dengan alokasi waktu 2jam pelajaran dalam seminngu (2x45 menit). Guru yang mengajar PAI sebanyak 3 orang. Problem-problem yang dihadapi dalam pembelajaran PAI antara lain : 1) masalah anak didik, yaitu minat belajar siswa terhadap pendidikan agama Islam kurang, dan latar belakang orang tua yang kurang mendukung. 2) masalah pendidik yaitu pengetahuan atau wawasan guru kurang luas. 3) masalah kurikulum yaitu perubahan kurikulum 1994 ke kurikulum berbasis kompetensi dan alokasi waktu yang minim. 4) masalah alat pendidikan yaitu alat pendidikan kurang memadai khususnya buku paket, ruang belajar dan alat praktek ibadah. Dan 5) masalah lingkungan yaitu keberadaan sekolah yang kurang mendukung, hal ini disebabkan karena lokasi SMP Negeri 4 Kepanjen yang letaknya berada di tengah kota yang dekat dengan keramaian. Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan guru agama untuk mengatasi problematika yang dihadapi di SMP Negeri 4 Kepanjen antara lain adalah : 1) masalah anak didik yaitu guru agama memberikan dorongan atau motivasi serta pemahaman kepada anak didik tentang pentingnya pendidikan agama bagi kehidupan sehari-hari, dan memberikan nasehat kepada orang tua anak didik supaya untuk selalu membimbing, mendidik dan mengarahkan anaknya untuk belajar pendidikan agama. 2) masalah pendidik yaitu guru agama memperdalam pengetahuan dengan sering mengikuti seminar atau penataran-penataran dan memperbanyak baca buku yang berkaitan dengan KBK dan saling komunikasi dengan guru lain untuk bertukar wawasan mengenai KBK. 3) masalah kurikulum yaitu memberikan jam tambahan di luar jam pelajaran yakni pada jam ekstra kurikuler dan bekerja sama dengan guru pelajaran yang lain agar dalam mengajar memberikan pesan-pesan moral agama atau tingkah laku yang baik yang menjadi bagian dari materi PAI, guru mengikuti penataran-penataran atau MGMP yang diadakan oleh sekolah maupun luar sekolah. 4) masalah alat pendidikan yaitu guru agama mengajukan permohonan kepada kepala sekolah, supaya menambah buku paket dan melengkapi atau memenuhi perlengkapan media atau alat praktek ibadah yang kurang. Dan guru agama menganjurkan kepada siswa untuk memiliki atau membeli LKS atau buku penunjang yang lain selain buku paket. Dan 5) masalah lingkungan yaitu guru agama sering melakukan pembinaan agama terhadap anak didik melalui kajian-kajian ilmiah dan kerja sama dengan masyarakat sekitar sekolah dan juga kepolisian dalam rangka menjaga ketertiban, kenyamanan maupun keamanan bagi sekolah

    ORGANISASI PERLAWANAN RAKYAT (O.P.R)PADA TAHUN 1958-1965 DI SOPPENG

    No full text
    ABSTRAKOrganisasi Perlawanan Rakyat (OPR) Pada Tahun 1958-1965 Di Soppeng Oleh Dedi Darmawan F81111260. Telah Dibimbing Oleh Suriadi Mappangara Dan Margriet Lappia Moka.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan memperkaya pengetahuan kita tentang usaha-usaha pemerintah dalam mengatasi keamanan dan ketertiban yang di sebabkan oleh pemberontak/gerombolan dengan membentuk organisasi-organisasi yang bertujuan untuk memulihkan keamanan salah satunya yaitu pembentukan Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR) dengan membahas peran dan dampak yang ditimbulkan dari pembentukan orgtanisasi tersebut.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap yaitu di awali dengan tahap pengumpulan data, baik data primer maupun data sekunder, maka sumber tersebut dikritik melalui tahap kedua yaitu verifikasi, tahap ketiga, yaitu tahap interpretasi dilakukan. Informasi tersebut dianalisis berdasarkan sudut pandang ilmiah. Tahap selanjutnya yaitu dari hasil analisis tersebut kemudian dirangkum menjadi sebuah penulisan ilmiah, tahap inilah yang disebut historiografi.Berdasarkan beberapa data tentang Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR) yang penulis coba kumpulkan, maka diperoleh hasil penelitian bahwa peran Organisasi Perlawanan Rakyat sangat membantu pemerintah maupun Angkatan Perang dalam pemulihan keamanan dan ketertiban Sulawesi-Selatan. Dengan memberikan latihan kepada setiap anggota Organissi Perlawanan Rakyat (OPR) menambah kecakapan dalam melaksanakan tugas. Organisasi Perlawanan Rakyat merupakan semangat anak bangsa yang berada di daerah Soppeng yang membantu tentara dalam pengamanan dengan memata-matai musuh di baris depan.Kata Kunci : Sejarah Soppeng, Keresahan Sosial, Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR)ABSTRACT People's Resistance Organization (OPR) in 1958-1965 at Soppeng by Dedi Darmawan F81111260. Has Been Supervised By Suriadi Mappangara And Margriet Lappia Moka. This study aims to provide understanding and enrich our knowledge of government efforts to overcome security and order caused by rebels / gangs by forming organizations that aim to restore security, one of which is the formation of the People's Resistance Organization (OPR) by discussing the role and the impact of the formation of the organization. This research was conducted using a historical research method which consists of four stages, starting with the data collection stage, both primary data and secondary data, the source was criticized through the second stage of verification, the third stage, the interpretation stage. This information is analyzed based on a scientific point of view. The next stage is from the results of the analysis then summarized into a scientific writing, this stage is called historiography. Based on some data about the People's Resistance Organization (OPR) that the author tried to gather, the results of the study were obtained that the role of the People's Resistance Organization greatly helped the government and the Armed Forces in restoring South Sulawesi security and order. By giving training to each member of the People's Resistance Organization (OPR), adding skills in carrying out tasks. The People's Resistance Organization is the spirit of the nation's children who are in the Soppeng area who help the army in security by spying on enemies in the front row.viii + 66 hlm

    Online research skills: Mengelola referensi riset dengan Zotero

    No full text
    Buku ini mempunyai tujuan utama, yaitu [1] Mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan dalam mengelola berbagai jenis referensi riset secara efektif dan efisien dengan menggunakan sebuah reference management software bernama Zotero; [2] Memperkenalkan berbagai sumber informasi ilmiah (yang tersedia di Internet) yang dapat dijadikan referensi riset. Sumber-sumber itu berupa online database dengan berbagai search engine (sarana penelusurannya), terutama yang bersifat open access dan gratis. Teknologi World Wide Web (WWW), yang telah mengalami tingkat kematangan luar biasa, mempunyai andil signifikan dalam merubah landscape informasi ilmiah. Melalui WWW jutaan item informasi ilmiah dapat disebarluaskan dengan cepat ke seluruh penjuru dunia. Sumbersumber referensi riset (seperti artikel jurnal, tesis, disertasi, dan lain-lain) yang tersedia secara online menjadi melimpah-ruah. Untuk mengakses (juga mengunduh) referensi riset tersebut, kita hanya perlu mengenali sumber-sumber tersebut dan dapat menggunakan sarana penulusuran (search engine) secara tepat. Dalam salah satu bab buku ini, Anda akan diajak untuk mengenali berbagai sumber referensi riset yang melimpah itu, baik yang bersifat open access (gratis) maupun subscription-based (berbasis langganan). Melalui sumber-sumber informasi yang dipaparkan dalam bab tersebut, Anda akan dapat mengunduh ribuan tesis atau disertasi dan bahkan ribuan artikel jurnal ilmiah, prosiding konferensi, dan lain-lain. Dalam waktu singkat, fulltext (teks lengkap) berbagai item referensi tersebut (umumnya berformat PDF) dapat Anda miliki dan simpan dalam laptop. Kita sering merasa puas setelah berhasil mengunduh fulltext (teks lengkap) item-item referensi dan menyimpannya dalam internal atau external harddisk. Padahal permasalahan sering muncul ketika penyimpanan dan pengelolaan item-item tersebut hanya dilakukan secara konvensional dan tradisional, yaitu hanya dengan membuatkan folder dan sub-folder sebagai wadah penampungan. Cara ini tidak dapat membantu pencarian dengan cepat terhadap file-file yang kita lupa nama dan foldernya. Oleh karena itu, kita perlu mengelola file-file referensi riset secara efektif dengan menggunakan reference management software yang bagus (misalnya Zotero). Buku ini akan membahas cara memanfaatkan Zotero untuk mengelola referensi riset. Software ini dapat membantu mengklasifikan referensi riset sesuai dengan taxonomy disiplin ilmu dan sub-disiplin ilmu yang Anda kaji. Zotero juga dilengkapi dengan sarana penelusuran yang powerful sehingga dapat mencari item-item referensi riset dengan mudah dan cepat baik dengan menggunakan keyword, author, title maupun yang lainnya. Selain itu, Zotero dilengkapi fitur untuk memudahkan kegiatan sharing koleksi referensi sesama anggota tim riset atau kolega, baik secara offline maupun online. Referensi riset yang dikelola secara baik dengan menggunakan reference management software (semacam Zotero) juga mempunyai keuntungan lain yang sangat penting. Software semacam ini dapat membantu penulis membuat citation style atau referencing style (gaya dalam pembuatan kutipan dan daftar rujukan) secara mudah dan akurat menurut standard tertentu yang dikenal secara internasional. Referencing style merupakan salah satu elemen penting dalam penulisan ilmiah. Kualitas sebuah tulisan ilmiah dapat dilihat dari salah satunya style ini. Pembuatan referencing style secara manual akan terasa ribet karena harus cermat dalam penulisan elemen data sumber rujukan (pengarang, judul, tempat terbit, penerbit, edisi, volume, halaman, dan lainlain) beserta punctuation (tanda baca) yang menyertainya. Kerumitan ini akan terkurangi bila kita awali mengelola referensi riset dengan baik dengan Zotero. Buku ini didedikasikan utamanya untuk mahasiswa, dosen, dan peneliti. Mahasiswa, baik pada tingkat sarjana maupun pascasarjana, dituntut untuk mengerjakan tugas-tugas mata kuliah (assignment) yang sebagian besar dalam bentuk tulisan ilmiah: paper, essay, review, project report, thesis dan lain-lain. Dosen dan peneliti juga sangat intense dalam berbagai kegiatan penulisan ilmiah dalam berbagai bentuknya, seperti textbook, research report, journal article, conference paper, dan lain-lain. Untuk proses dan kegiatan penulisan ilmiah itulah mahasiswa, dosen, dan peneliti akan dapat mengambil banyak manfaat dari buku ini

    KIPRAH MOCHTAR KUSUMAATMADJA SEBAGAI MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1978-1988

    No full text
    Penelitian ini di awali dengan ketertarikan penulis atas kasus yang tengah hangat terjadi dalam kawasan Laut Natuna yang diklaim oleh Tiongkok sebagai wilayah teritorialnya. Padahal klaim Tiongkok meyalahi hasil dari United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) tahun 1982. Indonesia sendiri merupakan negara yang meratifikasi hasil dari konvensi tersebut. Seorang tokoh bangsa bernama Mochtar Kusumaatmadja merupakan tokoh penting yang penulis kaji dalam penelitian karena secara historis banyak melakukan upaya untuk memperjuangkan kedaulatan wilayah Indonesia ketika beliau menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia untuk dua periode, yaitu pada 1978-1983 dan 1983-1988. Tujuan dari pengkajian terhadap tokoh Mochtar Kusumaatmadja sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia sebagai berikut: (1) Mengetahui kiprah Mochtar Kusumaatmadja sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia dalam United Nation Convention on the Law of the Sea; (2) Mengetahui kiprah Mochtar Kusumaatmadja sebagai Menteri Luar Negeri Repubik Indonesia dalam melakukan soft power diplomacy; dan (3) Mengetahui kiprah Mochtar Kusumaatmadja dalam menyelesaikan serangkaian konflik pada era Perang Dingin. Peneltian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari, heusistiek, kritiek, Auffassung (interpretasi) dan Dahrstelling (historiografi) dengan teknik penelitian studi literatur. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya keberhasilan Mochtar Kusumaatmadja dalam menetapkan wilayah teritorial Indonesia meski demikian tantangan datang dari negara-negara maritim besar seperti Amerika Serikat dan Inggris. Kemudian ditemukan juga keberhasilan penyelenggaraan rangkaian kegiatan budaya dan kuliner Nusantara di Amerika Serikat sebagai bentuk soft power diplomacy Indonesia. Temuan terakhir terkait penyelesaian serangkaian konflik di kawasan Asia Tenggara seperti konflik Vietnam di Kamboja dengan cocktail party serta upaya penyelesaian konflik di Timor Timur. This research begins with the author's interest in the ongoing and heated case in the Natuna Sea region, claimed by China as its territorial waters. However, China's claim contradicts the results of the United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) in 1982. Indonesia itself is a country that has ratified the results of this convention. A national figure named Mochtar Kusumaatmadja is an important figure that the author examines in this research because historically, he has made many efforts to fight for Indonesia's sovereignty when he served as the Minister of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia for two periods, namely from 1978 to 1983 and from 1983 to 1988. The objectives of studying Mochtar Kusumaatmadja as the Minister of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia are as follows: (1) To understand Mochtar Kusumaatmadja's role as the Minister of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia in the United Nations Convention on the Law of the Sea; (2) To understand Mochtar Kusumaatmadja's role as the Minister of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia in conducting soft power diplomacy; and (3) To understand Mochtar Kusumaatmadja's role in resolving a series of conflicts during the Cold War era. This study uses historical research methods consisting of heuristic, critical, interpretation, and historiography with the literature study research technique. The results of this research include the discovery of Mochtar Kusumaatmadja's success in establishing Indonesia's territorial waters, despite challenges from major maritime countries such as the United States and the United Kingdom. It is also found that the implementation of a series of cultural and culinary activities in the United States is a form of Indonesia's soft power diplomacy success. The final findings relate to the resolution of a series of conflicts in the Southeast Asian region, such as the Vietnam conflict in Cambodia with a cocktail party and efforts to resolve conflicts in East Timor

    KONSEP PENDIDIKAN AQIDAH PERSPEKTIF MUHAMMAD NAFIS AL-BANJARI (WAFAT 1812 M) DAN ABDURRASYID BANJAR (WAFAT 1934 M) DAN IMPLEMENTASNYA DI DESA TANJUNG RAJA LAMPUNG UTARA

    No full text
    ABSTRAK Pendidikan sangat identik dengan sebuah perkembangan seseorang "جِاَ١ؽٌ َاُُ ١ْ ٍِؼَ ْذ، َٚ َؼ١ ُُ َاٌرَ ْؼٍِ ْ١ ُاج ." Pada saat ini masyarakat sudah di permudah oleh kemajuan di bidang teknologi baik dari segi komunikasi maupun trasportasi, disamping itu juga kemajuan teknologi membawa dampak negatif bagi masyarakat, hari ini masyarakat banyak yang melupakan kearifan lokal yang merupakan keaslian dari daerahnya sendiri. Contohnya masyarakat millenial hari kurang mengenali budaya atau adat sebagai jati diri suku bangsa, seperti halnya kitab Ad-Durrun Nafis dan Perukunan Besar Melayu yang lekang dimakan zaman. Masyarakat millenial banyak yang menganggap bahwa mempelajari kitab Ad-Durrun Nafis dan Perukunan Besar Melayu saat ini adalah hal yang kuno dan tidak mengasikkan untuk di pelajari, padahal di dalam Ad-Durrun Nafis dan Perukunan Besar Melayu sendiri memuat nilai-nilai luhur yang tentunya sangat relevan pada saat ini. Berangkat dari latar belakang masalah diatas, penulis termotivasi untuk meneliti dan mengkaji Pendidikan aqidah yang mengacu pada pemikiran Muhammad Nafis Al-Banjari Dan Abdurrasyid Banjar. Dengan judul Konsep Pendidikan Aqidah Perspektif Muhammad Nafis Al-Banjari (Wafat 1812 M) Dan Abdurrasyid Banjar (Wafat 1934 M) Dan Implementasnya Di Desa Tanjung Raja Lampung Utara. Penelitian yang penulis gunakan adalah jenis penelitian lapangan atau disebut field research yaitu penelitian yang objeknya mengenai konsep Pendidikan aqidah Muhammad Nafis Al-Banjari dan Abdurrasyid Banjar dan Implementasinya di desa Tanjung Raja Lampung Utara yaitu penelitian antropologi spiritual yang mengkaji manusia dalam dimensi spiritual yang dimilikinya, baik yang menyangkut perilaku aqidah, sistem pengetahuan, dan totalitas kehidupan manusia. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis yang mana penelitian ini bertujuan untuk mengambarkan mengenai suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu. Disini penulis menggunakan metode observasi, kemudian wawancara, dan juga dokumentasi untuk sumber data yang sama. Kesimpulan dari penelitian ini Implementasi Pendidikan Aqidah Muhammad Nafis Banjari dan abdurrasyid Banjar. Menamakan keyakinan di dalam diri seseorang dengan cara mengenali dirinya terlebih dahulu. ketika seseorang telah mengenali dirinya maka hati dan pikiran ini akan tunduk kepada Allah SWT. Lalu, keyakinan ini menjadikan seseorang rendah hati dan terjalin keharmonisan antar sesama masyarakat, hal ini dapat kita lihat dari tingginya antusias masyarakat Desa Tanjung Raja untuk mengikuti kajian-kajian keagamaan di setiap minggunya. Sedangkan Abdurrasyid Banjar berpendapat agar seorang insan dapat menjalankan aqidah dengan baik dan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT, guru atau mursyid harus lah mengenalkan secara mendalam tentang keimanan terlebih dahulu, di awali dengan memahami syahadat. Adapun fardhu syahadat itu terbagi menjadi dua; pertama haruslah diucapkan dengan lidah, kedua haruslah di tasdiqkan atau di benarkan di dalam hati. Kesempurnaan syahadat terbagi menjadi empat; pertama diketahui, kedua diiqrarkan, ketiga ditasdiqkan, keempat diyakinkan. Kata Kunci: Konsep Pendidikan, Aqidah v ABSTRACT Education is very synonymous with a person's development "ُاجَ١ؼُُ َ١ْ ٍِؼَ ْرٌاُُ ، َٚ١ْ ٍِؼَ ْذ جِاَ١ؽٌ َا ." Currently, society has been made easier by advances in technology both in terms of communication and transportation. Apart from that, technological advances also have a negative impact on society. Today, many people forget local wisdom which is the authenticity of their own region. For example, millennial society today does not recognize culture or customs as ethnic identity, such as the books Ad-Durrun Nafis and Perukunan Besar Melayu which are timeless. Many millennial people think that studying the books Ad-Durrun Nafis and Perukunan Besar Melayu today is old-fashioned and not fun to study, even though in Ad�Durrun Nafis and Perukunan Besar Melayu itself contains noble values which are of course very relevant at this time. Departing from the background of the problem above, the author is motivated to research and study aqidah education which refers to the thoughts of Muhammad Nafis Al-Banjari and Abdurrasyid Banjar. With the title The Concept of Aqidah Education from the Perspective of Muhammad Nafis Al-Banjari (Died 1812 AD) and Abdurrasyid Banjar (Died 1934 AD) and its Implementation in Tanjung Raja Village, North Lampung. The research that the author uses is a type of field research or what is called field research, namely research whose object is the concept of Muhammad Nafis Al-Banjari and Abdurrasyid Banjar's aqidah education and its implementation in the village of Tanjung Raja, North Lampung, namely spiritual anthropology research which examines humans in their spiritual dimensions, both which concerns religious behavior, knowledge systems, and the totality of human life. This research is a descriptive analysis in which this research aims to describe an individual, situation, symptom or certain group. Here the author uses the observation method, then interviews, and also documentation for the same data source. The conclusion of this research is the Implementation of Aqidah Education for Muhammad Nafis Banjari and Abdurrasyid Banjar. Naming beliefs within a person by getting to know him or herself first. When someone has recognized himself, his heart and mind will submit to Allah SWT. Then, this belief makes a person humble and creates harmony between people in the community. We can see this from the high enthusiasm of the people of Tanjung Raja Village in participating in religious studies every week. Meanwhile, Abdurrasyid Banjar is of the opinion that in order for a human being to be able to carry out the aqidah well and be able to get closer to Allah SWT, the teacher or murshid must provide an in-depth introduction to the faith first, starting with understanding the shahada. The fardhu shahadah is divided into two; First, it must be said with the tongue, second, it must be tasdiqkan or justified in the heart. The perfection of the creed is divided into four; The first is known, the second is confirmed, the third is accepted, the fourth is confirmed. Keywords: Educational Concept, Aqidah vi خالصة اٌرؼٍ١ِ ُشادف ظًذا ٌرطٛس اٌشخض "اٌ َؽ١َاِج ذَ ْؼٍِْ١َٚ ، ُُاٌرَ ْؼٍِْ١َ ُُؼ١َاجُ". فٟ اٌٛلد اٌؽاٌٟ، أطثػَاٌّعرّغَأعًَٙتفضًَاٌرمذََاٌرىٌٕٛٛظَٟعٛاءََِٓؼ١سَاالذظاالخَأَٚإٌمً،َٚتظشفَإٌظشَ ػٓ رٌه، فئْ اٌرمذَ اٌرىٌٕٛٛظٟ ٌٗ أ٠ً ضا ذأش١ش عٍثٟ ػٍٝ اٌّعرّغ، َٚاٌ١ََٛ٠ٕغَٝاٌىص١شََِٓإٌاطَ اٌؽىّحَاٌّؽٍ١حَاٌرَٟذّصًَأطاٌحَِٕطمرُٙ.َػٍَٝعث١ًَاٌّصاي،َالَ٠ؼرشفَِعرّغَاألٌف١حَاٌ١ََٛتاٌصمافحَ أَٚاٌؼاداخَوٙٛ٠حَػشل١ح،َِصًَورةَNafis Durrun-Adٚ Melayu Besar Perukunan اٌرَٟ الَذرأششَتّشٚسَاٌضِٓ.َ٠ؼرمذَاٌؼذ٠ذََِٓظ١ًَاألٌف١حَأَْدساعحَورةَاٌذسَْٚٔف١ظَٚت١شٚوٛٔاَْت١غاسَ ِال٠َٛاٌ١ََََِٟ٘ٛٓاٌطشاصَاٌمذ٠ٌَُٚ١غدَِّرؼحٌٍَذساعح، َػٍَٝاٌشغََُِٓأَْورابَاٌذسَْٚٔف١ظَ ٚت١شٚوٛٔاْ َت١غاس َِال٠َٔ ٛفغٗ َ٠ؽرٛٞ َػٍٝ َل١َٔ ُث١ٍح َراخ َطٍح َوث١شج َتاٌطثغ َفٟ َ٘زا َاٌٛلد.َ ً ِٓ خٍف١ح اٌّشىٍح أػالٖ، ؼشص اٌّؤٌف ػٍٝ اٌثؽس ٚدساعح اٌرشت١ح اٌؼم١ذ٠ح اٌرٟ ذشظغ ٚأطاللا إٌَٝأفىاسَِؽّذَٔف١ظَاٌثٕعشَٞٚػثذَاٌشش١ذَتٕعش.َتؼٕٛاَِْفََٙٛذؼٍ١َُاٌؼم١ذجََِٓٚظٙحَٔظشَِؽّذَ ٔف١ظَاٌثٕعشَٞ)خَ8181َٚ)َػثذَاٌشش١ذَتٕعشَ)خَ8391َٚ)َذٕف١زَٖفَٟلش٠حَذأعٛٔطَساظاَشّايَ الِثٛٔط. اٌثؽس َاٌزٞ َ٠غرخذِٗ َاٌّؤٌف َ٘ٛ َٔٛع َِٓ َأٔٛاع َاٌثؽس َاٌّ١ذأٟ َأٚ َِا َ٠غّٝ َتاٌثؽسَ اٌّ١ذأٟ، ََٚ٘ٛاٌثؽسَاٌزَِٞٛضٛػَِٗفََٙٛذؼٍ١َُػم١ذجَِؽّذَٔف١ظَاٌثٕعشَٞٚػثذَاٌشش١ذَتٕعاسَ ٚذٕف١ز٘اَفَٟلش٠ح َذأعٛٔطَساظاَشّايَالِثٛٔط، ََٟٚ٘أتؽازَاألٔصشٚتٌٛٛظ١اَاٌشٚؼ١ح َاٌرَٟذذسطَ اٌثششَفَٟأتؼادَُ٘اٌشٚؼ١ح،َٚاٌرَٟذرؼٍكَتاٌغٍٛنَاٌذ٠ٕٟ،َٚأٔظّحَاٌّؼشفح،َِٚعًَّاٌؽ١اجَاٌثشش٠ح.َ ٘زاَاٌثؽسَػثاسجَػَٓذؽٍ١ًَٚطفَٟ٠ٙذفَ٘زاَاٌثؽسَف١َٗإٌَٝٚطفَفشدَأَِٚٛلفَأَٚأػشاعَأَٚ ِعّٛػحَِؼ١ٕح.َٕ٘اَ٠غرخذََاٌّؤٌفَأعٍٛبَاٌّالؼظح،َشُ اٌّماتالخ،َٚأ٠ضاَاٌرٛش١كٌَٕفظَِظذسَ اٌث١أاخ. خاذّحَ٘زاَاٌثؽسََٟ٘ذٕف١زَذؼٍ١َُاٌؼم١ذجٌَّؽّذَٔف١ظَتٕعاسَٞٚػثذَاٌشش١ذَتٕعش.َذغّ١حَ . ػٕذِا ٠ؼشف اإلٔغاْ ٔفغٗ، فئْ اٌّؼرمذاخ داخً اٌشخض ِٓ خالي اٌرؼشف ػٍ١ ٗأٚ ٔفغٙا أٚالً لٍثٗ َٚػمٍٗ َعٛفَ٠خضؼاْ َهللَعثؽأٗ َٚذؼاٌٝ.َِٚٓ شُ فئْ ٘زا االػرماد ٠عؼً اإلٔغاْ ِرٛاض ًؼا ٚ٠خٍكَاالٔغعاََت١َٓإٌاطَفَٟاٌّعرّغ،َٚ٠ّىٕٕاَأَْٔشَٜرٌهََِٓخاليَاٌؽّاطَاٌىث١شَألًَ٘لش٠حَ ذأعٛٔطَساظاَفَٟاٌّشاسوحَفَٟاٌذساعاخَاٌذ٠ٕ١ح َوًَأعثٛع.َٚفَٟاٌٛلدَٔفغٗ، َ٠شَٜػثذ َاٌشش١ذَ تٕعشَأٌَٔٗىَٟ٠رّىَٓاإلٔغآََِْذٕف١زَاٌؼم١ذج ظ١ًذا ٚ٠ىْٛ لاد ًسا ػٍٝ اٌرمشب ِٓ هللا عثؽأٗ ٚذؼاٌٝ، ٠عة ػٍٝ اٌّؼٍُ أٚ اٌّششذ ذمذ٠ِ ُمذِح ِرؼّمح ٌٍؼم١ذج أٚالً، تذءا ِٓ فُٙ اٌشٙادج. ٚذٕمغُ اٌفشض١ح تاٌمٍة. ً أٚ ذغٛ٠غا ً تاٌٍغاْ، ٚاٌصأٟ: أْ ٠ىْٛ ذظذ٠ما اٌشٙادج إٌٝ لغّ١ٓ؛ األٚي: أْ ٠ىْٛ لٛالً ٚوّايَاٌؼم١ذجَ٠ٕمغَُإٌَٝأستؼح؛َفاألٚيَِؼشٚف،َٚاٌصأَِٟؤوذ،َٚاٌصاٌسَِمثٛي،َٚاٌشاتغَِؤوذ. اٌىٍّاخَاٌّفراؼ١ح:َاٌّفََٙٛاٌرشتٛٞ،َاٌؼم١ذ
    corecore