1,720,967 research outputs found
FACILITATING CHILDREN TO SPEAK ENGLISH THROUGH LANGUAGE PROMPT CARD
Children have enormous ability to learn a language, by providing favorable and structured input and practice opportunities, a positive learning atmosphere can be ensured in the children’s class. A structured and practiced media that can be applied is Language Prompt Card. Language Prompt Card is a set of card consists of practical language (customized and structured sentence); it is in form of statement and question-answer. Being facilitated by the card, children have to practice speaking in the classroom. Additionally, the card gives a model to the students the correct form of a sentenc
Pentingnya Perspektif Lintas Budaya dalam Pendidikan
DALAM kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), ada beberapa program yang ditujukan untuk meningkatkan pengalaman dan pelajaran terkait keragaman budaya dan toleransi antarsesama individu. Beberapa program tersebut adalah Pertukaran Mahasiswa dan Indonesian International Student Mobility (IISMA).
Program ini dianggap mampu meningkatkan dan memperkaya wawasan maupun kompetensi mahasiswa khususnya terhadap pemahaman lintas budaya. Bahkan program ini tidak hanya sebatas program nonakademik, karena program ini memiliki bobot kredit sampai 20 SKS (sistem kredit semester)
Kurikulum Merdeka Tak Sekadar Karena Pandemi
Jakarta - Awal 2022, tepatnya Februari, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim meluncurkan kurikulum baru yang dikenal dengan Kurikulum Merdeka. Secara mendasar Kurikulum Merdeka ditujukan untuk mengejar ketertinggalan learning loss sepanjang masa pandemi Covid-19.
Namun jika kita lihat secara mendalam, kurikulum ini mempunyai target jangka panjang, yaitu memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia yang tertinggal dari beberapa negara lain. Kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum 2013 dianggap belum mampu memenuhi kebutuhan zaman yang sudah mengalami banyak perubahan.
Isu-isu terkait Revolusi Industri 4.0, 21st Century Learning, Society 5.0 belum mampu direspons dalam berbagai proses pembelajaran di sekolah. Banyak guru mash saja disibukkan dengan berbagai tugas administrasi yang sangat membebani, sehingga pembelajaran belum mampu mencetak para peserta didik yang memiliki ketrampilan abad ke-21 yaitu komunikatif, kreatif, kolaboratif, dan pemikiran kritis. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya tingkat literasi siswa (Bando, 2021).
Pandangan Filosofis
Dalam pernyataannya, Menteri Nadiem menyampaikan bahwa Kurikulum Merdeka berfokus pada pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Peserta didik diberi kebebasan untuk memilih mata pelajaran sesuai minat, bakat, dan aspirasinya. Hal ini sangat sejalan dengan gagasan Bapak Pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara.
Ki Hajar Dewantara sangat menekankan pada kebebasan peserta didik dalam belajar, kenyamanan tempat belajar, dan pembangunan karakter. Proses seperti ini dianggap mampu mendorong peserta didik menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Pada akhirnya, mereka akan mandiri, terampil mengatur dan menentukan tujuan hidup sendiri berdasarkan norma dan budaya masyarakat yang ada.
Di sisi lain, peran pendidik hanya memfasilitasi peserta didik untuk dapat tumbuh berkembang. Dalam praktiknya pendidik akan menggali, bakat dan minat peserta didik, lalu mengembangkannya. Hal ini tentu bertentangan dengan realitas yang ada, pendidik justru sering mengubah apa yang dimiliki dan diminati oleh siswa atas dalih kurikulum.
Konsep pendidikan seperti ini juga merujuk pada seorang tokoh pendidikan Brazil yaitu Paolo Freire. Dalam berbagai kajian disampaikan bahwa Paolo Freire mengatakan pendidikan pada proses pengembalian kodrat manusia menjadi pelaku atau subjek, bukan penderita atau objek. Oleh karena itu, pendidikan membutuhkan pendekatan kultural dan proses dialogis untuk mengenalkan peserta didik pada realitas konteks masyarakat.
Tantangan Guru
Perubahan atau pergantian kurikulum menjadi keniscayaan yang harus dihadapi para guru. Fenomena seperti ini sudah sering dihadapi oleh guru pada masa-masa sebelumnya. Sebuah kurikulum menjadi berubah tentunya dilandasi oleh berbagai faktor. Di antaranya adanya perubahan atau pengembangan tujuan yang ingin dicapai oleh sebuah bangsa. Pengembangan tujuan dari sebuah bangsa diambil sebagai respons terhadap perkembangan situasi kekinian yang dihadapi oleh sebuah bangsa.
Dalam menghadapi perubahan kurikulum, ada beberapa hal yang harus dihadapi oleh para guru. Pertama, transformasi kurikulum. Perubahan kurikulum bukan saja perubahan secara administratif, namun juga dibarengi dengan berbagai perangkat di dalamnya. Dalam hal ini, guru benar-benar dituntut untuk memahami secara mendalam tentang komponen-komponen di dalamnya.
Guru harus merubah capaian-capaian yang diharapkan dalam pembelajaran. Dalam menentukan capaian pembelajaran, secara konseptual dan impelementasinya, guru dituntut untuk menemukan metode-metode baru sampai pada bagaimana melaksanakan penilaian dan evaluasinya.
Jangan sampai nantinya kurikulum yang memiliki banyak pembaharuan penting tidak dibarengi oleh pembaharuan alam impelemntasinya di lapangan. Seperti halnya temuan yang disampaikan dalam beberapa riset terhadap implementasi Kurikulum 2013. Disampaikan bahwa dukungan dari pemerintah tidak diimbangi dengan usaha guru di lapangan. Sehingga hasilnya bisa ditebak, bahwa perubahan kurikulum belum mampu menjawab kebutuhan dari pelaksanaan pendidikan.
Tantangan selanjutnya bagi guru adalah sistem pembelajaran. Minimnya referensi buat guru terhadap kurikulum merdeka menjadi salah satu tantangan terberat. Di sisi lain, dalam implementasinya, guru harus mengubah sistem pembelajaran. Jika selama ini masih banyak kita jumpai guru yang menerapkan sistem pembelajaran berpusat pada guru, maka kali ini harus berpusat pada minat siswa.
Guru kali ini benar-benar dituntut untuk mampu melaksanakan pembelajaran berdasarkan pada kebebasan berfikir siswa. Dalam pelaksanaannya, guru harus bisa memicu siswa untuk berpikir dan kemudian menggunakan kreativitasnya dalam merespon berbagai fenomena yang terjadi di sekitarnya.
Berlanjut lagi pada sistem penilaian yang dilaksanakan oleh para guru. Penilaian tidak lagi didasarkan pada pengetahuan siswa dari hasil belajar, namun juga harus mampu menilai tingkat kekritisan dan kreatifitas peserta didik, bagaimana mereka berkomunikasi dan bekerjasama. Hal ini tentunya disesuaikan dengan ketrampilan wajib pendidikan abad ke-21
OUTDOOR LEARNING ACTIVITY: IS IT EFFECTIVE TO ROUSE STUDENTS’ SPEAKING?
Abstract: The aim of this study was to investigate the effectiveness of outdoor learning activity in improving students speaking. 30 students were selected from 125 students of the third semester as the participants of the study. The design of the study was one group pre-test post-test quasi experimental design. The group was taught by outdoor activity. Then oral test was given in both pre and post-tests. The result of the test showed that the mean score of pre-test was 70.1 while the mean score of post-test was 79.5. Accordingly, the statistical analysis affirmed that outdoor learning activity was effective in improving the speaking ability of the students; another conclusion was that outdoor activity provided authentic material to the students where authentic material was very beneficial as it gave a valuable insight into a culture and language. More, outdoor environment included was potential to encourage meaningful learning by moving between the abstract and concrete as well as transforming experience into knowledge through reflection and communication Key words: outdoor learning activity, English speaking skil
LECTURER-STUDENT TRANSACTIONAL DISTANCE DURING ONLINE LEARNING
Distance learning has recently been implemented by most universities in Indonesia along with the pandemic situation. Challenges in learning and teaching have been following up during the implementation of distance learning including the emergence of communication gap or distance between lecturers and students, which is popularly known as transactional distance. The study aimed to describe the presence of lecturer-student transactional distance in terms of lecturers’ teaching reflection of their satisfaction towards online learning activities. By conducting a survey to 12 lecturers from different educational institutions and referring to the theory of Transactional Distance of Michael G. Moore, the study found that transactional distance occurred during online learning indicated by several aspects, i.e., (1) the existence of psychological gap in the course, (2) non-existence of interactive communication between lecturer and student, and (3) high rigidity of course structure
Pelatihan English for Tour Guide bagi Pelaku Sektor Pariwisata Lokal
The development of Desa Wisata is one alternative to improve the community’s economy, including Desa Japan in Kudus Regency, Central Java. To support this, improving human resources—especially foreign language skills—is essential. This community service aimed to provide “English for Tour Guide†training for tourism activists in Desa Japan. The training focused on practical English for guiding tourists, particularly foreigners. Participants practiced spoken English relevant to tourism settings. The training outcomes included: (1) increased confidence in speaking English, (2) improved tourism knowledge, (3) enhanced public speaking skills, and (4) better understanding and use of English for tour guiding. Through this activity, tourism activists are expected to become role models in using simple and practical English within the community.Pengembangan Desa Wisata merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, termasuk Desa Japan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Untuk mendukung program ini, diperlukan peningkatan sumber daya manusia, khususnya dalam keterampilan berbahasa asing. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan pelatihan “English for Tour Guide†bagi para pelaku wisata di Desa Japan. Pelatihan difokuskan pada penggunaan Bahasa Inggris praktis dalam konteks pariwisata. Hasil kegiatan ini antara lain: (1) meningkatnya kepercayaan diri pelaku wisata dalam berbahasa Inggris, (2) meningkatnya pengetahuan dan keterampilan di bidang pariwisata, (3) meningkatnya kemampuan public speaking, serta (4) meningkatnya pemahaman dan penggunaan Bahasa Inggris sebagai pemandu wisata. Melalui kegiatan ini, pelaku wisata diharapkan dapat menjadi panutan dalam penggunaan Bahasa Inggris yang sederhana dan praktis di lingkungan masyarakat Desa Japan
PROMOTING MORAL MESSAGES BEHIND FIGURATIVE LANGUAGES IN NIRWANA’S SONG LYRICS
Figurative Language is commonly used in literary work, especially in a song lyric. The song is also commonly used by English teachers as a medium in the teaching process. It makes the learning proses becomes more interesting and satisfying. Besides that, the song also contains a moral message which is implied in the lyrics which can be used by the teachers to teach the students in building the characters. This research is aimed at finding the types and meaning of the figurative language which are used in Nirvana’s song lyrics and to explain the interpretation of the meanings which support moral message. This research is descriptive qualitative research. The data of this research are the words, phrases, and sentences of Nirvana songs that use figurative language. The data source is taken from all of Nirvana's song lyrics in the “Nevermind” Album. The result of the research indicates that the there are 13 types of figurative language, those are Metaphor (32,7%), Symbolism (30,2%), Idiom (9,5%), Hyperbole (5,2%), Metonymy (3,4%), Satire (3,4%), Synecdoche (2,6%), Pun or Paronomasia (2,6%), (2,6%), Litotes (2,6%), Paradox (2,6%), Simile (1,7%), and Personification (0,9%); and that the most moral messages delivered in Nevermind Album are bravery and honesty. </jats:p
Buku Saku EDU KOPI Interactive English Tour Guiding
Buku saku ini merupakan sebuah buku yang berisikan panduan menjadi guide yang menjelaskan seputar wisata edukasi kopi berbahasa Inggri
- …
