68 research outputs found

    Aqua-puncture: a waterfront rejuvenation strategy for Jabon, Sidoarjo, Indonesia / Fairuz Mutia, Dominikus Aditya Fitriyanto and Azkia Avenzoar

    Full text link
    Indonesian urban planning and design haven’t prioritized coastline development. On the other hand, many Indonesian cities started as riverfront villages. Jabon, Sidoarjo's waterfront development uses road transit currently, instead of their history as waterways, the urban development relationship was then disregarded. On the other hand, the term aqua-puncture is being used in many regions to restore rivers. In the meantime, an approach known as aqua-puncture has been tested and put into practice in a number of places throughout the world as a method to reinvigorate the interaction between waterways and their potential. The state of the Jabon District is then intriguing and merits further study. As a result, the purpose of this study is to determine the morphology of the waterfront region in the Jabon area and investigate the possibility of applying aqua-puncture to the environmental conditions of the area. This qualitative study employs tissue analysis to identify where an aqua-puncture procedure is needed to restore Jabon's waterfront as a tourist destination. The results show that aqua-puncture could restore the river in various areas. On the eastern bank, cultural-historical values should be restored and utilized. To strengthen spatial cognition, building distinctive sea activities and adapting inland waterways to aquapuncture will lessen global influence

    Pelestarian Kampung Batik Jetis Berbasis Partisipasi Masyarakat

    Full text link
    Pemerintah Kota Sidoarjo merencanakan pengembangan Kota Lama. Hal ini berimbas pada Kampung Batik Jetis yang secara posisi juga merupakan bagian dari area Kota Lama. Namun kenyataannya kondisi Kampung Batik Jetis saat ini belum layak untuk menjadi destinasi wisata, hal ini dikarenakan bangunan lama dan potensi batiknya belum dapat menjadi identitas kawasan. Kurangnya apresiasi masyarakat terhadap bangunan lama pada kawasan terlihat dari banyaknya bangunan yang bernilai sejarah dan seni tinggi, tidak dirawat hingga rusak, dirombak, bahkan dibongkar. Kenyataan pada kondisi lapangan memperlihatkan bahwa partisipasi masyarakat dalam melestarikan kampung masih bersifat pasif. Penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil rekaman data dianalisa dengan synchronic reading untuk keterkaitan data dan hasil data kuantitatif akan diolah dengan analisis distribusi frekuensi. Walkthrough analysis digunakan menganalisa data yang berkaitan dengan karakter visual-spasial dan walkability analysis sebagai pendekatan assesment oleh masyarakat. Analisa data dirangkum dalam teknik character appraisal. Tujuannya adalah menghasilkan konsep berupa arahan pelestarian bagi Kampung Batik Jetis berbasis partisipasi masyarakat. Dari hasil participation in giving information, masyarakat menekankan bahwa belum ada tindakan pelestarian yang representatif baik dari warga maupun Pemerintah. Hal ini mempengaruhi pelestarian yang ada, dibuktikan dengan temuan fisik yakni 2/3 bangunan lama di Kampung Batik Jetis dalam kondisi tidak terawat. Melalui tindakan participation in consultation, masyarakat menilai kriteria 5C rendah, sedangkan analisa data peneliti menunjukkan karakter imagibilitas yang tinggi jika ditinjau dari aspek fisik kawasannya. Hal ini kemudian yang menjadi dasar dalam pengembangan arahan pelestarian yang sustainable yakni pelestarian dan pemanfaatan bangunan lama, keselarasan visual kawasan, penanganan ekologis, dan memberikan masyarakat sarana untuk berpartisipasi. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan keberlanjutan fisik dan non fisik kampung sehingga masyarakat mendapatkan manfaat dari adanya pelestarian kawasan ini. ================================================================== The Government of Sidoarjo plans the development of the Old City area. This affects Kampung Batik Jetis which is also a part of it. But in fact, the condition of Kampung Batik Jetis is currently not feasible to become a tourist destination, this is because the old building and the batik as cultural heritage cannot be a regional identity. Lack of public appreciation of the old buildings in the area seen from the number of buildings not treated well and damaged, overhauled, even dismantled. The reality in the field conditions shows that the participation of the community in preserving the village is still passive. This research is a qualitative research with phenomenology approach. The data recording analyzed by synchronic reading for data correlation and quantitative data will be processed by frequency distribution analysis. Walkthrough analysis is used to analyze data related to visual-spatial character and walkability analysis as an assessment approach by the community. The data analysis summarized in character appraisal technique. The goal is to produce a concept of preservation direction for Kampung Batik Jetis based on community participation. From the results of participation in giving information, the community emphasizes that there is no preservation action that is representative of both citizens and the Government. This affects the existing conservation, evidenced by the physical findings of 2/3 old buildings in Kampung Batik Jetis in an unkempt condition. Through the participation, participation in consultation, the community assessed 5 criteria low, while the data analysis of the researcher showed the high characteristic of image if viewed from the physical aspect of the area. This forms the basis for developing sustainable conservation directives that preserve and utilize old buildings, visual alignment of the area, ecological handling, and provide communities with the means to participate. It is expected to foster the physical and non-physical sustainability of the village so that the community can benefit from the conservation of this area

    Kampung Jetis Sidoarjo (Revitalisasi yang Bercitra Visual sebagai Kawasan Wisata Batik)

    Full text link
    Kabupaten Sidoarjo adalah salah satu kota penyangga Ibukota Propinsi Jawa Timur, yang merupakan daerah yang mengalami perkembangan pesat. Sidoarjo sebenarnya memiliki banyak potensi daerah dan sumber daya alam yang melimpah. Salah satunya adalah Kampung Batik Jetis. Kampung Batik Jetis yang seharusnya dapat menjadi identitas kawasan semakin tenggelam dengan berbagai permasalahan di dalamnya. Orang hanya sebatas tahu bahwa ada kampung batik Jetis di sana tanpa ada niat untuk berwisata dan berkunjung, oleh sebab itu perlu adanya penataan kawasan secara rancang–kota pada kampung ini. Penataan sebagai kampung wisata perlu memperhatikan kejelasan emosional yang dapat dirasakan oleh wisatawan. Secara teori, revitalisasi adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian kawasan yang dulunya pernah vital/hidup, akan tetapi kemudian mengalami kemunduran/degradasi. Dapat dikatakan terhadap pentingnya keterbacaan fisik bahwa dengan pengalaman seseorang dapat belajar mengetahui dengan jelas orientasi di sekitarnya. Hal ini biasa disebut dengan legibility. Di samping itu suatu kawasan wisata juga harus imageability, dimana kualitas fisik suatu kawasan mampu memberi peluang timbulnya image atau citra yang kuat yang diterima seseorang. Kevin Lynch mendefinisikan identitas kota bukan dalam arti keserupaan suatu objek dengan yang lain, tetapi justru mengacu kepada makna individualitas yang mencerminkan perbedaannya dengan objek lain serta pengenalannya sebagai entitas tersendiri yang biasa disebut identity.Hal ini perlu dilakukan pada Kampung Batik Jetis di Sidoarjo, mengingat keberadaannya yang kurang dapat dikenali oleh masyarakat luas. Hal ini dirasakan karena citra-visual pada kampung tersebut belum dapat memberikan kesan atau identitas tersendiri. Untuk meningkatkan citra kawasan sebagai kampung batik, dapat diwujudkan konsep citra-visual. Hal tesebut sangat berpengaruh dalam pembentukan citra kawasan. Oleh karena itu metode yang digunakan dalam kajian ini awalnya dengan menganalisa variabel kajian, yang terdiri dari tata guna lahan, bentuk dan massa bangunan, ruang terbuka, tempat parkir, sirkulasi, penanda, aktifitas pendukung, dan pelestarian sesuai dengan indikator citra visualnya, yaitu legibility, imageability dan identity. Kemudian menggunakan metode pragmatik, yaitu melalui metode transformasi dan analogi menghasilkan bentuk dan tampilan yang baru serta melakukan trasformasi ragam hias batik Semarangan itu sendiri. Penciptaan karakter tersebut dapat diperkuat melalui tampilan ragam hias batik yang diaplikasikan melalui fasad bangunan publik baru serta tampilan lingkungannya, yaitu pada detail elemen perancangannya. Sehingga baik dari tampilan bangunan maupun perabot jalan dapat meningkatkan kualitas visual dan memperkuat karakter kampung batik itu sendiri. Aktifitas yang bernafaskan batik tersebut juga dapat memperkuat karakter kawasan tersebut

    Optimasi Penggunaan Fasad Berdasarkan Energi dalam Proses Perancangan Gedung Perkantoran di Surabaya

    Full text link
    Bangunan komersial merupakan bangunan yang padat akan aktivitas dan tentunya menghabiskan banyak energi dalam operasionalnya. Hal ini diperkuat dengan adanya buku pedoman efisiensi energi serta benchmarking specific energy consumption terhadap gedung – gedung komersial di Indonesia yang dilakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Oleh karena itu desain pasif dalam arsitektur dapat menjadi salah satu solusi. Pada studi ini akan dilakukan perhitungan energi dalam proses perancangan gedung perkantoran menggunakan Autodesk Green Building Studio (GBS), dengan membandingkan beberapa skenario penggunaan fasad yang berbeda. Metode yang digunakan dalam studi ini yakni dengan membuat tiga skenario. Dimana skenario F-1 menggunakan fasad dengan kaca yang dominan namun diberi window shade dan Double Skin Facade pada sisi selatan dan barat, F-2 menggunakan fasad dengan kaca yang dominan dan tanpa menggunakan window shade dan Double Skin Facade, F-3 menggunakan fasad dengan sedikit kaca dan bukaan serta tidak menggunakan window shade dan Double Skin Facade. Setiap skenario akan disimulasikan dan hasil pada Autodesk Green Building Studio (GBS) katagori energy use intensity (EUI) akan dibandingkan. Dari perbandingan ketiga skenario tersebut yang paling optimal dalam penggunaan energi adalah skenario penggunaan fasad F-1. pada simulasi gedung aktivitas inkubasi dan perkantoran di Surabaya menggunakan Autodesk Green Building Studio (GBS), gedung yang lebih dominan penggunaan kaca dan bukaan mempunyai efisiensi yang lebih baik dalam penggunaan energinya

    Penerapan Arsitektur Neo Vernakular Pada Bangunan Resort Sebagai Daya Tarik Wisatawan (Studi Kasus Trikora Beach Club and Resort)

    Full text link
    Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan sekian banyak pulau tersebut Indonesia memiliki potensi untuk menjadi destinasi wisata, daya Tarik wisata alam dan budaya Indonesia merupakan modal utama untuk mengembangkan industri pariwisata. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan ialah fasilitas penginapan berupa hotel dan resort, hotel memiliki 5 klasifikasi bintang semakin tinggi bintang yang dimiliki semakin lengkap pula fasilitas di dalamnya, yang membedakan hotel biasa dengan hotel resort ialah resort dibangun di tempat yang memiliki pemandangan yang indah seperti pantai ataupun pegunungan yang bernuansa rekreatif dan eksotis. Fasilitas minimal yang dimiliki resort yakni kamar, restoran, kolam renang, dan spa. Selain itu resort mewah biasanya memiliki fasilitas olahraga dan fasilitas bermain anak, hal itu berguna agar pengunjung dapat melakukan berbagai hal menarik, Dalam segi arsitektur, biasanya resort juga lebih menonjolkan sisi seni budaya dan tradisional Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut arsitektur neo vernakular merupakan langgam yang berusaha mengangkat kearifan lokal dari suatu daerah tetapi tidak meninggalkan unsur modernnya, Sehingga para wisatawan dapat mengenali ciri khas daerah tersebut dan dapat memperkenalkan kesenian atau kearifan lokal daerah tersebut ke para wisatawan. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana penerapan Arsitektur Neo Vernakular terhadap minat wisatawan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, observasi, dan analisis data. Data yang diperoleh diolah dan disusun sehingga diperoleh suatu rancangan desain hotel resort dengan mengangkat kearifan lokal di daerah tersebutvvvvvvvvvv

    Pengaruh Konfigurasi Ruang Kota Pada Pengembangan Sustainable Tourism Kecamatan Jabon, Sidoarjo

    No full text
    Sidoarjo Spatial Planning's data indicates that Jabon area is planned to be a DEM tourist area and secondary mixed-used. Some tourism activities have started to exist but are only concentrated in the Tlocor area, while other areas in the area are still very minimal in facilities. Is it true then that the configuration of urban space in Jabon District can accommodate the city's development – which is now leading to tourism? This research is qualitative research with a phenomenological approach. The chosen space syntax analysis technique is used as a heuristic tool to discuss fundamental concepts. The study results indicate a relationship between the configuration of urban space and the concept of sustainable tourism development. Configuration can be seen in terms of accessibility and economic improvement that can be done by knowing the parts that can be mobility options and are connected to other urban spaces. Accessibility in the area can be developed by evaluating the existing road network so that connectivity can be better and human mobility to and from tourist areas is higher.Jika hanya merujuk pada data RTRW Sidoarjo maka kawasan Jabon Sebagian terencana menjadi area wisata DEM dan mix-used sekunder. Beberapa kegiatan wisata sudah mulai ada, namun hanya terpusat pada daerah Tlocor saja, sedangkan daerah kawasan lain di area tersebut masih sangat minim fasilitas. Benarkah kemudian konfigurasi ruang kota yang ada di Kecamatan Jabon mampu mengakomodasi perkembangan kotanya – yang kini mengarah pada pariwisata. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik analisis space syntax yang dipilih digunakan sebagai alat heuristik untuk membahas konsep fundamental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya keterkaitan antara konfigurasi ruang kota dengan konsep pengembangan sustainable tourism. Hal ini terlihat dari sisi aksesibilitas dan peningkatan ekonomi yang dapat dilakukan dengan cara mengetahui bagian yang berpotensi menjadi pilihan mobilitas dan terkoneksi dengan ruang kota lainnya. Aksesibilitas pada area dapat dikembangkan dengan mengevaluasi jaringan jalan yang sudah ada sehingga konektivitas pada kawasan dapat lebih baik dan mobilitas manusia dari dan menuju kawasan wisata semakin tinggi

    Representation and Meaning of Space According to Metaphysical Architecture

    No full text
    A space in architecture always has a different representation and meaning, according to what the architect who designed the space of an architecture wanted to convey. Along with the development of the world, architecture has also undergone several changes. These changes require the Architect to follow the demands of the market without considering other elements in the architecture, one of which is the element of metaphysics. Which is one of the important elements in architecture. As stated by Lorens Bagus 1996, "Contemplation in metaphysics is the appreciation of thoughts for thoughts that bring happiness, which is obtained through the actualization of the individual's highest ability, namely reason". And in its changes, architecture begins to lose the representation and meaning of a space that is formed from the architectural process. This limits the space for the architects to represent the meaning of their work. In fact, as we know that the representation and meaning of space is the way the architect communicates with its users indirectly and can restore the architect's image as an expression of himself. In the process of making this journal, we used data collection methods from various sources

    URBAN ACUPUNCTURE : INVESTIGASI POLA PERILAKU TERHADAP STREET FURNITURE DI RUANG PUBLIK KAMPUS

    Full text link
    Abstract: The era of the pandemic, which is currently starting to move to endemic has resulted in the flow of density of teaching and learning activities on campus. Some students started doing offline practicums, and also guidance activities for lecturers in the lecture building, of course with strict health protocols. Currently, the condition of the public open space at UPN "Veteran" East Java and the existing street furniture is less than ideal to accommodate the activities of the academic community, as well as to meet the new-normal rules. This study uses a qualitative method with a Behavioral Mapping Analysis approach, which carried out by tracking user movements in public spaces and mapping user interactions. The findings were most of students and visitors walked to the public area through secondary access which is closest to the road and parking area, therefore creating crowd in one side of the area. This research conclude there are several consideration for future planning such as placement of sculpture or icon to attract toward the center of the public space, replacing permanent street furniture with mobile one, and enhance the secondary access to ensure safety and comfort of the passerby.Abstrak: Era pandemi yang saat ini mulai bergerak ke endemi mengakibatkan mulai terjadinya arus kepadatan kegiatan belajar - mengajar di kampus. Beberapa mahasiswa mulai melakukan praktikum luring dan juga kegiatan bimbingan pada dosen di gedung perkuliahan, tentu dengan protokol kesehatan ketat. Saat ini, kondisi ruang terbuka publik yang ada di UPN “Veteran†Jawa Timur dan kondisi street furniture eksisting kurang ideal untuk menampung kegiatan civitas akademika sekaligus memenuhi kaidah new-normal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Behavioral Mapping Analysis, yang dilakukan dengan melacak pergerakan pengguna di ruang publik dan memetakan interaksi penggunanya. Temuan yang didapat adalah sebagian besar pelajar dan pengunjung berjalan ke area publik melalui akses sekunder yang paling dekat dengan jalan raya dan area parkir, sehingga menimbulkan keramaian di salah satu sisi. Penelitian ini menyimpulkan ada beberapa pertimbangan untuk perencanaan ke depan seperti penempatan patung atau ikon untuk menyebarkan kerumunan lebih merata ke tengah ruang publik, mengganti furnitur jalan permanen dengan yang bergerak, dan memperbesar dan meningkatkan akses sekunder untuk memastikan keamanan dan kenyamanan. dari orang yang lewat

    The Phenomenon of Sudden Tourism: Access Legibility of Tlocor Marine Tourism and Its Sustainability

    Full text link
    Tourism potential is not only present because of the right planning but can also come suddenly (sudden tourism). This condition is what happened in the Jabon - Sidoarjo area. The Sidoarjo mud disaster that has occurred since 2006 has resulted in several regional tourism potentials, some of which have developed. The effort to develop tourism potential based on locality requires harmony between the residential environment that has been formed and the tourist attractions that have recently emerged. This research was conducted on the acces road heading to Tlocor Marine Tourism. The method used in this research is a descriptive analityc method with a focus on the access legibility. This method is used to observe and analyze district development patterns by local government regulations that are synchronized with access legibility theory. The results showed that tourism potential must be supported by physical and non-physical aspects. For this reason, a strategy is needed to elaborate between the tourism potential that emerged later with the settlements and cultural spaces that emerged later
    corecore