1,720,956 research outputs found
Political ecology analysis on marine ornamental fish eco-labelling in Les vVllage, Bali, Indonesia
Political Ecology Analysis on Marine Ornamental Fish Eco-labelling (Case Study Les Village, Bali, Indonesia).
Eco-labelling is the agent of change of marine ornamental fishing pattern
in North Bali by promoting environmental friendliness and raising issues regarding
inequality in social, economic, political, and ecological dimension of marine
ornamental fish fisher's livelihood. Historically, Les fishermen have carried out
marine ornamental fish for export purposes since 1982 until now. In its journey, the
ship chose to use cyanide to facilitate the process of catching marine ornamental
fish. The use of cyanide has an adverse effect on Les' marine environment, a priority
in the 2000s, fishermen reached the lowest economic point and the worst point for
the Les environment. Destroyed coral reefs and lost fish, their numbers and types
of fish are very dependent on Les's economy. Eco-labelling is present as an answer
carried by local NGOs, with values and criteria that must meet the requirements
for sustainability and environmental sustainability.
There are several actors involved in the eco-labelling issues, namely state,
non-governmental organization (NGO), private sectors, and fishers. This paper
aims to analyze the characteristic of actors, their interest, and their impacts on
marine ornamental fish trade and its certification of eco-labelling. Price disparity
between ornamental fish fisher and exporters on the economic dimension is
unbeneficial to the fishers. Plus, the inability of fisher to participate in determining
the price attributes to the lack of political ability of fisher on this trade. Since
ornamental fish fisher switched from using cyanide to catch fish with environmental
friendly way as using, ecologically, they savor the benefits of this. Yet the absence
of the state's roles in this cause new chaos. This research was qualitative in nature
and collected primary and secondary data using a case approach. As the conclusion,
fisher’s still being marginalized in politicized environment
Ecolabelling’s Impact to Oranmental Fish Fisher (Case Study: Les Village’s Ornamental Fish Fisher,
Les village’s fisher has specialized in catching ornamental fish since 1982 by using potassium cyanide, after years the coral reefs were severely damaged. Awareness of fisher emerged to change their fishing patterns became more environmentally friendly. In the beginning 2000, the green movement was initiated by the NGOs began to change the condition of Les’ fisheries system. Balinese traditional society and the fisher awareness had a big role to control this protection road to the sustainable fisheries. In 2006, ecolabelling certification was introduced to Les’ fisher. It was applied for two years (2006-2008). This study analyzised the influence of ecolabelling’s socioeconomic to ornamental fish fisher.Indonesia merupakan negara yang memiliki luas wilayah laut yang lebih besar dibanding dengan daratannya. Hal ini membuat perikanan menjadi salah satu sektor penentu perekonomian Indonesia. Oleh karena itu Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional memuat misi pembangunan jangka panjang yakni, “menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan yang maju kuat dan sejahtera” memberikan arah yang jelas dalam pembangunan nasional berbasis kelautan1. Pada prakteknya penangkapan ikan di Indonesia tidak terlepas dari penangkapan yang berlebihan (overexploitated) dan penangakapan yang merusak (destructive fishing) baik degan alat maupun bahan yang digunakan untuk menangkap ikan. Terutama pada perikanan ikan hias, penangkapan ikan hias cenderung merupakan penangkapan ikan yang merusak. Terlebih bahan yang digunakan nelayan adalah bahan kimia potasium- Sianida yang dapat merusak terumbu karang. Sumatera Barat merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang telah mengalami kerusakan lingkungan laut yang cukup parah akibat penggunaan sianida. Rusaknya terumbu karang yang merupakan habitat bagi biota laut laut lainnya turut menyumbang kepunahan beberapa spesies ikan hias. Hal ini juga hampir terjadi di beberapa propinsi di Indonesia seperti Bali. Kesadaran masyarakat internasional yang meningkat mengenai produk hasil ramah lingkungan menjadi awal munculnya istilah ecolabelling atau pelabelan ramah lingkungan (PRL). PRL muncul sebagai sebuah gerakan yang mendukung produksi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. PRL adalah label yang dicantumkan kepada produk yang telah berhasil memenuhi kriteria ramah lingkungan yang ditetapkan oleh lembaga sertifikasi. Sebelum PRL dibicarakan 1 Dikutip dari Tulisan Dasril Munir (Kepala Sekretariat Dewan Kelautan Indonesia) dalam Demersal edisi Desember 2010 iii dalam ranah perikanan, PRL telah lebih dahulu diterapkan pada hasil produk kehutanan. Keberhasilan PRL dalam sektor hasil hutan menjadi pertimbangan dilaksanakannya PRL pada sektor perikanan. Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali Utara merupakan wilayah penghasil ikan hias ramah lingkungan terbesar di Bali. Para nelayan ikan hias Desa Les telah mengalami perubahan mendasar pada cara penangkapan yang dilakukan. Nelayan pernah menjadi perusak karang selama satu dasawarsa unutk memenuhi permintaan ikan hias yang tinggi. Penggunaan potassium-sianida menjadi cara utama yang dilakukan nelayan untuk menangkap ikan hias. Dengan usaha penyadaran dari beberapa LSM, nelayan ikan hias Les mulai meninggalkan potassium-sianida dan beralih menggunakan cara tangkap yang ramah lingkungan. Sebagai wilayah best practiced penangkapan ramah lingkungan, MAC mensertifikasi sistem perikanan ikan hias di Desa Les. Mulai dari para nelayan ikan hias, pengepul, hingga eksportir disertifikasi untuk menghasilkan produk perikanan yang ramah lingkungan. Secara umum, PRL di Desa Les hanya berjalan selama dua tahun. PRL ikan hias di Desa Les tidak memiliki pengaruh atau dampak langsung terhadap nelayan ikan hias, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun ekologi. Dari sisi ekonomi, PRL belum mampu menaikkan harga jual ikan ditingkat pengepul, sehingga tidak terjadi peningkatan pendapatan yang signifikan dari perubahan pola tangkap ini. Kondisi tempat tinggal, pendapatan sehari-hari, tingkat pendidikan rata-rata keluarga nelayan tidak mengalami perubahan yang berarti. Harga ikan yang telah disertifikasi di tingkat pengepul cenderung sama dengan harga ikan yang tidak disertifikasi. Hal ini tidak sesuai dengan visi awal PRL yang ingin meningkatkan harga ikan hias. Pada sisi sosial, nelayan ikan hias yang telah disertifikasi tidak mengalami perubahan pada posisi sosial. Sedangkan pada sisi ekologi, perubahan lingkungan telah dilakukan oleh nelayan dan LSM sebelum PRL masuk di Les. Dibangun Kelompok Nelayan Ikan Hias Mina Bhakti Soansari sebagai wadah bagi nelayan untuk saling bertukar informasi dan berbagi pengalaman. Tingkat pendidikan nelayan tidak mempengaruhi signifikan keikutsertaan nelayan dalam kelompok, begitu juga tingkat pengalaman kerja. Baik yang berpendidikan rendah iv maupun tinggi, serta berpengalaman atau belum berpengalaman memiliki keterikatan yang tinggi dalam kelompok nelayan. Oleh karena ada motif lain yang lebih kuat dari sekedar pendidikan dan pengelaman kerja, yaitu kesadaran nelayan yang tinggi dalam melaksanakan perikanan yang ramah lingkungan. Ekologi laut Les yang sudah mulai membaik menunjukkan kestabilan keberlimpahan dan keanekaragaman ikan. Dengan demikian meski harga ikan di tingkat pengepul tidak mengalami kenaikan, namun kestabilan hasil tangkapan membantu nelayan mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Dengan beralih menjadi nelayan yang ramah lingkungan nelayan menjadi lebih aman dan memiliki nilai sosial yang lebih baik. Perlu digarisbawahi bahwa perubahan lingkungan ini telah berlangsung sebelum PRL diterapkan. Pelaksanaan PRL selama dua tahun ini (2006-2008), cenderung tidak menunjukkan dampak pada ekologis perairan Les
Coastal Agrarian Problem (Case Study of Coastal Communities Dusun Ujung Genteng and Sukabumi)
Nelayan adalah profesi utama di Dusun Ujung Genteng, di mana komposisi mata pencaharian nelayan sebesar80% dan sisanya adalah PNS, pedagang, dan pengusaha. Tapi di musim lainnya, profesi mereka dapat berubahbegitu juga dengan nelayan. Tipologi pantai Dusun Ujung Genteng yang berbentuk teluk membuat perairanini memiliki lumpur lebih dari pantai selatan pulau Jawa. Salinitas di perairan ini cenderung rendah danada banyak terumbu karang sehingga Ikan Layur (Trichiurus leputurus) ditemukan di wilayah ini. Layursejenis ikan emas banyak dipancing di Dusun Ujung Genteng. Tingginya permintaan Layur ikan dari Jepangdan Korea juga meningkatkan nilai ekonomi komoditas ini. Ikan Layur mampu terjual dengan harga yanglebih tinggi daripada ikan lainnya. Lingkungan nelayan terkadang menjadi hal yang sering diabaikan.Dusun Ujung Genteng memiliki luas 89 hektare untuk seluruh jangkauan, tetapi semuanya tanah sengketa.Terjadi saling klaim antara pihak Atang Sanjaya Angkatan Udara pangkalan udara, masyarakat setempat,dan calon kebijakan mengenai wilayah pesisir ekowisata. Makalah ini menunjukkan bahwa masalah yangterjadi di masyarakat pesisir tidak hanya terkonsentrasi pada isu-isu kelautan. Wilayah tempat tinggal dankegiatan ekonomi masyarakat yang berada di wilayah pesisir (bukan maritim) juga memiliki gesekan.Kata kunci: daerah pesisir, dusun Ujung Genteng, masalah agraria, masyarakat, nelayan
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
