9 research outputs found
Pengaruh Kondisi Alat Berat Terhadap Kelancaran Pekerjaan Pada Proyek Pembangunan Kolam Regulasi Nipa – Nipa
Meneliti pengaruh kondisi alat berat terhadap kelancaran pekerjaan sangat penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja alat berat dan bagaimana hal tersebut berdampak pada keseluruhan proyek. Dengan memahami hubungan ini, pihak manajemen proyek dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk meminimalkan gangguan, meningkatkan efisiensi, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Oleh karena itu, penelitian ini manganalisis bagaimana kondisi alat berat mempengaruhi kelancaran pekerjaan pada Proyek Pembangunan Kolam Regulasi Nipa-Nipa. Alat berat harus bekerja dengan baik agar proyek dapat diselesaikan tepat waktu. Dalam pelaksanaan konstruksi terdapat pengaruh – pengaruh dalam kelancaran pekerjaan proyek termasuk pengaruh dari alat berat tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif. Data yang dibutuhkan berupa kuesioner penilaian terhadap proyek pembangunan kolam regulasi nipa - nipa. Data yang diperoleh dari penilaian responden kemudian dianalisis untuk mendapatkan faktor yang paling berpengaruh pada kondisi alat berat terhadap kelancaran Proyek Pembangunan Kolam Renang Regulasi Nipa - Nipa. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa faktor yang paling berpengaruh pada kondisi alat berat terhadap kelancaran pekerjaan Proyek Pembangunan Kolam Regulasi Nipa - Nipa yaitu pada excavator X1.2 (menganalisis metode pelaksanaan cara kerja Excavator di lapangan), pada bulldozer X2.6 (mengecek mobilisasi Bulldozer menuju ke proyek), pada dumptruck X3.12 (perawatan alat), pada vibro roller X4.14 (kondisi lokasi/lahan yang akan dikerjakan oleh Vibro Roller), dan pada water tank truck X5.14 (faktor cuaca pada saat alat bekerja)
Hydrological Analysis In Selecting Flood Discharge Method In Watershed Of Kelara River
For Engineers involved in planning and construction of water resources building, hydrology becomes very important data. In terms of planning stage in water resources especially waterworks, it is known that design flood discharge closed to field realistic conditions is often needed in order that a planned construction is able to control flood discharge. Several previous researches in choosing flood discharge selection method have diverse depending on observed watershed. One method in determining selected flood discharge by verification using Creager diagram, by comparing discharge calculation results of several Synthetic Unit Hydrograph (SUH) with infrastructure flood discharge (AWLR result) in observation point. This research aims to obtain  the most suitable synthetic unit hydrograph and close to analysis result of measured discharge frequency, and Creager diagram in Kelara watershed (DAS). Based on the calculation of design flood discharge according to rainfall data using synthetic unit hydrograph of Nakayasu, ITB I, ITB II, and SCS (HEC-HMS) as well as the calculation of design flood discharge according to collected data, it is concluded that the synthetic unit hydrograph method closest to design flood discharge with measured discharge rate and Q1000 rate of Creager diagram is SCS. Flood discharge rate obtained according to HSS SCS method using HEC-HMS 4.8 application in period of 2 years is 658,40 m3/s, 25 years is 682,70 m3/s, 50 years is 787,00 m3/s, 100 years is 885,70 m3/det, and 1000 years is 1202,60 m3/
Integration of UH SUH, HEC-RAS, and GIS in Flood Mitigation with Flood Forecasting and Early Warning System for Gilireng Watershed, Indonesia
A flood forecasting and early warning system is critical for rivers that have a large flood potential, one of which is the Gilireng watershed, which floods every year and causes many losses in Wajo Regency, Indonesia. This research also introduces an integration model between UH SUH and HEC-RAS in flood impact analysis, as a reference for flood forecasting and early warning systems in anticipating the timing and occurrence of floods, as well as GIS in the spatial modeling of flood-prone areas. Broadly speaking, this research is divided into four stages, namely, a flood hydrological analysis using UH SUH, flood hydraulic tracing using a 2D HEC-RAS numerical model, the spatial modeling of flood-prone areas using GIS, and the preparation of flood forecasting and early warning systems. The results of the analysis of the flood forecasting and early warning systems obtained the flood travel time and critical time at the observation point, the total time required from the upstream observation point to level 3 at Gilireng Dam for 1 h 35 min, Mamminasae Bridge for 4 h 35 min, and Akkotengeng Bridge for 8 h 40 min. This is enough time for people living in flood-prone areas to evacuate to the 15 recommended evacuation centers
Simulasi Komputasi Aliran Terhadap Penempatan Balok Halang Pada Saluran Peluncur Bangunan Pelimpah
Bangunan pelimpah adalah konstruksi yang bertujuan untuk mengendalikan aliran air. Bagian saluran peluncur pada bangunan pelimpah memiliki peran penting dalam mengatur serta mengalirkan air berlebih dari sistem bendungan. Penerapan teknik penghalang, seperti balok halang, berfungsi untuk meningkatkan efisiensi operasi dan mengurangi risiko erosi di saluran peluncur. Penelitian ini memanfaatkan simulasi komputasi guna menganalisis pengaruh penempatan balok halang terhadap perubahan pola aliran air di saluran peluncur. Eksperimen dilakukan di laboratorium dengan menggunakan model skala untuk merepresentasikan spillway. Hasil penelitian ini kemudian divalidasi dengan software iRIC Nays2DH, dimana model numerik saluran peluncur spillway dibuat dengan variasi tiga debit dan satu tipe balok halang, disesuaikan dengan konfigurasi laboratorium. Simulasi ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian pola aliran dari hasil simulasi terhadap hasil laboratorium dan mengidentifikasi adanya perbedaan. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai dampak variasi debit dan penempatan balok halang terhadap perubahan pola dan karakteristik aliran pada saluran peluncur
Simulasi Banjir Sungai Bila dan Evaluasi Efektivitas Penanganannya Berbasis Model HEC-HMS dan HEC-RAS
Sungai Bila di Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan, merupakan salah satu sungai yang secara periodik mengalami luapan, menyebabkan banjir yang berdampak signifikan bagi masyarakat di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis debit banjir Sungai Bila serta mengevaluasi efektivitas sistem pengendalian banjir yang telah diterapkan. Metode yang digunakan mencakup analisis hidrologi dengan bantuan perangkat lunak HEC-HMS dan simulasi hidrolika 2D menggunakan HEC-RAS. Hasil simulasi menunjukkan bahwa debit banjir kala ulang 20 tahun (Q20) mencapai 1.518,10 m³/detik dan menyebabkan genangan di sembilan desa/kelurahan dengan luas total 966,80 hektar. Berdasarkan skenario penanganan jangka pendek hingga panjang, dilakukan analisis efektivitas penambahan tanggul, pembangunan pintu air pada anak sungai, dan kolam retensi. Hasilnya menunjukkan potensi reduksi luas genangan hingga 829,26 hektar. Penelitian ini memberikan dasar penting dalam strategi mitigasi banjir Sungai Bila secara terstruktur dan berkelanjutan
PROGRAM PENGEMBANGAN DESA MITRA (PPDM) ACIAN DAN PENGECATAN DINDING SDN.79 MAMBUE DI DESA NISOMBALIA
SDN 79 Mambue, located in Dusun Mambue, Nisombalia Village, Marusu District, Maros Regency, is an educational institution established on December 31, 1980. Over the years, the school faced issues with unplastered and unpainted walls, affecting not only the aesthetics but also the comfort and durability of the building. To address this issue, a program was implemented to plaster and paint the school walls. The objectives of the program include: (a) improving the exterior and interior appearance of the school to make it more appealing and representative, (b) protecting the walls from damage caused by water, UV rays, mold, dust, and dirt, and (c) enhancing the comfort of students and teachers during the teaching and learning process. With the final result being well-finished walls and a more pleasant environment, the program aims to create a more conducive learning atmosphere. The program is planned to last for eight months with a total budget of Rp 10,000,000, and it is expected to bring positive changes to SDN 79 Mambue.
Keywords: Plastering and Painting, Walls, SDN 79 Mambu
Risiko Keterlambatan Waktu pada Pelaksanaan Proyek Pembangunan Bendungan Pamukkulu dengan Metode Matriks Risiko dan Metode AHP
Dalam proyek konstruksi semacam ini, faktor keterlambatan waktu menjadi salah satu isu utama yang dapat memiliki konsekuensi serius. Keterlambatan waktu dalam pelaksanaan proyek pembangunan bendungan dapat menyebabkan dampak yang signifikan, seperti peningkatan biaya proyek, penundaan manfaat ekonomi yang diharapkan, dan dampak lingkungan yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan mengidentifikasi risiko-risiko yang dapat menyebabkan keterlambatan waktu dalam proyek ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan risiko-risiko yang dapat menyebabkan keterlambatan proyek Pembangunan Bendungan Pamukkulu, serta risiko yang paling dominan. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan matriks risiko untuk menentukan level risiko dan metode kuantitatif dengan menggunakan program Expert Choice. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa 54 risiko yang terindentifikasi dapat menyebabkan Proyek Pembangunan Bendungan Pamkkulu terlambat. Hasil analisis kualitatif dengan matriks risiko ditetapkan 3 risiko dominan yang tergolong ke dalam level risiko ekstrim dan tinggi yaitu terhambatnya pembebasan lahan, banjir, dan adanya perubahan desain akibat penyesuaian dengan kondisi di lapangan sedangkan dengan metode hasil analisis kuantitatif dengan program expert choise menunjukkan risiko dominan dengan bobot tertiggi yaitu terhambatnya pembebasan lahan, masalah geologi di lokasi, kondisi jalan akses yang buruk. Kedua bentuk analisis risiko menunjukkan hasil yang berbeda, hal ini dapat diakibatkan oleh penilaian responden yang dibatasi oleh pengalaman kerja masing-masing. Berdasarkan verifikasi dari pihak proyek menilai bahwa hasil yang ditunjukkan oleh matriks risiko lebih sesuai dengan kondisi di lapangan. Dengan demikian, risiko yang dinilai paling dominan adalah terhambatnya pembebasan lahan, banjir, dan adanya perubahan desain akibat penyesuaian dengan kondisi di lapangan
Structural Mitigation of Bila River, Sidrap Regency
t: Flood is one of the natural disaster occurred in Indonesia. This disaster also occurs in Sidrap Regency every year, in
which the high rain intensity and broken embankment are the main causes of this disaster. There are three districts submerged
by the inundation of Bila River, namely district of Dua Pitue, Pitu Riawa, and Pitu Riase. This research aims to gain
information about floodplain of Bila River and mitigation in reducing the occurring impact on Sidrap Regency. Based on field
inventory and HEC – RAS simulation on existing condition, it is known which location points are inundated so that they are
causing flood disaster on Sidrap Regency. The result shows that after structural mitigation, which is repairing broken
embankment and increasing the height of embankment potentially overflowed, through maintenance and rehabilitation on
freeboard height 1.2 m and soil embankment crest wide 5 m, floodplain area are reduced on Q2 = 23%, Q5 = 6%, Q10 = 3%,
dan Q20 = 3% . Therefore, structure mitigation need to reduce the impact of flood disaster of Bila River in Sidrap Regency
Studi Eksperimental Hubungan Kemiringan dan Ketinggian Bukaan Model Pemecah Gelombang Tipe OWC terhadap Pemantulan Gelombang
Breakwater is a very effective wave dampening building to be used as a coastal protection against coastal abrasion by destroying wave energy before it reaches the coast. The working mechanism of the OWC type is the rise and fall of ocean waves which will push the air in the OWC column, then will rotate the turbine connected to the generator to produce electricity.
This study aims to determine the effect of slope and opening height on breakwater on wave reflection. Then analyze the parameters that affect the amount of wave reflection and compare the resulting wave parameters.
This research was conducted at the Hydraulics Laboratory, Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Hasanuddin University. The method used was experimental based. The resulting wave characteristics consist of three depth variations, three period variations and three stroke variations. The research model used is an Oscillating Water Column (OWC) type breakwater with slope variations of 45°, 60° and 90° and open wall variations as high as 5 cm, 10 cm and 15 cm. The reading of the water level fluctuation is done electronically through the reading of the wave monitor.
The results showed that the magnitude of the reflection coefficient is influenced by structural parameters, namely the slope and height of the model opening and hydraulic parameters, namely depth, period and wave height. The effect of the model slope on the reflection coefficient is that the greater the slope, the greater the reflection coefficient value. The effect of the model opening height is that the greater the opening height, the smaller the reflection coefficient value.Breakwater merupakan bangunan peredam gelombang yang sangat efektif untuk digunakan sebagai pelindung pantai dari abrasi pantai dengan cara menghancurkan energi gelombang sebelum mencapai pantai. Mekanisme kerja dari tipe OWC adalah naik turunnya gelombang laut yang akan mendorong udara di dalam kolom OWC, kemudian akan memutar turbin yang terhubung dengan generator untuk menghasilkan listrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemiringan dan tinggi bukaan pada breakwater terhadap refleksi gelombang. Kemudian menganalisa parameter-parameter yang mempengaruhi besarnya refleksi gelombang dan membandingkan parameter gelombang yang dihasilkan. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental. Karakteristik gelombang yang dihasilkan terdiri dari tiga variasi kedalaman, tiga variasi periode dan tiga variasi stroke. Model penelitian yang digunakan adalah pemecah gelombang tipe Oscillating Water Column (OWC) dengan variasi kemiringan 45°, 60° dan 90° serta variasi dinding terbuka setinggi 5 cm, 10 cm dan 15 cm. Pembacaan fluktuasi muka air dilakukan secara elektronik melalui pembacaan wave monitor Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya koefisien refleksi dipengaruhi oleh parameter struktur yaitu kemiringan dan tinggi bukaan model serta parameter hidraulik yaitu kedalaman, periode dan tinggi gelombang. Pengaruh kemiringan model terhadap koefisien refleksi adalah semakin besar kemiringan maka nilai koefisien refleksi semakin besar. Pengaruh tinggi bukaan model adalah semakin besar tinggi bukaan maka nilai koefisien refleksi akan semakin kecil
