1,721,024 research outputs found
KORELASI FAKTOR SOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA DENGAN TINGKAT PENUNGGAKAN PENGEMBALIAN KREDIT P4K DI KECAMATAN MUARA BANGKAHULU KOTA BENGKULU
This research is intended to study characteristics of P4K creditors who are delinquent their credit payments, examine factors influencing their late P4K credit payments. From 40 P4K creditors, only 23 creditors are able to accessed for this research and willing to participate. Rank spearman correlation and t-test methods are used to analyze the data gathered from respondents. The research finds that the level of family income and respondent’ perception on rural development are highly correlated to the level of P4K credit payment while number of family, working motivation and respondents perception on P4K program are not.Key words: credit payment, socio-economic factors </jats:p
ANALISIS FUNGSI BIAYA USAHATANI UBI JALAR DI KECAMATAN MERIGI KABUPATEN KEPAHIANG
Usahatani ubi jalar banyak dibudidayakan secara tradisional oleh sebagian besar
kalangan petani secara turun menurun. Dalam menjalankan usahatani ubi jalar faktor
produksi sangat penting, seperti luas lahan, bibit, pupuk , dan juga tenaga kerja. Setiap
komponen faktor produksi usahatani ubi jalar pada tiap kali tanam hingga panen, akan
mengeluarkan biaya sesuai kebutuhan usahatani. Penggunaan input pada tiap kali usaha
ubi jalar tentu dilakukan dengan seefisien mungkin, antara penggunaan input untuk
menghasilkan output yang baik. Faktor-faktor produksi tersebut merupakan input yang
akan mempengaruhi fungsi biaya secara nyata, dimana harga input yang akan
dikeluarkan oleh petani mempengaruhi biaya produksi usaha ubi jalar. Oleh sebab itu,
salah satu metode untuk menentukan fungsi biaya usaha ubi jalar sangat penting
dilakukan. Maka dari itu tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui
dan menganalisis struktur biaya usahatani ubi jalar di Kecamatan Merigi Kabupaten
Kepahiang.
Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (Puposive) di Kabupaten
Kepahiang kecamatan Merigi yang merupakan salah satu wilayah yang banyak
melakukan budidaya komoditi ubi jalar. Jumlah responden dalam penelitian ini
berjumlah 37 petani yang kesemua petani tersebut adalah petani penggarap. Data yang
digunakan adalah data primer yang diperoleh dengan cara wawancara langsung dengan
petani ubi jalar. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel harga
bibit, harga pupuk kimia, harga pestisida, upah tenaga kerja wanita dan upah tenaga
kerja pria. Analisis yang digunakan untuk menghitung struktur biaya usahatani ubi jalar
yaitu dengan cara menghitung total biaya dari biaya tetap dan biaya variabel dari input
produksi. Fungsi biaya menggunakan metode Cobb Douglas dari input produksi.
Hasil penelitian ini adalah Struktur biaya usahatani ubi jalar diperoleh dari beberapa
aspek perhitungan biaya diantaranya yaitu biaya tetap dan variabel. Untuk biaya tetap
yang terdiri dari penyusutan alat sebesar 1,2% sedangkan biaya variabel cukup besar
yaitu 98,8% yang terdiri atas biaya bibit (21,8%), biaya pupuk (32,6%), biaya pestisida
(10,8%), upah tenaga kerja wanita (11,6%) dan pria (23,1%).
Hasil estimasi Cobb Douglas menunjukkan ada beberapa variabel bebas yang
Berpengaruh secara signifikan terhadap total biaya usahatani ubi jalar dengan hasil
koefisien estimasi variabel tersebut diantaranya yaitu : Bibit -0,102, Pupuk -0,308,
Pestisida -0,384 Tenaga Kerja Wanita 1,022 dan Tenaga Kerja Pria 0,495.
Variabel yang berpengaruh terhadap total biaya usahatani ubi jalar adalah variabel upah
tenaga kerja wanita (PTKW).
Kata Kunci : Usahatani, ubi jalar, struktur biaya, Cobb Dougla
Efektivitas Peran Kelompok Tani Terhadap Kinerja Tani Budi Padi di Kelurahan Kemumu Kecamatan Arma Jaya Kabupaten Bengkulu Utara
Farmer groups have an important role in agricultural activities, such as learning classes and vehicles for cooperation and production units. However, in practice there are still some obstacles, such as the infrequency of farmer groups to carry out farming activities and carry out farming activities together. The purpose of this study was to analyze the performance of rice farming, process innovation, the effectiveness of the farmer groups role ant its role on the performance of rice farming directly and through process innovation. The data sources used are primary processed descriptively qualitatively and quantitatively using the SEM-PLS approach. The results of the analysis show that the performance of rice farming, process innovation is in the high category and the effectiveness of the role of farmer groups is in the effective category. Analysis of the influence of the effectiveness of farmer groups on the performance of rice farming yielded negative results but not significant. While the indirect effect states that the role of farmer groups has a positive and significant effect on the performance of rice farming through process innovation. Based on a comparison of direct and indirect effects, process innovation is the biggest contributor to improve the performance of rice farming. With these results, farmer groups must still be able to improve the realization of their role so that farmers as members of farmer groups can still improve farming performance and farmer groups must be more active in overcoming various farming problems.Kelompok tani merupakan lembaga yang memiliki peran penting dalam kegiatan pertanian karena berperan sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi. Namun dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa kendala, seperti masih jarangnya kelompok tani melakukan kegiatan usaha tani dan melakukan kegiatan usaha tani secara bersama-sama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kinerja usahatani padi, inovasi proses, efektivitas peran kelompok tani, dan efektivitas peran kelompok tani dalam usahatani padi. dan bagaimana kontribusi kelompok tani terhadap inovasi berdampak pada seberapa baik kinerja usahatani padi. Dengan menggunakan alat analisis SEM dan PLS, data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil temuan menunjukkan bahwa kelompok tani di Desa Kemumu telah berhasil menjalankan tugasnya. Kinerja usahatani termasuk dalam kategori tinggi, dan hasil inovasi proses juga termasuk dalam kategori tinggi. Investigasi pengaruh efikasi kelompok tani terhadap kinerja usahatani padi menghasilkan temuan negatif tetapi tidak signifikan secara statistik. Sedangkan pengaruh tidak langsung menyatakan bahwa kemanjuran kelompok tani dalam perannya memberikan manfaat dan dampak yang cukup besar terhadap produktivitas produksi padi melalui inovasi proses. Menurut perbandingan efek langsung dan tidak langsung, inovasi proses merupakan kontributor yang lebih besar yang membantu meningkatkan kinerja usahatani padi
ANALISIS CURAHAN TENAGA KERJA DAN PENDAPATAN USAHA TERNAK SAPI PERAH DI KECAMATAN SELUPU REJANG KABUPATEN REJANG LEBONG
Sektor peternakan Indonesia pada umumnya berbasis pada peternakan rakyat skala kecil dan sambilan. Apabila jumlah rumah tangga peternak cukup banyak maka total produksinya dapat berperan secara nasional. Oleh karena itu sudah selayaknya apabila dalam pembinaannya, peternakan rakyat layak dikembangkan dan diberdayakan semaksimal mungkin. Pada peternakan sapi perah rakyat, sebagian usaha tersebut berada pada kondisi yang serba terbatas dengan skala usaha yang relatif kecil. Walaupun demikian, kedudukan ekonomi usaha ternak sapi perah tersebut bagi petani besar artinya, sebab kehadiran usaha ternak selain untuk dapat memanfaatkan tenaga kerja keluarga dan limbah usaha tani, serta kotoran sapi sebagai pupuk kandang.
Sebagai salah satu faktor produksi, tenaga kerja manusia memegang peran yang sangat vital dalam proses produksi, termasuk dalam sektor pertanian. Pada aspek produksi, peternak dihadapkan pada masalah rendahnya produksi susu sapi, yang disebabkan antara lain oleh rendahnya pengetahuan dan pengalaman peternak, sehingga perawatan dan pemeliharaan tidak sesuai dengan kondisi yang ideal. Rendahnya produksi susu, merupakan permasalahan yang sering terjadi pada peternakan sapi perah rakyat. Hal ini disebabkan pemberian pakan dan tata laksana yang belum memadai. Pemberian pakan dan tata laksana berkaitan dengan curahan tenaga peternak, karena peternak merupakan penggerak faktor produksi. Rendahnya produksi menunjukkan curahan tenaga kerja yang kurang efisien. Untuk lebih meningkatkan produksi dan efisiensi curahan tenaga kerja perlu ada penelitian mengenai curahan tenaga kerja.
Masalah curahan tenaga kerja tidak dapat dianalisis sendiri, karena berkaitan erat dengan masalah pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Berapa besar curahan tenaga kerja usaha ternak sapi perah di Kecamatan Selupu Rejang
Kabupaten Rejang Lebong. (2) Berapa besar pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak sapi perah di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong. Penelitian ini dilaksanakan di Desa APK Bandung, Desa Air Duku dan Desa Sambirejo Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong Pada Bulan Mei 2005. Pemilihan daerah tersebut sebagai lokasi penelitian karena daerah tersebut merupakan sentra program pengembangan peternakan sapi perah di Propinsi Bengkulu.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sensus. Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Analsis data dilakukan secara kuantitatif (nilai rata-rata) dan kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data usaha ternak sapi perah di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong menunjukkan bahwa : (1) Besarnya curahan tenaga kerja dalam usaha ternak sapi perah di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong adalah sebesar 367,86 HKP/peternak per tahun, (2) Pendapatan tunai usaha ternak sapi perah di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong adalah sebesar Rp. 2.942.008,41 peternak per tahun
ANALISIS KOMODITAS UNGGULAN PERKEBUNAN DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA DI KABUPATEN MUSI RAWAS PROVINSI SUMATERA SELATAN
PDRB Musirawas dengan harga berlaku selalu mengalami kenaikan di setiap
tahunnya, pada tahun 2017 angkanya sebesar 15.877,31 miliyar rupiah dan selalu
mengalami kenaikan hingga pada tahun 2021, angkanya menjadi sebanyak 20.418,19
miliyar rupiah (BPS Kabupaten Musi Rawas, 2022). Analisis sektor ialah
keunggulan ekonomi suatu wilayah yang menjadi sangat berarti dalam menyusun
kebijakan pembangunan di wilayah supaya bisa dikenal sektor mana yang sebagai
sektor basis serta diunggulkan kedudukannya guna mendesak perkembang ekonomi
daerah (Arafah and Matheos, 2017). Dari informasi di atas, sektor pertanian selalu
mengalami peningkatan dari tahun ketahun akan tetapi kurangnya pemaksimalan
strategi sehingga seharunya dapat meningkatkan nilai yang lebih tinggi dari
sebelumnya.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah menganalisis
komoditas unggulan Kabupaten Musi Rawas berdasarkan kriterianya,
mengidentifikasi faktor internal dan eksternal dalam pengembangan komoditas
unggulan di Kabupaten Musi Rawas dan menganalisis strategi dalam pengembangan
komoditas yang menjadi unggulan di Kabupaten Musi Rawas. Dan analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif dan kualitatif.. analisis
data yang digunakan pada penelitian ini mengunakan Analitical Hierarchy Process
dengan tujuan untuk menentukan komoditas unggulan serta untuk pemilihan
alternative solusi yang paling sesuai dan analisis SWOT.
Analisis Analytic Hierarchi Process di dapatkan bahwa komoditas unggulan
dari komoditas perkebunan yang ada di Kabupaten Musi Rawas adalah perkebunan
kelapa sawit (0,377), perkebunan karet (0,213), kelapa (0,136), kopi (0,134), kakao
(0,098) dan tebu (0,042) dan strategi prioritas pengembangan komoditas unggulan
kelapa sawit Kabupaten Musi Rawas adalah peningkatan sarana dan prasarana
pendukung dalam pengembangan komoditas unggulan kelapa sawi
ANALISIS RANTAI TATANIAGA CABAI MERAH DI KECAMATAN PURBA KABUPATEN SIMALUNGUN
Cabai merah adalah komoditas pertanian unggulan di Kecamatan Purba Kabupaten
Simalungun. Kurangnya modal yang dimiliki, belum adanya sentuhan teknologi dalam
proses produksi usahatani cabai merah, lokasi budidaya yang cukup jauh sehingga
memerlukan transportasi, banyaknya lembaga tataniaga yang terlibat, tingginya margin
tataniaga serta fluktuasi nilai jual dapat mengakibatkan penghasilan petani cabai merah
menjadi tidak stabil. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis saluran tataniaga cabai
merah di Kecamatan Purba, 2) menganalisis distribusi tataniaga cabai merah di Kecamatan
Purba, 3) menganalisis marjin tataniaga dan farmer’s share cabai merah di Keacamatan
Purba, 4) menganalisi tingkat efisiensi tataniaga cabai merah di Kecamatan Purba.
Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Pengambilan sampel
dilakukan dengan cara snowball sampling dengan mengikuti alur pasar. Penentuan
responden lembaga tataniaga menggunakan snowball sampling, diperoleh 7 orang pedagang
pengumpul, 9 orang pedagang pengecer. Untuk penentuan responden petani menggunakan
metode sensus yaitu 66 petani. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif,
analisis marjin tataniaga, farmer’s share, dan analisis efisiensi tataniaga. Tataniaga cabai
merah di Kecamatan Purba terdapat dua saluran tataniaga yaitu : Pada saluran tataniaga I,
petani menjual hasil panen cabai merah kepada pedagang pengumpul kemudian dari
pedagang pengumpul menjual ke pedagang pengecer setelah itu pedagang pengecer
memasarkan langsung sampai ke konsumen akhir dan Pada saluran tataniaga II, petani
menjual hasil panen cabai merah kepada pedagang pengecer setelah itu pedagang pengecer
memasarkan langsung sampai ke konsumen akhir.
Hasil panen cabai merah yang di distribusikan petani dalam satu kali panen sebanyak
5.565 Kg. Petani menjual hasil panen ke Pedagang Pengumpul sebanyak 3.665 Kg dan ke
Pedagang Pengecer sebanyak 1.900 Kg. Pada saluran I pedagang pengumpul hanya mampu
mendistribusikan cabai merah ke pedagang pengecer sebanyak 3.600 Kg. Hal ini
dikarenakan terjadi penyusutan sebanyak 65 Kg ketika proses pengangkutan. Pada saluran
II Pedagang Pengecer membeli cabai merah dari petani sebanyak 1.900 Kg, dan 100% dari
pembelian tersebut terdistribusi seluruhnya ke tangan konsumen. Margin tataniaga cabai
merah yang diperoleh pedagang pengumpul dan pedagang pengecer pada saluran I masing”
nya sebesar Rp. 5.000/Kg, sedangkan petani memperoleh farmer’s share sebesar 82%
(efisien). Sementara pada saluran II, margin tataniaga nya yang diperoleh pedagang pengecer
adalah sebesar Rp. 5.000/Kg dengan farmer’s share sebesar 90% (efisien). Tingkat efisiensi
tataniaga cabai merah di Kecamatan Purba saluran I adalah 9%, sedangkan pada saluran II
adalah 2,63%. Hal ini berarti bahwa kedua saluran tataniaga cabai merah di Kecamatan
Purba sudah efisien.
Kata Kunci: Cabai Merah, Rantai Tataniaga, Margin Tataniaga, farmer’s share dan
Efisiensi Tataniaga
(Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian,
Universitas Bengkulu
ANALISIS PENGARUH KUALITAS PRODUK, PROMOSI, HARGA TERHADAP LOYALITAS KONSUMEN MELALUI KEPUASAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA MINYAK GORENG KEMASAN FORTUNE (Studi Kasus : Ibu Rumah Tangga di Kecamatan Lubuklinggau Utara II)
Minyak goreng adalah salah satu produk hasil industri pertanian. Minyak goreng
termasuk sumber daya yang penting. Minyak goreng kemasan serta minyak goreng
curah ialah dua minyak goreng utama yang beredar di pasaran. Menurut data
Disperindag Kota Lubuklinggau minyak goreng yang paling banyak dikonsumsi di
Kota Lubuklinggau yakni merek Fortune, Fenomena tersebut bisa menimbulkan suatu
kesetiaan ataupun loyalitas pada konsumen di Kota Lubuklinggau terhadap minyak
goreng Fortune. Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) Menganalisa tingkat kepuasan
konsumen minyak goreng Fortune pada ibu rumah tangga di Kecamatan
Lubuklinggau Utara II 2) Menganalisa tingkat loyalitas konsumen minyak goreng
Fortune pada ibu rumah tangga di Kecamatan Lubuklinggau Utara II. 3) Menganalisa
pengaruh langsung kualitas produk, promosi serta harga terhadap kepuasan konsumen
minyak goreng Fortune pada ibu rumah tangga di Kecamatan Lubuklinggau Utara II.
4) Menganalisa pengaruh langsung kualitas produk, promosi serta harga terhadap
loyalitas konsumen minyak goreng Fortune pada ibu rumah tangga di Kecamatan
Lubuklinggau Utara II. 5) Menganalisa pengaruh langsung kepuasan konsumen
terhadap loyalitas konsumen minyak goreng Fortune pada ibu rumah tangga di
Kecamatan Lubuklinggau Utara II. 6) Menganalisa pengaruh kualitas produk, harga,
dan promosi terhadap loyalitas konsumen melalui kepuasan konsumen minyak goreng
Fortune pada ibu rumah tangga di Kecamatan Lubuklinggau Utara II. Analisa Data
menggunakan metode deskriptif dan analisis Structural Equation Modeling dengan
PLS. Hasil yang diperoleh yakni 1) Tingkat kepuasan konsumen ibu rumah tangga di
Kecamatan Lubuklinggau Utara II pada minyak goreng Fortune yaitu sangat puas. 2)
Tingkat loyalitas konsumen pada ibu rumah tangga di Kecamatan Lubuklinggau Utara
II pada minyak goreng Fortune yaitu sangat loyal. 3) Kualitas produk, promosi serta
harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen minyak goreng
Fortune pada ibu rumah tangga di Kecamatan Lubuklinggau Utara II. 4) Kualitas
produk, promosi serta harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas
vi
konsumen minyak goreng Fortune pada ibu rumah tangga di Kecamatan Lubuklinggau
Utara II. 5) Kepuasan konsumen berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas
konsumen minyak goreng Fortune pada ibu rumah tangga di Kecamatan Lubuklinggau
Utara II. 6) Kualitas produk, harga, dan promosi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap loyalitas konsumen melalui kepuasan konsumen minyak goreng Fortune pada
ibu rumah tangga di Kecamatan Lubuklinggau Utara II.
Kata Kunci : Minyak Goreng Fortune, Kepuasan, Loyalitas
(Program Studi Agribisnis Jenjang Magister (S2), Fakultas Pertanian, Universitas
Bengkulu
KAJIAN TINGKAT PENGEMBALIAN KRDIT DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
Dalam rangka mengatasi kemiskinan berbagai upaya telah dilakukan oleh
pemerintah di antaranya adalah menjalankan suatu program Pemberdayaan Ekonomi
Masyarakat Pesisir (PEMP) yang kegiatannya dijalankan oleh Koperasi Bina
Masyarakat Pesisir dan bekerjasama dengan Bank Bukopin. Untuk menjalankan
program PEMP koperasi ada beberapa unit usaha salah satunya adalah kredit dana
bergulir. Pada pemberian pinjaman kredit dana bergulir memiliki dua sistem yaitu
sistem pinjaman kelompok pada tahun 2002-2003, sistem pinjaman individu pada
tahun 2004-2007 (sekarang). Terjadinya perbedaan sistem pemberian kredit ini
dilakukan dengan harapan tingkat pengembalian kredit pada nasabah Koperasi LEPP-
M3 dapat lebih tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengembalian kredit dana
bergulir pada sistem pinjaman kelompok dan sistem pinjaman individu di koperasi
LEPP-M3 Bina Masyarakat Pesisir Kota Bengkulu dan untuk mengetahui faktor-
faktor apa sajakah yang mempengaruhi tingkat pengembalian kredit dana bergulir
pada sistem pinjaman individu pada nasabah Koperasi LEPP-M3 Bina Masyarakat
Pesisir di Kota Bengkulu dengan menggunakan data primer maupun data sekunder.
Data penelitian di ambil dari 53 nasabah sampel dengan menggunakan metode acak
sederhana. Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Regresi
Linier Berganda dengan menggunakan uji-t dua arah dengan taraf 95 % (α/2 = 0,025)
sehingga uji-f dengan taraf 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tingkat pengembalian kredit sangat bervariasi sesuai dengan kemampuan nasabah
sampel. Rata-rata tingkat pengembalian kredit pada sistem kelompok adalah 20,07%
dan pada sistem individu sebesar 65,14%.
Hasil uji statistik regresi linier berganda dengan tingkat kepercayaan 95 %
menunjukkan bahwa umur tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat pengembalian kredit
(2,24<2,3207) dengan nilai koefisien 0,45, total pinjaman tidak berpengaruh nyata terhadap
tingkat pengembalian kredit (2,17<2,3207) dengan nilai koefisien 4x10-06, tanggungan
keluarga tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat pengembalian kredit (-1,23<2,3207)
dengan nilai koefisien -1,32, pendidikan berpengaruh nyata terhadap tingkat pengembalian
kredit (2,98>2,3207) dengan nilai koefisien 1,95, lamanya jadi nasabah berpengaruh nyata
terhadap tingkat pengembalian kredit (3,03>2,3207) dengan nilai koefisien 4,53, total
pengeluaran tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat pengembalian kredit (0,22>2,3207)
dengan nilai koefisien 5,5x10-07, jumlah pendapatan keluarga berpengaruh nyata terhadap
tingkat pengembalian kredit (2,89>2,3207) dengan nilai koefisien 5,42x10-06,dan jenis
pekerjaan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat pengembalian kredit (1,53<2,3207)
dengan nilai koefisien 4,80
EFEKTIVITAS CYBER EXTENSION SEBAGAI MEDIA DALAM DISEMINASI INFORMASI KATAM TERPADU PADA PETANI SAWAH IRIGASI TEKNIS DI KECAMATAN SUNGAI SERUT
Cyber extension merupakan salah satu mekanisme pembangunan jaringan
komunikasi informasi pertanian yang terprogram secara efektif dengan
mengimplementasikan teknologi informasi dengan komunikasi dalam sistem komunikasi
inovasi atau penyuluhan pertanian yang memberikan banyak keuntungan yang potensial.
Cyber extension sudah banyak dikembangkan salah satu yang menjadi fokus
pengembangan saat ini adalah Kalender Tanam (KATAM) Terpadu. KATAM TERPADU
berbasis web ataupun aplikasi digunakan untuk diseminasi informasi petanian melalui
media digital dengan menggunakan prinsip-prisip serta keunggulan cyber extension yang
ada yaitu akses yang cepat, mudah, dan tepat. KATAM TERPADU memberikan berbagai
macam informasi pertanian bagi penggunanya. Kecamatan Sungai Serut berada didekat
wilayah perkotaan serta memiliki infrastruktur alat komunikasi yang dianggap sudah
lengkap dan tidak asing lagi dengan berbagai macam alat komunikasi untuk mengakses
perangkat cyber extension.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas cyber extension sebagai
media dalam diseminasi KATAM Terpadu di Kecamatan Sungai Serut dan ingin
mengetahui hubungan karakteristik petani, persepsi petani serta aksesibilitas yang
menggunakan KATAM Terpadu di Kecamatan Sungai Serut dengan efektivitas cyber
extension sebagai media dalam diseminasi KATAM Terpadu. Penelitian dilakukan pada
bulan Oktober 2020. Metode analisis data menggunakan Analisis Efektivitas dan Analisis
Rank Spearman. Sampel penelitian sebanyak 37 responden. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa efektivitas media komunikasi cyber extension mendapatkan nilai sebesar “46%”
yang menunjukkan bahwa cyber extension dinilai tidak efektif dalam mendiseminasikan
informasi KATAM Terpadu. Karakteristik petani, persepsi petani dan aksesibilitas
memiliki hubungan dengan efektivitas cyber extension yang ditunjukkan dari Analisis
Rank Spearman yang di peroleh.
Kata kunci: Efektivitas, Cyber Extension, KATAM Terpadu, Karakteristik,
Aksesibilita
- …
