1,720,996 research outputs found

    Model kualitatif logistik untuk menentukan pendaratan ikan di Pelabuhan Perikanan Wialayah Pesisir Sukabumi

    No full text
    Sukabumi coastal area has seven fishing ports, six of them are classified as fish landing bases/ pangkalan pendaratan ikan/ PPI and the rest is great fishing port/ pelabuhan perikanan nusantara/PPN. Therefor Local fishermen have more than one alternatives to land their. The objectives of this research were to discover the variables of model, to formulate the fish landing qualitative Logistic Regression model in every fishing port and to compare the proportion of fish landing in the fishing ports by using survey method. The variables of model were divided into three, there were: distance of place, shipment scale, and comfortness activity at fishing port. Those three variables were analyzed by using Mintab ver. 14. The results showed the significant level of each variable was diffrent at each fishing port. The distance of place’s variable was very significant at PPN Palabuhanratu, PPI Cisolok, and PPI Cibangban. However the second variable was not significant at all fishing ports. Furthermore the last variable was very significant at PPN Palabuhanratu, PPI Ujunggenteng, and PPI Ciwaru. The model of these research showed the goodness of fit with p-value less than 0,05 (P<0,05). The most fish landing destination was at PPN Palabuhanratu (34%), followed PPI Cisolok (22%), PPI Ujunggenteng (14%), PPI Ciwaru (11%), PPI Cibangban (9%), PPI Loji (7%) dan PPI Minajaya (3%).Wilayah Pesisir Sukabumi memiliki tujuh pelabuhan perikanan, enam diantaranya adalah pangkalan pendaratan ikan (PPI) dan satu pelabuhan perikanan nusantara (PPN). Nelayan wilayah tersebut memiliki banyak alternatif untuk mendaratkan hasil tangkapannya ke salah satu pelabuhan perikanan (PP). Penelitian ditujukan untuk mengetahui peubah-peubah dalam model logistik pendaratan ikan, membuat formulasi model regresi logistik di setiap pelabuhan perikanan serta menentukan perbandingan proporsi pendaratan ikan di pelabuhan perikanan wilayah Pesisir Sukabumi dengan metode survei. Peubah-peubah yang digunakan dalam model ini adalah jarak pemukiman (JP), tingkat kesejahteraan nelayan (TKN), dan kenyamanan aktivitas pelabuhan (KAP). Ketiga peubah ini dianalisis menggunakan perangkat lunak MINITAB ver. 14. Hasil menunjukkan bahwa Peubah jarak pemukiman (JP) memiliki pengaruh terhadap model logistik pendaratan ikan di PPN Palabuhanratu, PPI Cisolok, dan PPI Cibangban. Peubah ukuran kapal tidak memiliki pengaruh terhadap model logistik pendaratan ikan di seluruh PP yang ada. Peubah KAP memiliki pengaruh terhadap model logistik pendaratan ikan di PPN Palabuhanratu, PPI Ujunggenteng, dan PPI Ciwaru. Model yang terbentuk sudah memenuhi kelaikan model dengan nilai p-value kurang dari 0,05 (P<0,05) pada setiap PP. Namun, terdapat dua PPI yang belum cukup dinyatakan sebagai model yang baik yaitu PPI Loji dan PPI Minajaya. Hal ini disebabkan sampel yang diambil belum mencukupi untuk menjadikannya sebagai model yang baik. Kendala pengambilan sampel itu dikarenakan jumlah nelayan/responden yang beraktivitas pada saat itu sedikit. Proporsi pendaratan ikan terbesar di PPN Palabuhanratu (34%), diikuti PPI Cisolok (22%), PPI Ujunggenteng (14%), PPI Ciwaru (11%), PPI Cibangban (9%), PPI Loji (7%) dan PPI Minajaya (3%)

    Potensi Wisata Pancing di Taman Nasional Ujung Kulon.

    No full text
    Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) memiliki zona perlindungan bahari yang ditujukan untuk kegiatan wisata alam terbatas. Misi TNUK salah satunya yaitu memanfaatkan sumberdaya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, maka dari itu salah satu upayanya adalah menjadikan sebagian zona perlindungan bahari TNUK sebagai daerah wisata pancing. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi sumberdaya ikan karang terutama ikan target, 2) menentukan daerah di TNUK sebagai lokasi wisata pancing, dan 3) menentukan daya dukung pemanfaatan di lokasi tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus. Analisis data yang dilakukan yaitu kelimpahan ikan karang, biomassa ikan karang, kecerahan perairan, kecepatan arus, tinggi gelombang, indeks kesesuaian wisata pancing, daya dukung kawasan, dan daya dukung pemanfaatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 126 jenis ikan karang yang termasuk kedalam 22 famili (Acanthuridae, Apogonidae, Aulostomidae, Balistidae, Caesionidae, Chaetodontidae, Cirrihitidae, Gobidae, Haemulidae, Holocentridae, Labridae, Lethrinidae, Lutjanidae, Mullidae, Nemipteridae, Pomacanthidae, Pomacentridae, Scaridae, Serranidae, Siganidae, Tetraodontidae, dan Zanclidae). Daerah yang tergolong sesuai berada di lokasi Legon Kadam sedangkan yang tergolong sesuai bersyarat di lokasi Ciapus, Karang Copong, dan Legon Haji. Daya dukung pemanfaatan yaitu untuk lokasi Ciapus 21 orang/hari, Karang Copong 24 orang/hari, Legon Haji 30 orang/hari, dan Legon Kadam 43 orang/hari

    Elemen Kunci Pengelolaan Optimal Pangkalan Pendaratan Ikan Meulaboh di Kabupaten Aceh Barat.

    No full text
    The research was from September to November 2010 of fish landing place (PPI) Meulaboh at West Aceh District. The aims of this research (1) is to describe in detail the facilities and the activities of PPI Meulaboh and analyze existing problem; (2) to assess and evaluate the policies that support the management PPI Meulaboh at West Aceh District; (3) to determine key elements of optimal management of PPI at West Aceh District. The research was a case study. The data collection method used in this research was a purposive sampling. The analysis methods used in this research were 1) descriptive analysis of facilities and activities at PPI meulaboh through tables, figures and graphs; 2) policy analysis of the management of PPI Meulaboh; 3) analysis of interpretative structural modelling.Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki produksi perikanan tangkap terbesar ke-4 dunia setelah China, Peru dan Amerika Serikat. Berdasarkan data statistik, produksi perikanan tangkap Indonesia tahun 2010 mencapai Rp 61,24 triliun atau naik 13,56 persen dari tahun 2009 (Rp 53,93 triliun) (Anonimous, 2011) . Dalam memanfaatkan potensi sumberdaya perikanan yang ada diperlukan prasarana berupa pelabuhan perikanan. salah satu adalah tersedianya fasilitas pelabuhan perikanan. Fasilitas-fasilitas tersebut terdiri dari fasilitas pokok, fungsional dan penunjang (Lubis, 2006). Oleh karena itu, pemanfaatan pengelolaan fasilitas dan kondisi fasilitas yang optimal sangat perlu diperhatikan agar aktivitas pelabuhan perikanan dapat berjalan dengan baik. Berdasarkan kebijakan dari pemerintah daerah atau “qanun” Kabupaten Aceh Barat telah ada tugas pokok Lembaga Adat Laot sebagai pembantu DKP, tetapi implimentasi di lapangan tidak sesuai dengan kebijakan, Lembaga Adat Laot yang lebih berperan dan mengambil alih tugas DKP. Pengelolaan yang tidak tepat bisa berdampak pada pemanfaatan pengelolaan fasilitas dan sistem yang tidak aktif atau optimal dalam pengelolaan PPI, untuk mengetahui pengelolaan yang optimal bagi Pangkalan Pendaratan Ikan Meulaboh perlu dilakukan penelitian ini. Penelitian dilakukan pada bulan September-November 2010 di Pangkalan Pendaratan Ikan Meulaboh di Kabupaten Aceh Barat. Tujuan penelitian ini (1) Mendeskripsikan secara detil fasilitas dan aktivitas Pangkalan Pendaratan Ikan Meulaboh dan menganalisis permasalahan yang ada; (2) Menilai dan mengevaluasi kebijakan yang mendukung Pengelolaan Pangkalan Pendaratan Ikan Meulaboh di Kabupaten Aceh Barat; (3) Menentukan element kunci Pengelolaan Optimal di Pangkalan Pendaratan Ikan di Kabupaten Aceh Barat. Penelitian ini menggunakan studi kasus. Metode pengambilan data yang digunakan adalah Purposive Sampling. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian yakni: 1) Analisis deskriptif terhadap fasilitas dan aktivitas perikanan tangkap di PPI Meulaboh melalui penyajian tabel, gambar dan grafik; 2) Analisis kebijakan pengelolaan PPI Meulaboh; 3) Analisis Interpretative structural modeling

    Analisis Kebijakan Penghapusan Retribusi Pelelangan Ikan di PPN Pekalogan

    No full text
    TPI PPN Pekalongan merupakan salah satu TPI yang memungut retribusi pelelangan ikan terhadap nelayan yang melakukan pelelangan ikan di TPI tersebut. PPN Pekalongan merupakan salah satu pelabuhan yang belum menerapkan kebijakan yang diusulkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhamad untuk menghapuskan retribusi perikanan termasuk retribusi pelelangan ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan kajian terhadap pengalokasian dana retribusi pelelangan ikan di PPN Pekalongan, menganalisis dampak penghapusan retribusi pelelangan ikan tersebut terhadap pendapatan nelayan di PPN Pekalongan dan pengelolaan fasilitas di TPI PPN Pekalongan, serta melakukan analisis kebijakan penghapusan retribusi pelelangan ikan di TPI PPN Pekalongan dengan menggunakan PHA. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan satuan kasus kebijakan penghapusan retribusi di PPN Pekalongan. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan data yang disajikan bersifat kualitatif dan kuantitatif. Pemungutan retribusi pelelangan ikan di TPI PPN Pekalongan berdasarkan pada Perda No 12 tahun 2009 sebesar 3%, ditambah dengan pungutan retribusi pelelangan ikan yang merupakan kesepakatan bersama sebesar 2%. Dana retribusi pelelangan ikan dialokasikan baik secara rutin maupun insidental setiap tahunnya. Rata-rata nelayan yang mendaratkan ikan di TPI PPN Pekalongan merasakan manfaat dari retribusi pelelangan ikan yang mereka bayarkan, tetapi manfaat yang nelayan terima tidak sebanding dengan retribusi pelelangan ikan yang mereka bayarkan. Jika retribusi pelelangan ikan dihapuskan maka pendanaan untuk penyelenggaraan pelelangan ikan akan bergantung pada dana alokasi khusus dari pemerintah pusat dan pengahapusan retribusi pelelangan ikan juga akan mengurangi beban nelayan. Berdasarkan hasil dari PHA, menunjukkan bahwa keputusan untuk tidak menghapuskan retribusi pelelangan ikan memiliki nilai lebih besar dibandingkan dengan keputusan untuk menghapuskan retribusi pelelangan ikan yaitu sebesar 0,67; ini berarti bahwa pihak-pihak yang berkaitan dengan retribusi pelelangan ikan tidak keberatan dengan adanya pungutan retribusi termasuk nelayan, meskipun hal itu sebenarnya memberatkan nelayan

    Pengukuran Kinerja Pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan Bojongsalawe, Pangandaran, Jawa Barat

    No full text
    TPI Bojongsalawe merupakan prasarana kegiatan perikanan tangkap dari segi pemasaran yang terletak di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. TPI merupakan fasilitas publik yang berfungsi untuk memberikan kepuasan kepada penggunanya. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kinerja yang telah dilakukan pihak TPI dan hal apa saja yang perlu ditingkatkan. Metode yang digunakan adalah studi kasus terhadap kinerja TPI Bojongsalawe, mengetahui kepuasan pelanggan dengan Importance Performance Analysis, dan mengukur kinerja pengelolaan dengan value for money. Aktifitas di TPI Bojongsalawe telah berjalan dan dikelola oleh KUD Minapari. Pengukuran terhadap tingkat kepuasan pengguna pelelangan masih dibawah kriteria. Berdasarkan pengukuran terhadap kinerja TPI dinilai tidak ekonomis dari segi input karena memiliki nilai rataan 21% dan kinerja dinilai tidak efisien dengan nilai rataan sebesar 219%. Hasil pengukuran tersebut dapat digunakan oleh pihak TPI untuk memperbaiki kinerjanya di waktu yang akan datang

    Persepsi Nelayan dan Petugas Syahbandar terhadap E-Logbook Penangkapan Ikan di Pangkalan Pendaratan Ikan Karangsong Indramayu.

    No full text
    Permasalahan penerapan e-logbook di PPI Karangsong adalah tingkat partisipasi nelayan yang dinilai masih sangat sedikit yaitu 17.3% dari sekitar 300 unit kapal berukuran di atas 30 GT yang izinnya telah diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi persepsi nelayan dan petugas syahbandar terhadap e-logbook penangkapan ikan serta merekomendasikan strategi dalam pemanfaatan e-logbook penangkapan ikan di PPI Karangsong. Penelitian dilakukan di PPI Karangsong menggunakan metode survei. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi nelayan terhadap e-logbook penangkapan ikan berdasarkan tiga aspek yaitu aspek individu, aspek teknis serta aspek kelembagaan didominasi oleh persepsi nelayan yang rendah, dan persepsi petugas syahbandar terhadap e-logbook dianggap belum berjalan efektif. Beberapa strategi yang direkomendasikan dalam pemanfaatan e-logbook di PPI Karangsong diantaranya adalah 1) penambahan fitur yang dibutuhkan nelayan serta memperbolehkan pengisian manual hingga semua sarana dan prasarana lengkap dan berfungsi; 2) pengadaan back up data oleh petugas yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Logbook Penangkapan Ikan (SILOPI); 3) pengadaan pelatihan secara berkala dan pengecekan secara langsung di lapangan terkait penerapan e-logbook penangkapan ikan oleh petugas serta peningkatan jumlah petugas syahbandar di PPI Karangsong; 4) peningkatan kerjasama antara lembaga penerbitan e-logbook dengan lembaga penyusun peraturan perundang-undangan terkait e-logbook

    Pengetahuan dan Pengalaman Nelayan, Hubungannya dengan Persepsi terhadap Kapal Fiber di Pangkalan Pendaratan Ikan Tiku Agam

    No full text
    Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan bantuan kapal fiber kepada nelayan di Indonesia. Salah satu daerah yang menerima bantuan kapal adalah PPI Tiku Agam. Nelayan di PPI Tiku Agam relatif homogen sebagai masyarakat yang bekerja dalam kegiatan penangkapan ikan, tetapi secara individual memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berlainan yang dapat mempengaruhi persepsi terhadap kapal fiber. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan dan pengalaman nelayan penerima bantuan kapal fiber, menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi nelayan, dan menentukan hubungan pengetahuan dan pengalaman dengan persepsi nelayan tentang kapal fiber. Penentuan responden menggunakan sensus dengan jumlah nelayan 38 orang. Uji statistik yang dilakukan untuk menentukan hubungan pengetahuan dan pengalaman dengan persepsi menggunakan Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan nelayan kapal 3 GT memiliki pengetahuan sangat baik 43.3%, baik 46,7%, tidak baik 10% serta memiliki cukup pengalaman 76,7% dan sangat berpengalaman 23.3%. Pengetahuan nelayan kapal 5 GT rata-rata memiliki pengetahuan baik 37.5%, tidak baik 63.5%, serta memiliki cukup pengalaman 75% dan kurang berpengalaman 25%. Persepsi keseluruhan nelayan kapal 3 GT rata-rata memiliki persepsi yang sangat baik terhadap kapal fiber. Sementara itu, nelayan kapal 5GT memiliki persepsi yang tidak baik. Faktor pengetahuan pengguna kapal fiber 3 GT diperoleh nilai signifikan sebesar 0.000<0.05, pengetahuan pengguna kapal fiber ukuran 5 GT diperoleh nilai signifikan sebesar 0.246>0.05 terhadap persepsi kapal fiber. Pengalaman pengguna kapal fiber ukuran 3 GT diperoleh nilai signifikan sebesar 0.015<0.05, pengalaman pengguna kapal fiber ukuran 5 GT diperoleh nilai signifikan sebesar 0.340>0.05 terhadap persepsi kapal fiber

    Faktor–Faktor Mempengaruhi Nelayan dalam Pelelangan Ikan dan Kelembagaan Terkait di TPI PPI Karangsong Indramayu.

    No full text
    Karangsong Fish Landing Base (PPI) which has an activity of fish auction and another port activity is the most crowded fishing port in Indramayu. This research aim to get factors that affect a fisherman to sell the fish catches through a fish auction in PPI Karangsong, to know the institutional role and associated regulations to a fish auction activities in PPI Karangsong. This research method used a case study with a unit case is TPI PPI Karangsong. Qualitative and quantitative descriptive method are used to analyze factors that affect a fisherman to sell the fish catches through a fish auction in TPI PPI Karangsong and the institutional role. The results shows that there are three dominant factor which influence a fisherman to sell the fish catches through an auction mechanism and there are three institutional whose role in that fish auction activities in TPI PPI Karangsong Indramayu

    PENGARUH TEKNIK SUKSES PENJUALAN CROSS SELLING TERHADAP MINAT BELI PRODUK DI BANK BTN KANTOR CABANG SYARIAH SOLO

    Full text link
    This research aimed to find out the effect of successful cross selling on the product purchasing interest in Syariah Solo Branch Office of BTN Bank. Method of collecting data used was survey one through questionnaire distribution. The population of research was all customers of Syariah Solo Branch Office of BTN Bank. The sample derived from the customers coming to Syariah Solo Branch Office of BTN Bank consisting of 100 respondents. The sampling technique used was convenience sampling. In addition to studying the effect of independent variable on the dependent one, the author also wanted to describe the profile of respondents containing sex, age, occupation, and monthly income. According to Affinion Group, there were 7 stages in successful cross selling technique: Greet, Listen, Ask Questions, Use Product Knowledge, Answer Questions and Objections, Test for Agreement, and Take Action Sell the Product. The multiple linear regression represented the relationship between independent variable (successful cross selling technique) and dependent one (product purchasing interest in Syariah Solo Branch Office of BTN Bank). From the result of simultaneously calculation, it could be found F value of 8.415 with probability (significance) level of 0.000 less than 0.05. Thus, the successful cross selling technique variable could be used to predict the product purchasing interest. The coefficient of Adjusted R Square of 0,344 meant that 39% contribution derived from the simultaneous effect multiple regression of (the successful cross selling technique on purchasing interest, while the rest of 65,6% was affected by other factors. The result of t-test, there was no effect of each independent variable on the dependent one. Individual variables were continuing stages so that it was reasonable to study one of dependent variables with the independent variable, the result of which showed no relation/effect. Syariah Solo Branch Office of BTN Bank is expected to maximize cross selling through services that responsive in paying attention to the customer. So it can maintain the customer to cooperate with companies. Keywords: Purchasing Intention, Greet, Listen, Ask Questions, Use Product Knowledge, Answer Questions and Objections, Test for Agreement, and Take Action Sell the Product

    Public - private partnership dalam manajemen infrastruktur pelabuhan perikanan di Indonesia

    Full text link
    Indonesia sebagai salah satu negara terbesar di dunia Yang memiliki potensi maritim yang tinggi dengan wilayah seluas kurang lebih 2,5 juta km2 dan memiliki 17.508 pulau dengan bentangan garis pantai sepanjang 80.791 km sudah seharusnya menjadikan sektor perikanan dan kelautan sebagai salah satu penggerak pertumbuhan nasional dan regional. Dari keseluruhan wilayah pengelolaan perikanan di laut, potensi lestari sumberdaya ikan yang ada diperkirakan sebesar 6.4 juta ton per tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan sebesar 5.1 juta ton per tahun (80%dari potensi lestari)
    corecore