13 research outputs found
PERANAN PELABUHAN PERIKANAN (PP) PUSONG TERHADAP AKTIVITAS PERIKANAN TANGKAP DI KOTA LHOKSEUMAWE
ABSTRAKPelabuhan perikanan memegang peran dan fungsi yang sangat penting dalam menunjang aktivitas perikanan tangkap. Ketidakberperannya pelabuhan dengan baik dalam penyediaan fasilitas maupun ketidakcukupan kapasitas salah satu fasilitas yang diperlukan dan tata letaknya tidak mendukung akan dapat menghambat kelancaran berbagai aktivitas di pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pelabuhan perikanan (PP) Pusong dalam menunjang aktivitas perikanan tangkap di Kota Lhokseumawe. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari dengan menggunakan metode desktiptif yang bersifat survei terhadap aktivitas dan fasilitas PP Pusong. Analasis dilakukan secara deskriptif setelah dilakukan identifikasi terhadap fasilitas dan aktivitas yang ada dan perhitungan kembali kapasitas tempat pelelangan ikan, dermaga, kolam pelabuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan tiga belas jenis aktivitas kepelabuhanan perikanan yang tercantum dalam UU RI Nomor 45 Tahun 2009 tentang perikanan, maka PPI Pusong telah melaksanakan 9. Namun pengelolaan maupun aktivitasnya belum optimal. Permasalahan pemanfaatan dermaga tidak berfungsi semestinya, luas kolam labuh yang sudah layak (120000 m2) namun kondisi kolam pelabuhan dan tambat labuh yang sangat dangkal sehingga nelayan tidak dapat mendaratkan hasil tangkapan mereka di dermaga. Gedung pelelangan yang tersedia tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini menyebabkan pemanfaatan fasilitas sangat rendah, dan menunjukkan peran pelabuhan kurang optimal dalam mendukung aktivitas perikanan tangkap yang akhirnya tidak dapat meningkatkan hasil produktivitas nelayan.Kata kunci: Peran pelabuhan, fasilitas, produktivitas, kapasitas, LhokseumaweABSTRACTFisheries ports have a very important role and function in supporting capture fisheries activities. the failure of the port to play well in the provision of facilities and inadequate capacity of one of the facilities needed and its layout does not support it will hamper the smooth running of various activities at the port. The purpose of this study to determine the role of fishing port (PP) Pusong in supporting capture fisheries activities in Lhokseumawe City. This research was carried out in February using the descriptive method that was surveyed on the activities and facilities of the ishing port (PP) Pusong. The analysis is carried out descriptively after identification of existing facilities and activities and recalculation of the capacity of the fish auction place, dock, port pool. The results of this study indicate that based on thirteen types of fishery port activities listed in the Republic of Indonesia Law Number 45 of 2009 concerning fisheries, the fishing port (PP) Pusong has carried out. But the management and activities are not optimal. The problem is the use of the dock is not functioning properly, a landing pool area is feasible (120000 m2) but the condition of the port and mooring and anchor an extremely shallow so that the fishermen not to land their catches at the dock. The available auction building does not function properly. This leads to extremely low utilization of facilities, and demonstrate the role of the port is less than optimal in support of fishing activities that ultimately can not increase fishing productivity gains.Key Word: Port role, facilities, productivity, capacity, Lhokseumaw
IMPLEMENTASI KELAIKLAUTAN KAPAL PADA ARMADA YANG BERBASIS DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDRA (PPS) KUTARAJA
Kelaiklautan kapal merupakan salah satu syarat yang wajib dipenuhi oleh kapal pada setiap aktivitas pelayaran, begitupun juga keselamatan dan keamanan kapal ditandai dengan kondisi terpenuhinya persyaratan kelaiklautan kapal. BASARNAS Aceh (2019) membuktikan kasus kecelakaan kapal di Provinsi Aceh mengalami peningkatan, pada tahun 2018 sebanyak 22 kasus meningkat menjadi 36 kasus pada tahun 2019. Kecelakaan ini dipicu karena adanya indikasi pengabaian aspek keselamatan dalam berlayar. Tujuan penelitian yaitu menentukan tingkat implementasi kelaiklautan kapal pada armada kapal penangkap ikan yang berbasis di PPS Kutaraja. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2021 di PPS Kutaraja, Kota Banda Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara (kuesioner) dan pengamatan langsung di lapangan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan ada 3 yaitu purposive sampling, proportionate stratified random sampling dan accidental sampling. Berdasarkan pengolahan data, didapatkan hasil penelitian berikut: penerapan aspek kelaiklautan kapal yang berbasis di PPS Kutaraja berdasarkan aspek keselamatan, pencegahan pencemaran perairan dari kapal, pengawakan kapal, kesejahteraan awak kapal dan kesehatan penumpang, status hukum kapal, manajemen dan kesehatan penumpang serta kelengkapan surat dan dokumen masing-masing memiliki persentase skoring sebesar 43,32% (sangat baik), 98,31% (sangat buruk), 65,15 % (baik), 79,38% (ada), 82,39 % (ada), 57,27% (sangat baik), dan 59,09 % (ada).
Kata kunci: kapal perikanan, kelaiklautan kapal, keselamatan pelayaran, laik lau
Pengaruh Faktor-Faktor Produksi Terhadap Keberhasilan Operasi Penangkapan Purse Seine Di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sibolga
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sibolga tempat bersandar nya kapal-kapal perikanan untuk mengurus surat izin berlayar maupun membongkar hasil tangkapan ikan. Secara umum faktor produksi yang diduga berpengaruh terhadap hasil produksi yaitu ukuran kapal (GT), kekuatan mesin (PK), bahan bakar minyak (L), panjang jaring (M), lebar jaring (M), jumlah ABK (orang), air tawar (L), perbekalan, jumlah lampu (Unit) dan lama trip penangkapan (H). Tujuan penelitian adalah menentukan berapa besar pengaruh antara faktor produksi dan menentukan faktor produksi yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan operasi penangkapan purse seine di PPN Sibolga. Analisis data meliputi faktor-faktor produksi purse seine dengan menggunakan uji normalitas, uji multokolinieritas, uji regresi berganda, uji determinasi, uji f dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor produksi mempengaruhi sebesar 83 % terhadap produksi purse seine. Koefisien korelasi (0.990) yang berarti kuat. Variabel bebasnya bisa menjelaskan variabel terikat sedangkan sisanya 17 % dijelaskan oleh variabel lainnya. Faktor–faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap hasil pangkapan purse seine adalah ukuran kapal (X1), BBM (X6) dan lampu (7) sedangkan faktor produksi yang tidak berpengaruh nyata adalah kekuatan mesin kapal (X2), panjang jaring (X3), lebar jaring (X4), jumlah ABK (X5), dan lama trip (X8
Fishing vessel queue model in Kutaraja Fishing Port: Case study of Wharf Pias II
Kutaraja international Fishing Port is one of the biggest port with highest activity in Aceh Province. Nevertheless, when unloading process, fishing vessel often occur long queue of fishing vessel. This study aims to identify the vessel queue landed in Kutaraja Fishing Port, identify the degree of usefulness of the system utility of unloading fasilities and identify the vessel waiting time in the queue at Kutaraja Fisng port. The methods used was case study and standard formula of multi channel single phase. The results showed that the model queue that occurred in Kutaraja Fishing Port was (M/M/4): (FCFS / I / I). Based on calculations by the standard formula queuing model, it was obtained that the rate of arrival of the vessel unloading was 22 vessels/day and the rate of the service time was 16 vessels/day. Value of waiting time in the queue was 0 hour and the number of vessels that queue do not exist, while the waiting time in the system was 3,4 hours and the number of vessel arriving in the system was 1,42 units.The result of the calculation also showed that utility value of the system almost reached the optimum value (1,37) and the probably no vessel in a system was 0,08.The efforts that can be made to accelerate the performance of fish demolition in Kutaraja Fishing Port, namely using cranes as tools when unloading fish on fishing vessel
ANALISIS KONDISI SOSIAL EKONOMI NELAYAN BAGAN TANCAP DI TAPANULI TENGAH, SUMATERA UTARA
Alat tangkap bagan tancap merupakan alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan Tapanuli Tengah dikarenakan potensi ikan pelagis yang cukup menjanjikan. Aktivitas alat tangkap bagan memiliki beberapa dampak, dibalik potensi yang positif tentunya terdapat dampak yang dipengaruhi oleh aktivitas bagan tancap seperti dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan. Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi dan pesatnya pembangunan di wilayah pesisir menyebabkan meningkatnya tekanan terhadap ekosistem dan sumber daya pesisir dan laut. Sementara pengaruh pada sosial ialah berpotensi timbulnya konflik antar nelayan kecil, karena membuat ruang atau daerah penangkapan nelayan lain menjadi sempit akibat keberadaan bagan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan kajian guna memperoleh informasi akurat dan dampak yang dirasakan oleh nelayan dari segi aspek ekonomi dan sosial. Penelitian ini dilaksanakan di daerah Tapanuli Tengah dengan beberapa titik lokasi yaitu Kelurahan Hajoran, Kelurahan Muara Nibong, Kelurahan Lubuk Tukko, dan Desa Mela I. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik survei. Analisis data menggunakan metode analisis statistik deskriptif dan analisis ekonomi. Hasil yang diperoleh kisaran umur nelayan bagan tancap dari umur 20-60 tahun, dengan tingkat pendidikan rata-rata rendah yaitu tamatan SD, tingkat kesehatan tergolong rendah dengan kondisi lingkungan tempat tinggal buruk. Rata-rata keluarga nelayan memiliki anak lebih dari 2 orang, karena tingkat kelahiran yang tinggi. Sementara ekonomi nelayan bagan dapat dikatakan cukup, karena penghasilan dalam satu tahunnya, dapat menutupi modal yang dikeluarkan dengan rata-rata Rp100.000.000,00.
Kata kunci: bagan tancap, ekonomi, konflik, sosia
STATUS PENGELOLAAN IKAN TERI DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM DI PERAIRAN PANTAI BARAT SUMATERA UTARA BERBASIS PENDARATAN BAGAN TANCAP
Penangkapan ikan teri yang terus menerus dilakukan secara intens oleh nelayan bagan di Sibolga dan Tapanuli Tengah dengan tanpa adanya pengelolaan dan pengaturan yang baik, akan menimbulkan akibat yang kurang baik kedepannya khususnya pada keberlanjutan sumberdaya perikanan ikan teri itu sendiri. Salah satu solusi yang dapat diberikan untuk mengatasi timbulnya permasalahan seperti yang disebutkan di atas adalah dengan melakukan pengelolaan terhadap sumberdaya ikan teri, sehingga kedepannya tetap berkelanjutan. Salah satu métode yang paling banyak digunakan untuk pengelolaan adalah menggunakan métode EAFM (Ecosystem Approach to Fisheries Management). Mengevaluasi status pengelolaan dan merumuskan tindakan aksi pengelolaan untuk sumberdaya ikan teri di Sibolga dan Tapanuli Tengah menjadi tujuan yang ingin dicapai. Kelurahan Hajoran, Kelurahan Muara Nibong, Kelurahan Lubuk Tukko, dan Desa Mela I merupakan lokasi penelitian berlangsung. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik survei secara langsung di lapangan. Baik purposive maupun accidental sampling adalah metode pengambilan sampel. Metode EAFM digunakan untuk analisis. Pengelolaan sumber daya ikan teri yang bergantung pada alat tangkap bagan tancap di Sibolga dan Tapanuli Tengah termasuk dalam kategori "baik", yang berarti bahwa mereka harus digunakan dengan hati-hati. Tindakan pengelolaan harus diperbaiki untuk beberapa nilai indikator, seperti penurunan tren CPUE. Untuk mengontrol upaya penangkapan bagan tancap, disarankan untuk mengatur jumlah alat tangkap dan membatasi kuota penangkapan. Karena banyaknya yuwana yang tertangkap dan pecahnya jarak, perlu diterapkan sistem buka tutup (open close system) pada musim tertentu dan mengatur jarak penempatan bagan tancap.
Kata kunci: bagan tancap, EAFM, ikan teri, Sibolga-Tapanuli Tenga
Optimization of Tidal Transects and Traps for Mapping the Population of Mud Crabs (Scylla spp.) in Kalangan River, Tapanuli Tengah
This study investigates the effectiveness of combining the low-tide transect method with the use of crab pots to map the spatial distribution of mangrove crabs (Scylla spp.) in the Kalangan River, Central Tapanuli. Mangrove crabs are ecologically and economically significant species in coastal environments, yet limited data exist on their spatial population dynamics. An exploratory survey was conducted over a period of one month across three transect sites using standardised 1×1 meter PVC frames and systematically placed crab pots. Observations included species composition, carapace size, and habitat substrate type. The findings revealed that Scylla olivacea dominated the catch (68%), with the highest density recorded at transect 2 (0.86 individuals/m2), characterised by fine, sandy-muddy substrate and moderate mangrove cover. Transect 1 showed the lowest density (0.63 individuals/m²), likely due to degraded mangrove vegetation and coarse sandy substrate. A positive correlation was observed between tidal depth and catch abundance. The results suggest that this integrated method offers a reliable baseline for assessing mangrove crab populations and can inform sustainable coastal resource management practices
DINAMIKA POPULASI IKAN LAYANG YANG DI DARATKAN DI SIBOLGA
Perairan pantai barat Sumatera memiliki potensi perikanan yang besar dan berbagai jenis sumber daya termasuk sumber daya ikan pelagis, ikan damersal dan lain-lain. Ikan layang merupakan sumber daya ikan pelagis kecil yang paling dominan yang diibaratkan sebagai pelabuhan perikanan nusantara di Sibolga. Permintaan pasar yang besar menyebabkan kegiatan penangkapan ikan cenderung tidak terkendali dan rata-rata berfluktuasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis hasil tangkapan ikan laying untuk mengendalikan tingkat eksploitasi dan pengawasan alat tangkap yang tidak selektif agar pemanfaatan sumberdaya ikan layang dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek dinamika populasi ikan layang di PPN Sibolga. Berdasarkan informasi ekologi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari - April 2023. Pengumpulan data meliputi data primer yaitu panjang dan berat ikan, serta data sekunder yaitu publikasi ilmiah dan data statistik perikanan tangkap dari PPN Sibolga. Terdapat 200 sampel ikan yang diperoleh selama penelitian dengan kisaran panjang 17,8-322 cm. Estimasi pertumbuhan menggunakan metode Von Bertalanffy. Berdasarkan analisis hubungan panjang-berat, ikan layang yang ditemukan di PPN Sibolga memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif. Laju mortalitas M = 3.398E-152
Analysis of the application of MSC ecolabelling in tuna product processing industry in Sibolga City
The need for fishery products that are healthy, safe, legal, and sustainable to increase. This makes the export destination country require a certificate issued by an institution. One of the standards used by such countries is the MSC ecolabel. MSC ecolabel is an endorsement of a product that meets the criteria of environmental sustainability procedures. Therefore, it is necessary to conduct an assessment related to the application of MSC ecolabels in the Sibolga tuna processing industry. The purpose of this study is to analyze the level of gap analysis and the suitability of the application of the MSC ecolabel and examine various inhibiting factors. This research was conducted using survey methods and FGD with industry and the government. The analysis used was qualitative descriptive analysis, gap analysis, and conformity level analysis. The research results show that the level of conformity in MSC CoC (
Chain of Custody) for its principles is highly non-compliant with the standard (0%), while for its criteria, it is almost compliant with the standard (71.32%). Meanwhile, the conformity level in MSC fisheries indicates a very low level of compliance with the standard (39%). Policy recommendations provided include the formulation of a harvest strategy for tuna in WPP 572, strengthening and implementing measurable fisheries, and formulating a Fisheries Improvement Project (FIP) policy
KARAKTERISTIK HABITAT TERIPANG DI SEKITAR PERAIRAN KABUPATEN TAPANULI TENGAH, SUMATERA UTARA
Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan informasi tentang karakteristik habitat teripang yang dapat diaplikasikan dalam pengembangan budidaya teripang di Kabupaten Tapanuli Tengah. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei, meliputi jenis substrat dan parameter kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teripang ditemukan pada substrat karang berpasir, pasir berlumpur dan sebagian di daerah lamun. Suhu perairan berkisar 29-30 0C di Pulau Poncan Gadang, 28-33 0C di Pulau Unggeh dan 30-32 0C di perairan Sitardas. pH air di Pulau Poncan Gadang berkisar 7,3-7,5, di Pulau Unggeh berkisar 7,4-7,6 dan di perairan Sitardas berkisar 7,2-7,8. Salinitas di Pulau Poncan Gadang adalah 29-34 ppt, Pulau Unggeh berkisar 33-34 ppt dan di perairan Sitardas berkisar 31-32 ppt. Oksigen terlarut di Pulau Poncan Gadang berkisar 4-8,7 mg/l, Pulau Unggeh 7-8,2 mg/l dan di perairan Sitardas 8,3-8,7 mg/l. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa habitat teripang dinilai masih optimal dan kegiatan budidaya teripang di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah cukup potensial untuk dikembangkan.
Kata kunci: habitat, poncan, sitardas, substrat, teripang, ungge
