5 research outputs found
Simulation of queue with cyclic service in signalized intersection system
The simulation was implemented by modeling the queue with cyclic service in the signalized intersection system. The service policies used in this study were exhaustive and gated, the model was the M/M/1 queue, the arrival rate used was Poisson distribution and the services rate used was Exponential distribution. In the gated service policy, the server served only vehicles that came before the green signal appears at an intersection. Considered that there were 2 types of exhaustive policy in the signalized intersection system, namely normal exhaustive (vehicles only served during the green signal was still active), and exhaustive (there was the green signal duration addition at the intersection, when the green signal duration at an intersection finished). The results of this queueing simulation program were to obtain characteristics and performance of the system, i.e. average number of vehicles and waiting time of vehicles in the intersection and in the system, as well as system utilities. Then from these values, it would be known which of the cyclic service policies (normal exhaustive, exhaustive and gated) was the most suitable when applied to a signalized intersection syste
Nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku “Saleh Ritual Saleh Sosial” karya KH. A. Mustofa Bisri
Penelitian ini berfokus pada nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat pada buku “Saleh Ritual Saleh Sosial” karya KH. A. Mustofa Bisri. Pada penelitian ini, penulis bertujuan untuk mengungkap beberapa nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam buku tersebut. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Sedangkan metode yang digunakan adalah analisis isi, suatu metode yang digunakan untuk mengungkap sebuah teks besar. secara teroganisir menjadi ringkasan-ringkasan utama.
Adapun nilai-nilai pendidikan karakter yang ditemukan, terdapat 17 nilai pendidikan karakter, yaitu 1) Adil, 2) Dermawan`, 3) Musyawah 4)Tawadhu` 5) Saleh, 6) Manusiawi, 7) Sabar, 8) Syukur, 9) Takwa, 10) Ridha, 11) Guyub, 12) Jejeg, 13) Istiqamah, 14) Iqtishat, 15) Halim, 16) I`tidal, 17) Sak Madyo. Nilai pendidikan karakter yang sering muncul dalam buku ini adalah nilai pendidikan karakter Adil (sebanyak 6x), Saleh (sebanyak 5x), Jejeg (sebanyak 5x).
ABSTRACT:
This study focuses on the values of character education contained in the book "Saleh Ritual Saleh Sosial" by KH. A. Mustofa Bisri. In this study, the author aims to reveal some of the character education values contained in the book. The approach used in this research is a qualitative approach. While the method used is content analysis, a method used to reveal a large text. organized into main summaries As for the values of character education found, there are seventen values of character education, namely 1) Adil, 2) Dermawan`, 3) Musyawah 4)Tawadhu` 5) Saleh, 6) Manusiawi, 7) Sabar, 8) Syukur, 9) Takwa, 10) Ridha, 11) Guyub, 12) Jejeg, 13) Istiqamah, 14) Iqtishat, 15) Halim, 16) I`tidal, 17) Sak Madyo
Punishment Policy on Homicide Violence in Indonesia
This paper was follow-up research of the author’s dissertation entitled, "Homicide by Wife in the Context of Domestic Violence: Case Studies of Convicted 4 Female Perpetrators in Women Prisons in Bandung, Indonesia." The findings from the dissertation showed that, in a normative manner, a wife who committed homicide against her husband was guilty and violated the criminal law regardless of the motive behinds it. Using feminist research and qualitative approach, the author argued that women (wives) who killed their partners in response to domestic violence were also victims. Therefore, imprisonment was not appropriate for them. This article discussed the public’s perception on women committing homicide in response to domestic violence by exploring the reasons why women engaged in such acts, rehabilitation measures, lenient treatment, and protection programs for women who committed homicide in reaction to domestic violence. Based on these discussions, the author concluded that a specific policy was necessary in Indonesia to regulate alternative intervention programs for women (wives) who commit homicide to their partners in reaction to domestic violence. The intervention programs shall include social work penalty and rehabilitation measures as well as implementation procedures, success indicator measurement, and evaluation criteria to see the implications of the policy
اسمنات المعنوية فى ديوان الحبيب على بن محمد الحبشى: دراسة ليلية بالغية
مستخلص البحث
من خلال قراءة بعض الكتابات العلمية التى يمكن اتختذها على بعض النقاط، أى المعرفة العلمية البلاغية هى الإنظباط الذى يوجهها المتعلمون لتقدمي فكرهتم وخيالهم، تأسيسا على تنظيف باطنهم وتقديمهم فى فهم تزيني تعبير اللغة العربية. وقدرة المعلمين على شرح الفروق بني أنواع أسلوب اللغة العربية٠
هذا البحث يبحث عن تحليل األشعار ديوان الحبيب على بن محمد الحبشى من ناحية علم البديع. أما خطة البحث التى قد ألفها الباحث مكونة من المبادئ التى تحتاج لتنغيذ هذا البحث ورتبها في الباب الأول.هناك قطعة شرح عن وظيفة اللغة العربية وأمهية تعليمها مث أقسام درتها التى تكون منها علم البلاغة وعلم البديع.
أما الموضوع الذى اختاره الباحث فهو اسمنات المعنوية فى ديون الحبيب على بن محمد الحبشى الذى توى على نشئتو وتارو وعبقريتو في مجيع الكلام ال كتب الباحث في هذه
الرسالة. أحكى مؤلّف هذا الكتاب حكاية محمودة في العامل بشرح مجيل، ليكون نزهة لذوى العقول وقد أوردت في هذا الديوان من الفوائد الغرائب، ومن المنقول العجائب واختصر من الأشياء المسائل الدفيدة. فيو أشعار متعددة، فرأى الباحث أن معظم الأشعار تحتوى على عناصر البديعية وهذه هي الحجّة.
فالمنهج الكيفي الوصفي (deskriptif-kualitatif( هو المنهج المستعمل في هذا البحث. وأما الطريقة المستعملة لجميع البيانات فهى الطريقة المكتبية. والطريقة المستعملة لتحليل البيانات هى الطريقة التحليل الكيفى.
وسيشرح أيضا حملة موضوع ىذا البحث الباب الثالث من جهة اإلحتواء والتفوّق، فمنو
عدد أبوابو و عدد أشعاره. وقبل التبيني، يذكر الباحث األشعار احملدّدة مث يمجها إىل اللغة اإلندونيسية ألجل السهولة الفهم. كما ذكرت الفقرة ااضية أنّ ليل البيانات يبحث تفصيال
ىذا الباب.
أما النتائج احملصلة من ىذا البحث فهي وجود احملسنات اعنوية ىذه األشعار وىي الطباق ولموافقة ولجمع ولمقابلة وحسن التعليل والتورية وتجاهل العارف. كلها تعرض في الباب الربع، ألن تفصيل التحليل قد أبان الباب ااضى.
ABSTRAK
Penelitian ini mencari analisis Diwan habib Ali bin Muhammad al-Habsyi. semoga Allah menghormatinya kontrol retoris tangan-Badi. Rencana penelitian (Proposal Penelitian) yang dapat ditulis oleh peneliti terdiri dari prinsip-prinsip yang perlu untuk melaksanakan penelitian dan diatur dalam pintu pertama. Ada sepotong penjelasan tentang fungsi bahasa Arab dan pentingnya pendidikan dan kemudian belajar dari bagian yang retorika dan ilmu Badi.
Judul yang dipilih oleh peneliti keindahan makna dalam Diwan habib Ali bin Muhammad al-Habsyi," yang berisi Ncith, sejarah dan jenius dalam semua pembicaraan bahwa peneliti menulis dalam surat itu. Berbagi cerita saya penulis buku ini adalah terpuji di dunia menjelaskan indah, menjadi piknik untuk orang-orang dengan pikiran. Telah dilaporkan dalam buku Algraub bunga, dan keajaiban ditransfer. Memotong pendek hal-hal berguna penting. Perhatikan beberapa, peneliti melihat bahwa sebagian besar puisi mengandung unsur pidato figuratif, dan ini adalah argumen.
Kualitatif kurikulum deskriptif (kualitatif-Deskriptif) adalah pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini. Karena hasil dari data yang peneliti akan menyajikan kata-kata dan penjelasan. Peneliti mencoba untuk menyesuaikan penelitian teoritis Bertanggung jawab yang ada, diselenggarakan di Bagian II. Yang merupakan data dasar dari puisi-puisi ini, data sekunder yang tepat diambil dari buku-buku retorika dan cara lain mengandung semua dermawan perangkat tambahan pidato verbal dan pidato kiasan kiasan moral. Profil ini juga akan menjelaskan subjek penelitian ini dalam Bab III titik penahanan dan keunggulan, melampaui jumlah pintu dan jumlah puisinya. Sebelum Mencerminkan, Peneliti kemudian dipilih puisi diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk memudahkan pemahaman. Seperti yang saya sebutkan di paragraf terakhir bahwa analisis data tampak secara rinci dalam bagian ini.
Hasil dari penelitian ini adalah adanya tambahan verbal dalam puisi-puisi itu, aliterasi dan assonance, dan tanda hubung, dan anggaran. Dan dermawan moral yang sesuai, tembakau, Almchaklh, kombinasi, berlebihan, penalaran yang baik, dikombinasikan dengan divisi, dikombinasikan dengan diferensiasi, doktrin retorika, Berikan lebih memperhatikan pertandingan. Disajikan dalam jumlah Bagian IV, karena analisis rinci telah menunjukkan pintu di terakhir
ABSTRACT
By reading some of the scientific literature that can choose points, in scientific knowledge rhetorical is a process who directed learners to make their idea and imagination Based on the clean inwardly and bring them in understanding the Arabic expression decorating. And the ability of teachers to explain the differences between the types of Arabic style.
This research looking for the analysis of the poems in the Office of Habib Ali bin Mohammed Al Habashi hand knowledge of Badi'. The research plan, which was written by a researcher made up of the principles that you need to carry out this research and arranged in the first section. There is a piece explanation of the Arabic language function and the importance of education and then studied sections which are science rhetoric and science Badi’.
The topic chosen by the researcher is Thats morale in the office for Habib Ali bin Mohammed Al Habashi which contains Ncith the history and genius in all the talk that researcher wrote in this letter. Tell the author of this book is the story of a welcome in a beautiful world to explain, to have a picnic for people with brains have been reported in this Court benefits Algraub, is quoted in Wonderland and shortened things issues Aldwidh. Which multiple poems, Researcher saw that most of the poems contain elements Alibdieih and this is the argument.
the qualitative descriptive methode is the method used in this research. The method used for all data is the way office. The method used to analyze the data is the way of qualitative analysis.
It also will explain a glimpse subject Yma research in the third section of the containment and excellence, midst the number of topic and the number of his poems. Before Signifying, Researcher little poems set and then translated into the Indonesian language for ease of understanding. As I mentioned in the last paragraph that detailed analysis of data looking in this step.
The chosen topic by the researcher is Thats morale in the office for Habib Ali bin Mohammed Al Habashi which contains the history and genius in all the talk that researcher wrote in this letter. Tell the author of this book is the story of a welcome in a beautiful world to explain, to have a picnic for people with brains have been reported in this Court benefits Algraub, is quoted in Wonderland and shortened things issues Aldwidh. Which multiple poems, Researcher saw that most of the poems contain elements Alibdieih and this topic
ANALISIS KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL LAYLA MAJNUN KARYA SYEKH NIZAMI KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan konflik batin yang dialami pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun, (2) mendeskripsikan faktor-faktor penyebab konflik batin yang dialami pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun. Data dalam penelitian ini adalah konflik batin yang dialami pada tokoh utama yang ada di dalam novel Layla Majnun. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel karya Syekh Nizami, dengan judul Layla Majnun. Novel tersebut diterbitkan oleh DIVA Press pada tahun 2020 dengan jumlah halaman 223 lembar. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi sastra yang berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra dan juga menggunakan alat bantu penafisran yaitu hermeneutika Wilhem Dilthey. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik membaca dan mencatat, sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut. (1)Konflik batin pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun adalah pertentangan antara pilihan tidak sesuai dengan keinginan, kebimbangan dalam mengadapi permasalahan, dan harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, (2) Akhir dari konflik batin Majnun dan Layla, (3)Faktor sosial penyebab konflik batin yang dialami tokoh utama dalam novel Layla Majnun adalah tradisi dan kebiasaan dari keluarga Layla. ANALISIS KONFLIK BATIN PADA TOKOH UTAMADALAM NOVEL LAYLA MAJNUN KARYA SYEKH NIZAMIKAJIAN PSIKOLOGI SASTRA 1Redho Akbar; 2Yayah Chanafiah; 3Sarwit Sarwono Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bengkulu Korespondensi: [email protected] AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan konflik batin yang dialami pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun, (2) mendeskripsikan faktor-faktor penyebab konflik batin yang dialami pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun. Data dalam penelitian ini adalah konflik batin yang dialami pada tokoh utama yang ada di dalam novel Layla Majnun. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel karya Syekh Nizami, dengan judul Layla Majnun. Novel tersebut diterbitkan oleh DIVA Press pada tahun 2020 dengan jumlah halaman 223 lembar. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi sastra yang berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra dan juga menggunakan alat bantu penafisran yaitu hermeneutika Wilhem Dilthey. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik membaca dan mencatat, sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut. (1)Konflik batin pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun adalah pertentangan antara pilihan tidak sesuai dengan keinginan, kebimbangan dalam mengadapi permasalahan, dan harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, (2) Akhir dari konflik batin Majnun dan Layla, (3)Faktor sosial penyebab konflik batin yang dialami tokoh utama dalam novel Layla Majnun adalah tradisi dan kebiasaan dari keluarga Layla. Kata Kunci: Novel Layla Majnun, Konflik Batin, Akhir Konflik Batin, Faktor Konflik Batin AbstractThis research aims to (1) describe the inner conflict experienced in the main character in the novel Layla Majnun, (2) describe the causative factors of inner conflict experienced in the main character in the novel Layla Majnun. The data in this study is an inner conflict experienced in the main character in layla majnun's novel. The source of the data in this study is a novel by Sheikh Nizami, entitled Layla Majnun. The novel was published by DIVA Press in 2020 with a total of 223 pages. The type of approach used in this study is a literary psychology approach that focuses on the text or choice of words used by the author in literary works and also uses a disclaimer tool, the hermeneutics Wilhem Dilthey. Data collection is done with reading and recording techniques, while data analysis is done with descriptive analysis techniques. The results of this study can be Outlined as follows. (1) The inner conflict in the main character in Layla Majnun's novel is the conflict between choices not in accordance with desire, doubt in the face of problems, and expectations that do not correspond to reality, (2) Finally the inner conflict of Majnun and Layla, (3) The social factors that cause inner conflict Redho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono experienced by the main character in Layla Majnun’s novel are the traditions and custom of the Layla family. Keywords: Layla Majnun Novel, Inner Conflict, End of Inner Conflict, Inner Conflict Factor PENDAHULUANSastra adalah bagian dari entitas budaya yang praktiknya tercermin dalam karya-karya sastra. Semua kebudayaan dan peradaban di dunia mengalami suatu periode perubahan yang mendalam (Peursen, 1990:72), termasuk kebudayaan dan peradaban bangsa Arab dengan segala totalitasnya. Liaw Yock Fang (dalam Sugiartoputri, 2009:3) berpendapat bahwa sastra Islam tersebut mempunyai ciri khas, yakni sebagian besar berupa terjemahan atau saduran yang berasal dari bahasa Arab atau Parsi dan hampir semua karya ini tidak diketahui nama pengarang atau tarikh penulisnya.Liaw Yock Fang (dalam Sugiartoputri, 2009:3) juga membagi sastra zaman Islam ke dalam beberapa kategori, yakni cerita Al-Quran, cerita Nabi Muhammad, cerita sahabat nabi Muhammad, cerita pahlawan Islam, dan sastra Kitab. Selain itu, menurut Liaw Yock Fang (dalam Sugiartoputri, 2009:3), kajian tentang Al-Quran, tafsir, tajwid, arkan ul-Islam, usukuddin, fikih, ilmu sufi, ilmu tasawuf, tarikat, zikir, rawatib, doa, jimat, risalah, wasiat, Bab An-Nikah dan kitab tib (obat-obatan, jampi-menjampi) dapat digolongkan ke dalam sastra kitab. Melalui sastra kitab, pengguna naskah dapat menambah pengetahuan keagamaan mereka. Oleh karena itu, karya sastra yang bercorak Islam banyak yang berasal dari Persia. Jika dalam puisi dikenal Gazhal, nazam, bayt, qit’ah dan lain-lain. Sedangkan dalam bentuk prosa dijumpai dalam sastra berbingkai. Salah satu jenis sastra berbingkai adalah hikayat seribu satu malam. Cerita-cerita yang terdapat di dalam hikayat seribu satu malam yang sangat populer dan dingat oleh masyarakat di seluruh dunia, termasuk di Melayu adalah Aladin, Ali Baba, Abu Nawas, Layla Majnun, dan lain-lain.Layla Majnun di Indonesia, pernah ditulis oleh Hamka dan diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1932, tebalnya 74 halaman. Kemasyuran kisah Layla Majnun ini juga telah memberikan inspirasi kepada sutradara kondang Indonesia, Sjumandjaja, untuk membuat cerita layar lebar. Tahun 1975, dibuatlah film dengan judul Layla Majnun dengan bintang utama Rini S Bono sebagai Layla dan Ahmad Albar sebagai Majnun. Film ini mengantongi penghargaan untuk kategori aktor pembantu bagi Farouk Afero pada festival film Indonesia 1976 (Purwantari, 2004).Layla Majnun adalah salah satu kisah yang populer dalam dunia Islam. Selama lebih dari seribu tahun beragam versi dari kisah tragis ini telah muncul dalam bentuk prosa, puisi, dan lagu dalam hampir semua bahasa di Negara-negara Islam Timur. Meski demikian, sajak epik Nizami lah yang menjadi dasar. Nizami seorang penyair Persia, ditugaskan untuk menulis Layla Majnun oleh penguasa Kaukasia, Shirvanshah, pada tahun 1188 Masehi (1141-1209). Shirvanshah memuji Nizami sebagai “penyair dengan keelokan kata-kata terhebat di dunia”, lalu meminta Nizami untuk menulis sebuah epik romantik atau syair (disusun dalam gaya bahasa puitis yang dikenal dengan masnawi) yang diambil dari cerita rakyat Arab, kisah mengenai Qays yang telah melegenda, sang penyair yang “gila cinta” dan Layla gadis padang pasir yang kecantikannya sangat terkenal Nizami (dalam Rahayu, 2014:82). Analisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra Majnun itu gelarnya, nama aslinya adalah Qays Ibnu Mulawwih. Majnun satu akar kata dengan Jin. Jika di terjemahkan langsung, Majnun adalah orang yang kesurupan Jin atau orang yang gila karena cinta. Sedangkan nama Qays dalam Islam memiliki makna perbandingan, kekuatan, ketegasan, tinggi hati. Ini dimaknai agar nantinya bayi laki-laki menjelma menjadi bayi yang istimewa, tangguh, dihormati, dan bijaksana. Sementara Layla secara akar kata itu artinya malam. Selain itu juga, nama Layla karena matanya sangat indah, hitam pekat seperti malam.Berdasarkan kesimpulan di atas mengenai kejiwaan Qays merupakan salah satu konflik yang dapat dikaji melalui aspek psikologi sastra. Jatman (dalam Endraswara, 2008:97) berpendapat bahwa karya sastra dan psikologi memiliki pertautan yang erat, secara tak langsung dan fungsional. Pertautan tak langsung karena antara baik sastra maupun psikologi memiliki objek yang sama yaitu kehidupan manusia. Memiliki hubungan fungsional karena sama-sama mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Hal yang membedakan adalah, jika dalam psikologi gejala tersebut rill, sedangkan dalam sastra bersifat imajinatif.Novel Layla Majnun dipilih dalam penelitian ini karena sangat menarik untuk dikaji. Selain karena novel ini merupakan novel terlaris National Best Seller yang diterbitkan oleh Oase pada tahun 2008. Dan yang diterbitkan oleh Babul Hikmah mendapatkan julukan International Best Seller. Kelebihannya terletak pada ceritanya yakni penderitaan batin yang dialami oleh Majnun dan Layla selaku tokoh utama. Penderitaan batin yang dialami tokoh utama, mengalami penyimpangan dari manusia yang normal pada umumnya.Novel Layla Majnun merupakan kisah cinta Majnun dan Layla. Kisah cinta mereka yang bukanlah seperti kisah biasanya yang bersifat duniawi yang tidak banyak memuji kecantikan wanitanya secara batin ataupun memujanya dan rela berkorban untuk cintanya seperti kisah cinta yang ada. Kisah cinta mereka merupakan kisah cinta begitu dahsyat sepanjang masa yang menggambarkan betapa besarnya kekuatan cinta Qays/Majnun kepada Layla, sehingga indera matanya, pikiran, perasaan, dan imajinasinya terpengaruh. Matanya menjadi buta, akalnya menjadi terganggu, pikirannya menjadi kacau, semuanya tertuju kepada satu yakni cintanya kepada Layla. Dalam hidupnya ada Layla, harta, jabatan penghormatan, semuanya menjadi sirna karena cintanya kepada Layla. Qays rela hidup menderita demi mempertahankan cinta tersebut. Begitu pun sebaliknya dengan Layla. Kisah cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan, namun kisah cinta mereka terhalang kesombongan orang tua Layla yang lebih memihak tradisi dibandingkan kebahagiaan seorang anak.Perbedaan Majnun dan Layla terlihat ketika tidak bisa berbuat seperti Majnun dalam melampiaskan rasa cintanya. Adat dalam masyarakat Arab melarang perempuan yang sudah baligh bermain-main di luar rumah, apalagi menjalin asmara. Perempuan tersebut harus memasuki masa-masa pemingitan yang nantinya akan dilepas ketika ayahnya menjodohkan dengan lelaki yang tepat pilihannya. Layla lebih menderita daripada Majnun. Pada akhirnya kisah cinta mereka tak sampai, penuh dengan penderitaan yang dijalani Majnun dan Layla. Penderitaan yang dijalani oleh Majnun dan Layla, akan sangat menarik apabila dikaji secara pendekatan sastra yaitu pendekatan psikologi sebagai alat bantu, yang berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra. Pendekatan ini digunakan karena sesuai dari tujuan penelitian yaitu untuk menggambarkan konflik batin tokoh utama dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami. Redho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono Peneliti juga menggunakan hermeneutika Wilhem Dilthey sebagai alat bantu dalam menafsirkan kembali novel Layla Majnun untuk mempermudah, memahami apa yang sedang terjadi pada novel tersebut.Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengambil penelitian terhadap novel Layla Majnun karya Syekh Nizami dengan judul analisis konflik Batin pada Tokoh Utama dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami Kajian Pskologi Sastra, yang berfokus pada konflik batin dan faktor penyebab terjadinya konflik batin yang dialami Majnun dan Layla. METODEMetode yang digunakan adalah penelitian kualitatif yaitu untuk memahami fenomena didapat subjek penelitian, seperti watak, perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain. Sebagaimana dijelaskan oleh Strauss dan Corbin (dalam Syamsuddin dan Damaianti, 2007:73) metode penelitian kualitatif juga dapat dimaksudkan sebagai suatu jenis penelitian dimana penemuan teori atau ukuran statistik tidak dapat diperoleh. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2011:4) menyatakan metodologi kualitatif adalah suatu sistem yang menghasilkan data deskriptif. dalam bentuk kata-kata yang tersususun atau diungkapkan dari perilaku yang diamati.Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi sastra berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra. Pendekatan ini digunakan karena sesuai dari tujuan penelitian yaitu untuk menggambarkan konflik batin tokoh utama dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami. Dalam hal ini, penulis juga menggunakan alat bantu hermeneutika Wilhem Dilthey, hermeneutika yang dijelaskan dalam penelitian ini juga memberikan manfaat tentang hal menafsirkan kembali karya sebelumnya seperti salah satunya pada novel Layla Majnun untuk mempermudah memahami apa yang sedang terjadi pada novel tersebut yaitu pembahasan berkaitan dengan konflik batin yang dialami pada tokoh utama.Data dalam penelitian ini adalah konflik batin yang dialami pada tokoh utama yang ada di dalam novel Layla Majnun. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel karya Syekh Nizami, dengan judul Layla Majnun. Novel tersebut diterbitkan oleh DIVA Press pada tahun 2020 dengan jumlah halaman 223 lembar.Teknik pengumpulan data digunakan yaitu teknik membaca dan catat. Teknik membaca adalah teknik untuk menemukan suatu informasi untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Agar dapat menemukan informasi yang dicari secara cepat dalam novel Layla Majnun, biasanya pembaca menggunakan petunjuk-petunjuk seperti, buku-buku yang relevan untuk membantu penelitian dalam mengkaji konflik batin, psikologi sastra dan hermeneutika. Teknik catat adalah pencatatan informasi yang diselesaikan dengan catatan sesuai dengan kepentingannya (Subroto, 1992:42). Dalam metode pencatatan, peneliti mencatat informasi yang ditemukan dalam laporan pencatatan data-data yang berupa konflik batin dan kajian psikologi sastra pada novel Layla Majnun. HASIL DAN PEMBAHASANPenelitian ini, peneliti terlebih dahulu menguraikan unsur pembangun struktur karya sastra yang meliputi: fakta-fakta cerita (alur, karakter atau penokohan, latar, dan tema). Analisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra AlurTahapan situasion (penyituasian). Pada tahap ini pengarang mulai menggambarkan keadaan keluarga Qays. Syed Omri adalah ayah Qays yang sangat menantikan kelahiran Qays. Di usia senjanya barulah dia mendapatkan Qays. Kehadiran Qays banyak membawa perubahan dalam hidupnya. Syed Omri sangat bahagia dan menjadi seorang yang lebih dermawan. Pada bagian ini juga dikisahkan tentang pertemuan Qays dan Layla di sekolahnya, gadis yang membuatnya tergila-gila. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:“Qays sendiri sejak pertama kali menatap wajahnya, jiwanya langsung bergetar. Ia bagaikan merasakan bumi bergetar kencang, hingga merenggut hasratnya untuk menuntut ilmu. Qays belum pernah melihat keindahan yang memesonakan laksana kecantikan Layla. Ia sungguh telah jatuh cinta pada mawar jelita, Layla.” (LM, 2020:13). Cerita kemudian dilanjutkan ke tahap genering circumtances. Pada tahap ini, merupakan tahap awal muncul konflik dan konflik itu sendiri akan berkembang. Ketika Qays dan Layla asyik memadu cinta, tanpa disadari, mereka telah menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Pada akhirnya, kabar itu sampai kepada ayah Layla. Mendengar anak gadisnya menjadi buah bibir banyak orang, akhirnya untuk menghindari aib keluarga maka Layla dipingit. Ayah Layla pindah ke Lembah Nejd. Layla yang sudah jauh dari Qays merasa dirinya tersiksa. Hasrat hatinya ingin bertemu dengan Qays. Rasa cintanya semakin mendalam. Sejak perpisahan itu jiwa Qays juga terguncang. Dia merasa bersalah karena dirinya Layla dipingit. Jiwanya sangat merindukan Layla. Qays pun mengembara mencari Layla sambil melantunkan syair-syair cintanya. Orang yang melihatnya ada yang sedih dan ada pula yang menganggapnya gila. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini:“Qays tidak menghiraukan apa kata orang, ia terus berjalan, berbicara dan bersyair memuji pesona kekasihnya. Qays juga tidak peduli bocah-bocah yang sering kali mengikuti dan menirukan gerak-geriknya. Hingga orang-orang tersebut lupa akan nama Qays, mereka lebih mengenalnya sebagai Majnun, si gila.” (LM, 2020:34). Tahap rising action (peningkatan konflik). Syed Omri berusaha untuk meminangkan Layla untuk Majnun, anaknya. Namun, dengan perkataan yang menyinggungkan dan keras ditolak oleh ayah Layla. Ia tidak ingin menikahkan anaknya dengan orang gila. Naufal juga berusaha untuk mempersatukan Majnun dan Layla. Untuk itu, ia rela berperang melawan kabilah ayah Layla. Ia sudah memenagkan peperangan itu, namun ayah Layla tidak mau memberikan Layla untuk Majnun, si gila. Menikahkan Layla dengan Majnun sama dengan menikah dengan kehinaan dan aib keluarga. Mendengar pengakuan orang tua malang itu Naufal menjadi terharu. Ia tidak sanggup membunuh musuh yang tidak berdaya dan lemah. Majnun sangat kecewa pada saat mendengar keputusan Naufal. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:“Saya tidak mampu menikahkan putriku dengan keburukan dan menerima kutukan dari negeriku! Seekor anjing lebih baik daripada manusia ibkis, karena gigitan seekor anjing dapat disembuhkan, namun luka yang membusuk itu akan meninggalkan bekas selamanya.” Redho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono “mendengar pernyataan lelaki tua malang tersebut, Naufal menjadi terharu. Rasa bimbang pun menguasai hatinya. Ia sudah berjanji pada Majnun akan meminang Layla, tetapi ia tidak tega mendengar kata-kata orang tua yang sudah kalah itu, bagaimana mungkin ia akan mampu membunuh musuh yang telah terluka dan tidak berdaya? Bagaimana mungkin ia akan bisa menyakiti lelaki tua yang sudah sekarat? Pantang baginya melukai musuh yang tidak berdaya.” (LM, 2020:118). Tahap climax (puncak kejadian konflik). Pada tahap ini peristiwa-peristiwa mencapai titik intensitas. Kegilaan Majnun semakin memuncak ketika ia mengetahui kabar pernikahan Layla dengan Ibnu Salam. Qays berprasangka Layla tidak setia terhadap dirinya. Padahal, walaupun Layla sudah menikah dengan Ibnu Salam, namun tidak sedikit pun Layla biarkan menyentuh dan merenggutnya. Layla mengatakan bahwa pernikahan tersebut ialah keinginan ayahnya bukan keinginannya. Jadi, raga dan jiwa atas cintanya hanya untuk Majnun seorang. Hal ini tergambarkan pada kutipan berikut:“Dengan suara menyayat dan terdengar lebih menyedihkan dari sangkakala maut, Laylla berucap, “apakah engkau berharap bisa memilikiku? Wahai, Tuan, sadarilah, perkawinan ini merupakan keinginan ayahandaku, bukan keinginanku sendiri! Sedikit pun aku tidak berharap untuk melakukan perbuatan yang aku benci. Aku tidak ingin menjadi seorang pengkhianat. Daripada melakukan tindakan yang aku benci lebih baik darahku menodai pedangmu.” “Saya tidak mau mengkhianati cintaku. Aku pun tidak sudi mengotori jiwaku hingga noda hitam akan melekat di keningku. Duhai, Tuan, janganlah engkau membayangkan dan berusaha untuk mendapatkan sebuah hati yang ditakdirkan bergelimang penderitaan. Dalam hati ini sudah terukir satu nama. Ia tidak bisa digantikan oleh apa dan siapapun. Walaupun emas dan permata ditaburkan untuk menyilaukan pandangan mata, namun jiwa yang penuh cinta tidak akan pernah terlena oleh kemewahan duniawin.” (LM, 2020:130). Cerita dilanjutkan ke tahap denounment (penyelesaian). Konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian. Penyelesaian masalah ini berakhir dengan kematian, yaitu kematian Ibnu Salam, Layla, dan Majnun. Sebelumnya, pengarang novel Layla Majnun menggambarkan tentang kematian Ibnu Salam yang membawa perubahan pada diri Layla. Sekarang Layla bebas menentukan nasibnya. Karakter Tanpilan FisikPada bagian ini, Qays dan Layla merupakan tokoh utama yang merupakan keturunan kaum bangsawan. Mereka berdua memiliki wajah tampan rupawan serta cantik jelita. Hal ini tergambarkan pada kutipan berikut:“Seiring berganti hari, tahun pun berbilang, Qays tumbuh dan berkembang menjadi lelaki yang dapat dibanggakan orang tuanya. Wajahnya tampan rupawan, tubuhnya tinggi semampai bak pilar-pilar yang kokoh, dan suaranya merdu laksana buluh perindu”. (LM, 2020:11). Analisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra “Di antara anak asuh sang guru, terdapat gadis cantik nan rupawan berusia belasan tahun. Parasnya anggun memesona, lembut budi bahasanya, dan penampilannya amat bersahaja. Gadis ini bersinar terang laksana cahaya mentari pagi, tubuhnya bak biola, dan bola matanya hitam laksana mata rusa. Rambutnya hitam tebal bergelombang”. (LM, 2020:12). Pengarang Secara Langsung Mendeskripsikan Karakter Tokohnya Qays atau MajnunSebelum menjadi gila/Majnun, namanya adalah Qays. Qays adalah seorang pemuda tampan dan cerdas, tubuhnya kuat dan suaranya merdu. Qays digambarkan seorang pria yang sempurna. Walaupun gila, sebenarnya Majnun adalah tokoh protagonis. Banyak orang-orang yang menyukai syair-syair Majnun dan banyak orang yang memuji-muji kesetian Majnun. Selain itu, Qays digambarkan tidak memiliki motivasi, tidak lagi merawat dirinya sendiri, Qays bahkan lebih memilih tinggal di alam para binatang buas daripada tinggal di rumahnya sendiri yang sangat mewah. LaylaLayla adalah seorang gadis yang cantik lembut dan anggun. Layla juga digambarkan juga sebagai o
